
Terlihat dihalaman rumah Yohan begitu ramai, karena Yohan sekeluarga dan para ART baru saja selesai olahraga bersama.
Yohan menetapkan peraturan, dimana setiap hari sabtu akan diadakan olahraga bersama dengan para ART, untuk menjalin silahturami dan kekeluargaan.
"Hufff capekk banget," keluh Syakila dan terduduk dibawah tanah dengan kaki lurus serta kedua tangan kebelakang menopang tubuh.
"Sini kakak pijetin," tawar Kelvin sembari mendekat kearah Syakila.
"Ehhh jangan Kak, Kakak kan juga capek, Akuuuu." tolaknya Syakila menggantung, karena berfikir sebentar. "emmm Aku maunya di gendong aja sampai ruang tamu." pintanya dengan nyengir.
Kelvin tersenyum dan jongkok didepan Syakila dengan artian siap menggendong, namun Syakila tidak naik-naik. "Kenapa nggak naik?" tanya Kelvin.
"Maunya depan, kayak Ayah semalem," pinta Syakila manja.
Kelvin tertawa kecil melihat Adeknya, Ia pun langsung mengendong Syakila ala bridal style.
Wajah gembira Syakila terlukis jelas diwajahnya. Ia pun mengecup pipi kanan Kelvin dan mengatakan, "Syakila sayanggggg banget sama Kakak."
"Kakak juga," sahut Kelvin dengan senyum lembut dan membalas kecupan dikening Syakila.
Para art yang melihatnya dibuat baper oleh Kelvin dan Syakila.
"Ya ampun neng Kila sama Aden romantis banget."
"Aaaaa jadi pingin punya suami kayak Aden."
"Ini nih yang bikin aku betah kerja disini, pemandangan yang menyejukan hati dan vitamin C, stamina."
"Duhh Neng Kila berungtung banget sih, Bibik iri deh."
"Kapan bisa gendong neng Kila kayak gitu."
"Kangen sama keimutanya neng Kila."
Terlihat disisi lain pasutri yang tengah duduk berdua dibawah pohon tersenyum-senyum, melihat tingkah anaknya dan para ART.
"Nggak nyangka ya Yah, mereka udah gede aja, perasaan baru kemarin Mamah lahirin mereka." ucap Niya sedih.
"Hmm iya. Kamu kesepian?" tanya Yohan sambil menoleh ke Niya.
"Iyaaa." jawab Niya sedikit parau. "Han! bentar lagi rumah ini sepi, mereka bakal pergi tinggal sama keluarga mereka masing-masing." ucapnya lirih.
Niya menoleh ke arah Yohan, hingga wajah mereka saling bertemu.
Yohan merapikan rambut Niya dan berkata "gimana kalau kita buat lagi, Syakila pasti seneng?" ucap Yohan dengan kedua alis yang naik turun serta senyum nakalnya.
Niya yang awalnya jadi sedih menjadi kesal. Bisa bisanya Yohan berkata seperti itu disaat dirinya sedang serius.
Niya memukul dada suaminya "DASAR NYEBELIN." Niya yang hendak pergi ditahan Yohan dengan menarik salah satu tanganya.
Niyayang kehilangan keseimbangan pun jatuh kepelukan Yohan.
"Mau digendong sampai dalem rumah nggak?" bisiknya ditelinga Niya.
Niya langsung menjauh dari tubuh Yohan "Udah tua inget umur napa." ucapnya dan pergi meninggalkan Yohan sendiri.
"Tua-tua gini juga masih kuat," ucap Yohan tidak terima.
Yohan menyusul Niya masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Tanpa keduanya ketahui para ART juga melihat aktivitas Yohan dan Niya tadi.
"Masyaallah nih keluarga kalau uwu-uwuan bisa didalam nggak sih. Nggak ngerti apa kita jomblo."
"Hahaha, Bibik teh udah punya Pak Imam nggak jomblo," jawab Bi Jum sembari tertawa, melihat para ART muda yang jones alias jomblo ngenes, cemburu karena iri.
Pak Imam adalah sopir pribadi Ayah sejak Kelvin umur lima tahun. Bi jum dan Pak Imam adalah orang yang paling tua diantara ART lain dan juga kepercayaan Yohan.
Para ART terlihat manyun merutuki nasibnya.
"Udah-udah yuk galaunya, kita lakuin tugas kita dulu." ajak Bi Jum untuk kembali berkerja.
Para ART pun masuk kedalam rumah lewat pintu Utama.
Ceklek
Pintu utama itu terbuka dan memperlihatkan kemewahan rumah kediaman Yohan, belum juga para ART selesai galau. Mereka diberi kejutan kembali dengan sosok Syakila yang tertidur dipangkuan Kelvin, yang tengah tertidur juga.
Blushhh
Wajah para art memerah. Melihat tingkah Aden dan Nona mereka, benar-benar membuat mereka iri dan ingin segera mencari pasangan.
Para ART terpana, ada yang terpana karena keuwuan mereka ada juga karena ketampanan Kelvin.
Mereka terus melihat tanpa kedip dan tiba-tiba....
"EHEMMM," Yohan berdeham dan membuat para ART kaget dan takut, "Bi saya haus, bisa ambilkan saya air putih dingin?"
"Baik Tuan, akan saya ambilkan." jawab salah satu ART dengan sopan "permisi" ucapnya dan sedikit membungkuk, karena melewati Yohan. Para art pun menyusul "permisi tuan"
Yohan pun mengahampiri anaknya dan menyelimutkan kedua anaknya dengan hati-hati dan penuh kasih sayang. Yohan mencium kening Syakila dan puncak kepala Kelvin.
"Jadilah penerus Ayah yang membanggakan," pesan Yohan pelan, satu kalimat namun bermakna banyak hal, itulah ciri khas Yohan.
Jam sudah menunjukan jam 18.30
Niya mendapat kabar malam ini keluarga Mila akan datang. Niya pun langsung memberitau Yohan dan anak-anak untuk bersiap siap.
Syakila yang berada didalam kamar, terlihat bingung harus memakai pakaian apa.
"Duhh pakai baju apa yahhh." Syakila melihat kekaca sembari mencobanya satu per satu baju. "Aghhhh bingungggg, kenapa mendadak sih." ucapnya sembari melempar tubuhnya kekasur.
Jarum jam sudah menunjukkan 19.05
Syakila akhirnya selesai berdandan. Ia memakai baju jumpsuit berwarna rep dan riasan tipis, akhirnya yang ditunggu pun datang.
Keluarga Ardi dan Yohan berkumpul diruang keluarga.Terlihat ruangan itu bernuansa sederhana namun mewah, berwarn putih dan abu-abu.
Malam ini Farel memakai setelan kaos putih polos ditambah kemeja kotak, berwarna putih, biru dan hitam. Membuatnya semakin terlihat tampan dan keren.
Syakila terus memerhatikan Farel tanpa henti ataupun berkedip. "Aghhhh ganteng banget" batin Syakila.
Mila yang melihatnya tersenyum dan menyenggol suaminya dengan tanganya. "Pah lihat deh Syakila, kayaknya Syakila suka sama Farel." bisik Mila.
"Iya Mah, Papah pikir juga gitu. Anak kita gimana? suka enggak."
"Mamah kurang tau,Tapi akhir-akhir ini Farel selalu minta ceritain kisah waktu mereka kecil."
Sejak Farel menjatuhkan album itu. Ia meminta Mila untuk bercerita masa lalu yang ada di album, sambil melihat album itu, jika ceritanya belum selesai, Farel akan meminta diceritakan lain waktu.
__ADS_1
"Ayah punya ide Mah." jawab Ardi dengan suara pelan dan diakhiri smirk, "Han lo masih inget bakmi goreng Bu Sri?"
"Masih," jawab singkat Yohan.
"Dah lama ni, gue nggak makan bakminnya."
"Gue juga. Kita beli aja, tapi makan disini, gimana?"
"Nah ide bagus tuh, biar anak gue aja yang beli."
Farel yang merasa dirinya dibicarakan pun mematikan hpnya dan bertanya, "kenapa Pah?"
"Rel masih inget warung bu Sri yang papah ceritain dulu?"
"Masih pah."
"Good." Ardi memberikan jempol tangan keanaknya, "Nah, sekarang kamu beli bakmie goreng sama nasgornya disana." pintanya
Farel menganggukan kepalanya dan hendak pergi namun terhenti.
"Ehhh bentar." tahan Ardi "Syakila bisa temenin Farel kesana." tanyanya lembut.
Degh
Syakila kaget, jantungnya terus berdetak dengan cepat.
"Biar saya aja om yang menemani. Ini udah malem lebih baik saya saja." saran Kelvin.
Wajah syakila berubah menjadi sedikit masam.
Mendengar pernyataan Kelvin, Ardi menjadi kebingungan. Mila merasa geram, karena rencana Ardi gagal, dengan secepatnya Ia memutar otak.
Cling
Ide pun keluar, Mila berbisik ke Niya "Farel udah sering banget dikeluarin dari sekolah, aku berharap dengan Syakila dan Farel pergi berdua, hubungan mereka menjadi dekat dan Aku bisa memantau Anakku lewat Syakila. Tolongggg Ni," bisik Mila sedih.
Niya mengerti dan berniat membantunya, "Kak biar Syakila ya, yang nemenin, mereka kan temennan, lagi pula Farel masih baru disekolah kalian. jadi pasti butuh banyak info."
"Kan bisa mah dirumah." jawab Kelvin.
"Kamu kayak nggak tau anak muda aja Vin. Kalau ada kita mereka nggak bisa ngobrol sepuasnya."
"Tapi kan mah..." ucap Kelvin terhenti
"Stststtstt, Syakila! siap-siap sana nanti keburu tutup warungnya." pinta Niya.
"Iya mah" Syakila pergi keatas dan bersiap-siap.
Farel pun kembali duduk disofa yang ia tempati tadi.
Tatapan Kelvin menajam kearah Farel, namun Farel hanya diam saja dan pura-pura tidak lihat.
Tak butuh waktu lama Syakila sudah siap dan turun kebawah. Ia hanya menambahkan rompi jin dan tas kecil.
Mereka berdua pun berpamitan dan menyalami satu persatu, disaat terakhir, Farel bersalaman dengan Kelvin, jabat tanganya ditekan oleh Kelvin cukup kencang.
Kelvin berbisik, "Gue titip adik gue, harus pulang dalam kondisi yang sama seperti waktu berangkat dari sini," bisik Kelvin penuh penekanan.
Farel hanya memasang wajah datar dan mengagguk tanpa rasa takut sedikit pun.
__ADS_1
"Assalammualaikum" salam Farel dan Syakila sebelum keluar dari ruangan.
"Waalaikumsalam," jawab semuanya besamaan.