
Farel masih saja tidak mau duduk. Ia menahan tubuhnya dengan kuat. Mila yang sedang mendorong tubuh Farel dari belakang, terlihat kelelahan. Farel sesekali terhuyung, namun, masih bisa ia tahan, supaya tidak duduk. Kesabaran Mila telah habis. Ia punmulai marah.
"Farel! Duduk!" Mila menatap tajam Farel sambil bertolak pingangg. Farel hanya memalingkan wajah dan mencueki Mila. "Mau kamu apa? Mamah cuman minta kamu duduk! Bukan masuk jurang!"
Ardi berdiri dari duduknya dan melihat ke arah Farel. "Rel, duduk! Kamu udah besar, jangan kayak anak kecil!"
Farel lagi-lagi diam, tingkahnya kini benar-benar seperti anak kecil. Mila pun menarik kursi dan mendorong Farel sekuat mungkin. Lagi-lagi, Farel akhirnya jatuh ke kursi, namun berdiri kembali. Mila telah prustasi dan mengomeli Farel. Ardi pun menghampiri Mila dan menenangkanya.
Syakila yang berada di samping keributan itu, terlihat khawatir dan sedih. "Apa Farel sebenci ini sama gue? Cuman duduk aja dia nggak mau, padahal Tante udah marah-marah gitu," batinnya. Ia memainkan jari di bawah meja sambil menangis.
Angga yang tau pun hendak membantu Mila, untuk meminta Farel duduk. Namun terhenti, seseorang gadis datang menghampiri mereka. "Hai Sya, Nga, kebetulan banget kita ketemu di sini."
Syakila dan Angga melihat ke arah wanita itu, Titis. Ia adalah teman sekampus mereka. "Ada apa?" tanya Syakila.
Titis ragu untuk mengatakannya, "Emmm, pihak Kampus belum nelpon kalian kah?"
Angga dan Syakila saling melihat. "Kenapa?" tanya Angga.
"Emm, nggak jadi deh, lain waktu aja." Titis melambaikan tangan dan pergi. Semua orang bingung dan bertanya-tanya. Tak lama, handphone Jordi berbunyi.
Jordi pun pergi mengangkat telpon, sedangkan Syakila, terlihat panik. Ardi dan Mila masih saja memarahi Farel, namun yang marahi hanya diam saja. Tak lama, Jordi datang menonjok pipi mulus Angga.
Plak.
Semua orang disana melihat ke arah Angga. Anggi, Mamahnya Angga pun langsung memeluk putranya. "Kamu apa-apaan sih Mas!"
"Kalau ada masalah, diselesain dengan tenang, jangan kasar!" ucap Niya.
"Banyak orang woi!" seru Mila.
Jordi tidak menanggapi Mila dan Niya. Ia kembali menonjok Angga, namun terhenti. Yohan menahan tangan Jordi dan menenangkannya. "Lo kalau marah, ngomong!"
Jordi menghempas tangan Alex dan menatap tajam ke arah Angga dan Syakila. "Kalian bisa kembali kuliah, kalau... kalian berdua menikah!"
Degh
Niya, Mila, Yohan, Anggi dan Ardi kaget mendengarnya. Syakila dan Angga paham. Hati Syakila terluka dan remuk, apa yang ia takuti selama ini, telah terjadi. Syakila tidak bisa menghindar dan hanya bisa menangis.
"Ma-maksudnya apa Mas?" Anggi bingung dan panik.
Jordi menghela napas berat dan bercerita. Mereka semua terkejut dan kecewa, kecuali Angga, Syakila serta Farel. "Apa yang mereka lakuin tidak separah itu dan masih bisa dimaafkan! Asalkan, Syakila harus nikah sama Angga dan menjelaskan yang sebenarnya ke para anak Kampus. Anak-anak Kampus mengira kalian melakukan hal buruk."
Yohan dan Niya kecewa. Dulu Reyhan yang mengalami ini, sekarang Syakila. Mereka berdua merasa bersalah dan merutuki kebpdohanya. Mereka merasa gagal, menjadi orang tua.
Syakila menangis sambil meminta maaf ke Niya. "Mamah... maafin Syakila, hiks."
Anggi mengoyangkan tubuh Angga sambil menangis. "Nga, bilang sama Mamah, ini bohong!" Angga hanya diam, menunduk. Ruangan itu, hanya terisi suara tangis Niya, Syakila dan Anggi.
Mila menggegam tangan Farel dan membawanya pergi, bersama Ardi. Yohan yang mengetahui kepergian mereka, meminta berhenti. Mila melihat ke Yohan dan berkata, "Sorry Han, anak lo dah ada yang punya dan... Farel juga udah nggak suka. Kalau lo mau, kita bisa pura-pura nggak kenal."
Niya yang mendengar ucapan Mila terkejut dan berdiri dari duduknya. "Mil! Hiks, jangan...!"
"Jangan apa?! Farel sampek nggak mau duduk ataupun lihat wajah Syakila! Dan bodohnya aku, hiks hiks, aku bentak dan memarahinya, hanya karena Syakila! Tanpa mikirin alasan anakku sendiri! Hiks hiks hiks," ucap Mila keras dan parau. Dadanya kini mulai sesak dan susah napas.
Ardi yang mengetahuinya pun langsung menggendong sang istri dan membopongnya pergi. Farel mengikuti Ardi dari belakang. Niya yang hendak mengejar, tertahan. Yohan memeluk Niya, untuk menghentikan dan menenangkannya. Kondisi tempat itu kacau dan parau.
Jordi dan Yohan pun saling bicara. Pernikahan akan diadakan empat hari lagi. Syakila dengan terpaksa menerimanya. Obrolan selesai dan mereka saling bersalaman. Mereka pergi dari Restoran dan kembali ke rumah masing-masing.
__ADS_1
...🌸...
Syakila, Yohan dan Niya sampai di rumah. Niya langsung pergi ke kamar, tanpa mengiraukan Syakila dan Yohan. Syakila merasa sedih, melihat Niya. Yohan yang berada di sebelahnya, memeluk sang Anak dengan erat.
"Nggak papa sayang, semua ini hanya kecelakaan," ucap Yohan sambil mengusap lembut rambut Syakila.
Syakila menangis, sambil meremas baju Yohan. "Huwaaaa, hiks hiks hiks..."
Yohan meneteskan air mata. Hatinya terasa sakit, mendengar tangisan Syakila. Baru kali ini, ia mendengar suara Syakila yang terasa begitu menyakitkan dan hancur. Tanpa sadar, Syakila jatuh pingsan. Yohan langsung menggendongnya dan meminta para ART memanggil Dokter. Rumah itu menjadi heboh dan panik.
°°°°°
Terlihat, di tempat lain. Farel tengah berbincang lewat telpon, di halaman belakang. Ia terlihat sangat serius dan dingin. Tak lama, Mila datang dan Farel pun menghentikan telponya.
Mila memeluk Farel dari samping. "Mamah nggak nyangka, kamu bakalan ngalamin ini Rel!" ucapnya sedikit parau.
Farel membalas pelukan Mila. "Mamah nggak perlu khawatir, aku baik-baik aja."
Mila mengangkat pandang dan melihat ke arah Farel. "Maafin Mamah, tadi udah marah sama bentak kamu di Restoran."
Farel tersenyum lembut dan mengangguk. "Aku paham, Mah," ucapnya dan mengecup puncak kepala Mila. "Aku mau tidur Mah, good night."
Mila mencium pipi Farel dengan lembut dan melepas pelukannya. "Good night sayang."
Farel pergi meninggalkan Mila seorang diri. Mila menatap punggung Farel, dengan tatapan sendu. "Semoga kamu bisa mengerti dan hidup bahagia, Nak," batin Mila. Ia pun pergi ke kamar dan bersiap tidur.
...🌸...
Pagi hari tiba, perlahan-lahan mata Syakila terbuka. Ia mengucek mata dan memegang kepalanya yang terasa berat. Ia meraih jam di meja samping dan melihatnya. Tak lama notifikasi masuk ke handphone. Ia pun mengambil handphone dan membacanya.
...Room Chat On....
Desy :
Nayla :
@Syakila @Sisil dua S mana nih?
Sisil :
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ada Kelas pagi.
Desy :
Hadehhhh.
Syakila :
Aku aja yang turun tangan, nanti lo @Sisil nyusul!
Sisil :
Woke, makasih @Syakila.
Desy :
Usahakan, sesuai rencana, perhatikan jam kalian!
__ADS_1
@Sisil selesai ngampus langsung susul Syakila!
Sisil :
Siappp.
Nayla :
Anak-anak udah otw ke Apartemen.
Syakila :
Meluncur.
...Room Chat Off....
Syakila segera mandi dan bersiap-siap. Selesai mandi, ia langsung mengganti baju dan berlari ke arah meja belajar. Ia mengambil kertas dan bolpen, untuk menulis surat.
"Maaf Yah, Mah, Kak, aku harus lakuin ini." Syakila cium kertas itu dan pergi ke teras kamarnya. Ia melihat ke bawah. terlihat kosong dan aman. Ia lempar kain yang saling terikat ke bawah dan turun menggunakannya.
Syakila kini telah sampai di bawah. Ia celingak-celinguk, memantau keadaan. Melihat situasi yang aman, ia langsung pergi memanjat pohon dan kabur lewat dinding yang sangat tinngi itu.
Niya berjalan ke arah kamar Syakila, untuk membawakan sarapan. Ia hendak membuka pintu itu, namun terhenti. Klara datang menghampiri Niya dan menyalaminya.
"Buat Syakila ya Mah?" tanya Klara melihat semangkok bubur dan segelas susu.
Niya menganggukkan kepala. "Mau ikut?"
Klara mengangguk sambil tersenyum lembut. "Aku mau hibur Syakila. Dia pasti kesulitan, buat menghadapi ini semua."
"Iya, mungkin kamu lebih ngerti dia. Setelah bertemu, bicaralah dengannya," ucap Niya sambil tersenyum dan Klara pun mengangguk.
Klara membuka pintu dan masuk bersama Niya. Mereka berdua bingung dan panik. Kamar itu terlihat kosong dan sepi. Niya pun menaruh nampan ke meja dan lari ke kamar mandi, mencari Syakila. Klara melihat kertas di atas kasur. Ia mengambil kertas itu dan membacanya.
...-----------------------------------------------------------...
Mamah, Ayah, Kakak, aku mau pergi. Aku ingin sendiri dulu. Maaf, karena aku udah bikin kalian sedih dan kecewa. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Aku harap kalian mengerti. Aku pasti kembali, tapi tidak tau kapan.
...Syakila sayang kalian semua....
...-----------------------------------------------------------...
Klara terkejut dan menutup mulut dengan tangan kiri. "Mamahhh!" teriaknya.
Niya berlari menghampiri Klara dengan panik. "Ada apa Ra?" Kalara memberikan surat itu. Ia pun membacanya. "Apa...? Syakila kabur!"
Niya jatuh pinsang dan Klara pun segera menangkapnya. Klara berteriak, untuk meminta tolong. Ia menepuk pelan pipi Niya dengan panik. Tak lama Reyhan dan Yohan datang. Yohan pun menggendong Niya dan membanya ke kamar. Klara menyusul dari belakang dan Reyhan menelpon Dokter.
...*******...
...Maaf ya guys, agh lama upnya....
...Bonus visual....
__ADS_1
...Visual Angga....
...See you....