
Wati duduk diam termenung dalam kamarnya, bohong jika dirinya tidak memikirkan kata terakhir dari Hakim.
"Begini, Ibu Wati. Memang benar cara anda ini simple dan berguna. Tapi kalau Devita dan Ismail mencari Zayn, lalu melaporkan kasus ini kepada polisi, apa bukan anda yang menjadi tersangka atas hilangnya Zayn?" kata-kata itu terus terngiang dalam benaknya.
"Astaga, bagaimana ini? Bagaimana kalau Devita tau, aku yang mengusir anaknya dari sini? Mampus lah aku, bisa-bisa aku juga ikut di husir olehnya." keluhnya sembari mulai mondar mandir mengitari kamarnya.
"Nggak bisa! Aku harus mencari cara agar aku nggak ikut terlibat masalah ini." tekadnya dalam hati. Wati pun mulai berpikir, mencari-cari solusi dan kata yang tepat untuk mengelabui Devita.
"Assalamualaikum," terdengar suara Vita yang baru saja masuk ke dalam rumah. Dirinya baru saja pulang dari Cafe usai bertemu Rey tadi.
Vita pun menaiki tangga menuju kamar Zayn. Wanita itu pun membuka pintu dan tidak mendapati Zayn di sana.
Vita menutup pintu dan bergegas pergi menuju ke dapur, berharap puteranya ada di sana.
"Zayn!" teriak Vita memanggil nama anaknya. Bukan Zayn yang mendengar namun Ibunya lah yang keluar kamar dan mendekati Vita.
Bersamaan dengan kedatangan Bella dari luar, Wati mulai beraksi memasang wajah cemas di sertai derai air mata buaya betina.
"Ada apa, Bu?" tanya Vita dan Bella bersamaan.
"Zayn-" ujarnya tanpa meneruskan kalimatnya, malah menambah ekspresi sedihnya.
"Ada apa dengan Zayn?" tanya kedua anaknya kembali bersamaan. Mereka yang tadinya tak begitu cemas, kini mulai mencemaskan apa yang sedang terjadi.
"Tadi aku baru saja ingin memberi dia makan, tapi saat aku masuk ke kamarnya, Zayn tidak ada di sana." jelasnya dengan derai air mata.
"Astaghfirullahal'adzim, Zayn hilang?" tanya lagi keduanya serempak dengan memasang wajah kaget.
Mata Vita kini membola, hatinya terasa sesak. Segera dia berlari keluar, ingin mengecek rumah Ibu Lia, berharap Zayn berada di sana untuk bermain.
"Assalamualaikum!" teriak Vita sambil memencet bel rumah Ibu Lia tanpa henti.
"Waalaikumsalam, eh Ibu Vita ada apa, ya?" sahut sang pemilik rumah.
__ADS_1
"Apa Zayn main ke sini, Bu Lia?" tanya Vita masih dengan ekspresi yang sama. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya, keringat pun mengucur dari kepala menyentuh keningnya.
"Zayn? Sudah lama Zayn nggak main ke sini, Bu Vita. Memangnya ada apa?" tanya Ibu Lia lagi.
"Zayn hilang, Bu Lia." ungkap Vita dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kalau begitu saya mau mencari Zayn dulu. Kalau seandainya nanti Zayn kembali atau mampir ke rumah Ibu Lia, tolong kabaru saya, ya. Saya permisi, Assalamualaikum." pamit Vita dan bergegas kembali ke rumah.
Sementara itu di rumahnya, Bella mulai mengintrogasi Ibu kandungnya sendiri.
"Ibu memberi makan Zayn? Apa aku nggak salah dengar, Bu? Bukannya Ibu nggak suka sama Zayn?" tanya Bella dengan tatapan mengintimidasi.
"Ibu cuma kasihan sama dia, memangnya Ibu nggak boleh berbuat baik?" sahutnya dengan kesal. Wajah yang tadinya sedih, menjadi sirna seketika saat Vita pergi.
"Baik lah. Tapi mana makanan yang mau Ibu berikan kepada Zayn? Aku sudah mengecek dapur, nggak ada makanan sedikitpun di sana!" tantang Wati, ingin sekali membongkar kejahatan Ibunya itu.
"Sudah Ibu makan sendiri." elak Wati, sambil menyembunyikan ekspresi nya yang tampak takut ketahuan.
"Sudah aku duga, Ibu itu memang nggak pernah tulus untuk berbuat baik. Mana ada orang baik yang melihat cucunya sendiri hilang malah bernafsu makan tinggi dan enak-enakan duduk manis di kamar." Bella melipat tangannya di dada sambil berpikir.
"Aku sedang berpikir, apakah Ibu yang mengusirnya dari rumah ini?" tanya Bella dengan tatapan menghunus jantung.
"Apa kamu gila? Mana mungkin Ibu setega itu!" sanggah Wati, memalingkan wajah melihat ke sana kemari untuk menghilangkan ekspresi cemasnya.
"Ibu mengaku saja, Ibu 'kan yang mengusir Zayn?" tanya Bella sekali lagi bersamaan dengan Vita yang baru saja datang lalu mendengar pertanyaan itu.
"Apa benar begitu, Bu?" Vita ikut bertanya. Wati pun merasa tersudutkan, kini akalnya terasa buntu. Di pukulnya kepalanya sendiri berharap ada inspirasi masuk ke dalam otaknya.
"Ini salahmu, Bella! Setiap kamu keluar rumah, selalu saja nggak menutup apalagi mengunci pintu!" tuduh Wati melimpahkan kesalahan kepada Bella.
"Aiss, aiss, Ibu. Apa Ibu lupa, selama ini Ibu yang suka keluar rumah, sementara aku jarang keluar. Dan tadi saat aku keluar bukankah Ibu ada di rumah, jadi untuk apa aku menutup pintu." elak Bella tak terima atas tuduhan yang menimpanya.
"Sudah cukup! Mending sekarang kita cari Zayn. Jangan ada yang pulang sebelum Zayn ketemu!" titah Vita, sementara Wati memasang wajah jengah. Enggan tapi takut dirinya semakin di curigai.
__ADS_1
"Aku yakin, sekarang pasti Zaskia yang membawanya pergi." tiba-tiba terlintas begitu saja nama itu dalam kepala Wati.
"Astaga, Kia!" Vita pun segera keluar rumah memacu mobilnya pergi sambil menelepon Kia namun tidak ada yang mengangkatnya. Hal itu semakin membuat Vita yakin bahwa Kia lah yang membawa Zayn pergi.
Berulang kali panggilan berdering, Kia merasa enggan namun penasaran untuk apa Wanita itu menelpon terus menerus. Akhirnya Kia menyerah dan menjawab panggilan itu.
"Hallo." kata Kia malas.
"Kia, kembalikan anakku sekarang juga!" titah Vita langsung.
Kia mengerutkan kening, tak mengerti maksud dari Vita. Bukankah dia yang melarang untuk bertemu Zayn, sekarang mengapa menyuruhnya untuk mengembalikan anak itu?
"Apa maksudmu, Vita?" tanya Kia dengan kesal.
"Bukannya kamu yang membawa Zayn? Kamu yang mengambilnya dariku!" bentak Vita dengan suara serak.
"Apa kamu gila? Kamu yang melarangku untuk bertemu Zayn, sekarang kamu menuduhku mengambilnya darimu?" bentak Kia juga tak terima.
"Memangnya bisa kemana lagi jika bukan bersamamu?" tanya Vita dengan suara bergetar.
"Aku nggak bersamanya, Vita!" gertak Kia yang habis kesabaran.
"Jadi Zayn hilang kemana?" tangis Vita pun pecah, air matanya luruh seketika. Isak tangis pun terdengar oleh Kia.
"Zayn hilang?" mata Kia membola dan mulutnya terbuka. Shock, hingga menjatuhkan ponselnya begitu saja.
Kia melafalkan Istighfar saat air matanya jatuh membasahi pipi. Untuk bertemu saat Zayn bersama orang tuanya saja susah, sekarang dirinya harus mencari kemana jika Zayn dinyatakan hilang?
"Astaghfirullahal'adzim, Zayn." segera di ambil kembali ponselnya dan kembali menempelkan di telinganya.
"Bagaimana kronologi hilangnya Zayn?" tanya Kia sembari menyeka air matanya.
"Aku nggak tau, Kia. Tadi saat aku pulang, Zayn sudah nggak ada." ujar Vita lirih.
__ADS_1
"Bodoh!" Kia mengumpat kasar.