Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 44


__ADS_3

"Hallo, Rey?" ujar Kia setelah panggilan terhubung.


"Kamu di mana sekarang? Apa kamu sedang bersama Zayn? Apa pikiranmu sekarang sudah kacau, sampai lupa apa yang sudah aku bilang?" Rey segera memberondong pertanyaan.


"Ya, aku bersama Zayn." sahutnya sambil menghela nafas Kia berdiri menjauh dari Zayn.


"Aku nggak lupa, Rey. Aku juga nggak membawa Zayn kemanapun. Saat ini aku bersama Zayn di rumah tetangganya." jelas Kia dengan suara pelan.


"Tadi Ismail meneleponku," kata Rey.


"Lalu?" tanya Kia walau sudah tau kalimat apa yang di berikan oleh Ismail.


"Dia bilang, tolong beritahu Kia untuk mengembalikan anaknya." sahut Rey datar.


"Mengembalikan bagaimana, penculik nggak akan membawa anaknya pergi dengan jarak kurang dari lima puluh meter." Kia terkekeh pelan.


"Aku serius, Kia." Rey menghela nafas panjang.


"Iya, maaf, Rey. Aku akan menyuruhnya pulang sekarang juga. Kamu jemput aku, ya. Aku sedang bad mood untuk naik taksi apalagi angkot." pintanya dengan suara memelas.


"Ya sudah, rumah tetangga yang mana? Biar mudah aku mencarimu." tanya Rey dengan mode pasrah.


"Samping kiri rumahku, yang ada pohon mangga besar di halaman rumahnya." jelas Kia saat melihat pohon mangga di halaman rumah Ibu Lia.


"Baiklah, tunggu aku di sana. Tapi suruh Zayn pulang sekarang juga. Bisa-bisa kita kena kasus penculikan anak." sahut Rey dan langsung menutup panggilan tersebut.


Kia tertawa pelan kemudian bergabung kembali bersama Zayn. Di peluknya terlebih dahulu tubuh mungil tersebut selama beberapa saat.


"Mama kenapa?" tanya Zayn saat pelukan mereka merenggang.


"Nggak apa-apa, Sayang. Oh iya, mungkin Ibu kamu akan pulang. Jadi, sekarang Zayn pulang kembali ke rumah, ya." pinta Kia walau berat melepaskan.

__ADS_1


"Zayn nggak mau pulang dulu, Mama. Zayn mau di sini sama Mama." Zayn menggeleng tanda enggan menurut.


"Nurut sama Mama, ya. Nanti Mama kapan-kapan akan ke sini lagi. Sekarang Zayn pulang, kalau nggak pulang nanti Ibu sama Ayah Zayn malah mengira Zayn di culik sama Mama. Kalau Mama masuk penjara bagaimana?" Kia mulai menakut-nakuti agar Zayn bisa menuruti perintahnya.


"Baiklah, Mama harus janji sama Zayn, akan menjenguk Zayn lagi."


"Iyaa, Mama janji. Sekarang pulanglah. See you, Sayang." ujar Kia sembari mencium pipi Zayn dan mengantarnya sampai pintu pagar rumah Ibu Lia seraya melambaikan tangan melepas kepergian anaknya.


Setelah beberapa lama kemudian suara klakson mobil berbunyi, ternyata Rey sudah tiba di depan rumah Ibu Lia.


"Ibu Lia, maaf merepotkan. Dan saya minta kerja samanya sedikit, kalau Ibunya Zayn bertanya, bilang saja kalau Ibu yang mengajaknya main di sini. Tadi saya sempat bilang kepada Zayn untuk nggak mengungkapkan kehadiran saya di sini." ujar Kia sebelum memutuskan untuk pamit.


"Tenang saja Ibu Kia. Saya janji rahasia akan saya telan dalam perut saya." ujar Ibu Lia mengeluarkan jurus humornya.


"Ah bisa aja Ibu Lia ini becandanya. Kalau begitu saya pamit dulu, terima kasih dan maaf sekali lagi karena merepotkan. Assalamualaikum." Kia pamit sambil memeluk Ibu Lia sebentar dan langsung meninggalkan rumah itu.


"Waalaikumsalam." lirih Ibu Lia menjawab, mengantar kepergian Kia dengan mata menggenang. Rasa sedih dalam hatiny sedikit menggelitik, ingin sekali rasanya dia membantu, namun dia juga tahu diriĀ  untuk masuk ke dalam urusan rumah tangga orang lain sepertinya kurang sopan.


Berita menghilangnya Zayn pun sampai ke telinga Wati yang saat ini sedang sibuk menghabiskan waktunya di salon kecantikan. Mau tak mau, suka tak suka wanita itu harus merelakan waktunya untuk kembali ke rumah.


"Ibu kan sudah bilang, berikan aja anak itu kepada Kia. Biarkan wanita itu yang merawatnya. Kalian tetap kekeh, jadi inilah hasilnya." ujar Wati setelah sampai di rumah dan saat ini mereka sedang berkumpul di ruang tamu.


"Ibu tolong jangan memperkeruh suasana, ya. Kami sudah lelah mendengar ocehan Ibu yang seperti ini." keluh Ismail sambil memijat pangkal hidungnya.


"Aku akan terus mengatakannya sampai Zayn pergi dari hadapanku." bentak Wati teguh dengan pemikirannya.


"Cukup, Bu! Apa Ibu nggak ada kalimat baik yang bisa di ucapkan?" tanya Vita, balik membentak Ibunya sendiri.


"Dengar, Bu. Walau Ibu nggak suka dengan Zayn, dia tetaplah anakku. Dan itu nggak akan pernah berubah sampai aku mati!" tambahnya dengan emosi yang sudah memakan dirinya.


Wati melipat tangan di dada, melihat perubahan anaknya membuatnya tertawa sinis.

__ADS_1


"Sekarang kamu semakin berani membantah dan membentak Ibumu sendiri, ya." Wati pun mulai bertepuk tangan.


"Ya, karena ini adalah rumahku. Walaupun Ibu ini adalah Ibuku, tapi rumah ini tetap harus mengikuti aturanku."


Malas mendengarkan perdebatan yang tak ada habisnya, Bella menghabiskan waktunya menikmati cemilan sembari menonton drama Korea kesukaannya di teras depan.


"Assalamualaikum," ujar Zayn mengucap salam.


Snack yang tadinya baru masuk dalam mulut Bella, terpaksa keluar karena gadis itu menganga saat melihat sosok yang membuat keluarganya ricuh ini berdiri di hadapannya dengan tatapan tanpa dosa.


"Waalaikumsalam, Zayn dari mana?" tanya Bella setelah meneguk minuman dinginnya.


"Zayn habis main di rumah tetangga sebelah, di rumah tante Lia." sahut Zayn dengan tersenyum.


"Astaga, Zayn." Bella menepuk jidatnya sendiri kemudian membawa Zayn segera masuk ke dalam rumah.


"Zayn sudah kembali, jangan ribut lagi." sela Bella saat Wati dan Vita masih beradu argumen.


Perdebatan pun berhenti, namun tidak berhenti sampai di situ saja. Kini emosi Wati semakin memuncak saat melihat Zayn. Muka polos yang sangat di bencinya.


"Anak kurang ajar! Gara-gara kamu, kami semua menjadi seperti ini! Dari mana saja kamu, hah?" suara yang membuat Zayn takut itu kembali menggelegar. Zayn sampai terhentak dan nenampakkan kaca bening dalam matanya.


"Zayn tadi main di rumah tante Lia." ujarnya sambil menunduk takut.


"Sekali lagi kamu pergi tanpa ijin dan membuat rusuh rumah ini, akan ku patahkan kakimu!" ancam Wati membuat Zayn langsung menangis.


"Cukup, Bu! Ini bukan salah Zayn." Vita pun membela dan memeluk Zayn guna menenangkan anak laki-laki itu.


"Ini semua salah Ibu karena melarang Zayn untuk pergi ke sekolah!" Zayn melepaskan pelukan itu dan berlari menuju kamarnya.


"Lihat anak yang kamu banggakan itu!" sarkas Wati sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


"Ya Allah, Zayn ingin tinggal bersama Mama Kia. Bukan dengan Ibu Vita apalagi bersama Nenek jahat. Zayn takut dengan Nenek jahat." ujar Zayn pelan dalam tangisnya. Anak laki-laki itu hanya bisa meringkuk di atas kasur sendirian dalam kamarnya. Baginya bisa hidup bersama Kia adalah sebuah kebahagiaan, berbeda dengan situasi saat ini, hidupnya bagaikan tinggal dalam neraka.


__ADS_2