
Ismail memasuki perusahaannya dengan langkah tegap dan berwibawa. Semua orang menyapanya dengan sopan sambil menunduk, yang biasanya memanggil dengan sebutan 'Pak' kini berubah menjadi 'Bos' sesuai dengan permintaannya setelah berhasil menjabat menjadi CEO di sana.
Ismail duduk di kursi kebesarannya, memandang para pegawai yang tengah sibuk sambil bergumam, "Begini ternyata rasanya menjadi CEO. Di hormati dan di segani oleh pegawai, aku nggak perlu lagi takut dan harus melapor saat membuat perencanaan tentang proposal yang aku buat. Semua sekarang dalam kendaliku." Ismail tersenyum puas.
Sementara itu di luar, tempat para pegawai bekerja, mereka sibuk dengan beberapa pekerjaan di tangannya.
"Kenapa rasanya sangat nggak nyaman bekerja di bawah Pak Ismail? Segala pekerjaan dia limpahkan kepada kita. Sekarang aku menyesal pernah menuduh Ibu Kia melakukan hal jahat." ujar James berbisik kepada beberapa karyawan di sampingnya.
"Benar, walau Ibu Kia terlihat jahat dan memerintah semaunya, tapi beliau nggak pernah meninggalkan kita saat bekerja. Di saat semua orang sudah pulang, barulah Ibu Kia juga pulang ke rumah. Soal meeting dengan perusahaan lain, kita nggak pernah mengambil alih karena takut melakukan kesalahan. Lihatlah Pak Ismail, yang datang dan pergi sesuka hati. Bahkan urusan menemui klien saja di serahkan kepadaku yang belum pernah sama sekali." sahut Riska kepada james meluahkan isi pikirannya.
"Kau tahu, kemarin aku mendapat amarah karena salah berkata." tambahnya lagi.
"Oh, ya? Tega sekali CEO baru kita ini." sahut salah satu di antara mereka.
"Hei, sudah dulu, nanti kita sambung. Lihat, Pak Bos sedang memperhatikan kita!" bisik James sambil menunduk sementara yang lain malah mengarahkan pandangannya ke arah Ismail kemudian pura-pura sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Ismail yang merasa di gosipkam di belakangnya pun bangun dari tempat duduknya kemudian keluar dari ruangannya, dia berjalan menuju meja karyawan yang terdekat. Dengan angkuhnya dia melipat tangan di dada.
"Perhatian semuanya! Untuk menghentikan pikiran-pikiran tak jelas dari kalian. Aku ingin memberitahu bahwa yang aku lakukan saat ini sudah benar, aku memecat Zaskia berdasarkan undang-undang yang berlaku. Jika di antara kalian ada yang merasa keberatan, mohon maju untuk mencurahkan isi hati kalian. Jika kalian merasa kurang puas, kalian boleh meninggalkan perusahaan ini secara terhormat." ujarnya dengan santai seolah dirinya yang menang di sini.
__ADS_1
"Oh, ya, tenang saja, aku akan memberikan kompensasi kepada kalian, jika ingin berhenti bekerja dari perusahaan ini." tambahnya kemudian memperhatikan seluruh pegawainya yang saat ini tengah menunduk tak menjawab.
"Baik, berhubung kalian semua diam. Aku anggap kalian menyetujui diriku yang menjadi pemimpin kalian mulai sekarang. Terima kasih, sudah percaya pada kepemimpinanku. Sekarang silahkan, kembali untuk bekerja." Ismail pun meninggalkan mereka dan masuk kembali ke ruang kerjanya.
"Demi menafkahi dan memberi makan anak dan istri, aku akan bertahan untuk bekerja di sini sambil menunggu sebuah keajaiban Ibu Kia akan mendapatkan kembali perusahaan ini." celetuk James.
"Benar sekali, aku juga mempunyai pemikiran yang sama denganmu. Jika bukan karena Ibu Kia yang menambah uang gajiku waktu lembur saat itu, aku sudah kesulitan untuk membayar biaya pengobatan Ibuku. Ibu Kia memang nggak pernah mau menunjukkan dirinya sebagai orang baik. Dia lebih memilih untuk di salahpahami daripada pamer kebaikan. Aku salut dengannya." sahut Riska dan di angguki oleh semua orang.
Kabar tentang rusaknya kepemimpinan Ismail pun terdengar hingga ke telinga Zaskia. Dengan pakaian dan riasan seadanya, Kia memesan taksi untuk menuju perusahaan yang mendiang ayahnya berikan kepadanya. Sampai di sana, beberapa satpam mencoba untuk menahannya. Kia tak kehabisan akal, dia pukulnya wajah mereka yang menghalangnya dengan tas selempang yang dia kenakan. Hingga satpam tersebut mengaduh kesakitan. Kia pun lalu masuk dan menuju ruangan Ismail yang dulunya adalah ruangan miliknya.
"Ismail! Apa yang kamu lakukan, hah?" gertak Kia saat sudah berdiri berhadapan dengan lelaki itu.
"Silahkan duduk, Ibu Kia." Ismail bukan menjawab malah mempersilahkan Kia duduk layaknya seorang tamu.
"Untuk apa kamu bertanya soal ini? Ini nggak ada urusannya dengan kamu yang bukan karyawan perusahaan ini, Kia. Apa perlu aku ingatkan lagi?" ledek Ismail sembari tersenyum remeh.
"Astaghfirullah, Mail. Harusnya aku yang mengatakan itu, apa kamu nggak ingat, ini bukan perusahaanmu Ismail! Ini perusahaan milik ayahku!" Kia mengungkit lagi hal yang tak di sukai oleh Ismail.
"Yes, I know it." sahutnya enteng.
__ADS_1
"So, why did you do that to my company?" tanya Kia lagi, amarahnya kembali meradang.
"Sudahlah Kia. Aku bisa mengatasi ini, lihatlah mereka di luar sangat banyak, untuk apa membayar mereka jika aku nggak mempekerjakannya dengan baik?" Ismail tersenyum licik.
"Mereka nggak bisa kamu buat menanggung ini semua, Mail. Bukan ini yang harus di lakukan seorang pemimpin kepada seluruh karyawannya." Kia mencoba memberi nasehat walau dengan kasar.
"Hahaha... Untuk apa kamu memperhatikan mereka?" Ismail kembali tertawa mendengar nasehat yang di beri oleh Kia.
"Memangnya salah aku memperhatikan mereka yang sudah lama menjadi pegawaiku?" Kia menatap sengit.
"Kamu salah, karena mereka semua membencimu, Kia. Kau tukang atur, pemarah dan egois. Mereka juga yang membantuku untuk menggeser posisimu di sini!" bentak Ismail setelah beberapa waktu menahan sabar.
Ternyata teriakan Ismail terdengar hingga keluar membuat mereka semua membungkam. Mereka semua kembali berpikir, apa yang sebenarnya pernah mereka lakukan hingga Ismail bisa berkata seperti itu.
"Betapa baiknya aku, rela melakukan ini demi mempertahankan perusahaan milik ayahmu." tambahnya lagi dengan nada mulai merendah.
Kia terdiam, sembari mengingat-ngingat beberapa kejanggalan itu. Ah, tiba-tiba ingatan tentang Riska yang meminta tanda tangan pun terlintas begitu saja. Bahkan beberapa berkas lain, Ismail sendiri yang meminta tanda tangannya tanpa Kia baca terlebih dahulu. Jelas sudah sekarang apa yang di namakan pengkhianatan secara halus.
"Dengar, Kia. Aku nggak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini. Kamu tenang saja, aku pasti akan menjaga perusahaan ini dengan baik. Dan, terima kasih karena sudah memberikan kesempatan kepadaku untuk menjadi pemimpin."
__ADS_1
"Karena sudah nggak ada urusan di sini. Aku mohon pergilah dari sini. Biarkan aku dan Devita berkembang di perusahaan ini." ujarnya tanpa merasa berdosa.
Kia pun meninggalkan perusahaan tersebut dengan perasaan kacau. "Ya Allah, apa aku sekejam itu kepada para pegawaiku?" gumamnya lirih sambil kembali menangis di bawah pohon pinggir jalan dengan matahari yang bersinar sangat terik.