
Faisal terdiam beberapa saat, sambil makan dirinya memikirkan jalan yang sekiranya bisa membuat Zaskia kembali menjadi pemimpin dan para penjahat itu bisa tertangkap.
"Kamu nggak usah khawatir, Paman punya cara sendiri untuk membantumu." ujar Faisal kemudian.
"Bagaimana caranya, Paman?" tanya Kia yang berhasil di undang rasa penasarannya.
"Kamu nggak perlu tau sekarang. Paman yang akan mengaturnya sendiri. Berhubung kamu nggak tega 'kan kepada mereka, jadi biar Paman saja yang bertindak. Kamu hanya tau beres saja, sekarang pulang lah. Beristirahat dengan cukup, siapkan tenaga agar sewaktu-waktu kalau paman tiba-tiba memintamu hadir kembali ke perusahaan, kamu harus langsung bekerja." titah Faisal. Zaskia shock, namun dia tidak bisa menolak permintaan pamannya itu.
"Baiklah kalau begitu aku permisi untuk pulang dulu paman. Terima kasih makanannya." Zaskia bangkit dari duduknya lalu menyalami adik dari ayahnya itu.
"Hati-hati di jalan." ujar Faisal mengusap punggung tangan keponakannya itu.
"Baik, Paman. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Faisal, menatap mengantar kepergian keponakannya.
***
Sudah beberapa lama tidak bertemu dan ditemui Rey, Kia akhirnya nekat mengunjungi Rey yang saat ini masih bergeming dalam selimutnya. Mengingat hari ini adalah hari minggu, dirinya malas beraktifitas di luar rumah.
Sudah lama Kia berputar-putar mencari alamat rumah Rey yang dia dapatkan dari Asih. Wanita itu pun menghembus nafas lega saat sudah berada di depan rumah yang saat ini dia tuju.
Kia pun memncet bel rumah. Beberapa lama menunggu tak ada yang keluar dari sana. Masih tidak menyerah, Kia menggedor pintu rumah itu.
Rey yang merasa terusik akhirnya dengan terpaksa keluar dan membuka pintu. Matanya pun terlihat sipit karena cahaya saat pintu di buka. Wajahnya terlihat kusut sama seperti rambutnya.
Kia tertawa pelan melihat penampilan absurd Rey saat ini. Dirinya tidak menyangka dapat melihat wajah kusut itu.
"Jangan tertawa! Ayo masuk." ujar Rey sedikit kesal karena hari liburnya yang kini sudah terganggu.
"Tumben sekali kamu jarang menemuiku, biasanya setiap hari kamu akan datang." ujar Kia mengingatkan betapa rajinnya Rey yang sebelumnya.
"Sekarang sudah ada Asih yang membantumu dan mengurusmu. Aku nggak perlu repot-repot lagi ke sana." sahut Rey yang kini duduk di sofa dengan kepala yang dia sandarkan pada dinding, matanya kembali tertutup.
__ADS_1
"Bangun! Aku bawakan kamu makan siang, pasti tadi pagi kamu nggak sarapan 'kan?" tanya Kia yang langsung bergegas mencari dapur.
"Dapur di sebelah sana." kata Rey mengerti karena melihat Kia yang pandangannya seperti mencari ruangan dapur. Kia pun mengambil piring beserta sendok, dia pun membawakannya ke hadapan Rey.
"Cuci muka, gosok gigi dulu. Baru makan!" titah Kia.
"Iya, bawel. Kamu sudah seperti istriku saja." celetuk Rey sambil bergegas ke arah kamar mandi.
Kia tersenyum seraya menggeleng pelan. Rona wajahnya tidak bisa di sembunyikan. Dia tengah malu sekarang.
Selesai membersihkan diri, Rey pun kembali ke hadapan Kia. Memakan makanan yang di bawa oleh wanita itu dengan lahap. Setelahnya dia meminum air putih untuk menutup sesi makan siangnya.
"Sebelum kamu datang, Om Faisal menelepon ku." ujar Rey dari dapur setelah meletakkan piring kotornya.
"Oh, ya? Apa katanya." tanya Kia.
"Dia menyuruhku mempersiapkan dokumen penting." sahut Rey singkat.
"Dokumen apa?" tanya Kia lagi.
"Astaga kamu ini. Suka sekali membuat teka-teki untukku." keluh Kia memanyunkan bibir.
" Jangan manyun seperti itu. Aku sudah mengurusnya dengan baik. Kamu tinggal tunggu hasil." ujar Rey lagi.
"Baiklah." sahut Kia datar.
Melihat itu, Rey tersenyum gemas pada perempuan di hadapannya itu. Di tatapnya mata indah Kia, sehingga Kia pun merasa risih.
"Kenapa melihat ku begitu?" tanya Kia merapikan rambutnya.
"Aku ingin jujur." ujar Rey singkat.
Lagi dan lagi Rey selalu membuat Kia sedikit kesal, karena laki-laki ini jika berbicara dengan kalimat singkat.
__ADS_1
"Bisa bicara dengan panjang, lebar dan jelas?" titah Kia sambil melipat kedua tangannya.
"Aku mau jujur tentang perasaanku." kata Rey menghela nafas terlebih dahulu sebelum melanjutkan.
"Dulu, sebenarnya yang aku sukai bukanlah Vita. Melainkan kamu, Kia. Aku salah mendapatkan nomor ponsel yang aku kira adalah kamu ternyata Vita. Dan bodohnya, aku memintanya menjadi pacarku begitu saja tanpa melihat dia siapa. Tapi karena aku nggak ingin membuatnya malu, terpaksa aku menjalani hubungan dengannya. Ketika aku tahu kalau Ismail dan Vita menikah, sebenarnya aku nggak serapuh itu, cuma aku tau rasanya di khianati seperti apa. Aku rapuh saat tau kamu dan Ismail sudah bersama, bahkan menikah. Aku merasa sangat tertekan hingga aku memutuskan untuk pergi." jelas Rey tanpa melihat ekspresi wanita itu. Dia menjelaskannya sembari menunduk malu.
"Sampai saat ini, aku masih menyukaimu." ujarnya lirih, membuat Kia semakin merona. Untuk menghilangkan kecanggungan, sebisa mungkin wanita itu menjawab kata-kata Rey.
"Tapi, bukannya kita nggak bertemu selama tujuh tahun lamanya?" tanya Kia.
"Ya, kita memang nggak pernah bertemu semenjak itu, tapi aku selalu memantau keadaanmu. Aku datang kembali saat mengetahui keadaan mu yang sedang nggak baik-baik saja." jelasnya.
"Aku pernah bodoh, merasa kalau merelakan dan melihat kamu melanjutkan hidup dengannya, aku akan merasa bahagia. Tapi sebenarnya aku tersiksa." tambahnya lagi dengan wajah sendu.
"Tapi sekarang aku rasa, aku sudah nggak bisa mengontrol perasaanku lagi." katanya lagi seraya menatap mata Zaskia.
"Maksudnya?" sela Kia saat perkataan Rey belum di selesaikan.
"Aku mau mengatakan-"
Namun di saat moment sudah sangat bagus-bagusnya, di situlah ponsel Rey berdering. Ada panggilan dari kantor yang mengharuskan dirinya untuk menjawab panggilan tersebut.
"Iya, hallo?" ujar Rey mengangkat panggilan tersebut seraya berjalan menuju teras rumahnya. Mungkin panggilan tersebut bersifat rahasia hingga Rey meninggalkan Kia sendirian di ruang tamu.
Kia merasakan panas dingin di seluruh badannya. Pipinya menghangat karena mendengar pengakuan dari Rey, Laki-laki yang selalu membantunya dalam segala keadaan.
Kini dirinya teringat tentang permintaan Zayn yang menginginkan Kia menikah bersama Rey. Kia pun menimbang-nimbang permintaan itu. Mungkin sudah saatnya dirinya keluar dari rumah tangga yang tidak membuatnya merasa bahagia.
Kedatangan Rey yang tiba-tiba pun menyadarkan Kia dari lamunannya. Saat Rey duduk di dekatnya, Kia pun mulai membuka suara,
"Rey, setelah semua urusan selesai. Bagaimana kalau kita menikah?" ujar Kia dengan suara bergetar.
"Hah?" Rey terkejut, bukankah seharusnya dia yang mengatakan itu.
__ADS_1
Rey mengangguk pelan karena canggung. Sementara Kia malah menutup wajahnya karena malu. Apakah dia sedang melamar seorang laki-laki?