Kisah Cinta Syakila

Kisah Cinta Syakila
S2 : Cp 17


__ADS_3

Pagi hari tiba, Syakila bangun dari tidurnya. Angga menghampiri Syakila dan meminta untuk sarapan bersama. Mereka dikawal oleh beberapa anggota BK, berjaga-jaga jika seandainya Syakila kabur. Sesampainya di ruang makan, terlihat Sisil tengah menikmati makanan.


"Hallo Sya!" sapa Sisil dengan begitu ceria.


"Apa dia lupa, jika dirinya sedang di posisi mana?" batin Syakila, tak percaya melihat Sisil yang begitu bahagia.


Angga menarik kursi dan mempersilahkan Syakila duduk, "Syakila."


Syakila pun duduk. "Makasih," ucapnya, tanpa Melihat Angga.


Angga pun duduk di dekat Syakila. "Apa kau menikmati makanannya?" tanya Angga ke Sisil.


Sisil mengangguk dan memakan udang. "Behhh, rasanya maknyus bener, Nga!"


Angga tertawa kecil dan menggelengkan kepala. Tak lama, salah satu Anggota Angga datang dan memberikan kabar, "Mobil telah siap, dan gedungnya sudah sembilan puluh persen selesai."


"Bagus," ucap Angga dan menyuruh orang itu untuk pergi. "Kalian berdua nanti, langsung mandi dan kita pergi ke gedung!"


Sisil hanya mengangguk dan kembali makan. Syakila tersedak, mendengar ucapan Angga. "Uhuk uhuk uhuk." Anggak mengambilkan minum dan diberikan ke Syakila. Syakila pun meminumnya dan bertanya, "Apa, gedung? Ngapain kita ke sana?!"


"Untuk pernikahan kita, Sya," sahut Angga.


"Hah? Gue kabur buat ngehindarin pernikahan ini, tapi kalian masih saja nyiapin! Hiks, hati kalian kemana, njir?!" Syakila merasa kesal dan berdiri dari duduknya. Angga memegang tangan Syakila, namun langsung di hempas. "Jangan sentuh gue bajing*n!"


Sisil, Angga dan beberapa Angota Bk terkejut, mendengar ucapan Syakila. "Bajing*n? Sekotor itu gue di mata lo?!"


"Iya!" sahut Syakila dengan suara membentak. "Lo kagak ngerti apa?! Gue tuh kagak suka sama lo se-di-kit pun!"


Brak.


Angga menggebrak meja. "Apa lo lupa, kita bakalan diijinin ngampus lagi, kalau udah nikah?!"


Sisil berdeham dan melihat ke Angga. "Tidak juga, Syakilakan korban. Dia nggak perlu nikah sama lo, udah pasti dapet ijin!"


Angga dan beberapa anggota Bk terkejut, mendengar ucapan Sisil. "Ma-maksud lo?" tanya Angga.


"Lo nyuruh orang, untuk kasih minuman alkohol ke Syakila. Setelah itu, lo suruh salah satu Mahasiswa buat bawa beberapa kotak, dan minta tolong ke kalian. Syakila kehilangan akal sehatnya dan lo ambil kesempatan itu! Hari itu, elo juga minta anak mading kesana, biar kegelapan kalian terungkap! Benar bukan?" ujar Sisil dengan santai.

__ADS_1


Anggota Bk telihat bingung dan panik. Syakila yang mendengarnya pun terkejut. Angga tersenyum, "Ternyata kalian sudah tau. Hmm, baiklah. mari ki--"


"Maaf Tuan, saya mendapatkan info penting. Sepertinya... mereka telah berada di sekitar kita." potong salah satu Anggota Bk.


Angga mengernyitkan kening. "Berapa persen?"


"Baru lima puluh lima persen."


Anggak menepuk tangan tiga kali. Dua buah Anggota, langsung menyergap Sisil dan Syakila secara bersamaan. Mereka membekap mulut Sisil dan Syakila dengan sapu tangan yang sudah diberi racun. Kedua gadis itupun pingsan dan dibawa pergi.


...🌸...


Farel, Deni dan David kini tengah berada di suatu tempat yang begitu luas. Banyak sekali orang yang sedang saling menembak dan tumpahan darah di mana-mana. Mereka terlihat seperti berperang.


Drettt dretttt drettt.


Farel mengangkat handphone. "Ada apa?" tanya pada orang dalam telpon.


Orang itu menjawab, "Lima puluh persen BW habis Rel, termasuk Ketua BW!"


"Sorry Rel, emang itu kenyataannya! Sekarang pertempuran itu udah berakhir! Mereka mungkin, akan langsung ngabari keluarga dan nguburin korban!"


Farel yang masih dalam kegiatan menembak, terlihat kesal dan langsung melempar bom kecil ke arah lawan. "Kalian bantu mereka!"


Bumm Duarrrrr.


"Siap Rel." sahut Orang itu. Ia terkejut mendengar suara ledakan yang begitu besar.


Farel mematikan telponnya dan berlari ke arah ledakan. Terlihat, para musuh sudah ludes dan hancur. David dan Deni berlari menghampiri Farel, di susul anggota lain. Mereka terlihat lelah dan syok.


"Lo gila hah! Gue hampir aja mati, goblok!" David merasa kesal, karena ia tadi benar-benar ada di ujung kematian. Untung saja ia segera berlari dengan cepat, setelah melihat bom yang melayang.


Farel melihat ujung kaki David, hingga kepala. Terlihat bebera luka kecil saja di tubuh David. "Lemah!" ucapnya dan pergi meninggalkan tempat. "Bang, urus mereka!"


"Oke," sahut Deni dan ia pun memanggil beberapa anak buah untuk menyelesaikan tugas.


David yang mendengar sahutan Farel pun merasa kesal. Tak lama, Helikopter berwana putih abu-abu mendarat. Farel dan David masuk ke dalam dan terbang ke suatu tempat.

__ADS_1


Terlihat di lain sisi, Angga, Syakila, Sisil dan Anggota Blak Kobra tengah berkumpul di rooftop. Hotel itu memiliki lantai 156, bayangkan saja, setinggi apa itu. Mata Syakila dan Sisil tertutup dengan kain hitam. Mereka berdua diikat di kursi, sehingga tak bisa bergerak. Anggota BK membukan kain itu. Hambusan angis yang begitu kencang, membuat rambut Syakila dan Sisil berantakan.


"Dimana nih?" tanya Syakila, sambil menggoyangkan kepala, untuk menyingkirkan rambutnya.


Sisil pun sama bingungnya dengan Syakila. Melihat pakaian Anggota BK, membuat Sisil makin penasaran. "Kalian mau perang ya?"


"Hah? Perang?" Syakila kaget dan bingung.


Angga tersenyum smrik, sambil duduk di bangku. Ia duduk di tengah-tengah, Syakila berada di utara dan Sisil di timur. "Ya, itu benar sekali! Tapi mau bagaimana lagi, kita udah terpojok."


Syakila dan Sisil bertanya-tanya. Apa maksud Angga? Para Anggota Bk pun membawa pistol dan beberapa persenjataan yang lain. Syakila dan Sisil tak habis pikir, bisa-bisanya Angga lakuin ini.


"Lo bilang cinta sama Syakila! Tapi lo, malah bawa dia ke sini! Otak lo dimana, hah?!" teriak Sisil.


Angga tertawa dan berdiri tegak, sambil melihat ke arah Sisil. "Hmm, mau gimana lagi, aku terpaksa lakuin ini!"


Sisil merasa jijik, dengan nada ucapan Angga. "Huwekkk," Sisil pura-pura muntah, membuat Angga tersenyum.


Syakila hanya diam saja. Ia tengah membaca situasi dan melihat-lihat sekitar. Terlihat beberapa anggota, mengarahkan pistol ke arah beberapa hotel yang ada di sekitarnya. "Siapa lawan main mereka? Sampek Angga tega, bawa aku ke lokasi ini! Harusnya, dia bawa aku langsung ke gudang dan ngancem, supaya mau nikah!" batinya.


Angga masih saja debat dengan Sisil. Syakila merasa aneh dengan garis yang mengkilap, karena pantulan cahaya matahari. Ia melihatnya dengan serius, karena tali tersebut hampir tak bisa dilihat. Tali itu saling mengikat di antara kursi Syakila dengan botol kecil. "Ngapa kursi gue ditali, di sambungin ke botol pula?" batinnya bingung.


Angga tiba-tiba menghentikan debatnya dengan Sisil dan melihat ke arah utara. "Yang di tunggu-tunggu akhirnya datang!" ucap Angga sambil tersenyum, membuat Sisil dan Syakila bingung. Para Anggota langsung menyiapkan senjata mereka dan bersiap di posisi masing-masing.


"Satu..." hitung Angga sambil menunjukkan satu jari ke atas.


"Dua..." Syakila dan Sisil panik. Jantung mereka berdetak kencang, dan terus berdoa di dalam hati.


"Ti-ga..." Syakila dan Sisil memjamkan mata.


Bugh.


Bugh, bugh, bugh, bugh.


Seorang pemudata tampan loncat dari hotel yang terletak di belakang Syakila. Tak lama, beberapa pemuda lain pun menyusul. Pendaratan Pemuda itu begitu keren dan mempesona. Syakila dan Sisil kaget. Para Anggota Bk pun langsung mengarahkan senjata ke lima pemuda itu.


"Selamat datang," ucap Angga dengan senyum smrik. "Apa kabar...

__ADS_1


__ADS_2