Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 13


__ADS_3

"Ismail, apa kamu berubah karena sudah mempunyai wanita selain aku?"


"Aku tidak perlu menjawab apapun pertanyaanmu!" bentak Ismail pada saat itu. Kata itulah yang terngiang di telinga Zaskia. Otaknya kini memikirkan hal yang tidak-tidak. Rasa curiga memenuhi kepala dan hatinya. Bukan tanpa alasan dia meyakini hal tersebut. Apalagi sikap Vita yang seakan sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Apakah yang ingin di katakan Vita kemarin apakah tentang hal ini? Aku yakin, dia pasti tahu tentang wanita itu. Kau pasti tahu 'kan, Vit? Kenapa kamu menutupinya dariku. Kenapa, Vita?"


"Apa menurutmu cerita ini bisa di perbaiki? Tidak, sekalipun membujuk dengan membelah jantung pun sudah tidak ada gunanya lagi. Dia sudah mempunyai kekasih baru."


"Siapa perempuan itu? Apakah aku mengenalnya?" Kia sedang berdebat dengan hati dan pikirannya.


***


Dalam perjalanan menuju tempat persinggahannya sekarang, Ismail bergeming memikirkan sesuatu yang mengganjal hatinya. Dia mengambil gawainya dan menghubungi Hakim.


"Halo, Hakim. Sepertinya kita harus bertemu." ujarnya setelah panggilan tersambung.


"Kenapa tiba-tiba, Bro?"


"Karena Kia mencurigaiku. Dia menuduhku sudah memiliki kekasih baru." raut wajahnya berubah cemas.


"Kenapa bisa begitu?"


"Ya, mana aku tahu. Tiba-tiba saja dia bertanya itu saat aku mengatakan yakin untuk menceraikannya."


"Lalu, apa kamu mengaku tentang kekasih baru itu?"


"Tentu saja enggak. Aku masih punya harga diri."


"Baguslah, karena akan sulit jika dia mengetahuinya."


"Jadi, apa yang harus aku lakukan jika dia mencariku dan bertanya hal yang sama padaku?"


"Ayolah, Bro. Jangan panik begitu. Selalu ada jalan keluar di setiap masalah. Jika nanti dia menanyakan apapun padamu. Jawab saja, bilang padanya berhenti untuk menuduhku. Bertahun-tahun saja kamu mampu menahannya. Apalagi hanya untuk sebulan atau dua bulan lamanya. "


"Baiklah, aku akan mencobanya."

__ADS_1


"Ingat untuk tetap tenang. Berhati-hatilah dalam berkata. Karena sedikit saja salah kata, itu bisa memberi peluang pada lawan."


"Terima kasih, Hakim."


"Santai, kita ini saudara, sudah kewajibanku untuk membantu. Dan ingat, jika rencana A nggak berhasil, masih ada B dan C. Tapi maaf, dalam waktu dekat aku sangat sibuk, jika ada apa-apa hubungi saja aku, oke?" sahutnya dengan mudah. Panggilan pun segera di putuskan.


Sesampainya di rumah, Ismail di sambut oleh Bella yang di lihat dari gerak-geriknya memang menunggu sedari tadi.


"Abang, kata Ibu kapan kita pindah rumah?" ujar Bella.


"Pindah, untuk apa?" Ismail merasa kesal dengan pertanyaan yang sama selalu di lontarkan oleh mereka.


"Aiss, aiss, bukannya ini waktu yang tepat untuk kita pindah ke rumah wanita itu?" goda Bella sembari memegang telapak tangan Ismail.


"Kita nggak akan pindah! Karena rumah itu, bukan rumahku!" bentak Ismail sambil menghempaskan tangan Bella ke udara.


" Tapi, Abang ... "


"Cukup, Bella! Bisa nggak, kamu jangan ikut campur urusan rumah tanggaku dengan Kia. Aku pusing, dan aku nggak suka kamu nanya tentang itu!" Ismail menghentakkan kakinya menuju kamar.


***


Meratapi kesedihan bukanlah hal yang biasa Zaskia lakukan, tapi kini ketegasan, keangkuhannya roboh begitu saja. Tak ingin larut dalam kesedihan, Zaskia membuka kunci pada gawainya. Ternyata dia mendapat sebuah pesan singkat dari nomor seseorang yang tak di kenal nya.


"Jika kamu ingin mencari tau kebenaran tentang suamimu. Pergilah ke alamat ini." isi pesan tersebut di sertai dengan lokasi yang di maksudkan.


Tanpa menunggu waktu yang lama, Zaskia menyambar kunci mobilnya kemudian bergegas turun ke bawah.


"Mau ke mana, Bu Kia. Sepertinya buru-buru sekali." tanya Mbak Asih yang sedang membersihkan teras rumah.


"Mencari dalang dari kehancuran rumah tanggaku." ucapnya datar segera masuk ke dalam mobil dan memacunya dengan kecepatan sedang.


"Aku akan membongkar kebenaran yang kamu sembunyikan, Mail!" cetusnya dalam hati dengan hati yang memanas.


Ismail menyeduh secangkir kopi tanpa bantuan siapapun, dia sudah terbiasa melakukannya sendirian. Dia membawa cangkir tersebut ke teras untuk menikmatinya sambil merasakan hembusan angin segar yang bertiup dari berbagai arah.

__ADS_1


"Abang, aku minta maaf. Bukan maksudku untuk mendesakmu pindah dari rumah ini, tapi kamu tau 'kan bagaimana Ibu? Dia adalah orang jahat yang nggak bisa di bantah." celetuk Bella sambil memasang wajah tersedihnya.


"Ya, aku tau. Tapi bisa 'kah kamu jangan ikut-ikutan? Aku sudah lelah, selama tujuh tahun ini aku mengalah. Ibu bahkan nggak pernah merasa puas atas apa yang pernah aku berikan padanya." jelas Ismail dengan tegas.


"Iya, Abang. Maka dari itu aku minta maaf. Serta maafkan juga atas kelakuan Ibu selama ini." Bella menghela nafasnya, kemudian ikut duduk di kursi sebelah Ismail.


"Aku sudah memakluminya. Wataknya yang sudah seperti itu, memangnya aku bisa apa?" Ismail kembali menyesap kopi setelahnya.


"Tapi, Ibu seperti itu karena sudah nggak tahan dengan pernikahan yang Abang sembunyikan bertahun-tahun lamanya." ujar Bella menatap mata Ismail.


"Pernikahan siapa?" Ismail dan Bella pun serentak mendongakkan kepala ke sumber suara.


"Kia!" Ismail dan Bella sama-sama berdiri karena terkejut, kemudian keduanya saling pandang. Bagaimana bisa Kia tau rumah mereka, dan darimana Kia mendapatkan alamatnya? Otak mereka seakan menyatu.


"Aku tanya pernikahan siapa!" bentak Kia membuat Bella berdiri di belakang Ismail untuk bersembunyi.


"Jadi, siapa wanita ini? Kenapa kamu bersamanya? Apa pernikahan yang kamu sembunyikan ini adalah pernikahanmu dengannya?" Kia memborong pertanyaan kepada Ismail, sedangkan yang di tanya hanya bergeming membiarkan wanita yang masih menjadi istrinya itu untuk terus bertanya.


"Ternyata kamu selama ini berselingkuh? Jawab aku, Mail!" Kia memukul dada Ismail dengan menangis.


"Sudah selesai?" tanya Ismail tanpa rasa bersalah.


"Aku nggak ngerti, kenapa selama ini kamu menyalahkan sikap aku, sementara kamu yang malah mengkhianati aku! Aku di hantui rasa berdosa, ternyata kamu malah melakukan hal ini padaku. Apakah itu pantas?" bentak Kia masih dengan derai air mata yang menghujani pipi kemerah-merahan miliknya.


"Kamu tau, aku ini seorang istri yang paling menyedihkan saat ini. Di permalukan dengan kata cerai yang di umumkan melalui sosial media. Haha, pasti semua orang sekarang mentertawakan aku. Ternyata bukan hanya malu yang aku dapat, tapi gelar bodoh pun melekat dalam diriku." tambahnya dengan tangan mengepal kuat.


"Kamu hebat, Mail. Caramu terlalu halus untuk membuatku malu dan di pandang sebagai orang jahat untuk dirimu yang baik." Kia bertepuk tangan atas drama hebat yang di mainkan oleh calon 'Mantan Suami' nya.


"Sudah, Kia. Jangan buat keributan di rumah ini. Tolong tenang, ini bukan rumahmu." ujar Ismail membawa Kia duduk di kursi.


"Mulai kapan?" tanya Kia setelah menjeda untuk menenangkan dirinya.


"Apanya?" Ismail balik bertanya.


"Kapan kalian memulainya!" bentak Kia, emosinya sudah tidak terkendali.

__ADS_1


"Sebelum kita mengadopsi Zayn." sahut Ismail setenang mungkin.


__ADS_2