
Bukan menyesali perbuatannya yang pernah kabur-kaburan ke rumah tetangga, Zayn justru berperilaku seakan menantang keluarganya.
Hingga tiga hari kemudian, Vita dan Ismail diam-diam mengawasi gerak-gerik anak laki-lakinya ini dari jauh.
Mereka sempat merasa heran karena Zayn yang tiba-tiba menjadi sering tersenyum padahal sebelumnya Zayn sangat pendiam. Dan hal itulah yang membuat mereka penasaran.
Saat melihat Zayn masuk ke dalam rumah Ibu Lia, awalnya mereka biasa saja. Namun saat melihat Zaskia yang tiba-tiba datang bersama Rey dan langsung menemui Zayn di sana membuat pikiran sepasang suami istri itu kalut, mereka pun ikut mengunjungi rumah Ibu Lia.
Bagaikan menggerebek maling, Zaskia dan Zayn pun sama-sama terkejut melihat kedatangan dua orang yang sangat berpengaruh besar dalam kehidupannya. Berpengaruh buruk, maksudnya.
Tanpa aba-aba, Zayn pun di tarik paksa oleh keduanya agar keluar dari rumah Ibu Lia. Hingga tiba di halaman rumahnya sendiri, Zayn pun mulai memberontak.
"Zayn mau tinggal bersama Mama! Zayn nggak mau pulang dengan kalian!" bentak Zayn menolak ikut dengan Ismail, berusaha melepaskan cengkraman tangan Ismail.
"Jangan keras kepala! Ayo ikut Ayah pulang!" Ismail menarik lagi lengan Zayn dengan sangat kasar.
"Jangan terlalu kasar dengan anak-anak, Mail!" ujar Rey mencoba menarik tangan Ismail, namun lelaki itu malah menampik tangan Rey dan berbalik mengarah ke arah Rey dengan tatapan menyalang.
"Kamu siapa, Rey! Sampai ikut campur urusan orang lain? Zayn ini anakku bukan anakmu!" bentak Ismail sambil mendorong Rey hingga hampir jatuh tersungkur.
"Pergi kalian dari sini!" Ismail mencoba mengusirnya dengan kasar.
"Oke, maaf sudah ikut campur." Rey mengangkat kedua tangannya tanda menyerah kemudian berdiri agak menjauh, untuk bisa terus memperhatikan.
"Zayn, ayo kembali ke rumah! Kamu nggak tau kan, Ayah dan Ibumu mengkhawatirkan Zayn? Kamu mulai nakal, sekarang kamu mulai berani bersembunyi dengan orang asing!" tegurnya seraya terus menarik lengan anak laki-laki itu secara paksa.
__ADS_1
"Zayn nggak mau, Ayah!" terus-terusan Zayn mencoba melepaskan tangannya.
"Aku orang asing?" tanya Kia menunjuk dirinya mengulang kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh Ismail sambil tertawa.
"Kamu dengar, Mail. Orang asing inilah yang membesarkan anak ini, aku yang memberinya makan tiga kali sehari tanpa absen! Aku yang memandikannya, aku yang memakaikan baju setiap dua kali sehari selama tujuh tahun! Bukan cuma anak ini, bahkan kamu, orang yang selama ini mengkhianatiku pun ku layani sepenuh hati!" jelas Kia dengan kesalnya, menjeda dengan menghela nafas setelah itu meneguk saliva yang rasanya semakin memahit sebelum melanjutkan ocehannya.
"Kalau kamu merasa aku masih seburuk itu di matamu, di mana Ibu kandung Zayn yang berhati mulia itu, hah? Orang yang berani membuang anak kandungnya sendiri, dan bodohnya menyuruh suaminya yang nggak berguna ini untuk membuangnya di depan masjid saat hujan badai dengan petir menggelegar! Seperti itu kah wanita yang kamu anggap paling baik di dunia ini?" tanya Kia lagi sambil tertawa sinis.
"Kamu bodoh, Mail! Wanita terbaik dan mulia nggak akan tega meninggalkan anaknya sendirian di dalam kamar, apalagi meninggalkannya di depan masjid yang sudah jelas dingin dan bisa membuat bayi terjangkit penyakit!" berang Kia dengan hati yang berapi-api.
"Sekarang silahkan kalian menilai diri kalian sendiri, apakah kalian ini orang baik, atau termasuk orang yang kejam? Oh, ya satu lagi, baru kali ini aku menemui lelaki bodoh dan nggak punya pendirian seperti kamu, Mail! Bodoh karena cinta, dan gila karena harta! Dasar laki-laki nggak berguna!" Kia pun meludah ke atas tanah karena merasa jijik melihat keluarga toxic dan tak punya hati itu.
"Sayang, sekarang masuk lah ke rumahmu. Jangan menangis lagi, ya. Semuanya akan baik-baik saja." dengan lembut Kia menarik tangan Zayn, membawanya masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamarnya.
"Zayn mengerti, Ma." sahut Zayn dengan berderaian air mata.
"Sudah, jangan nangis lagi. Mama sudah harus pulang, Sayang. Oke?"
"Iya, Ma. Jangan lupa mengunjungi Zayn lagi, ya?" pinta Zayn dengan mata yang masih menampakkan kaca bening.
"Pasti, Sayang." Kia memeluk Zayn erat. Mencium pucuk kepala itu terlebih dahulu kemudian benar-benar meninggalkan Zayn yang masih menangis dalam kamarnya.
"Ayo kita pulang, Rey." titah Kia saat sudah keluar dari rumah itu dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Tunggu, Rey!" Hakim menahan Rey lalu memberikan sebuah amplop.
__ADS_1
"Berikan kepada klienmu." katanya dengan senyum miring.
Dengan menghela nafas panjang, Rey menerima surat tersebut. Ah, rasanya ingin sekali segera memenangkan kasus ini untuk menutup mulut Hakim.
Zaskia kini menangis dalam mobil, melihat hal tersebut, Rey membuka amplop tersebut dan membacanya dengan seksama.
"Hakim memberikan surat peringatan untuk kita agar menjauhi Zayn." ujar Rey sambil tersenyum.
"Tenang saja, Kia. Kita tetap akan bisa menemui Zayn. Tapi untuk sementara, kita menjauh terlebih dahulu, biarkan suasana menjadi tenang." tambah Rey menenangkan Kia.
"Baiklah. Maafkan aku karena sudah membuat masalah untukmu." kata Kia tak enak hati.
"It's okay, ayo kita pulang." Rey pun mulai menyalakan mesin mobil dan memacunya meninggalkan kediaman tersebut.
Sementara itu, Vita sedari tadi mengetuk pintu kamar Zayn namun penghuninya tidak menghiraukannya. Begitu pahit kenyataan yang sudah anak laki-laki itu dengar. Seorang Ibu kandungnya tega membuangnya dan berani mengambil semua yang di miliki oleh Mama yang bukan melahirkannya namun rela merawatnya sepenuh hati.
"Zayn, buka pintunya, Sayang." teriak Vita tak henti-hentinya.
Bukannya membuka pintu, Zayn justru masuk ke dalam selimutnya sambil berteriak,
"Kalau Ibu itu Ibu kandung Zayn, kenapa Ibu tega menyuruh Ayah membuang Zayn? Apakah Ibu pernah berpikir kalau Zayn meninggal di sana pada saat itu bagaimana? Apa Ibu nggak kasihan sama Zayn?" pertanyaan itu menusuk ke dalam relung hati terdalam Vita. Mata wanita itu pun ikut menggenang, rasanya menyesal karena telah melakukan hal fatal itu.
Tanpa Vita sadari, sedari tadi Wati berdiri di belakangnya menguping pembicaraan tersebut lalu tertawa nyaring. Vita pun berbalik memperhatikan Ibunya.
"Astaga, Zayn lucu sekali." ujar Wati masih dengan tertawa terbahak-bahak lalu menuruni tangga meninggalkan Vita dengan segala rasa menyesalnya.
__ADS_1