
Saat Kia hendak memejamkan mata, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Kia pun memeriksa ponselnya dan melihat siapa yang malam-malam begini mengganggu waktu istirahatnya.
"Ya, hallo." ucap Kia setelah menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
"Bu Kia, ini saya Riska. Maaf saya mengganggu malam-malam. Saya ingin bertemu dengan Bu Kia." ucap Riska menyampaikan maksud tanpa bertele-tele.
"Ini sudah malam, Riska. Besok saja jika ingin bertemu." sela Kia sembari menghela nafas, ada-ada saja ingin bertemu malam-malam begini.
"Baiklah, besok kita bertemu di cafe dekat perusahaan, ya." usul Riska. Setelah menyanggupi akan datang, panggilan pun di putuskan.
Kia meletakkan ponselnya kemudian kembali berbaring, memeluk Zayn yang saat ini sudah tertidur lelap.
Kia menatap langit-langit kamar, sesekali dirinya menghela nafas. Sebenarnya keadaan sudah mulai membaik dan mulai memihak kepadanya, namun entah firasat apa yang ada dalam benaknya hingga membuat hatinya tidak begitu tenang.
Perlahan pun pertahanan matanya mulai melemah, matanya mulai menyayup dan kesabarannya mulai menghilang. Kini Kia menyusul Zayn masuk ke dalam dunia mimpi.
***
Bella menuruni anak tangga saat mendengar suara riuh di ruang tamu. Gadis itu pun menggelengkan kepalanya saat melihat Ibu kandungnya itu yang kedatangan banyak tamu, ya teman-teman Ibunya sedang berkumpul.
"Lihatlah wanita tua itu, bukannya mencari keberadaan Zayn, dia malah mengundang teman-temannya datang ke sini untuk menghilangkan suntuk." lirih Bella berkata sembari melangkahkan kakinya untuk keluar rumah mencari angin segar. Kebetulan malam ini cahaya bulan sedang terang-terangnya.
Saat keluar dari halaman, kebetulan sekali mobil Ismail sedang melintas menuju pulang. Bella hanya menghela nafas, tak begitu memperdulikan apa yang akan terjadi nantinya di dalam rumah. Dia lelah melihat tingkah Ibunya yang pintar berakting di depan semua orang.
"Assalamualaikum," Ismail dan Devita bersamaan mengucap salam saat membuka pintu.
Wati terkejut bukan main melihat kedatangan anak dan menantunya itu. Dia berpikir bahwa mereka tidak akan pulang malam ini karena belum menemukan Zayn.
"Wa- Waalaikumsalam." sahut Wati terbata, sementara teman-temannya tidak menyahut karena acuh dengan siapa yang datang. Mereka malah asik berpose karena salah satu dari mereka ada yang membawa sebuah kamera digital keluaran terbaru. Sungguh lingkungan toxic yang tidak di anjurkan untuk di tiru.
__ADS_1
"Apa-apaan ini?" tanya Ismail dengan suara tinggi.
Wati pun memasang kembali ekspresi sedihnya, dan memaksa matanya untuk tidak berkedip sedetikpun agar aktingnya menjadi lebih sempurna.
"Ibu mengundang mereka untuk menemaniku." sahut Wati dengan sedikit meneteskan air mata.
"Bagaimana dengan Zayn? Apa kalian sudah bertemu dengannya? Hiks, Ibu kangen sekali dengan cucu Ibu." ujarnya sembari menyeka pipi yang tidak begitu basah.
Ismail menatap jengah wajah Ibu mertuanya. Bersamaan itu juga Devita malah melipat kedua tangannya menatap tajam Sang Ibunda tercintanya.
"Nggak perlu berpura-pura sedih begitu, akting Ibu sangat terlihat jelek, nggak natural, Bu. Sungguh!" ledek Devita seraya tersenyum miring.
"Apa maksudmu, Vita? Apa kamu nggak melihat raut wajah Ibu, air mata Ibumu ini menetes karena merasa kehilangan Zayn!" tegas Wati menunjukkan wajah dan air matanya.
Devita bukan menjawab ataupun menghiraukan ekspresi Ibunya, dirinya malah tertawa. Dia pun duduk di antara sekumpulan teman-teman Ibunya itu.
"Apa kalian di suruh datang kemari oleh Ibuku?" tanya Vita kepada salah satu dari mereka.
"Jeng Jesi kok ngomongnya gitu 'sih!" sela Wati tidak terima.
"Apa kami perlu melihatkan isi chat kita kepada anakmu?" tanya Jesika lagi dan Wati pun menutup mulutnya tak bisa berkutik.
Ismail mendengar itu pun menghela nafas panjang. Sudah dia duga, wanita tua itu memang tidak punya perasaan dan tidak mempunyai urat malu.
"Ada apa denganmu, Bu? Kenapa Ibu nggak bisa berhenti menyusahkan hidup orang lain?" bentak Ismail. Semua orang di sana pun terdiam, seketika suasana mendadak menjadi hening.
Ibu Jesika pun berdiri dan mulai menyalami Devita, tanpa kata dirinya pun keluar dari rumah itu. Sontak yang lain pun menyusul mengikuti langkah dan cara pergi Ibu Jesika. Sungguh lingkungan pertemanan yang tidak mempunyai sopan santun.
"Apa maksudmu, Mail? Berani-beraninya kamu membentak mertuamu di hadapan orang banyak! Lihat, mereka pergi tanpa pamit karena ulahmu!" bentak Wati tidak terima.
__ADS_1
"Karena ulahku? Bukankah pertemanan Ibu memang seperti itu? Terlihat bagaimana dari sifat Ibu yang cenderung psikopat, sudah pasti mempunyai teman yang sama jahatnya." ledek Ismail sembari berdecak.
"Aku psikopat? Hei, jaga mulutmu itu!" Wati maju ingin menampar wajah menantunya namun di tahan oleh Devita.
"Sudah cukup, Bu! Berpikirlah dengan jernih, renungkan kesalahan Ibu selama ini." ujar Devita menasehati Ibunya.
"Apa kalian nggak kasihan dengan ku? Aku ini hanya wanita malang yang ingin merasakan kebahagiaan, apa kalian tidak memikirkan kebahagiaanku?" Wati tetap melanjutkan aktingnya dengan mata berkaca-kaca.
Ismail merasa jengkel, mengusap wajahnya kasar, menyugar rambutnya kebelakang dengan nafas yang di tarik dengan paksa untuk menahan emosi yang ingin meluap.
"Bisakah hentikan sandiwara yang nggak bermutu itu, Ibu Wati yang ter-hor-mat!" tenang namun tajam Ismail berkata kepada mertuanya.
"Kamu pikir kami nggak tau, kalau kamulah yang mengusir Zayn, cucu dari anak kandungmu sendiri itu." Ismail sudah tidak tahan untuk mengemban emosi yang bersarang dalam hatinya, dia pun enggan menyebut mertuanya dengan sebutan 'Ibu'.
"Omong kosong! Siapa yang bilang kalau aku yang mengusir Zayn!" bentak Wati lagi, sangat tidak terima dirinya semakin di sudutkan seperti ini.
"Omong kosong katamu? Zayn sendiri yang mengadu kalau lah kamu yang mengusirnya dari rumahnya sendiri!" gertak Ismail membuat Wati bergidik kaget.
"Kamu lebih bercaya omongan anak kecil daripada orang dewasa seperti ku?" tantang Wati, bagaimanapun pertahananannya harus terus kokoh.
"Tentu saja aku lebih percaya omongan Zayn daripada omongan orang jahat sepertimu! Sudah bertahun-tahun lamanya aku hidup dalam ancaman dan hinaan darimu! Dan kamu ingin aku percaya kata-katamu begitu saja? Sudah cukup aku hidup dalam kekangan dan aturan darimu, Wanita pembawa sial!" bentak Ismail lagi kembali menyudutkan Wati.
"Kurang ajar! Berani-beraninya kamu mengata-ngatai mertuamu ini!" sela Wati mengepalkan tangannya ke depan wajah Ismail.
"Aku sebenarnya nggak ingin menjadi anak kurang ajar seperti yang kamu hinakan barusan. Tapi Kamu memang selalu menguji kesabaranku!" Ismail pun mengambil gelas di atas meja lalu menghempasnya dengan kuat hingga gelas itu hancur berkeping- keping di lantai.
"Kamu!" Wati semakin geram melihat dirinya yang di kasari seperti ini.
Tanpa permisi, Ismail pun meninggalkan Wati bersama Devita di ruang tamu tersebut.
__ADS_1
"Lihat kelakuan suami kamu itu!" Wati menyemprot Devita akhirnya.
"Dengar, Bu. Aku mau, besok Ibu tinggalkan rumah ini. Aku nggak mau hal yang paling aku takutkan terjadi lagi di kemudian hari." ujar Devita sebelum meninggalkan Ibunya dalam keadaan kesal dan marah yang menyerang seluruh hati dan pikirannya.