
Pagi-pagi sekali Devita menelepon Zaskia, wanita itu ingin menjemput anaknya pulang. Kia pun membangunkan anaknya itu lalu segera menyuruh mandi.
"Memangnya mau kemana sampai Zayn harus mandi pagi?" keluh Zayn yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Memangnya harus jalan dulu baru mandi pagi? Memangnya selama ini nggak pernah mandi pagi setelah Mama tinggalkan Zayn?" tanya Kia sembari menyiapkan pakaian untuk Zayn.
Anak laki-laki itu menggeleng dan terlihat murung, Lagi-lagi Zayn teringat akan dirinya yang tidak terurus saat di tinggalkan oleh Kia.
"Ya sudah, sekarang pakai pakaian dulu, sebentar lagi Ibumu akan menjemput Zayn." ujar Kia memakaikan pakaian Zayn.
"Aih, kenapa Zayn harus pulang ke rumah Ibu?" keluh Zayn sembari mencebikkan bibir.
"Ingat, Zayn sekarang punya dua Ibu." ujar Kia memperingatkan.
"Ibu Vita dan Mama Kia?" tanya Zayn dan di balas anggukkan oleh sang mama.
"Ya, karena sekarang Zayn punya dua Ibu, makanya Zayn harus adil. Siap-siap Zayn akan di gilir sewaktu-waktu." ledek Kia dan Zayn memasang wajah malas.
"Baiklah, tapi aku ingin Mama dan Om Rey menikah." pinta Zayn dan Kia pun menghela nafas, ada-ada saja keinginan anaknya ini.
"Memangnya ada apa? Kenapa Zayn ingin sekali Mama menikah dengan Om Rey? Padahal dulu Zayn nggak mau kalau Mama dan Papa bercerai." tanya Kia yang saat ini sedang menyisir rambut Zayn.
"Itu dulu, Mama. Sekarang Zayn melihat kalau Ayah dan Ibu sudah bahagia. Sekarang Zayn ingin melihat Mama bahagia juga bersama Om Rey, karena Om Rey cocok dengan Mama." jelas Zayn yang lebih mengerti situasi sekarang.
Kia menunduk, wajahnya berubah menjadi sendu. Anaknya ini sudah berpikiran dewasa sampai-sampai menginginkan kebahagiaannya. Dia sangat terharu, namun bingung harus bagaimana.
Zayn pun mendekati Kia, di tangkup bingkai wajah Sang Mama, lalu mengecup pelan pipi wanita itu.
"Mama juga pantas bahagia dan Zayn ingin Mama bahagia." ujar Zayn tersenyum.
Kia pun meneteskan air matanya, memandang lekat wajah Zayn dengan haru. Tak sia-sia rasanya mencurahkan seluruh hati dan kasih sayang pada anak laki-laki di hadapannya, karena buktinya saat ini Zayn lah penguat akan kelemahannya. Zayn yang lebih mengerti akan kesedihan dan kesepian harinya.
"Mama akan bahagia, bila Zayn terus menemani Mama sampai kapanpun." ucap Kia memeluk anaknya itu dan mencium pucuk kepala Zayn yang sudah wangi.
"Ya sudah sekarang kita bersiap, sebentar lagi Ibu Vita akan menjemput." ujar Kia melepas peluknya.
__ADS_1
"Ma, apa nggak boleh Zayn tinggal di sini aja bersama Mama." tanya Zayn.
"Nggak boleh, kalau Mama meninggalkan lebih dulu Zayn pasti akan kembali bersama Ibu Vita." celetuk Kia.
"Jangan bicara begitu, Ma. Mama sayang kan sama Zayn? Jadi jangan meninggal, karena Zayn sangat sayang dengan Mama." titahnya. Kia pun mencubit gemas pipi Zayn lalu memeluknya lagi.
"Mama juga sangat sayang dengan Zayn, Mama akan meninggal kalau takdir sudah berkata waktumu di dunia sudah habis. Jadi tenang saja, Mama nggak mungkin pergi kalau Malaikat belum menjemput. Terima kasih sudah menyayangi Mama." tak terasa air matanya tak bisa terbendung lagi. Sesekali Kia mengusap air matanya.
"I love you, Sayang." ujar Kia mencium pucuk kepala itu lagi dan lagi.
***
Saat tengah bersiap, tiba-tiba suara yang tak asing terdengar rusuh dari luar rumah. Rupanya Wati datang kembali membawa dua buah kopernya.
Ismail pun memasang wajah malas saat melihat Ibu mertuanya baru saja masuk tanpa di persilahkan.
"Mau apa lagi? Bukankah anakmu sudah mengusirmu dari sini?" ketus Ismail berbicara.
"Ibu datang ke sini untuk meminta maaf sama kalian semua, terutama Zayn." ujarnya dengan wajah memelas.
Ismail menghela nafas, lalu meninggalkan begitu saja mertuanya tanpa membalas sepatah kata pun.
"Ada Ibumu di bawah." sahut Ismail datar.
Segera Vita turun melihat Ibunya yang sekarang sedang duduk santai di ruang tamu.
"Untuk apa Ibu kemari lagi?" tanya Vita ketus dengan tangan yang bersedekap dada.
"Ibu datang untuk meminta maaf, dan Ibu mohon jangan lagi mengusir ku dari sini. Ibu rela menjadi pembantu di sini asal kan Ibu tetap tinggal di rumah ini." pinta Wati dengan wajah memelas.
Tanpa menjawab, Vita dan Ismail bergegas pergi dari rumah itu. Sedangkan Wati, bukannya berubah malah tersenyum licik menanggapinya.
"Nggak apa-apa sekarang bersakit-sakit dahulu. Tapi kemudian, bersenang-senang." ujar Wati memasuki kamarnya.
Setelah beberapa lama berkendara, akhirnya Devita dan Ismail sampai di rumah Asih. Niatnya ingin menjemput Zayn akhirnya tertunda karena kedatangan Ibunya yang sangat tiba-tiba. Dirinya takut jika lengah sedikit saja, Zayn akan merasakan hal yang sama lagi nantinya, di usir bahkan di caci maki oleh neneknya sendiri.
__ADS_1
Devita pun akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Zayn saja, sedangkan Ismail tetap diam di dalam mobil menunggu sang istri.
Melihat wajah Devita yang kusut, Kia pun mendekati dan mengusap kerutan di kening wanita itu.
"Kamu kenapa?" tanya Kia.
"Ibuku kembali ke rumah itu." sahutnya dengan wajah cemas.
"Astaghfirullahal'adzim. Jadi bagaimana dengan Zayn, aku nggak mau neneknya itu berulah lagi." ujar Kia yang sedikit kesal.
"Makanya aku sepertinya nggak jadi menjemput Zayn hari ini. Kedatangan Ibuku sudah seperti benalu, orang yang di hinggapinya mati perlahan. Aku nggak tahu harus bagaimana lagi, mengusirnya pun nggak mempan." ujar Vita seraya memijat pelipisnya.
"Aku rasa sepertinya kamu harus kembali mengambil seluruh hartamu." usul Vita.
Kia yang mendengar pun shock, "Apa Ismail akan melepaskan begitu saja apa yang sudah susah payah di rebutnya?" gumamnya dalam hati.
***
Rapat di perusahaan kembali di mulai. Seperti biasa, Ismail selalu beralasan jika dirinya di suruh untuk terlibat dalam rapat tersebut.
Faisal kembali menghela nafas panjang, tak habis pikir oleh Ismail yang semau hatinya menganggap rapat ini tidaklah penting.
"Riska, Ismail masih belum mau datang?" tanya Faisal kepada asisten Ismail.
"Hari ini katanya mau menjemput anaknya." ujar Riska yang memang di beri kabar akan menjemput Zayn.
"Hah! Semenjak Ismail menjadi CEO di sini, dirinya semakin malas dan semena-mena. Berbeda dengan Zaskia yang lebih profesional dalam mengelola perusahaan." ujar Faisal yang mengetuk ketukkan pulpen di atas meja.
Pemegang saham yang lain pun ikut mengeluh, apalagi para investor yang saat ini lebih memilih untung daripada rugi. Mau sesibuk apapun urusan pribadinya, mereka tidak akan perduli.
"Bagaimana ini Pak Faisal, kapan proyek kita akan selesai? Jika mengikuti jadwal, seharusnya kita sudah memulai proyek dari kemarin. Aku ini ingin untung, bukan buntung." ujar salah satu investor yang hadir di sana.
"Benar, kalau masih seperti ini. Sebaiknya kami bekerja sama dengan perusahaan lain saja. Masih banyak perusahaan yang lebih baik daripada perusahaan ini." ujar yang lainnya.
Faisal pun menghentikan aktivitas mengetuk ketuk meja, dirinya mulai berpikir keras. Bagaimanapun dia termasuk pemegang saham terbesar di sini. Dirinya tidak ingin membuat perusahaan menjadi roboh hanya karena satu orang.
__ADS_1
Faisal pun mengusap ponselnya menelepon seseorang yang di anggap bisa membuat keadaan perusahaan menjadi seperti sedia kala.
"Hallo."