Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 32


__ADS_3

Sepasang mata jelita yang masih tertutup rapat itu terpaksa terbuka saat mendengar suara bel berbunyi. Wanita itu tadinya kembali tertidur setelah melaksanakan sholat subuh, karena nyamannya rumah yang dia tinggali membuatnya enggan untuk melewatkan waktu istirahat walau matahari sudah muncul dari ufuk timur.


Ting Tong ... Suara bel kembali terdengar berulang kali membuat wanita itu bangun, kemudian berjalan keluar sambil mengucek mata, setelahnya Kia segera membuka pintu luar.


"Pagi, Kia." sapa Rey ketika pintu sudah berhasil terbuka.


"Eh, Rey. Pagi juga. Ayo masuk." ajak Kia, namun lelaki itu hanya menggeleng.


"Ini aku bawakan kamu makanan untuk sarapan." Rey mengangkat sebuah tote bag berisi kotak bekal yang ukurannya lumayan besar.


"Wah, enak nih kayaknya." ujar Kia sembari menelan saliva nya sendiri saat bekalnya terpampang nyata di depan matanya.


"Iya enak, lah. Cepat bersiap, aku tunggu di mobil, kita akan makan di taman." titah Rey sambil menarik kembali bekal yang dia sodorkan tadi.


"Kenapa nggak makan di dalam saja, ada apa memangnya?" tanya Kia dengan kerutan yang terhias di dahi mulusnya.


"Aku takut di gosipkan hal buruk oleh tetangga karena berdua-duaan denganmu di dalam." ujar Rey terkekeh dan di ikuti juga oleh Kia.


"Astaga, kamu benar, Rey. Bisa-bisanya aku melupakan hal ini. Aku lupa kalau fitnah lebih kejam daripada Ismail. Ya sudah aku masuk dulu mau bersiap sebentar." Kia pun segera pamit untuk bersiap. Setelah beberapa saat menunggu, Kia pun keluar dengan menggunakan pakaian santai.


Mereka pun berangkat menuju taman terdekat, di sana sudah banyak anak remaja yang berlari dengan sebuah earphone menempel di telinga. Tak sedikit orang tua beserta anaknya juga sedang melakukan jogging pagi hari ini.


Kini Kia dan Rey memilih untuk duduk di bawah pohon rindang yang berada di taman tersebut. Udara pagi di bawah pohon membuat rongga pernafasan mereka terasa sejuk.


Rey pun mengeluarkan kotak bekal dari tote bag dan menyusun kotak tersebut di atasnya. Mereka pun memulai sarapannya setelah mengucap basmallah.


"Bismillahirrahmanirrahim." ujar mereka bersamaan.


"Boleh aku bertanya-tanya tentang kehidupanmu selama ini?" tanya Rey setelah mengunyah suapan pertamanya.


"Silahkan, Rey." sahut Kia.

__ADS_1


"Jadi sekarang kamu nggak lagi bekerja di perusahaan?" tanya Rey menatap Kia yang juga sedang menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Bagaimana aku bisa bekerja, posisiku d sana sudah terancam punah bagai satwa liar. Ismail yang memecatku setelah dia memindahkan seluruh saham milikku atas nama dia. Kamu tau, karyawanku juga lah yang membantu Ismail untuk bisa naik jabatan ini." ujar Kia dengan mulut yang masih penuh.


"Licik sekali lelaki itu. oh, ya, apa selama bertahun-tahun ini kamu nggak pernah curiga sedikit pun pada Ismail dan Devita?" tanya Rey lagi sembari menyodorkan botol air mineral yang sudah dia buka tutupnya.


"No, mungkin karena aku ini sangat bodoh." ujar Kia setelah meneguk air mineral tersebut, sedangkan Rey hanya bisa tertawa mengejek.


"Lalu bagaimana interaksi Ismail dan Devita selama ini?" tanya Rey lagi.


"Mereka berdua berinteraksi dengan wajar, nggak pernah aku menciduk mereka sedang berduaan atau berjalan bersama. Berbicara saja mereka seakan enggan kalau bukan aku yang menyuruh mereka. Jadi aku pikir, semua baik-baik aja. Karena nggak ada hal yang mencurigakan dari mereka berdua." jelas Kia.


"Ini malah nggak wajar, sebenarnya apa 'ya, yang mereka sembunyikan?" Rey bertanya sembari ikut berpikir.


"Entahlah, Rey. Semuanya sangat tiba-tiba bagiku. Tapi aku sudah ikhlas tentang itu. Aku cuma ingin bertemu Zayn saat ini." kata Kia menghela nafas sembari menatap langit biru dengan awan yang terlihat masih jarang-jarang.


"Nah, ini yang mau aku bahas denganmu. Aku sebenarnya mau mengajakmu bertemu Ismail, membahas tentang Zayn. Walau Zayn bukan anak kandungmu, tapi kamu yang membesarkannya, aku rasa mereka nggak ada hak untuk mengambil Zayn darimu." ujar Rey membuat mata Kia berbinar.


"Mungkin saja bisa." sahut Rey.


"Setelah sarapan, kita pergi ke perusahaan mu." tambahnya lagi membuat Kia makan dengan bersemangat.


***


Ismail merasa bahwa keluarga kecilnya sekarang mulai lengkap. Devita yang sudah mulai mencintainya dan Zayn yang sudah berusaha menerima ibunya.


Ismail menatap sebuah bingkai foto baru yang berisi gambarnya dengan anak dan istrinya. Dia tersenyum lalu memanggil Riska untuk masuk ke ruangannya.


"Ya, Bos Ismail. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Riska sambil menunduk takut.


"Tolong bantu aku booking meja di sebuah restoran malam ini pukul tujuh." sahut Ismail tanpa menoleh sedikitpunĀ  matanya kini sedang fokus mengusap layar ponselnya.

__ADS_1


"Malam ini? Bukankah malam ini pukul tujuh Bos ada pertemuan di hotel Astor dengan Pak Faisal dan klien lainnya?" Riska mengingatkan.


"Bantu aku untuk memundurkan hari nya menjadi besok." titah Ismail.


"Tapi, selama ini Bos selalu menunda untuk pertemuan ini, saya takut kalau-" ucapan Riska tertahan karena Ismail terlebih dulu memotongnya.


"Lakukan apa yang saya minta. Kalau kamu kesulitan, kamu saja yang menggantikan aku." titahnya lagi tanpa menghiraukan Riska yang terlihat enggan.


"Baik, Pak. Akan saya lakukan sekarang." Riska hendak keluar dari ruanyan itu, namun terlintas pertanyaan dan wanita itu pun kembali berbalik menghadap sang pimpinan.


"Sebelumnya maaf, Bos akan makan bersama siapa, biar memudahkan saya memboking tempat duduk." tanya Riska dengan hati-hati.


"Anak dan istriku." ujar Ismail geram.


"Apakah istri anda keduanya, atau-" ucapan Riska terpotong kembali.


"Pertanyaan macam apa itu? Istriku hanya Devita!" bentak Ismail membuat Riska sedikit tersentak karena terkejut.


"Maaf bos, saya kira anda belum resmi bercerai." sahut Riska pelan.


"Keluar!" gertak Ismail, membuat Riska kembali mengangguk dan menunduk.


"Baik, bos. Akan saya lakukan sekarang, permisi." Riska melangkah keluar dengan tergesa. Takut kalau Ismail akan kembali memberikan tugas baru untuknya.


Ismail keluar dari ruangannya lalu bertepuk tangan meminta perhatian dari para pegawainya. Semua terhenyak berhenti saat mendengar kode yang di berikan oleh Ismail. Ketika semua menghentikan pekerjaannya, Ismail berdehem lalu melipat tangannya di dada.


"Apakah kalian belum mendengar kabar, kalau istriku sekarang hanya satu, yaitu Devita." tanya Ismail dengan lantang namun semua menunduk, tak menjawab.


"Dengarkan aku baik-baik, aku akan umumkan sekali lagi, istriku sekarang hanyalah Devita, karena aku dan Zaskia sudah bercerai." cetus lelaki itu dan semua pegawainya terpaksa mengangguk karena takut.


"Siapa bilang, Zaskia bukan lagi istrimu!" suara seseorang menyanggah pernyataan dari Ismail.

__ADS_1


__ADS_2