Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 63


__ADS_3

Dengan berpakaian rapi dan formal, Zaskia dan Rey akan melangkah memasuki perusahaan yang saat ini sedwng di pimpin oleh Ismail.


"Apakah kamu sudah siap?" tanya Rey sebelum membuka pintu ruangan yang akan mereka masuki.


Kia menarik nafasnya dalam lalu menghembus perlahan. Setelah di rasa tenang, Kia menganggukan kepalanya agar Rey membuka pintu ruangan tersebut.


Dengan langkah tegap dan percaya diri keduanya berjalan melewati puluhan karyawan yang sedang berkutat pada masing-masing tugasnya.


Mereka tercengang melihat Zaskia yang penampilannya sama seperti dulu saat wanita itu masih menjabat.


Pikiran mereka pun mulai menerka-nerka, hingga tak sedikit yang beranggapan kalau Kia akan kembali menjabat di sana.


Tanpa pikir panjang, Kia duduk di kursi kebesarannya yang dulu menemaninya merintis usaha, walau Ismail masih menjabat di sana.


"Selamat datang kembali, Kia." ujar Rey kepada Kia. Kia mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Ma-maksudnya, Rey?" Kia mengangkat kedua bahunya.


"Kamu sudah bisa menjabat kembali di perusahaan ini menggantikan Ismail." jawab Rey dengan tersenyum.


"Benarkah? Serius?"


"Ya, aku serius, Kia." sahut Rey dengan wajah serius.


Mata Kia menggenang, lalu berucap "Terima kasih, Rey."


Kia pun keluar dari ruang ini dan mulai menyapa karyawan yang pernah menemaninya bekerja keras membangun perusahaan.


"Hai, semuanya." sapa Kia hingga membuat aktivitas seluruh karyawannya terhenti. Mereka pun mendekat dan berkumpul di hadapan Kia.


"Kalian pasti bertanya-tanya kenapa Saya bisa berada di sini menghadapi kalian kembali." ujar Kia.


"Seperti yang kalian tau, perusahaan ini sebelumnya adalah milik ayahku. Beliau mempercayakanku untuk mengelola perusahaan ini. Dan seperti yang kalian tau, beberapa bulan ini ada banyak kejadian yang tidak biasa terjadi di perusahaan ini, seperti Saya yang kehilangan posisi sebagai CEO secara tiba-tiba dengan cara yang tidak adil." tambah Kia, semua karyawan mengangguk mengerti dengan keadaan itu.


"Jadi, dengan di bantu oleh Pengacara saya dan juga Pak Faisal yang merupakan Paman saya. Saya memutuskan untuk mengambil alih kembali posisiku sebagai pimpinan kalian." Kia menghela nafas terlebih dahulu.


"Saya tahu, banyak dari kalian yang tidak suka dengan kehadiran saya kembali dan merasa tidak nyaman melihat wajah saya lagi. Saya maklumi, karena saya sadar, saya memang pernah memerintah kalian sesuka hati. Tapi tenang saja, Saya akan beri kalian kesempatan, untuk mengundurkan diri secara hormat dan akan saya rekomendasikan perusahaan lain. Itu hak kalian, saya tidak berhak untuk memaksakan kehendak saya kepada kalian." jelas Kia dengan suara bergetar.


"Tapi jika kalian ingin tetap berada di sini, saya akan merasa sangat senang sekali. Karena tanpa kalian, saya di sini bukanlah apa-apa. Dan jauh dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya ingin meminta maaf atas semua kesalahan saya selama menjadi pemimpin kalian." ujarnya dengan tersenyum namun matanya berkaca-kaca.


"I'm so sorry." ujarnya lagi dengar air mata yang mulai mengalir.

__ADS_1


Riska melangkahkan kaki, lalu memeluk tubuh Kia. Menenangkan isak tangis Kia yang sudah tidak bisa di tahan. Di tepuk pelan punggung wanita itu hingga isak tersebut mereda.


"Kami memang menunggu anda kembali, Bu Kia." kata Riska setelah pelukan terlerai. Semua orang di sana pun bertepuk tangan dengan riang.


"Terima kasih, semuanya." kata Kia seraya tersenyum.


"Jadi bagaimana dengan Pak Ismail, Bu Kia?" tanya James yang sedari tadi lidahnya memang gatal untuk bertanya.


Kia diam, lalu memanggil Rey untuk menjelaskan apa yang harus di dengar oleh seluruh karyawannya.


"Ismail tetap akan bekerja di sini, hanya saja posisi pimpinan akan beralih kembali kepada Zaskia, mengingat rapat dadakan tadi malam di lakukan secara privat oleh para pemegang saham. Mereka menginginkan Zaskia kembali mengambil alih perusahaan." jelas Rey dan semua karyawan mengangguk mengerti.


"Kenapa aku malah nggak tau apa-apa, Rey?" bisik Kia bertanya.


"Semua sudah di rencanakan oleh Pamanmu, dia sengaja mengundang para pemegang saham untuk memilih kembali pemimpin perusahaan. Sebelumnya juga beliau menghubungiku untuk membahas perihal mentransfer separuh sahamnya untukmu. Jadi saham milikmu sekarang hanya selisih 1% dari milik Ismail." sahut Rey.


"Jadi kalian tetap bekerja sebagaimana mestinya, jangan merasa khawatir soal lainnya." tegas Rey.


Tiba-tiba Ismail datang, melihat Kia yang sudah bisa mengambil hati karyawannya. Dia bingung, bagaimana bisa Kia sudah berada di ruangannya sementara selama ini yang dia tahu adalah Kia tak pernah ikut campur dalam urusan perusahaan.


"Ada apa ini?" tanya Ismail yang sebenarnya belum bisa merelakan perusahaan yang pernah dia rampas mati-matian.


Tanpa menghiraukan, Kia mulai membuka berkas-berkas yang ada di atas meja. Sedangkan Rey berdiri membelakangi mereka dan memilih memandang pemandangan jalan raya yang ramai melalui kaca jendela.


"Sorry, itu kursi milikku." ujar Ismail dengan menatap sengit ke arah Kia yang seolah sedang merampas barang miliknya.


"Maaf, sekarang aku sudah kembali menjadi pimpinan kalian." kata Kia dengan ekspresi datar.


"Itu dulu 'kan, sekarang aku pemimpinnya. Aku yang punya saham, bukan kamu." sanggah Ismail yang belum mengetahui apa yang terjadi.


"Permisi tuan Ismail yang terhormat, agar tidak ada kesalahpahaman lebih jauh, sebaiknya saya beritahu kebenarannya. Sekarang pemilik saham terbesar di perusahaan ini adalah Zaskia." jelas Rey.


Ismail memandang Rey tak suka, dia tersenyum remeh mendengar penjelasan dari Rey. Sulit di percaya karena terjadi sangat tiba-tiba.


"Kamu pikir aku akan percaya?" Ismail tertawa pelan.


"Baiklah, kamu baca ini." Rey menyodorkan sebuah berkas kepada Ismail. Namun, Ismail enggan melihat dan malah semakin berontak.


"Aku bosnya di sini, bukan kamu, Kia!" bentaknya.


"Ismail!" terdengar suara teriakan dari luar ruangan itu, yang tak lain adalah Faisal.

__ADS_1


Ismail gelabakan, rasanya seperti maling yang sedang di keroyok orang banyak, tak ada yang berpihak kepadanya saat ini.


"Aku terkejut saat melihat wajah aslimu sekarang." ungkap Faisal yang sekarang mulai mendudukan dirinya ke kursi.


"Sungguh, orang sepertimu tidak cocok untuk menjadi pemimpin. Pertama, kamu yang malas. Kedua kamu yang serakah. Ketiga, kamu yang tidak bertanggung jawab. Dan yang keempat adalah kamu yang pemberontak. Ini sudah membuktikan bahwa dirimu sangat tidak layak untuk memimpin perusahaan." ujar Faisal dengan tegas. Ismail pun diam tak berkutik.


"Oh iya, kamu jangan lupa bahwa masih ada aku di sini sebagai salah satu pemilik saham terbesar. Aku yang akan memilih siapa yang bisa memimpin perusahaan ini." tambah Faisal lagi.


"Sekarang aku umumkan secara resmi, Zaskia akan memimpin kembali perusahaan ini." ucap Faisal tegas.


"Terima kasih, Paman." ujar Kia tulus.


"Jadi, sebagai pemimpin yang baru. Aku mau mengawali tugasku dengan memecat Ismail dari posisi CEO! Mengingat dirinya yang masih punya saham di sini, aku minta kamu kembali ke ruanganmu untuk menjabat jabatan lamamu. Silahkan bekerja seperti biasanya." titah Kia dengan tegas. Aura kepemimpinannya kembali muncul.


"Maaf, setelah ini kamu akan selalu melihatku dan akan selalu bertemu denganku. Aku harap kamu nggak masalah dengan itu. Karena aku memang seperti ini, semakin kamu nggak suka melihatku, aku akan lebih sering membuatmu melihat orang yang nggak kamu sukai ini." ledek Kia secara tidak langsung.


Ismail menarik nafasnya kasar lalu menghembus dengan paksa. Dia tarik dan di longgarkan dasi yang melingkar erat di lehernya. Posisinya saat ini sangat sulit, mundur salah, maju lebih salah.


"Kamu bukan orang yang seperti ini, Kia." kata Ismail.


"Ya, aku berubah menjadi lebih baik atas perlakuan yang kamu lakukan kepadaku." balas Kia.


"Devita sudah memperlakukanmu dengan baik dan kamu membalasnya seperti ini?" tanya Ismail yang mulai membahas sang istri.


"Baik katamu? Aku memang sudah memaafkan dia, tapi setiap perbuatan ada balasannya, Mail. Aku sebenarnya nggak sejahat itu kepada kalian, tapi Devita sendiri yang memintaku mengambil kembali harta yang sudah kalian rebut. Sekarang aku mulai mengambilnya satu persatu dengan caraku sendiri." jelas Kia dengan menatap sengit lawan bicaranya.


"Aku sangat mengenalmu, setiap hal yang kamu lakukan semuanya hanyalah kelicikan. Oh, atau selama ini aku yang bodoh mengikuti permainanmu ini. Kamu sengaja membuatku menikmati hartamu, setelah itu kamu mengambilnya kembali secara paksa. Kamu memang licik, Kia!" kesal Ismail berkata dengan nada tinggi.


"Kamu yang licik, Mail. Jangan lupa, siapa yang mengambil saham Kia sedikit demi sedikit. Ismail, sadarlah! Kamu yang salah sejak awal, jangan melimpahkan kesalahanmu kepada orang lain hanya karena kamu merasa kalah." Rey mencoba memberi nasehat.


"Diam, Rey. Kamu hanya orang luar!" bentak Ismail.


"Ya, kamu memang baik karena membiarkan aku tetap bekerja di sini. Tapi sorry, aku nggak akan sudi menjadi bawahanmu!" tegas Ismail menolak.


"Aku pergi!" Ismail pun mulai melangkahkan kaki keluar dengan langkah besar.


"Ismail, jangan lupa tinggalkan kunci mobil milik perusahaan. Kamu sudah nggak berhak membawanya, bukan?" teriak Zaskia sebelum Ismail benar-benar menjauh.


"Wanita sialan!" Ismail melempar kunci tersebut kebelakang tanpa berbalik. Kunci tersebut jatuh di lantai bersamaan langkah kaki Ismail yang melangkah keluar.


"Akhirnya satu benalu sudah di singkirkan." ujar Faisal menghela nafas lega.

__ADS_1


__ADS_2