Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 18


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya~


Pagi hari, satu keluarga tengah berkumpul di meja makan, membahas apa saja yang perlu di bahas. Wati sebagai orang tua tunggal berusaha keras agar anak kandungnya bisa merasakan apa yang di rasakan oleh orang lain ketika menjadi seorang istri.


"Mail, aku sebenarnya sudah nggak tahan. Semalam aku mimpi kamu itu malah nggak jadi cerai sama perempuan itu dan lebih memilih menceraikan anakku. Aku jadi takut itu akan benar-benar terjadi." keluh Wati setelah menyelesaikan sarapannya.


"Nggak akan, Bu. Aku sangat mencintai Devita, sampai kapan pun aku nggak akan pernah menceraikannya." sahut Ismail sambil meletakkan peralatan makannya guna menyudahi sarapannya.


"Sekarang, aku beri dua pilihan untukmu. Mengumumkan pernikahan kalian, atau ceraikan saja anakku. Dia cukup cantik dan banyak laki-laki yang mengejarnya." gertak Wati.


"Tapi, Bu-" kata-kata Devita tertahan.


"Nggak ada tapi-tapian, aku sudah lelah mendengar gosipan orang-orang selama bertahun-tahun. Sekarang aku sudah nggak bisa lagi menahan ini semua. Anakku istri sah, bukan simpanan!" gerutunya lagi.


"Baik, nanti jika sudah tiba waktunya, aku akan mengumumkan tentang ini di hadapan orang-orang." ujar Ismail akhirnya.


"Nggak bisa gitu, Mail. Aku nggak mau!" sela Devita.


"Vita, kamu mau hidup begini sampai kapan, Nak? Sudah menikah tetapi seperti orang belum menikah." tanya Wati dengan nada sedikit lembut, berharap anak perempuannya ini mengerti.


"Sampai kapan pun aku nggak masalah." sahut Vita setelah itu kembali mengunyah roti di tangannya.


"Kamu tau, Sayang. Orang-orang menganggapmu wanita nggak benar. Aku sebagai orang tua di anggap gagal mendidik anak. Apa kamu bisa sedikit saja menghargai diri sendiri dan Ibumu ini, Nak?" bujuk Wati agar Devita sedikit melunak.

__ADS_1


"Biarlah orang berkata apa, mereka lupa kalau manusia nggak ada yang sempurna di dunia ini. Setidaknya kita nggak pernah menyusahkan mereka." sahut Devita sembari menyimpun peralatan makan yang sudah di gunakan. Sementara itu, Ismail bangkit meninggalkan dua orang Ibu dan Anak yang sedang beradu argumen.


"Lihat, Bella. Kakakmu ini semakin nggak masuk akal saja. Dia sekarang ikut-ikutan membangkang sepertimu." Wati geram hingga ingin mencekik leher anak bungsu nya itu.


"Ais, ais, Ibu. Aku pula yang jadi sasaran." Bella bangkit menghindari amukan Sang Ibu.


"Sudah cukup, Bu! Aku nggak bisa memaksakan kehendak untuk menyingkirkan Zaskia. Aku nggak mau menusuk Kia dari belakang." amuk Vita sembari mencuci piring hingga terhempas dan pecah.


"Wow, nggak mau menusuk dari belakang, katamu? Kamu itu sudah diam-diam menikahi suami sahabatmu sendiri tau, bukankah itu sudah menusuk dari belakang? Kamu menusuknya selama tujuh tahun! Kalau itu aku, lebih baik di bunuh saja sekalian agar sakitnya nggak berkepanjangan." ledek Wati meremehkan ucapan anak perempuan nya itu.


"Cukup! Aku sudah muak dengan kalian!" Vita pun mengambil tasnya kemudian pergi meninggalkan Ibunya yang masih tersulut emosi.


"Aku melakukan ini hanya untuk kebaikanmu, Nak. Suatu saat kamu akan menyadari bahwa keputusanmu itu salah." gumam Wati dalam hati.


"Hakim, aku ingin mengumumkan tentang pernikahan ku dan Devita hari ini juga. Apa semua yang aku inginkan sudah siap?" tanya Ismail dalam telepon.


"Semua sudah siap. Tinggal menunggumu untuk bertindak. Dan kebetulan banget, Bro. Aku baru saja bertemu Zaskia tadi." sahut Hakim dari seberang sana.


"Oh, ya? Berarti sekarang dia sedang dalam perjalanan menuju Perusahaan. Kalau begitu, kita berangkat sekarang. Sampai jumpa di sana." ujar Ismail kemudian segera bersiap menuju perusahaan.


***


Usai mengantar Zayn ke sekolah, Devita segera memacu mobilnya menuju Perusahaan Zaskia. Selain sebagai pengasuh Zayn, Devita memang sering membantu Zaskia di perusahaan. Pagi ini, dia memang sudah ada janji dengan Zaskia membantu survei tempat untuk melaksanakan proyek baru.

__ADS_1


Sesampainya di sana, terlihat banyaknya orang dalam ruangan dengan wajah tegang. Karena penasaran, Devita pun bergegas untuk menghampiri mereka, di takutkan ada kendala mengenai proyek baru dan dia tidak ingin ketinggalan.


"Kalau begitu, sudah saatnya menunjuk CEO baru. Sebagai pemegang saham terbesar, aku menunjuk diriku sebagai CEO yang baru. Dan jabatan COO saya sebelumnya yang telah kosong, akan saya alihkan kepada istri kedua saya, Devita." ujar Ismail kala dirinya baru saja tiba di ruangan tersebut.


"Ya Tuhan, Ismail. Kenapa kamu begitu bodoh!" gertak Devita dalam hati. Dirinya kini merasa malu karena tatapan menghina dari semua orang yang hadir di sana.


Zaskia menatap Devita dengan mata yang mulai menggenang, kepalanya terus-terusan menggeleng tak percaya, berharap ini semua hanya mimpi. Tapi ini sangat nyata dan tak cocok untuk di definisikan sebagai mimpi.


Lutut Zaskia mulai melemas, kepalanya menjadi pusing dan penglihatannya mulai menggelap. Berat sekali rasanya menopang cobaan yang melandanya hingga fisik pun sudah tak mampu untuk menahan. Zaskia akhirnya pingsan dan terjatuh di lantai, membuat semua orang dalam ruangan itu menjadi panik. Zaskia pun segera di larikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.


Sudah seharian lamanya Devita menjaga Zaskia, namun Kia tak kunjung sadar. Padahal dokter mengatakan kalau Kia hanya kelelahan. Kia seakan nyaman dengan tidurnya hari ini.


Devita memegang tangan Kia sembari menangis. Dia sangat menyesal karena tidak pernah jujur akan hubungannya dengan Ismail. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi tak bisa di ulang lagi.


"Maafkan aku, Kia. Aku yang paling bersalah di sini. Aku mohon bangun. Pukul aku jika bisa menghilangkan marahmu, aku rela." ujarnya dalam tangis.


"Aku memang ingin memukulmu, tapi aku tidak sekejam itu, Vita. Aku tidak sekejam dirimu yang berani membohongi orang lain demi kebahagiaan diri sendiri. Aku lebih memilih untuk terus tidur daripada harus melihat wajahmu." gumam Kia dalam hati dengan kelopak mata yang tetap mengatup.


Hari semakin gelap, Vita pun memutuskan untuk pergi ke rumah Kia, menemui Zayn yang sudah pasti akan khawatir karena Ibunya belum juga kembali.


"Aku pamit, Kia. Aku harus menemui Zayn, dia pasti khawatir karena kamu belum pulang. Sementara ini aku akan menjaganya sampai kamu benar-benar pulih." pamit Vita kemudian segera bergegas pergi meninggalkan Kia yang masih enggan membuka mata.


Setelah beberapa saat setelah Vita pergi, Kia membuka matanya. Menatap langit-langit kamar dengan sendu.

__ADS_1


"Jika bukan karena dirimu, aku sudah pasti memeluknya sekarang ini. Zayn, mama rindu, mama ingin memeluk kamu, Nak. Mama ingin meminta maaf karena nggak bisa memberikanmu keluarga yang utuh lagi." ujarnya sambil menangis sesenggukan sendirian dalam kamar tempat dirinya di rawat.


__ADS_2