Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 10


__ADS_3

Aku yang pernah berburuk sangka pada arti pandangan pertama. Pandangan yang bukan di tujukan padaku menjadi sebab terjadinya patah hati.


***


Belum sempat Vita menginjakkan kaki di rumahnya setelah mengantar Zayn pulang, telepon genggamnya berbunyi. Tertera nama Mbak Asih di layar datar benda tersebut. Vita segera mengangkat.


"Assalamualaikum, Mbak Vita. Ini, Bu Kia nggak mau makan, Mbak. Saya bingung, di bujuk dari pagi nggak mau makan juga. Kasihan Zayn nungguin di depan pintu dari tadi jadi ikut-ikutan nggak makan." jelas Mbak Asih yang terdengar jelas jenis suaranya mendandakan bahwa Ia sedang cemas.


"Ya Allah, Mbak. Baik tunggu sebentar, saya balik lagi ke sana." Vita pun memutar kemudi mobilnya kembali menuju rumah Kia.


Sesampainya di sana, Vita membawa Zayn terlebih dahulu ke bawah untuk makan. Usai membujuk anak laki-laki itu, Vita kembali ke atas lalu mengetuk pintu kamar Kia, namun tak ada jawaban.


Dengan hati-hati Vita memutar gagang pintu kamar tersebut, ternyata tidak terkunci. Vita pun langsung masuk ke dalam guna memastikan apakah Kia baik-baik saja atau tidak.


"Assalamualaikum, Kia." sapa Vita sambil melangkahkan kaki mendekati Kia yang duduk di lantai dengan pinggiran ranjang sebagai sandaran, pandangannya lurus ke depan menatap langit yang mulai menguning.


"Apa kamu ingat foto ini, Vita?" Kia menyodorkan sebuat foto berbingkai love yang sejak pagi di pegangnya. Vita pun menyambut, memperhatikan dengan seksama foto tersebut.


"Ini foto pertama kali kita double date, tapi sayang Reyhan pulang lebih dulu karena ada urusan mendesak yang mengharuskan dia pulang. Hasilnya cuma ada kita bertiga dalam foto itu." Kia mengukir senyum kecut. Vita masih bergeming, bibirnya terus mengatup dengan telinga yang setia mendengarkan.


Kia menghela nafas sejenak lalu menoleh ke arah wanita yang sudah dia anggap sebagai saudara kandungnya.


"Kamu ingat nggak, sebelumnya dulu kita sempat adu mulut. Aku yang menyatakan cinta ke Ismail, tapi langsung di tolak gitu aja sama dia. Terus beberapa bulan setelahnya, dia malah nyatakan cinta ke kamu. Pertama kalinya dalam hidup aku merasa terpuruk, bimbang harus percaya sama siapa, aku sampai berpikiran negatif ke kamu."


*Flashback.


Kia membawa banyak kertas berjilid di tangannya karena hari ini ada tugas presentasi di mata kuliahnya jam delapan nanti.


Kia berlari tergesa-gesa melewati ruang perpustakaan, karena tumpukkan tugas di tangannya sangat tinggi sehingga menghalangi pandangannya, Kia akhirnya menabrak seseorang di hadapannya hingga keduanya terjatuh.


"Maaf, aku nggak sengaja." ujar Kia sambil membereskan tugasnya yang berhamburan.


"Iyaa, nggak apa-apa kok." jawabnya sambil tersenyum dengan pandangan mata yang saling beradu.


Kia bergeming, terkesima pada wajah laki-laki di hadapannya. Apalagi senyum yang di berikan padanya seakan menghipnotis seorang Zaskia yang di kenal cuek pada lawan jenis.


"Terima kasih," ucap Kia setelah laki-laki itu membantunya untuk bangun.


"Kia, cepat. Kita hampir terlambat!" suara menggelegar Vita merusak suasana romantis yang sedang di alami sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Lain kali hati-hati." ujar pria tersebut pamit saat Vita sudah berada di sisi Kia.


Kia tersenyum mengangguk di balas oleh laki-laki yang memiliki senyum manis itu. Kia memandang kepergiannya hingga tak terlihat lagi dari matanya.


"Hayo! Malah melamun, cepatlah! Kita sudah mau terlambat kelas nih." rengek Vita sambil menarik tangan Kia menuju kelas.


Jam istirahat tiba, Kia dan Vita sama-sama menuju kantin guna menghilangkan haus dahaga dan memberi makan cacing dalam perut yang sudah kelaparan.


"Vita, aku mau cerita." seru Kia sambil membalikkan sendok dan garpu di piringnya tanda sudah selesai menyantap makanannya.


"Tentang apa?" tanya Vita setelah membersihkan bibirnya menggunakan tissue.


"Kamu ingat nggak tadi, cowok yang bantu aku di depan perpustakaan?" Kia mengawali pertanyaan agar mudah melanjutkan pembahasan.


"Ingat, namanya Ismail, sahabat pacar aku." sahut Vita seadanya.


"Oh, ya? Ternyata namanya Ismail, ya?" tanya lagi Kia basa-basi.


"Kenapa memangnya, Kia?" Vita menatap wajah Kia yang mulai berubah warna menjadi merah merona.


"Kayaknya aku jatuh cinta pada pandangan pertama deh. Senyumnya manis, sopan, dan tinggi. Ih idaman aku banget, Vita. Terus, pas dia balik, dia sempat berbalik terus senyum gitu. Sumpah, denyut jantungku berdebar-debar." Kia menjelaskan, dari raut wajah terlihat bahwa dia sedang kasmaran sekarang.


"Wah, Jangan-jangan dia suka juga sama kamu, Kia." Vita menyenggolkan bahunya ke bahu Kia. Sungguh menggoda Kia adalah aktivitas yang paling dia sukai.


"Nanti aku tanyakan ke Reyhan 'deh, dia punya gebetan apa jomblo. Tenang, kalau dia jomblo aku bantuin kamu." ujar Vita dengan semangat membuat Kia memeluknya erat.


"Terima kasih, Vita. Kamu emang sahabat aku yang paliiiing baik."


Sesuai janjinya, Vita mendatangi Reyhan yang katanya akan memperkenalkan dia dengan sahabatnya kekasihnya itu.


"Kenalin nih, Bro. Pacar aku, Devita namanya." ucap Reyhan sambil merangkul pinggang Vita menegaskan kepemilikannya.


"Oh, hai. Aku Ismail. Salam kenal." Ismail tersenyum menatap sebentar lalu membuang pandangannya ke sembarang arah.


"Salam kenal juga. Oh, iya, kamu sudah punya pacar belum?" tanya Vita to the point. Reyhan menatap Vita dengan bingung.


"Be.. Belum, kenapa?" tanya Ismail dengan gugup.


"Oh, teman aku mau kenalan sama kamu. " jawab Vita membuat Reyhan menghembuskan nafas dengan lega.

__ADS_1


"Zaskia kah?" tanya Reyhan karena dia hanya tau bahwa Zaskia yang sangat dekat dengannya.


"Betul. Kalau kamu mau, nanti aku atur waktu untuk kalian ketemuan di luar, biar enak sambil nyemil di cafe misalnya." usul Vita dengan lancar. Apapun yang menyangkut soal kebahagiaan sahabatnya, dia akan bergerak cepat.


"Hmm, kamu atur aja deh. Oh, iya minta nomor ponsel kamu biar enak ngabarinnya nanti." kata Ismail menyodorkan ponsel genggamnya. Vita menyambut lalu mengetikkan deretan angka di layar kaca tersebut.


"Kalau begitu, aku akan mengaturnya. Aku tunggu nanti malam jam delapan di cafe depan, ya. Aku mau balik duluan, ya. Bye, Sayang." Vita berpamitan kepada Reyhan kemudian segera pergi menuju ke tempat sahabatnya berada.


Sesuai dengan kesepakatan yang telah di buat sebelumnya. Kia dan Vita tengah berada di dalam sebuah cafe yang menjual aneka Coffee dan kue. Mereka kini menanti kedatangan Ismail.


"Duh, aku gugup gini, Vit." Kia memegang telapak tangan Vita, rasanya telapak tangannya seperti es yang sedang mencair, dingin dan basah karena keringat. Menunggu Ismail setengah jam membuat suasana hatinya semakin tidak karuan.


"Santai, sebentar lagi dia dat ... Eh itu dia orangnya." Vita menunjuk ke arah Ismail yang baru sampai di pintu masuk cafe. Ismail yang melihat dua wanita tersebut pun segera mempercepat langkahnya menuju meja mereka.


"Hai girls, sorry terlambat. Macet soalnya tadi." Ismail menjelaskan.


"Nggak kok. Kita baru aja sampai, iya 'kan, Vit?" Kia menyenggol lengah Vita, memberi isyarat untuk menyetujui perkataannya.


"Iya, baru aja. Eh, bentar ya aku mau ke toilet dulu. Kalian ngobrol-ngobrol aja dulu, saling kenalan aja, kali aja cocok." Vita mengedipkan sebelah mata dengan genit ke arah Kia, yang di goda malah menjadi tersipu.


"Hai, Aku Zaskia. Salam kenal." ujar Kia setelah melihat Vita sudah tak terjangkau dari pandangan.


"Salam kenal juga, aku Ismail." dia mengulurkan tangan dan Kia menyambut dengan gerak cepat, rasa malunya mulai menguap entah kemana.


"Kamu sudah punya pacar?" tanya Kia tanpa basa-basi lagi. Sekarang jiwa bar-bar Kia pun keluar.


"Ehm, belum. Tapi sebentar lagi akan punya." sahut Ismail membuat Zaskia merasa senang karena sebentar lagi dirinya akan segera mendengar ucapan cinta dari lelaki idaman yang sedang duduk di hadapannya ini.


"Apa kriteria wanita idaman kamu?" tanya Kia lagi.


"Yang pasti perempuan." ledek Ismail dan mendapat kekehan dari Kia.


"Ya, itu 'sih sudah pasti. Kalau laki-laki, kan abnormal namanya." Kia merespon dengan menggidik.


"Wah, jangan sampai lah. Aku masih normal." sahut Ismail singkat. Sudah tiga menit mereka terdiam, seolah tidak ada pembahasan yang bisa di keluarkan. Mereka berdua sibuk dengan pemikiran masing-masing.


"Hemm, aku mau ngomong sesuatu sama kamu." kata Kia setelahnya.


"Ngomong aja." sahut Ismail datar, sesekali dia melirik ke arah pergelangan tangannya melihat putaran jarum jam yang sudah menunjukkan waktu pukul sembilan malam.

__ADS_1


"Kamu mau nggak, jadi pacar aku?" tanya Kia dengan perasaan gugup.


"Maaf, aku nggak bisa. Aku sudah suka sama orang lain."


__ADS_2