Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 39


__ADS_3

Mungkin bagi orang lain berkencan adalah suatu hal yang berkesan sehingga memilih tempat romantis dan berkelas, berbeda dengan Rey yang justru mengajak Kia berkencan untuk makan di sebuah angkringan terletak di pinggiran jalan sehingga mereka bisa menatap indahnya langit malam di bawah gedung menjulang serta gemerlap lampu-lampu yang di hasilkan oleh kendaran berlalu-lalang.


Wanita itu masih menatap pemandangan indah itu, sesekali dia tersenyum, entah karena hal apa yang bisa membuatnya merasa senang. Apakah karena dirinya belum pernah berkunjung ke tempat itu.


"Apa kamu nggak malu, aku cuma bisa membawamu ke sini." tanya Rey memecah keheningan di antara mereka. Tak lama kemudian dua porsi nasi goreng yang asapnya masih mengepul pun tersaji di atas meja yang mereka hadapi.


"Malu kenapa?" Kia balik bertanya dengan tatapan mengarah ke makanan yang telah tersaji. Rasanya terlihat menggiurkan, membuat Kia menelan saliva yang bertengger di tenggorokkan.


"Ya, biasanya 'kan orang-orang akan membawa teman date-nya ke restoran mahal, membawakannya beberapa tangkai bunga atau hadiah lainnya. Kamu lihat aku, nggak membawa hadiah satupun dan justru mengajak mu makan di pinggir jalan seperti ini." ujar Rey menggaruk kepala belakangnya sambil tersipu malu.


"Aku bukan anak muda lagi, Rey. Bahkan umurku sudah kepala tiga. Sangat nggak cocok kalau harus menerima perlakuan yang bukan pada umurnya." sahut Kia terkekeh geli mendengar ucapan pria di hadapannya itu.


"Haish, jika dalam drama mereka akan senang mendapat perlakukan seperti itu, kenapa kamu malah menertawakannya?" tanya Rey yang juga ikut terkekeh.


"Drama nggak seindah kenyataan, Rey. Bahkan aku menyesal karena pernah merasa bahwa drama yang ku tonton akan terjadi dalam hidupku. Hah! Rasanya kekanakan sekali diriku yang dulu." Kia menghela nafasnya, kemudian tanpa malu, Kia mulai memakan nasi goreng yang sudah tak begitu panas. Menyadari hal itu, Rey langsung tertawa.


"Kenapa kamu tertawa?" Kia mengerutkan keningnya. Dengan mulut yang masih sibuk mengunyah.


"Maaf, kebanyakan bercerita aku jadi lupa menyuruhmu untuk makan. Untungnya yang aku bawa itu dirimu, kalau orang lain mungkin orang itu nggak akan menyentuh makanan ini sebelum aku menyuruhnya." goda Rey membuat Kia meletakkan sendoknya dan enggan untuk melanjutkan sesi makannya. Kia melemaskan tubuhnya dan raut wajahnya berubah menjadi datar.


"Apa aku terlihat sangat nggak tau malu?" Kia memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Sorry, I'm just kidding, Kia." ujar Rey memasang wajah menyesal seketika bibir Kia tertarik, lalu memakan kembali makanannya.


"Sudah lah, cepat di makan. Jangan sungkan- sungkan." ujar Kia mempersilahkan ala-ala orang yang menjamu tamu. Rey pun turut mengikuti perintah Kia dengan tersenyum.


Setelah puas makan dan memandang pemandangan malam di tengah kota, Rey mengajak Kia untuk berjalan-jalam entah kemana. Mobil yang di bawa jika bisa berbicara, mungkin akan mengeluh pusing karena di ajak berputar-putar tanpa tau jelas arah dan tujuannya.


"Sekarang kamu mau bawa aku kemana? Ini semakin larut, Rey." tanya Kia saat Rey melintasi jalan menuju rumahnya dulu.


"Ayo kita merampok." ujar Rey membuat Kia tertawa geli.


"Sepertinya seru, kita merampok kemana?" Kia menolehkan pandangannya ke kiri dan ke kanan.


"Ke rumahmu." Rey menghentikan mobilnya di depan rumah itu.


"Aku rindu anakku. Anak yang bukan lahir dari rahimku, namun aku menganggapnya sebagai darah dagingku sendiri." beberapa kata yang keluar dari mulut Kia, bersamaan dengan air matanya yang jatuh.


"Aku mengasuhnya siang dan malam, demi memberikan dia nutrisi, aku rela pulang pergi ke rumah sakit demi bisa membuat asi ku keluar. Aku lakukan semua dengan ikhlas, karena aku sangat menginginkan seorang anak hadir dalam hidupku."


"Saat Zayn sakit, aku orang pertama yang paling khawatir. Ku jaga dan ku rawat dia sampai sembuh, barulah aku bisa kembali tersenyum."


"Sepulang kerja, jika aku nggak sibuk, aku membawanya keluar untuk jalan-jalan. Aku meneladani sifat ayahku yang walau sibuk, berusaha tetap ada untuk anaknya. Karena beliau pernah bilang, anak akan ada di samping kita hingga tua, maka dari itu berusaha lah membuat rasa aman untuk anakmu agar dia merasa membutuhkanmu."

__ADS_1


"Setiap tahun berlalu, aku nggak pernah melewatkan hari ulang tahunnya. Aku berani menunda meeting demi hari itu." Kia mengungkapkan semua yang ada dalam lubuk hatinya, sementara Rey memandang dan mendengarkan Kia dengan seksama, rasa kagumnya terhadap wanita ini pun bertambah lagi dan lagi.


"Aku merindukannya, aku ingin bertemu dengannya sekarang juga." ujar Kia seraya membuka pintu mobil membuat Rey terkejut. Takut kalau Kia berbuat yang tidak-tidak, dia pun menyusul.


"Apa yang ingin kamu lakukan, Kia?" tanyanya menahan lengan Kia.


"Aku cuma mau memandang kamarnya, Rey. Tenanglah!" Kia menodongkan telapak tangannya ke arah Rey setelah itu berbalik dan menatap kamar Zayn yang terlihat gelap, mungkin Zayn sudah tidur, begitu pikirnya.


"Mama rindu, Zayn. Tanpa melihatmu,  Mama nggak masalah,  bisa berkunjung ke sini pun Mama sudah merasa lega." ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari sana.


"Mama janji akan kembali lagi ke sini. Kita akan tinggal bersama-sama lagi setelah semua urusan selesai. Do'akan mama agar bisa memenangkan kasus ini, ya." kata penutup yang Kia ucapkan, dia pun berbalik memandang Rey dengan mata menggenang.


"Ayo kita pulang, Kia." ujar Rey mengambil tangan Kia dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.


Sebelum mesin mobil di nyalakan, sebuah mobil yang sangat mereka kenal pun melintas hingga ke halaman rumah itu. Ismail turun dengan raut wajah yang bersinar, di susul oleh Vita yang tengah tersenyum memandang suaminya dari seberang mobil.


Tak lama, Zayn turun dari kursi penumpang, ekspresi nya terlihat biasa saja. Namun mampu membuat hati Kia terenyuh, bukankah ini mimpi yang pernah dia inginkan, bahkan pernah mengatakannya kepada Vita.


Ah, rasanya semua mimpinya seperti pelan-pelan Vita lah yang mewujudkannya.


"Rey, ayo kita pulang." ujar Kia menahan isak dengan menangkup wajahnya menggunakan telapak tangannya.

__ADS_1


Tanpa di sadari, air mata Rey ikut terjatuh bersamaan dengan pemandangan yang dia lihat menyakitkan. Bukan karena rasa cemburu terhadap Vita bahagia bersama Ismail,  namun karena merasakan sakit yang di derita oleh Kia. Hatinya ikut merasakan hancur saat memahami semua perkara yang terjadi pada wanita yang duduk di sampingnya kini.


Rey menyeka air matanya lalu menghidupkan mobilnya dan membawa Kia kembali pulang ke rumah. Rasanya antara lega dan menyesal membawa Kia berkunjung ke rumah itu.


__ADS_2