Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 36


__ADS_3

Sementara Zayn yang menangis sendu di kamarnya, Bella dan Ibunya berseteru hebat dengan beradu mulut. Bella yang memarahi Ibunya karena berani menganiaya Zayn saat orang tuanya tak ada di rumah, sementara Wati memarahi anak gadisnya karena selalu menentang apa yang ingin dia perbuat.


"Bisa kah Ibu jangan memperlakukan kasar cucu kandungmu sendiri?" tanya Bella dengan raut wajah kecewa.


"Ini hal yang aku benci, di nasehati oleh anakku sendiri hanya karena anak haram itu!" berang Wati dengan memasang wajah jengah.


"Nggak ada anak haram di dunia ini, Bu. Salahkan orang tuanya, bukan anaknya! Anak mana yang ingin lahir dalam kondisi seperti itu? Ibu bayangkan saja, jika seandainya Ibu berada di posisi Zayn, apakah Ibu masih sanggup untuk berkata seperti ini?" ujar Bella di sambut senyum sinis oleh Ibunya.


"Terserah kamu! Sekarang bersihkan rumah ini sampai bersih. Aku mau keluar, kalau sampai aku datang masih dalam keadaan kotor, bersiap saja badanmu akan aku jadikan sate!" gertak Wati sambil melenggang keluar rumah entah ingin pergi ke mana.


"Aku sudah sangat hapal, Ibu hanya bisa menggertakku." lirih Bella menatap kepergian ibunya.


Sepeninggalan Ibunya, Bella segera menaiki anak tangga menuju kamar Zayn yang pintunya tidak terkunci. Bella lirik anak tersebut sedang duduk di lantai bersandarkan ranjang tidurnya. Di rengkuhnya tubuh Zayn sembari di elus pucuk kepalanya.


"Sudah, jangan menangis lagi, ya. Anak laki-laki harus kuat! Kalau mau berbuat sesuatu bilang sama Aunty Bella, karena kalau Nenek tau, Nenek bisa marah lagi sama Zayn." ujar Bella dengan lembut.


"Nenek sangat galak, padahal ini rumah Zayn. Kenapa Nenek bersikap seperti aku ini yang menumpang di rumah ini?" tanya anak usia tujuh tahun tersebut. Sementara Bella hanya tersenyum menanggapinya, menurutnya Zayn benar, Ibunya tidak berhak untuk mengusik Zayn karena memang rumah itu bukanlah milik Ibunya.


"Ya sudah, biar nggak sedih lagi, Aunty Bella temani Zayn makan es krim, ayo!" ajak Bella dan Zayn pun mengangguk patuh. Mereka pun berjalan ke dapur untuk memakan es krim, bukan hanya memakan es krim, mereka juga bercerita banyak hal hingga melupakan hal mengerikan yang sudah terjadi.


***


Dua orang yang selalu makan bersama entah pagi, siang, dan malam, kini mereka memutuskan untuk makan di halaman rumah. Rey sengaja membeli sebuah meja dan beberapa kursi taman untuk memudahkan mereka makan bersama tanpa harus keluar mencari tempat.


"Ngomong-ngomong apa kamu tau pengacara Ismail?" tanya Rey setelah menyelesaikan sarapan paginya.


"Tau, dia Hakim." sahut Kia.


"Hakim? Namanya seperti nggak asing di telinga." Rey mengingat-ingat.

__ADS_1


"Hakim, jurusan hukum di kampus kita. Cuma dia 'kan yang bernama Hakim?" sahut Kia datar, enggan rasanya membahas nama manusia itu.


"Oh, astaga ternyata Hakim yang itu. Orang yang pernah kamu tolak cintanya itu 'kan?" Rey tertawa renyah membuat Kia mencebik kesal.


"Jangan mengejekku, Rey!" Kia menatap sengit.


"Maaf, Kia. Aku hanya membuang suara serakku makanya harus tertawa." sahutnya beralasan sambil berdehem kuat.


"Alasan klasik!" ketusnya sembari menyusun tempat makanan yang sudah tak berisi lagi.


"Baik, kembali ke topik awal." Rey menyudahi candaannya dan beralih ke mode serius.


"Aku selalu khawatir karena Hakim yang menjadi pengacara Ismail. Hakim itu licik, dia yang memengaruhi Ismail selama ini. Aku merasa seperti ada orang di belakang Hakim yang menawarkan hadiah menggiurkan sehingga berani membuatku terpuruk seperti ini." jelas Kia.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Rey tak mengerti.


"Begini, secara logika, mana mungkin Ismail mengambil semua yang aku punya kalau nggak ada orang yang menghasutnya. Bukankah selama ini pendapatan Ismail sudah banyak, bahkan hampir semua pengeluaran di rumah pun aku yang menanggung. Bukankah uang yang dia punya sudah cukup banyak, apalagi yang membuatnya kurang?" jelas Kia, Rey pun mengangguk.


"Jadi, sepertinya kita perlu mengusut sesuatu di balik ini semua." ujar Kia.


"Ya, kamu benar Kia. Sepertinya di mulai dari Hakim, karena dia otak yang memengaruhi Ismail. Kita harus pantau pergerakannya, aku rasa dia akan terus bertemu dengan orang itu sampai tujuannya tercapai." sahut Rey lagi. Mereka pun hening memikirkan suatu hal yang mungkin bisa di pakainya untuk membuktikan perkataan mereka barusan.


"Mungkin Hakim menyetujui orang ini karena dendam denganku. Dan orang itu membantu Hakim karena mempunyai dendam dengan keluargaku. Entah pihak Perusahaan lain atau masalah pribadi dengan orang tuaku." Kia mencoba mencerna masalah-masalah yang ada.


"Wati!" ujar Kia mengagetkan Rey karena sempat hening beberapa saat.


"Wati ibunya Vita?" tanya Rey.


"Benar, dia punya dendam dengan ayah dan ibuku." katanya lirih.

__ADS_1


"Bagaimana bisa?" tanya Rey lagi.


"Waktu aku tinggal di rumah lamanya di kampung, aku melihat bingkai foto yang ada di kamarnya, itu foto Ayahku bersama Wati. Bahkan sebelum aku d husir dari rumahku, dia sempat membahas soal Ibuku yang dia tuduh pernah menjadi pelakor." jelas Kia dan Rey menanggapi dengan banyak anggukkan.


"Jadi, kita perlu mengorek informasi tentang Wati juga. Bagaimanapun, bisa aja ini juga bersangkutan hal yang menimpamu." ungkap Rey mulai menyusun sebuah rencana.


"Rey, bolehkah aku bertanya padamu?" tanya Kia menatap mata Rey.


"Silahkan, Kia."


"Apakah aku dulu berperilaku begitu buruk?" tanya Kia kini pandangannya menyayup.


"Hmm kalau itu sih, semua orang punya pandangan yang berbeda." sahut Rey bingung untuk menjawabnya.


"Nggak apa, kamu jujur saja, Rey. Aku nggak akan marah asal kamu jujur." ujar Kia.


"Ya sudah, aku akan jujur padamu." Rey menghela nafas terlebih dahulu.


"Sebenarnya di mataku kamu nggak begitu buruk seperti yang orang-orang katakan tentangmu. Kamu bersikap apa adanya, nggak munafik yang baik di depan tapi buruk di belakang. Kesanku terhadapmu ya baik-baik saja, karena memang kamu berwatak keras. Hanya saja, aku suka kejujuran dan sikap blak-blakkan mu itu. Setelah urusan kita selesai, aku akan membahasnya lebih." jelas Rey membuat Kia menggenang.


"Terima kasih sudah jujur padaku. Ya ini lah aku, si mulut pedas. Nggak heran kalau banyak yang membenciku, karena aku nggak suka bertele-tele apalagi bermuka dua terhadap orang lain." sahut Kia yang kemudian menghela nafas panjang.


"Sudah lah, Kia. Semua sudah berlalu, yang penting sekarang kita berjuang untuk memperjuangkan hak yang harusnya memang milikmu. Aku akan berusaha untuk itu, terutama Zayn." ujar Rey menenangkan Kia.


"Rey, bisakah aku minta tolong, pertemukan aku dengan Zayn." Kia memelas sembari memegang tangan Rey.


"Aku akan berusaha, oke? Percaya padaku, aku akan mencari cara agar kamu bisa bertemu dengan anakmu." Rey membalas menggenggam tangan Kia, tatapan mata mereka beradu hingga seekor kucing yang melintas menyadarkan keduanya.


"Ehm, kalau begitu aku pergi dulu. Ada hal yang akan aku urus." Rey menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari berdiri dan mulai melangkah meninggalkan Kia yang masih mematung.

__ADS_1


"Terima kasih, Rey." ucapnya lirih memandang mobil yang sudah melesat menjauh dari pandangannya.


__ADS_2