
Mata Riska membola saat mengetahui kebenaran tentang pemecatan Zaskia dan pemindahan saham oleh Ismail.
Dengan meneguk saliva secara paksa, Riska lanjut melihat komputer yang menampakkan kejadian tersebut.
"Ingat, kalau kamu nggak menceraikannya, bisa saja dia mengetahuinya suatu hari, kamu tau kan resikonya? Mengetahui dirimu bermain cinta di belakangnya membuat dirinya yang lebih dulu menceraikanmu, sementara itu kita akan menjadi gembel jalanan." jelas Wati dengan sangat kesal.
"Maka dari itu, aku dan Hakim ada di hadapanmu ingin membahas rencana yang menguntungkan untuk kita semua." Wati tersenyum menyeringai.
"Hakim, giliranmu." Wati menyuruh Hakim untuk menjelaskan rencananya.
"Nggak banyak yang harus kamu lakukan, kamu hanya perlu memindahkan beberapa sahamnya kepadamu secara berkala, untuk menghindari kecurigaan. Setelah itu terjadi, pecatlah dia dari perusahaan ini. Untuk urusan rumah itu juga, kamu harus mengganti nama kepemilikannya menjadi nama Devita agar menghusirnya nggak begitu sulit." terang Hakim dan di balas senyuman oleh Wati. Sementara itu Ismail memikirkannya dengan ragu, antara ingin dan takut menjadi satu.
"Untuk mengganti nama kepemilikan rumah, kamu tenang saja, aku yang akan mengurusnya." ujar Hakim dengan senyum menyeringai setelah melihat jelas keraguan yang terpancar dari wajah Ismail.
"Tapi bagaimana jika Devita nggak setuju dengan rencana kita?" Ismail menyampaikan keraguannya dan Hakim malah tertawa.
"Come on, Bro. Bisakah kita melakukan ini semua sembunyi-sembunyi dari kedua istrimu?" ledek Hakim sementara Ismail pun menggertakkan giginya.
"Memangnya salah aku bertanya pada salah satu dari mereka?" tanya Ismail dengan raut wajah kesal.
"Ya, kamu nggak salah. Tapi ada akibat yang akan kalian tanggung nantinya." sahut Hakim.
Ismail menunduk, merenung dan berpikir. Mengingat mertuanya memiliki ambisi kuat hingga berani mengorbankan kebahagiaan istrinya, akhirnya dia pun menyetujui rencana jahat yang di buat oleh pengacara dan Ibu mertuanya.
Cinta membutakan segalanya, begitupun dengan Ismail. Demi seorang istri yang bernama Devita, dia rela merampas bahkan menjatuhkan istri yang sudah berkorban banyak untuknya.
Dengan cepat, Riska memindahkan data tersebut ke dalam flashdisk baru miliknya sebelum banyak orang melihatnya mencuri data di sana.
Melihat kiri dan kanan tak ada orang, Riska pun berlari ke ruangannya dan menyimpan flashdisk tersebut ke tempat aman, sebelum bukti tersebut sampai ke tangan Zaskia.
***
Dengan langkah yang gagah, Rey memasuki perusahaan yang sedang di pimpin oleh Ismail. Rey mengetuk pintu secara tiba-tiba, membuat Ismail terkejut hingga tangannya berhenti beraktivitas.
"Hai, Ismail. Jangan terkejut seperti itu. Maaf, karena datang tiba-tiba." ujar Reyhan masuk dan duduk tanpa permisi.
__ADS_1
"Kenapa kamu datang tanpa mengabari terlebih dahulu?" tanya Ismail dan menuangkan segelas air putih di hadapan Rey.
"Karena aku takut kalau memberi kabar lebih dulu, kamu pasti enggan bertemu denganku." sahut Rey dengan tersenyum yang menyiratkan kebencian.
"Baiklah apa tujuanmu ke sini?" Ismail langsung bertanya ke permasalahan inti. Sudah cukup berbasa-basi baginya.
"Aku ingin menyerahkan ini," Rey menyodorkan sebuah amplop putih di hadapan Ismail.
"Apa ini?" tanya Ismail tanpa membuka map tersebut, menyentuhnya saja tidak.
"Kamu baca saja sendiri, nanti kamu akan tau." dengan terpaksa, Ismail membuka amplop tersebut. Membacanya dengan malas, lalu menghentakkannya begitu saja di atas meja.
"Apa kamu pikir Zaskia akan menang melawanku, kalau aku membawa bukti DNA ke pengadilan?" tanya Ismail dengan angkuh.
Rey tersenyum, dirinya ingin sekali tertawa. Mengingat bukti tentang pernikahan Ismail dan Devita yang belum begitu jelas. Untuk urusan anak, itu lebih lucu baginya. Bukti menelantarkan dan membuang anak pun bisa saja Rey cari dengan mudah.
"Kita lihat saja nanti, Mail. Aku cuma memberi pilihan, kembalikan semua seperti semula, atau kamu akan kehilangan segalanya?" ancam Rey dengan wajah tenang. Baginya melawan kejahatan perlu otak yang dingin.
"Aku hanya menyarankan, jika ingin hidupmu dan Devita tenang, lakukan apa yang aku bilang tadi. Aku jamin, Zaskia akan meninggalkanmu dan hidupmu akan menjadi tenang dan tentram bersama 'Istri Siri mu' tanpa mengeluarkan tenaga." jelas Rey lagi, membuat Ismail kembali berpikir.
Sementara itu, wajah Ismail terlihat mendung, tertekuk dan bingung. Pikirannya kalut, dia menganggap Rey sahabat baiknya dulu itu sedang balas dendam atas apa yang sudah dia lakukan terhadap Rey.
Sebenarnya jauh dalam lubuk hati Rey, bukan perihal balas dendam. Untuk apa balas dendam pada Ismail saat semua sudah berlalu sangat lama. Rey hanya menegakkan keadilan, kecurangan yang sudah Ismail lakukan sangat melebihi batas. Bahkan untuk di sebut manusia saja terlalu mulia karena seorang manusia di beri Tuhan berupa akal yang bisa di gunakan berpikir mana yang baik, dan mana yang buruk.
Alih-alih berpikir positif, rasa curiga Ismail kian meradang. Negatif pikiran menghempas semua kenangan baik tentang persahabatan mereka.
"Apakah Rey juga menginginkan harta Zaskia? Ataukah dirinya ingin merebut Devita kembali?" Ismail bertanya-tanya dalam hati dengan tangan mengepal kertas undangan yang di bacanya tadi.
***
Ting tong .. Tiba-tiba bel rumah berbunyi, tetangga yang bernama Ibu Lia itu pun membuka pintu dengan tergesa dan segera menarik tangan tamunya agar cepat masuk ke dalam rumahnya.
"Zayn!" Zaskia segera memeluk anak yang sangat di rindukannya itu.
"Mama, Zayn kangen sama Mama." Zayn balas memeluk tubuh Zaskia, keduanya pun sama-sama menangis.
__ADS_1
"Mama apa kabar?" tanya Zayn setelah pelukan terlerai dan tangan mungil itu mengusap air mata dari pipi Zaskia.
"Mama sehat, Sayang. Zayn bagaimana?" Zasia menelisik tubuh anak laki-lakinya yang terlihat sedikit kurus dari terakhir kali dirinya bertemu.
"Zayn jadi semakin sehat setelah melihat Mama." ujar Zayn sambil tersenyum riang. Ah, wajah yang sangat jarang tersenyum itu akhirnya bisa terlihat bahagia hanya dengan bertemu Zaskia yang bukanlah ibu kandungnya .
"Mama, boleh nggak kalau Zayn ikut Mama pulang?" tanya Zayn dengan binar mata yang membuat semua orang enggan untuk menolak.
"Maaf, Sayang. Bukan Mama menolak, tapi mama takut Nenek, Papa dan Ibumu itu akan memenjarakan Mama." Kia menolak dengan halus, sulit baginya membawa anak itu pergi dari sana. Takut jika hal ini akan menjadi kasus baru untuknya.
"Tapi, Zayn ingin tinggal sama Mama aja. Kenapa mereka memisahkan Zayn dengan Mama." tangis Zayn kembali pecah.
"Menurut sama Mama 'ya, Sayang. Mama janji akan membawamu ikut bersama Mama saat masalah sudah selesai." Kia memberikan jari kelingkingnya dan Zayn dengan terpaksa menautkan kelingkingnya guna membuat janji mereka pasti akan di tepati.
Tak lama kemudian Ibu Lia datang membawa nampan berisi dua gelas teh dan sepiring kue, segera dia hidangkan di atas meja.
"Silahkan di minum, Ibu Kia." Ibu Lia mempersilahkan tamunya untuk menerima jamuan sederhana itu.
"Terima kasih, Bu Lia" Zaskia pun menyeruput teh hangat tersebut.
"Ibu Kia utang penjelasan nih, sama saya." ujarnya mengawali percakapan.
Kia terdiam sejenak, bingung harus memulai dari mana cerita yang akan dia bagi kepada wanita yang sudah lama bertetangga dengannya, setidaknya sedikit seluk beluk keluarganya juga Ibu Lia ini mengetahuinya.
"Kalau Ibu Kia nggak bisa cerita, nggak apa-apa, saya nggak memaksa Ibu Kia harus cerita kok." Ibu Lia menyela karena merasa tidak enak.
"Bukan begitu, Bu Lia. Saya hanya bingung harus bercerita dari mana." ujar Kia tersenyum dan menghela nafas panjang.
"Ibu Lia tau 'kan, Devita sahabat saya?" tanya Kia dan di angguki oleh Ibu Lia.
"Ternyata dia istri kedua dari suami ku ..." Kia pun melanjutkan semua cerita yang dia lalui sampai drama-drama persedihan terjadi, bahkan Ibu Lia yang menjadi pendengar pun sesekali meneteskan air mata.
"Kejam sekali mereka semua. Saya nggak nyangka, perempuan cantik yang terlihat baik sekali dengan Ibu Kia ternyata perempuan yang kejam!" Ibu Lia menyampaikan kekesalannya dengan berapi-api.
"Ya, awalnya saya nggak percaya, Bu Lia. Tapi ternyata memang itulah kenyataannya. Tapi semakin ke sini, saya semakin bisa menerima keadaan, namun satu hal uang saya nggak mau, yaitu kehilangan Zayn. Biarlah mereka mengambil harta yang saya miliki, yang penting Zayn ikut bersama denganku." ujar Kia sembari memeluk Zayn dengan erat.
__ADS_1