Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 24


__ADS_3

Zaskia dan Reyhan pun meninggalkan warung tersebut setelah membeli sarapan. Mereka mengobrol sambil berjalan menuju rumah yang di tempati Kia sekarang,


"Sebenarnya bagaimana ceritanya, sampai kamu nggak tahu kalau mereka menikah bahkan mempunyai seorang anak?" tanya Rey yang berjalan bersisian dengan Kia.


"Beberapa bulan setelah acara reuni tujuh tahun yang lalu, saat aku akan menikah dengan Ismail, Devita menghilang. Aku nggak bisa menemukannya, orang tuanya pun sama. Saat itu aku berpikir mungkin mereka pergi keluar kota. Ternyata tanpa aku ketahui mereka menikah setelah Ismail menikahiku. Rasanya sangat aneh saat baru seminggu setelah menikah, Ismail sering beralasan keluar kota untuk menyelesaikan pekerjaan, dan aku nggak curiga sedikitpun." jelas Kia sembari menatap hamparan sawah yang menghijau.


"Benar, setelah acara reuni itu juga Vita memutuskan hubungannya denganku. Pantas semua terlihat aneh, ternyata mereka memang memiliki hubungan. Saat aku ingin pamit untuk pergi ke luar negeri pun, Ismail tampak biasa-biasa saja." tambah Rey.


"Setelah dua belas bulan lamanya, baru Vita muncul lagi di hadapanku. Aku bertemu dengannya di pusat perbelanjaan, dia sedang mencari pekerjaan. Aku terkejut saat itu, melihat dirinya yang semakin kurus. Aku berpikir kalau dia mungkin banyak tekanan di lingkungan keluarganya. Hingga akhirnya, aku mempekerjakannya sebagai manajer perencanaan di perusahaanku." Wanita itu mulai bercerita.


"Pernah sekali, aku membawanya ke rumah dan bertemu dengan Zayn. Entah kenapa dia terlihat sangat sayang sekali kepada Zayn sampai meminta untuk menjadi baby sitter Zayn, aku pikir mungkin dia memang menyukai anak kecil. Tapi ternyata aku salah, dia menjadi baby sitter untuk selalu dekat dengan anak kandungnya." jelas Kia.


"Apa saat itu kamu ada menyinggung soal aku?" tanya Rey lagi.


"Ya, saat aku menyebut namamu dia akan terlihat gelisah dah marah." jawab Kia.


"Sebegitu cintanya dia dengan Ismail." ujar Rey datar.


"Ya begitulah. Jika dikenang, betapa bodohnya kita saat itu karena mencintai orang yang salah." celetuk Kia dengan tertawa kecil.


"Ya, sebenarnya saat itu aku sadar kalau Ismail menyukai Devita." ujar Rey sambil fokus menyetir.


"Aku pun begitu." sahut Kia.


"Oh iya, kamu belum cerita, kenapa bisa menemukanku di sini." tanya Kia saat mereka sudah dekat dengan rumah.


"Sebelum aku pergi, kebetulan Mbak Asih keluar, lalu aku sempatkan untuk bertanya dengan Mbak Asih, dan dia memberitahukan apa yang dia dengar. Dia hanya dengar mereka menyebut nama desa ini. Jadi aku berangkat setelah subuh." sahut Rey.


"Oh my God, really?" mata Kia berbinar tak percaya.


"Aku bertanya-tanya saat ini, bagaimana dengan Mbak Asih setelah ini, apa dia akan di perlakukan dengan baik oleh mereka?" tambahnya sembari memasang wajah murung.


"Tenanglah, Mbak Asih pasti akan baik-baik saja." Rey berusaha menenangkan saat melihat perubahan raut wajah wanita itu.


"Ya, semoga saja." lirihnya, kemudian membuka pintu rumah.

__ADS_1


"Jadi bagaimana soal perceraianmu? Aku sakit hati betul terhadap lelaki itu. Berani sekali mengkhianati sahabat dan istrinya sendiri." tanya Rey saat Kia hendak masuk ke dalam, seketika langkah nya terhenti.


"Ya aku akan melanjutkannya. Bagaimanapun juga posisiku sudah tersudutkan, aku sudah nggak bisa apa-apa lagi." sahutnya kemudian mempersilahkan Rey masuk ke dalam.


"Ya sudah, kita kembali ke kota terlebih dulu, setelah itu baru kita pikirkan lagi." ujar Rey saat melihat rumah yang di masukinya terasa sangat tidak aman dan nyaman untuk di tinggali.


"Hah, ke kota? Aku nggak punya tempat tinggal, Rey. Aku nggak mau tinggal di jalanan." tolak Kia.


"Setidaknya ikutlah dulu denganku. Aku akan merasa bersalah melihatmu tinggal di rumah yang nggak layak begini." jawab Rey.


"Bersalah apanya, malah aku yg berterima kasih karena sudah mencariku!" teriak Kia dari dapur menjawab perkataan Rey.


"Simpan dulu kata terima kasih mu itu! Sekarang juga kita berangkat!" titah Rey.


"Tapi-"


"Aku nggak mau dengar bantahan, Kia!" cetus Rey.


"Baiklah, let's go!" Kia mengambil barang-barangnya terlebih dulu kemudian mengikuti Rey melangkah menuju mobilnya yang dia parkir berdekatan dengan warung tadi. Rey mengira bahwa mobilnya tidak dapat masuk, makanya menaruhnya di sana.


Mobil pun sedikit melaju meninggalkan desa tersebut. Angin berhembus sangat nyaman, membuat Kia sengaja mengeluarkan kepalanya dari kaca pintu mobil.


"Untuk?" tanya Kia bingung hingga alisnya hampir bertaut.


"Untuk mempermudah kasus mu ini. Dan mengambil alih semua yang sudah lelaki itu ambil." jawab Rey.


"Aku nggak punya apa-apa,  aku bayar pakai apa pengacara itu nanti?" Kia sedikit terkekeh mendengar perkataan Rey.


"Baiklah, melawanmu dengan ocehan sangat sulit, Kia Hahaha." Sahut Rey sambil tertawa.


"Cih, Siapa suruh memancingku!" Kia mencebik.


"Jadi begini, karena kita sama-sama orang yang tersakiti di sini. Kita akan berjuang demi keadilan." ujar Rey lagi.


"Kedengarannya sangat menarik. Baik, selamat bergabung di komunitas orang tersakiti." sahut Kia meledek Rey dah dirinya sendiri hingga keduanya pun tertawa.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, terlihat deretan gedung tinggi berjejer rapi, tanda bahwa mereka sudah tiba di kota.


"Sementara kamu tinggal di hotel dulu. Tenang, aku yang akan membiayai kamu beberapa hari ke depan." ujar Rey saat menghentikan mobilnya di depan hotel.


"Wah, gila baik banget 'sih kamu." goda Kia, sementara Rey hanya terkekeh menanggapinya.


"Tapi kamu kerja apaan 'sih, sampai berani suruh aku tinggal di hotel?" tanya Kia sambil memperhatikan penampilan Rey dengan curiga.


"Nggak usah berpikir aneh-aneh, deh. Mau, aku tinggal di jalanan?" ancam Rey.


"Galak banget! Ya sudah aku  akan menurut perkataanmu, rasanya takut juga jika di ancam seperti ini." Kia mencebik.


"Nah, gitu dong. Nurut kek dari tadi." katanya kemudian mengurus pembayaran satu kamar untuk beberapa hari ke depan.


"Terima kasih, Rey." ucap Kia tulus saat tiba di depan pintu kamar miliknya.


"Santai saja." sahut Rey singkat. Kemudian meninggalkan Kia yang mulai masuk ke dalam kamarnya.


***


Dalam kamar, Zayn sudah tertidur karena lelah menangis selama dua hari ini. Vita menemaninya dengan sabar sambil berharap anak kandungnya itu akan luluh walau hanya sedikit.


"Kamu di sini rupanya, Sayang. Bagaimana dengan Zayn, apakah dia sudah bisa mulai tenang?" tanya Ismail saat membuka pintu kamar Zayn dan mendapati anak istrinya berbaring bersama.


"Apa yang kita lakukan saat ini sungguh kejam, Mail." lirih Vita.


"Aku nggak punya pilihan lain, aku kejam karena mencintaimu." sahut Ismail sambil memegang tangan istrinya.


"Orang macam apa aku ini, menyakiti semua orang tanpa terkecuali." ujar Vita datar.


"Sudah, jangan kamu pikirkan, kita melakukan semua ini karena demi kebahagiaan Zayn, demi membuat keluarga kita menjadi utuh dan juga memiliki segalanya." Ismail menenangkan sang istri dengan memeluknya.


"Ya, kamu benar. Aku nggak mau kehilangan Zayn untuk kedua kalinya.  Aku mau menebus dosa-dosaku terhadap Zayn." sahut Vita yang kini menenggelamkan wajahnya dalam pelukan tersebut.


"Vita,  dengarkan aku baik-baik." Ismail mengurai pelukan tersebut lalu menangkup wajah cantik itu.

__ADS_1


"Aku berani melakukan apa saya demi Zayn, dan yang paling penting adalah demi kebahagiaanmu. Karena kamu tau 'kan, aku sangat mencintaimu. " ujarnya menatap dalam mata Vita.


"Ya, I know it. Terima kasih untuk semuanya, Mail. Aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untukmu." Vita tersenyum membalas tatapan sang suami.


__ADS_2