
Pagi hari tiba, kini Farel tengah berada di dalam ruangan bersama Orang Tuanya. Terlihat Mila tengah menyuapinya dengan hati-hati, sedangkan Ardi tengah fokus dengan laptopnya.
"Mila, kamu selalu luangin waktu buat nemuin Niyakan?" tanya Ardi.
"Iya, walaupun dia ada anak-anaknya aku kadang minta mereka tukeran buat nemenin Niya dan Farel," sahut Mila
"Aku udah nggak papa Mah, kalau Mamah nemuin Tante Niya temuin aja," ucap Farel.
"Kamu masih belum pulih seutuhnya Farel," sahut Mila.
"Aku udah sehat Mah," ucap Farel.
"Kalau Mamah bilang belum ya belum," kekeh Mila.
"Udahlah Rel, iyain aja Mamah itu," seru Ardi.
"Iya Mah," sahut Farel.
"Makan yang banyak, biar cepet sembuh," pinta Mila sambil menyuapi Farel.
"Bener kata Mamah, kalau udah sembuh Ayah beliin mobil baru," ucap Ardi.
"Emangnya aku anak kecil, harus di sogok pake mainan dulu baru mau sembuh," ucap Farel.
"Yang bilang mainan siapa? Yang Ayah maksud mobil keluaran terbaru asli bukan mainan," jelas Ardi.
"Beneran Yah, jangan ingkar!" sahut Farel.
"Iya janji," ucap Ardi.
"Kalau udah di bilangin mobil aja semangat, coba aja kalau di ajak minum obat, pake drama muntah segala," kesal Mila.
Yups, Setiap kali Mila mau ngasih obat ke Farel, pasti ada aja dramanya yang kebelet lah, muntah dan masih banyak lagi. Sedari kecil Farel tidak penah mau di kasih obat, pasti harus di paksa dahulu baru mau.
"Nggak enak Mah, pahit," sahut Farel.
"Yang bilang obat manis juga siapa?" kesal Mila. "Nakal, suka bolos, kerjaan cuman tauran doang, buat ulah, tapi kalau udah sama obat mleyot," gerutunya.
"Hmmm, kebiasaan emak-emak masa lulu di ungkit-ungkit," batin Farel.
Mila terus menyuapi Farel dengan mulut yang masih menggerutu. Ardi yang mendengarnya pun menutup telinganya dengan aerphone. Farel terus beristighfar mendengar ucapan Mila.
...🌸...
Kini Reza, Sisil, Juna, Nayla, Deni dan anak-anak tengah berpencar mencari informasi kematian Tasya dan Ketua geng itu. Terlihat mereka menanyai satu per satu orang. Panasnya Matahari yang terik tidak membuat mereka berhenti mencari informasi.
"Hufff, apa mereka benar-benar nggak tau soal Tasya sama si tuh anak?" ucap Sisil kesal.
"Kayaknya beberapa dari mereka udah di sogok untuk tutup mulut," ucap Nayla.
"Sepertinya iya, aneh aja masa ada mayat ngapung mereka nggak heboh," sahut Juna.
Tak lama handphone Deni berbunyi. Ia pun mengangkatnya. Setelah selesai ia mematikan telponnya kembali dan segera memberitau teman-temannya.
"Salah satu anggota gue bilang ada yang nyerang mereka dari belakang dan dua orang tewas," ucap Deni.
"astaughfirullah," ucap Nayla dan Sisil bersamaan.
"Innalillahiwainnailaihirojiun," ucap Reza, dan Juna, di susul Nayla serta Sisil.
"Ayo kita ke sana!" ucap Sisil dan mereka pun mengangguk. Mereka hendak melangkah pergi, namun terhenti.
"Bentar, yang ke sana biar bang Deni, bang Juna sama Sisil saja," pinta Reza.
"Kenapa nggak bar--" ucap Juna terhenti karena melihat Reza mengodenya untuk mengikuti maunya. "Okelah," sahut Juna.
Mereka bertiga pun pamit dan pergi meninggalkan tempat. Reza dan Nayla pun ikut pergi dan kembali mencari informasi. Nayla merasa bingung dengan ide Reza tadi.
"Ngapa kita nggak ke sana bareng-bareng?" tanya Nayla dengan suara pelan.
"Gue rasa, mereka ingin kita semua pergi ke sana dan mereka pun kemari untuk melakukan sesuatu," sahut Reza dengan pelan.
"Jangan-jangan bener dugaan kita, kalau ada warga di sini tau sesuatu soal Tasya dan si Ketua," ucap Nayla dan di angguki Reza.
"Lo pinter dan jeli juga, kok bisa geng lo di bawah gengnya Farel," tanya Nayla.
__ADS_1
"Gue buat itu cuman buat main, kagak buat bisnis," sahut Reza.
"Ohhh gitu," sahut Nayla.
°°°°
Desy, David dan anak-anak kini telah berada di rumah sakit. Tujuh orang menjaga di luar dan tiga anak ikut mereka berdua. Mereka berlima pun masuk ke dalam dan langsung menuju ruangannya Tasya.
"Teman dari almarhum Tasya?" tanya Dokter.
"Iya," sahut Desy.
"Ini surat yang di tinggalkan pesien, sebelum almarhun meninggal, ia menitip pesan untuk memberikan ini ke Keluarganya nanti." ucap Dokter itu memberitahukan.
"Apa?" ucap Desy dan David bersamaan.
"Jadi Tasya sampai sini dalam keadaan hidup?" tanya Desy.
"Iya," sahut Dokter itu.
"Siapa yang antar Tasya ke sini?" tanya David.
"Warga menelpon kami dan kami pun membawa almarhum ke sini," sahut sang Dokter.
David merasa janggal dan Desy pun sama. "Kalau boleh saya tau, warga yang menelpon atas nama siapa ya?" tanya Desy.
"Maaf, kami tidak tau namanya," sahut Dokter itu. "Maaf saya masih ada pasien, Assalammualaikum," pamitnya.
"Waalaikumsalam," sahut Desy dan David bersamaan. Dokter itu pun pergi.
"Gue rasa dia nutupin sesuatu," ucap Desy curiga.
"Gue juga ngarasa gitu," sahut David. "Kita urus Tasya dulu, baru soal ini," ucapnya dan di angguki Desy.
Mereka mempersiapkan segala keperluan Tasya untuk di bawa pergi ke rumahnya dengan ambulan. Setelah semuanya telah siap, mereka oun masuk ke mobil masing-masing. Ambulans itu berada di tengah dan paling depan adalah mobil yang di anaiki Desy serta David, sedangkan mobil anak-anak berda di belakang.
°°°°°
Sisil, Juna dan Deni kini tekah berada di lokasi. Terlihat Sisil tengah mempersiapkan ambulan dan persiapan untuk para korban dan Juna menanyai anak-anak perihal masalah ini, sedangkan Deni tengah menghubungi satu persatu keluarga dan meminta sebagian anggota WW yang tidak ikut dia, untuk memepersiapkan kepergian anggotanya di sana.
"Huffff, korbanya makin bertambah aja," ucap Sisil.
"Udah berapa kali kami bilang, jangan ungkit ini!" ucap Sisil berbisik sembari mencubit pinggang Juna.
"Awww, iii-iya Maaf," ucap Juna dan Sisil membuang muka.
"Sakit Bro?" tanya Deni.
"Sakitlah goblok, lo mau coba hah," tawar Juna.
"Kagak perlu repot-repot, gue udah biasa juga di gituin," tolak Deni.
"Sama Desy?" tanya Juna.
"Sama Nyokaplah, kalau Desy sukanya main tangan," sahut Deni membuat Juna ketawa.
"Ohh iya, Farel tau soal kondisi anggota lo saat ini?" tanya Juna setelah menghentikan tawanya.
"Nggak tau, itu urusan David," sahut Deni.
"Gue denger ada perlawanan dari musuh lain akhir-akhir ini dan bikin beberapa anggota lo tewas, Farel juga nggak tau?" tanya Juna.
"Gue nggak tau," sahut Deni.
"Ck." Juna bedecak kesal.
Mereka pun menyusul Sisil dan melakukan tugas masing-masing.
...🌸...
Reyhan dan Klara kini telah berada di Rumah Sakit. Mereka menemui Niya dan Yohan untuk bertukar tempat.
"Assalammualaikum," ucap Reyhan dan Klara.
"Waalaikumsalam," sahut Niya dan Yohan. Mereka berdua pun telah siap pulang ke rumah.
__ADS_1
"Jaga Syakila yang bener, jangan mera-meraan di sini!" pesan Yohan.
"Iya nggak akan Yah," sahut Reyhan.
"Baby boy udah tidur?" tanya Niya.
"Udah Mah, ada di kamar biasa," ucap Klara dan di angguki Niya.
"Ya udah, kita pulang dulu, nanti malam kami ke sini lagi," ucap Yohan dan di angguki Reyhan serta Klara. Yohan dan Niya pun pergi.
"Kapan ya Syakila bangun?" tanya Klara.
"Kata Kelvin bentar lagi," ucap Reyhan.
"Emang Kelvin Dokter," seru Klara.
"Tapi, aku juga ngerasa gitu sih," sahut Reyhan.
"Aminnn, semoga yang kalian rasakan adalah sebuah pertanda yang baik," ucap Klara.
"Aminnn," sahut Reyhan.
Tak lama Mila datang bersama Farel yang berada di atas kursi rodanya. Mereka berdua menghampiri Reyhan dan juga Klara.
"Ya ampunnnn, kalian pasangan yang cocok banget tau," ucap Mila. "Yang cewek cantik, yang cowok ganteng."
Klara tersenyum lembut. "Terimakasih, Tante juga cantik," ucap Klara.
"Ohhh itu sudah pasti, kalau saya jelek mana bisa Farel jadi seganteng ini," sahut Mila sembari mencubit pipi Farel dengan gemas.
"Aww, sakit Mah," keluh Farel. Klara dan Reyhan tertawa kecil melihat tingkah Mila.
"Hehehheee, Mamah gemes banget sama kamu," ucap Mila.
"Tapi, sakit Mah," ucap Farel.
"Maaf," sahut Mila. "Ohh iya, dulu waktu
Tante sama Niya hamil, tante tuh ngelus-ngelus perut sambil lihat kamu sama Kelvin dan dalam hati berdoa supaya anakku punya wajah yang tampan mengalahi kalian berdua, setelah brojol bener dong anak Tante lebih ganteng," ucapnya.
"Pantes ya Tan, Farel bisa seganteng ini," ucap Reyhan.
"Hahaahaaa," tawa Mila.
"Syakila masih belum ada perkembangan Kak?" tanya Farel.
"Udah ada perkembangan dikit," sahut Reyhan. "Ohh iya, Tante sama Farel keluar kenapa?" tanyanya.
"Farel yang minta," sahut Mila.
"Di suruh Kak Kelvin ke sini," sahut Farel.
Tak lama seorang pemuda tampan berlari menghampiri mereka semua dengan wajah yang senang. Ia adalah Kelvin. Ia terlihat ngos-ngossan karena berlari dari parkiran hingga ke sini.
"Lo ngapain pake lari segala," omel Reyhan.
"Gu-gue mau," ucap Kelvin menggantung. Ia mengatur napasnya dan detak jantungnya.
"Kamu nggak kuliah Vin?" tanya Klara.
Reyhan langsung menjewer telinga Kelvin dengan kuat. "Lo bolos hah," ucapnya.
"Awww, sakit Kak, gue baru aja selesai kuliah langsung ke sini," sahut Kelvin sembari memegangi telinganya dan Reyhan pun melepasnya.
"Emangnya ada apa di sini, kok kamu sampek begini?" tanya Klara.
"Nih, mau ketemu Farel," sahut Kelvin dan dia angguki Klara. Ia pun membisikkan sesuatu ke Farel.
Farel mendengarkan dengan serius dan pergi masuk ke dalam ruangan Syakila bersama Kelvin. "Kak, lo yakin pake cara ini berhasil?" tanyanya memastikan.
"Ikutin aja, kalau beneran berhasil, lo nggak usah takut ada gue yang berada di pihak kalian," ucap Kelvin dan Farel pun mengangguk paham.
Kelvin pun meninggalkan Farel berduaan dengan Syakila. Farel melakukan apa yang di suruh Kelvin. Ia merasa canggung dan malu, namun ia berhasil melakukannya. Tak lama ia pun keluar dari ruangan Syakila.
"Gimana udah?" tanya Kelvin.
__ADS_1
"Udah," sahut Farel.
Wajah Kelvin terlihat begitu senang dan wajah Farel sedikit merona. Reyhan, Klara dan Mila yang melihatnya di buat bingung dengan eksresi wajah mereka.