Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 38


__ADS_3

"Bukankah dia nggak akan pernah menang?" tanya Ismail dengan suara meledek dengan penuh percaya diri.


"Mungkin menurutmu kasus ini dapat menang. Namun bagaimana jika mereka mampu membuktikan tentang Zayn yang di buang oleh ibunya?" tanya Hakim.


"Bagaimana jika Rey mampu membuktikan dirimu yang sengaja menjatuhkan Kia?" tambahnya lagi.


"Bukankah satu-satunya cara untuk menghindari kasus yang semakin sulit adalah hanya dengan menyerahkan Zayn?" usul Hakim lagi membuat Ismail menarik nafasnya dengan berat.


"Entahlah, kita lihat saja nanti." tanpa mengatakan apapun lagi, Ismail memutus panggilan itu.


Di bagian belahan bumi yang lain, Kia merasakan bosan sepanjang hari. Tanpa melihat tingkah manja Zayn, tanpa mendengar celetuk tak jelas dari Mbak Asih dan tanpa beranjak dari rumah untuk pergi bekerja, semuanya Kia rasa bagaikan hidup tanpa arah.


Matahari sudah akan sampai tujuannya di ufuk barat, Rey baru saja memasuki rumahnya, meletakkan tas pada tempatnya kemudian bergegas hendak membersihkan diri karena merasa badan yang terasa lengket akibat seharian bekerja. Baru saja memasuki kamar, ponselnya berdering, ternyata Kia yang meneleponnya. Dengan wajah sumringah lelaki itu menjawab telepon tersebut.


"Assalamualaikum, Kia." ujarnya mengawali pembicaraan.


"Waalaikumsalam, Rey." sahut Kia singkat. Rey terdiam beberapa saat menunggu kata selanjutnya namun tak ada sepatah kalimat lagi yang keluar dari mulut wanita itu.


"Ada apa, Kia?" tanya Rey berhati-hati takut jika Kia sedang dalam mood yang buruk.


"Hehe, nggak ada apa-apa 'sih, Rey." suara Kia terdengar kikuk, jelas sekali jika wanita itu sedang bingung arah tujuannya menelepon.


"Apa kamu lagi bosan, sendirian di rumah?" tebak Rey dengan terkekeh kecil.


"Hehe, untung kamu ngerti." sahut Kia dengan tawa yang terdengar garing.


"Ya sudah, bagaimana kalau malam ini kita nge-date?" tanya Rey dengan debaran jantung yang berdetak tiga kali lebih cepat.


"Hah? Kamu ngajak aku kencan?" tanya Kia takut salah mendengar.


"Iyaa, ayo kita keluar malam ini." ajak Rey lagi.

__ADS_1


"Kamu serius?" tanya Kia untuk meyakinkan pendengarannya.


"Iya, Kia. Apa kamu mau menerima ajakanku?" Rey bertanya lagi.


"Baiklah, jika kamu memaksa." sahut Kia membuat Rey tertawa.


"Ya, aku sangat pemaksa." ujar Rey kemudian keduanya tertawa.


"Aku akan menjemputmu setelah sholat Isya," ujar Rey sebelum panggilan tersebut terputus.


***


Ismail berhenti di sebuah mall, tujuannya kali ini adalah mengunjungi sebuah butik dan toko perhiasan. Mengingat bnyak hal yang terjadi, dirinya ingin memberi kebahagiaan kecil untuk keluarga kecilnya itu sebelum melanjutkan masalah kasus yang akan mengganggu ketenangannya kelak.


Sebuah gaun berwarna hijau tosca menarik perhatian lelaki beranak satu itu. Tanpa pikir panjang, Ismail segera membelinya dengan membayangkan secantik apa istrinya setelah memakainya. Usai membayar, Ismail melenggang menuju toko perhiasan yang tak jauh dari toko baju pilihnya tadi.


Matanya berhenti menelisik saat pandangannya jatuh pada sebuah cincin emas yang membentuk motif love di atasnya dan berhiaskan sebutir permata menambah kecantikan benda tersebut. Dirinya sejenak menimbang-nimbang, apakah cocok dengan style sang istrinya atau tidak? Untuk menjawab keraguan, lelaki itu memilih untuk tetap membelinya. Setelah membayar, Ismail segera berangkat menuju rumah. Dirinya sengaja membeli barang-barang tersebut memberi kejutan untuk sang istri.


"Apa ini?" tanya Vita yang tak bisa menyembunyikan wajahnya yang bersinar senang.


"Buka lah." titah Ismail dan Vita pun segera membuka kotak tersebut. Dengan menutup mulutnya dia melihat gaun yang begitu indah baginya lalu menghampar gaun tersebut di atas tempat tidurnya.


"Bagaimana? Apa kamu suka dengan hadiahnya?"  tanya Ismail sembari memeluk Vita dari belakang.


"Ya, aku suka. Terimakasih, Mail." ujar Vita melerai tangan suaminya kemudian dia berbalik menghadap Ismail dan memeluknya erat. Vita masih malu-malu kucing dan menyembunyikan wajahnya yang merona di dada bidang suaminya.


"Ayo, kita makan malam di luar. Kita ajak Zayn pergi bersama." ajak Ismail dengan berbisik tepat di telinga wanita itu dan Vita pun memgangguk senang.


"Ya sudah, kamu bersiap, berdandanlah yang cantik, aku akan menyuruh Zayn untuk bersiap juga." titah Ismail sembari mengecup singkat kening Vita.


Ismail memasuki kamar Zayn, melihat putra kecilnya yang sedang membaca buku-bukunya. Ismail merasa kasihan dengan Zayn yang tidak lagi pergi ke sekolah karena ke-posesifan Vita.

__ADS_1


"Hai, jagoan ayah! Apa kamu mau ikut ayah jalan-jalan malam ini?" tanya Ismail, Zayn pun menoleh ke arah ayahnya dan menatapnya dengan ujung bibir sedikit tertarik membentuk bulan sabit.


"Kemana ayah?" tanya Zayn.


"Kita makan di luar bersama dengan Ibu." sahut Ismail, yang tadinya wajahnya tersenyum kini berangsur menyurut kala mendengar kata 'bersama dengan Ibu'.


"Ayo, bersiap." titah Ismail lagi, Zayn hanya memanggutkan kepalanya dan segera bersiap seperti apa yang ayahnya perintahkan.


Dengan mengenakan gaun pemberian Ismail, Vita menatap dirinya dalam pantulan cermin. Dirinya terlihat sangat cantik malam ini. Dia poleskan bibirnya menggunakan lipstik berwarna pink alami membuat aura kecantikannya terlihat lebih natural. Ismail pun takjub kala melihat pertama kalinya Devita berdandan demi dirinya.


"Ah, rasanya aku semakin cinta saja dengan wanita ini." Ismail berdecak kagum dalam hati, matanya seperti enggan berkedip takut melewatkan kesempatan untuk memandang kecantikan Devita padahal istrinya itu hanyalah miliknya sehingga bisa menatapnya kapanpun dan di manapun dia mau.


"Mengapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Vita sambil menelisik dirinya sendiri yang mungkin pikirnya ada yang buruk dengan tampilannya.


"Nggak ada yang salah, ayo berangkat." ujarnya tanpa memuji kecantikan istrinya secara langsung.


"Padahal aku sudah berdandan untuknya, kenapa dia nggak memujiku." gerutu Vita dalam hati.


Mobil pun melenggang pergi menuju tempat tujuannya yaitu sebuah restoran yang sempat di pesan oleh Riska namun dia ganti harinya menjadi hari ini karena kemarin begitu banyak masalah yang terjadi.


Tak menunggu waktu lama, Keluarga kecil Ismail pun tiba di restoran mewah, terlihat di atas meja lilin menyala yang tersusun rapi. Tak lupa musik-musik barat yang indah mengalun menambah kesan elegan dan memukaunya restoran tersebut.


"Selamat datang, dengan atas nama Pak Ismail, ya. Silahkan meja sebelah sana." ujar seorang pelayan menunjukkan meja nomor tiga di hadapannya.


"Ini pasti mahal 'kan? bisik Vita setelah duduk bersama.


"Ini semua nggak sebanding dengan kebahagiaanmu, Sayang." ujar Ismail tersenyum sembari mengusap lembut pucuk kepala istrinya yang kini duduk di sampingnya sedangkan Zayn duduk di hadapan mereka berdua. Kemudian Ismail merogoh saku celananya mengeluarkan sebuah benda kecil dari sana.


"Ini untukmu. Maaf, baru sempat memberikannya sekarang." Ismail menyematkan sebuah cincin ke jari manis istrinya.


"Terima kasih, Suamiku." ucap Vita lirih namun terdengar di telinga Ismail. Lelaki itu pun mengulas senyum indahnya saat mendengar kata 'suamiku' dari mulut Devita, bersamaan dengan itu, tanpa terasa air matanya jatuh setitik.

__ADS_1


__ADS_2