Kisah Cinta Syakila

Kisah Cinta Syakila
S2 : Cp 9


__ADS_3

Malam hari tiba semua keluarga Syakila berkumpul di ruang tengah. Tempat itu sangat luas dan mewah. Terlihat dua sofa panjang yang saling berhadapan dan empat sofa kecil. Derel dan Tiara kini tengah bermain bersama Syakila. Niya, Klara dan Bunga tengah mengobrol dan bermain dengan baby Sinta, sedangkan Yohan, Reyhan serta Kelvin tengah membahas soal bisnis.


"Tante Kila!" panggil Derel.


"Iya?" Syakila menoleh ke arah Derel sambil tersenyum.


"Tante tau nggak? Ayah sama Om Kelvin tadi berantem, karena Tante," ucap Derel mengadu.


Syakila tertawa kecil dan mencubit pipi Derel dengan gemas. "Kamu mau Tante apain Ayah Reyhan sama Om Kelvin?"


Darel senang. "Marahin Ayah sama Om!" serunya.


"Hmmm, oke." Syakila hendak pergi menghampiri Yohan, Reyhan dan Kelvin. Derel dan Tiara terlihat senang dan antusias. Namun, wajah ke dua bocil itu berubah masam, karena Syakila tiba-tiba berhenti dan bermain handphonnya.


Syakila membalikkan badan dan pergi menghampiri Derel serta Tiara. "Maaf ya, Tante mau pergi dulu."


Derel ngambek dan memalingkan wajahnya, sedangkan Tiara terlihat melipat ke dua tangan di depan dada, sambil manyun. Syakila merasa bersalah dan pergi menghampiri keluarganya. Ia berpamitan dan pergi dari rumahnya.


°°°°°


Syakila pergi ke rumah Sisil. Terlihat, di sana ada Desy yang sedang berkutip di laptopnya bersama Nayla dan Sisil tengah menyiapkan sesuatu. Ia pergi menghampiri ke tiganya dengan wajah panik.


"Ada apa?" tanya Syakila khawatir.


"Klien kita yang dulu lagi di serang sama mafia. Keluarganya masuk ke rumah sakit dan perusahaan terancam bangkrut!" seru Desy.


"Astaughfirullah, tapikan kita udah berhenti," sahut Syakila.


"Mau gimana lagi, dianya maksa. Kita juga nggak tega soalnya," sahut Nayla.


"Sekali aja Sya, lumayan buat hiburan," ucap Sisil.


"Hmmm Okelah," sahut Syakila mengiyakan. Ia pun pergi menghampiri Sisil dan membatunya.


"Udah ada info soal mafia itu?" tanya Syakila.


Desy berdiam sebentar. Ia merasa ragu dan bimbang, perasaannya seketika menjadi tidak enak. "Udah, tapi..."


Syakila, Nayla dan Sisil melihat ke arah Desy dengan wajah yang penasaran.


"Tapi kenapa?" tanya Sisil.


"Emmm, kok datanya nggak asing ya?" ucap Desy sembari melihat ke arah laptop.


"Maksudnya?" tanya Syakila tak paham.


"Gue pikir-pikir ini Blak Kobra deh!" seru Desy


"HAH!" ucap Nayla dan Sisil.


"Blak Kobra itu yang kalian dulu ceritain?" tanya Syakila memastikan danDesy pun menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Itu artinya... Ketua sama Wakil Blak Kobra belum mati dong?" tanya Nayla.


"Iya," sahut Desy. "Sialan, David dulu dapet info dari mana sih!"


"Kasih tau Farel nggak?" tanya Syakila.


"Jangan! Kalau dia tau, otomatis Deni juga," ucap Desy.


"Diem-diem lagi nih?" tanya Sisil.


"Iya, terpaksa kita lakuin ini!" sahut Desy.


"Uhhh, semoga aja Juna pahan dan maafin aku," ucap Sisil berharap.


"Kalau Farel tau, marah nggak ya dia?" batin Syakila khawatir.


Mereka pun melanjutkan tugas masing-masing dan merancang strategi. Tiga jam berlalu, mereka akhirnya selesai dan kembali ke rumah. Syakila masuk ke dalam rumah dan mengobrol bersama dengan Keluarga.

__ADS_1


...🍁...


Pagi hari telah tiba. Pepohonan terlihat tengah menari ke kanan dan ke kiri bersama angin sejuk. Syakila kini sedang berada di Kampus.Ia hari ini ada Kelas pagi bersama Sisil.


"Hoammm." Sisil menguap dan menutup mulutnya dengan tangan kanan.


"Ngantuk Sil? Semalem ngapain aja emang?" tanya Syakila.


"Mikirin misi semalem, gue agak ngeri," sahut Sisil.


"Hmmm, bener sih," ucap Syakila. Mereka berdua pun pergi masuk ke dalam kelas dan memulai pelajarannya.


Kelas berjalan dengan lancar dan membosankan, karena Dosennya nyerocos tanpa henti. Syakila keluar bersam Angga berdua. Adel dan Amira sudah duluan pergi, karena ekskul.


"Sya!" panggil Angga.


"Hmm," ucap Syakila.


"Lo kan udah gue leceh---" ucap Angga terhenti, karena Syakila membukam mulutnya.


"Apa maksud lo!" Syakila menatap tajam Angga dan melepas bungkammannya.


Angga tersenyum smrik. "Sya, lo pikir deh! Mana ada cowok yang mau nerima ceweknya yang udah... lo paham lah maksud gue!" serunya.


Syakila tertegun, ia diam membisu. Bayangan wajah Farel yang kecewa dan marah, membuatnya meneteskan air mata. Ia tidak bisa bayangkan, jika harud berpisah dengan Farel.


Angga meraih ke dua tangan Syakila dengan lembut. Namun, Syakila langsung menghepasnya dan menjauh dari Angga sambil menyilangkan ke duata tangan di dada. "Jangan sentuh gue!" pintanya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia pergi meninggalkan tempat sambil menagis. Angga merasa bersalah dan memutuskan untuk pergi juga.


Sisil terkejut, ia tak percaya dengan apa yang di saksikan dan di dengarnya dari arah belakang Angga serta Syakila. "Ja-jangan bilang Syakila di lecehin sama Angga?" Ia menutup ke dua mulutnya dan meneteskan air mata. Dulu Nayla dan Desy yang mengalami hal ini dan sekarang Syakila? Ia tidak menyangka jika ke tiga temannya mengalami hal ini.


Sisil pun pergi mencari Syakila. Ia berlari ke sana ke sini, memutari halaman Kampus. Tak lama, ia akhirnya bertemu dengan Syakila dan menghampirinya.


"Syakila!" panggil Sisil dan memeluk Syakila.


Syakila terkejut dan menghapus air matanya. "Si-sil, ada apa? Kamu habis nangis ya?"


Syakila terkejut, ia melepas ke dua tangan Sisil dari tanganya. "Ka-kamu ngomong apa sih Sil?" ia tertawa dan memalingkan wajahnya. "Mana mungkin gue di le---"


"Lo anggep gue, Nayla sama Desy apa? Sejak kapan lo ngalamin ini? Kenapa lo nggak kasih tau kita?" tanya Sisil bertubi-tubi dengan suara parau. "Kita sahabatkan? Fungsi sahabat apa, kalau saling diam dan simpen rahasia?"


Syakila menangis, "Hiks, sulit Sil! Buat akuin ini semua aja gue nggak terima, apalagi cerita!"


Sisil memegang ke dua pipi Syakila dan menatapnya. "Lihat gue! Ceritain semua yang ada di hati lo! Kita cari jalan keluarnya bersama-sama!" ucapnya dengan serius.


Syakila mengangguk dan mulai bercerita. Sisil mendengarnya dengan serius. Setelah Syakila selesai bercerita, Sisil langsung memeluknya dengan erat. Sisil tidak menyangka ketiga temannya akan mengalami hal ini. Dulu Nayla dan Desy, sekarang Syakila. Hatinya rapuh membayangkan nasib ke tiga temannya yang di lecehin.


Sisil dan Syakila melepas pelukannya. Mereka menghapus air matanya dan saling melempar senyum. "Apa kamu nggak bisa bedain, mana yang bir dan air putih?" tanya Sisil.


Syakila tersenyum sendu. "Baunya aku sadar, tapi tetep ku minum, karena nggak tau itu apa?"


Sisil menepuk jidatnya dan menarik tangan Syakila untuk berdiri. "Kita temui Desy sama Nayla!" serunya.


Syakila terkejut, "Ehhh, buat apa?"


"Aku ngerasa ada yang janggal sama cerita kamu," sahut Sisil dan menarik Syakila pergi.


Syakila terpaksa mengikuti Sisil dan pergi meninggalkan Kampus. Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil Sisil dan pergi menuju Apartemen. Sebelumnya, Sisil sudah berjanjian dengan Desy dan Nayla untuk membahas misi semalam.


...🌸...


Sisil dan Syakila tiba di Apartemen. Mereka berdua masuk ke dalam dan menemui Desy serta Nayla. Setelah masuk, terlihat dua bumil muda itu tengah berbaring di atas lantai tanpa karpet. Sisil dan Syakila terkejut, mereka pun langsung menghampirinya.


"Aduhhhh, kok tidur di lantai sih! Kalau sakit nanti gimana?" seru Sisil sambil membantu Nayla berdiri. Nayla terlihat malas dan terpaksa ngikuti mau Sisil.


Syakila kini tengah merayu Desy yang sedang marah, karena ia telah menganggunya. "Ayo dong Des, bangun ya! Lantainya dingin, nggak baik buat baby di perut kamu!" pintanya dengan lembut.


Desy berdecak sebal dan berdiri dari tidurnya. "Lo habis nangis?" tanyanya, setelah melihat mata Syakila yang sedikit bengkak. Syakila yang sadar langsung memegang ke dua matanya dan tersenyum sendu.


"Syakila nangis begitu, karena dia ngalamin apa yang dulu kalian alami," sahut Sisil memberitau, membuat Desy dan Nayla bingung.

__ADS_1


"Kamu hamil?" tebak Nayla.


Desy terkejut dan langsung mendekati Syakila. "Siapa yang hamilin lo hah! Kasih tau gue sekarang! Biar gue habisi tuh anak!" serunya.


Syakila terkejut dan menenangkan Desy. "Tenanggg, aku tuh nggak hamil, cuman..."


"Cuman... cuman apa?" tanya Nayla.


"Cuman apa heh? Ngomong tuh jangan sepotong-potong!" kesal Desy.


"Hadehhh, jangan marah-marah atuh bumil!" seru Sisil dan manarik Syakila untuk duduk di sampingnya. "Ceritakan dengan detail dan dari lo minum tuh air!" pintanya dan Syakila pun mulai bercerita.


...FLESSBACK ON....


Syakila dan Angga kini tengah berada di kantin berdua saja. Tempat itu tidak begitu ramai, karena sudah pada pulang. Hubungan Syakila dan Angga saat ini, sangat baik. Banyak para Mahasiswa dan Mahasiswi yang mengira, jika mereka berdua pacaran.


Tak lama, Mbk Kantin datang dan memberikan minuman Syakila dan Angga. "Ini ya minumnya."


"Terimakasih Kak," sahut Syakila dan Mbk Kantin itu tersenyum sambil menganggukkan. kepala.


Syakila pun meminum air itu dan Angga tersenyum melihatnya. "Cantik," ucapnya.


Syakila tersenyum dan menaruh kembali gelasnya. "Maaf, saya sudah ada yang punya."


"Tau, kalau belum pacaran bolehlah..." Angga menaikkan turunkan ke dua alisnya.


Syakila tersenyum smrik. "Maaf, hati saya hanya miliknya seorang dan tidak akan pernah tergantikan," ucapnya, membuat Angga cemberut dan menyeruput kopi.


Tak lama, seorang pemuda datang mengahampiri mereka berdua. "Syakila, Angga! Bisa bantuin gue?"


Syakila dan Angga menoleh ke arah pemuda itu. "Bantu apa?" tanya Syakila.


"Tolong bawain tuh dua kardus ke gudang, gue ada perlu ke ruang dekan soalnya," ucap Pemuda itu sambil menunjuk ke arah dua buah kardus yang ada di atas meja.


Syakila melihat ke arah kardus itu dan mengangguk. "Oke."


"Thanks, Assalammualaikum," ucap Pemuda itu dan pergi meninggalkan tempat.


"Waalaikumsalam," sahut Angga dan Syakila bersamaan.


"Dateng-dateng minta tolong, habis pergi baru ngucap salam!" seru Angga dan berdiri dari duduknya.


Syakila menyusul Angga sambil tertawa kecil. "Mungkin udah salam, tapi kitanya yang nggak denger."


"Hmmm."


Syakila dan Angga pun pergi mengambil dua buah kardus itu. Mereka berdua pergi ke gudang dengan sedikit canda tawa. Sepanjang perjalanan, Syakila merasa sedikit pusing dan merasa eneh. Ia tidak pedulikan hal itu dan tetap pergi. Sesampainya di sana, mereka berdua langsung menaruh kardus itu.


Tak lama, terdengar suara seseorang yang sedang mengunci pintu itu. Syakila terkejut dan langsung pergi ke arah pintu. Ia mengetuknya berulang-ulang kali sambil berteriak. Angga sesekali mendobrak pintu itu, namun gagal.


"Hikss, gimana nih," ucap Syakila parau sambil memegang kepalanya dan jatuh terduduk ke lantai. Ia merasa sangat pusing dan sedikit mual.


Angga menghampiri Syakila dan menepuk ke dua pipinya. "Sya-syakila! Lo nggak papakan?" tanyanya.


Syakila melihat ke arah Angga dan tersenyum. "Farelll, akhirnya kamu pulang juga, aku kangen banget sama kamu," ucapnya.


Angga menaikkan salah satu alisnya. Tak lama, Syakila menarik kerah baju Angga dan membuatnya mendekat. "Kamu jahattt! Kamu harus tanggung jawab, karena udah bikin aku nunggu selama ini!" ucapnya dan mulai berulah.


Syakila yang tak sadar, melakukan sesuai nafsunya dan Angga pun membalasnya. tiga puluh menit kemudia, mereka berdua berhenti. Tak lama, lima jam sudah mereka terkurung di dalam gudang dan akhirnya keluar. Reza, Adel dan Amira datang membantu mereka. Sebelumnya, Angga telah merapikan pakaiannya dan Syakila kembali, supaya tidak ada yang tau ataupun curiga. Angga menggendong Syakila dan membawanya pergi ke UKS.


...FLESSBACK OFF....


Syakila menangis dan sesekali menghapus air matanya. "Setelah itu gue sadar dan di anter Reza sama Adel pulang ke rumah."


Desy dan Nayla terkejut. Mereka tak percaya, Syakila akan mengalami hal ini. Mereka berdua menangis dan memeluk Syakila dengan erat. Sisil tak ingin kalah dengan Desy dan Nayla, ia juga ikut memeluk Syakila. Mereka berempat saling berpelukan dengan air mata yang terus jatuh, membasahi wajah.


...°°°°°...


...See you😘❤️...

__ADS_1


__ADS_2