Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 30


__ADS_3

Cahaya mentari memaksa masuk menembus di sela-sela tirai gorden kamar, tampaknya agak sengaja untuk memaksa Rey bangun dari tidurnya. Rey pun mengerjapkan mata, menatap langit-langit kamar terlebih dahulu sambil mengumpulkan nyawa yang masih belum terisi penuh dalam tubuhnya.


Semenit, dua menit, hingga berpuluh-puluh menit matanya kembali menyayup. Tak lama kemudian ponselnya berdering, dengan malas Rey mengambil ponsel tersebut.


"Ya, hallo." sahutnya dengan suara serak ala-ala bangun tidur.


"Rey, barusan saja hakim menemuiku." ujar wanita di seberang sana. Mata Rey yang tadinya menyipit kini membola. Di tegakkan badannya duduk bersandar pada penyangga tempat tidur, wajahnya mulai serius sekarang.


"Untuk apa dia menemuimu?" tanya Rey.


"Dia menyerahkan selembar kertas untuk aku tanda tangani." sahut Kia di seberang sana sambil menghela nafas.


"Apa isinya?" tanya Rey lagi penasaran.


Tiga puluh menit yang lalu, saat Kia turun dan keluar dari hotel ingin membeli makan di luar, seorang lelaki menghampirinya. Dia tak lain dan tak bukan, adalah Hakim.


"Bisa bicara sebentar?" tanya Hakim sambil menenteng sebuah map di tangannya.


"Apalagi ini? Nggak ada yang perlu kita bicarakan!" ucap Kia ketus tetap berjalan mengarah ke tempat tujuannya.


"Ayolah, Kia. Jangan bersikap kekanakan seperti ini." bujuk Hakim.


"Aku kekanakan? Bagaimana dengan klienmu itu? Apa dia orang yang lurus?" sela Kia tak terima di katakan seperti itu.


"Nggak bisa kamu bandingkan, Kia. Karena dia lebih unggul darimu." sahut Hakim sambil menampakkan senyumnya yang mengejek.


"Cih! Kalian sama saja. Sama-sama licik!" Kia mencebik kesal, dia terus berjalan menghindari namun Hakim mencekal pergelangan tangannya dengan kuat.


"Berani-beraninya kamu! Lepaskan, atau aku akan berteriak maling, biar semua orang menangkapmu!" ancam Kia hingga Hakim melepaskan cekalan tersebut dan mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah.


"Oke, maksud tujuanku ke sini karena aku hanya ingin meminta tanda tanganmu." ujar Hakim menyampaikan maksud dan tujuannya.


"Tanda tangan apa?" tanya Kia membentuk kerutan di keningnya karena tak mengerti.


"Urusan perceraian saja, tidak ada hal khusus." sahutnya tenang.


"Untuk apa? Bukankah kalian sudah mengurusnya?" tanya Kia terheran.

__ADS_1


"Benar sudah di urus oleh Ismail, tapi kamu belum menandatanganinya." ucap Hakim menahan malu.


"Hahaha, urusan itu biar aku sendiri yang menanganinya. Memang bodoh kalian semua!" Kia pun melenggang pergi setelah mengumpat Hakim.


"Ingat! Kamu tidak akan mendapat apa-apa jika tidak menandatangani ini, Kia!" teriaknya sebelum Kia menghilang dari pandangannya.


***


"Jadi, kamu nggak menandatanganinya?" tanya Rey.


"Ya, aku akan menandatanganinya kalau mereka mau menyerahkan Zayn padaku." sahut Kia dengan yakin.


"Tapi, kamu tau 'kan, kalau Zayn bukan anak kandungmu?" tanya Rey lagi.


"Ya, aku tau, Rey. Tapi kamu tau 'kan, aku yang mengurusnya dari bayi. Dia memang bukan anak yang lahir dari rahimku. Tapi aku menganggapnya sebagai anak yang pernah aku kandung, aku yang menyusui dan melimpahkan cinta dan kasih sayangku pada Zayn. Dia anakku, Rey." suara Kia terdengar parau, dan setelahnya isakan kembali terdengar. Kia sedang menangis saat ini.


"Aku nggak perduli dengan harta yang mereka ambil, aku hanya mau Zayn menjadi milikku kembali, Rey. Aku nggak sanggup hidup tanpa Zayn." tambah Kia. Tak terasa air mata Rey ikut berlinang.


"Kita akan melawannya sampai mendapatkan Zayn, jadi berhenti menangis 'oke? Aku akan membantumu." ujar Rey membujuk Kia.


"Terima kasih, Rey. Tanpamu aku nggak bisa apa-apa untuk saat ini. Setelah semua kasus ini selesai aku janji akan mengabdi padamu untuk membalas kebaikanmu." ujar Kia tanpa pertimbangan.


"Jangan bilang, kamu akan menjadikan aku sebagai pembantu?" Kia mencebik.


"Mungkin lebih dari itu." Rey terus menggodanya.


"Jangan terlalu kejam, Rey. Atau aku tarik lagi semua kata-kata ku tadi!" ancam Kia.


"Nggak bisa, Kia. Perkataanmu tadi sudah aku rekam. Itu bukti kuat, aku bisa menuntutmu jika melanggarnya." Rey balik mengancam.


"Reyhan!!!" teriak Kia dengan kencang, hingga Rey menjauhkan ponsel dari telinganya sambil tertawa renyah.


"Oke, maaf, aku hanya menggodamu. Aku nggak suka mendengarmu menangis. Sekarang hapus air matamu itu, dari sini saja aku bisa membayangkan betapa jeleknya mukamu sekarang karena menangis." Rey kembali meledek wanita itu.


"Enak saja! Siapa yang menangis, aku hanya sedang pilek." elaknya sembari memaus ingusnya dan terdengar nyaring di telepon sampai Rey kembali tertawa.


"Jorok! Sekarang cuci mukamu dan tenangkan hatimu." titah Rey.

__ADS_1


"Iyaa, iya, bawel. Kamu sudah seprti almarhumah Ibu yang suka mengomeliku saat menangis. Dia pasti akan mengatakan hal seperti itu." ujar Kia tersenyum mengenang Sang Ibu.


"Oh, ya? Baik, aku akan menggantikan peran Ibumu mulai sekarang." sahut Rey.


"Baik, Ibu." terdengar suara cekikian dari seberang sana.


"Nggak gitu juga konsepnya, Kia!" ujar Rey geram.


"Ya, maaf Rey. By the way, thanks for everything. Aku sangat terbantu dengan hadirnya kamu di sisiku." Kia berucap dengan tulus.


"Sama-sama, Kia. Sudah sewajarnya saling membantu. Sudah sana, sarapan lah dulu. Aku ingin melanjutkan tidurku yang sempat kamu ganggu." ujar Rey sambil menggulung dirinya kembali dalam selimut.


"Oh, my God, Rey! Ini sudah jam sembilan!" teriak Kia lagi.


"Hah! Astaga aku terlambat!" Rey berdiri dan mengecek jam di ponselnya ternyata benar saat ini sudah menunjukkan pukul sembilan. Dia memukul pelan kening dengan telapak tangannya.


"Dasar! Ya sudah, aku matikan. Ingat untuk mandi sebelum pergi. Hahahaha." ledek Kia dan langsung memutuskan panggilan tersebut.


"Dasar cewek!" Rey pun meletakkan ponselnya di atas meja kemudian bergegas untuk mandi dan menjalani aktifitas nya.


Sementara itu di kediaman Ismail, Hakim membawa kabar sulit untuknya.


"Kenapa dia nggak mau menandatanganinya? Apa dia punya permintaan khusus?" tanya Ismail sambil meremas tangannya sendiri.


"Aku rasa, kamu yang paling tau, apa yang Zaskia inginkan." Hakim mengendikkan bahunya.


"Aku tau apa yang paling dia inginkan!" sela Bella dari arah dapur menghampiri kakak iparnya.


"Pasti Zayn, kan?" tambahnya lagi.


"Pintar, seratus untukmu." Hakim pun mengangkat dua jari jempolnya mengarah ke Bella.


"Aku nggak akan pernah menyerahkan Zayn pada orang lain!" sahut Devita dari atas menuruni tangga dengan tergesa.


"Orang lain? Kalau boleh di katakan, Zayn itu termasuk anak Kia 'loh. Siapa suruh kakak membuangnya." sahut Bella sambil memainkan kuku.


"Tutup mulutmu, Bella. Apa kamu mau aku usir dari sini juga?" bentak Vita dengan mata memerah.

__ADS_1


"Sudah salah, masih saja mengaku benar." gerutu Bella dalam hati.


__ADS_2