
Sejatinya, Allah mengganti sesuatu yang hilang dengan sebuah kebaikan. Walau bukan sepenuhnya sakit itu hilang, setidaknya kita tidak sedih berlebihan.
***
Suara azan subuh yang menggema membangunkan dua orang Ibu dan anak yang baru beberapa jam tertidur. Setelah itu mereka bersama-sama melaksanakan ibadah subuh dengan khusyu'.
"Zayn, hari ini mau liburan nggak?" tanya Kia sembari melipat mukena dan sajadah miliknya.
"Mau, Ma. Zayn sudah lama nggak liburan bareng Mama." sahut Zayn antusias, sudut bibirnya terbentuk sebuah lengkungan.
"Gimana kalau kita ke pantai?" tanya Kia dan di angguki oleh Zayn.
"Asik! Kita liburan!" ujar Zayn lalu berlari mengelilingi luasnya kamar sembari berteriak hore.
"Ya sudah, ayo siap-siap dulu, Sayang. Kita akan berangkat pagi ini. Mama mau ajak Mbak Asih dulu biar kita liburan bertiga dengannya." ujar Kia sambil melangkahkan kaki menuju dapur tempat biasa Mbak Asih menghabiskan waktu paginya setiap hari.
"Mbak Asih, sudah selesai masaknya?" tanya Kia setelah tiba di dapur.
"Sudah, Bu Kia. Apa mau sarapan sekarang?" Mbak Asih menawarkan.
"Roti saja pagi ini, Mbak. Masakan nya masukkan di tempat, ya. Kita akan liburan hari ini. Jadi, Mbak Asih siap-siap juga deh, setelah itu kita berangkat." jelas Kia.
"Wah, seriusan saya di bawa juga, Bu?" tanya Mbak Asih guna memastikan lagi.
"Iya serius, kalau nggak serius 'sih saya langsung berangkat aja, nggap perlu ngomong mau ke mana 'kan?" Kia memutar mata jengah.
"Maaf, Bu Kia. Saya terlalu senang soalnya. Ya sudah, saya siap-siap dulu. Permisi, Bu Kia." pamit Mbak Asih menuju kamarnya untuk berkemas.
Setelah beberapa belas menit lamanya, Zayn dan Mbak Asih sudah menenteng sebuah ransel besar dan terlihat juga ransel tersebut terisi penuh karena bentuknya menonjol ke depan.
"Wah, banyak banget barang bawaannya. Kita nggak nginap di pantai 'loh." ledek Kia dengan sedikit tertawa.
"Ini, Bu Kia. Saya pengen berenang di sana, jadi bawa baju ganti."
__ADS_1
"Zayn juga mau berenang, Ma."
"Iya, sudah, kita berangkat sekarang. Takut kesiangan, kurang puas nanti main airnya."
Dalam perjalanan, Kia beserta dua orang yang mengikutinya tak hentinya mengulas senyum. Zayn yang beberapa hari ini murung, kini seperti mendapat semangat kembali untuk melewati harinya.
Sepanjang perjalanan mereka bernyanyi bersama, sesekali bercanda karena Zayn yang memulainya, sampai-sampai Mbak Asih lupa akan dirinya yang hanya seorang Asisten Rumah Tangga. Bertemu majikan yang baik merupakan anugerah tersendiri baginya.
Setelah mendaki gunung melewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman berpetualang. Akhirnya mereka tiba juga di tempat tujuan.
Memasuki gerbang selamat datang di pantai tujuan, deretan pohon cemara yang menjulang tinggi seakan menyambut kedatangan mereka. Bahkan suara deburan ombak pun terdengar dari sana.
Selesai memarkir mobil, Zayn segera turun bersama Mbak Asih menuju pinggir pantai, tanpa berlama-lama, mereka berdua langsung menyentuh air dan sama-sama saling menyimbur satu sama lain.
Mata indah Zaskia memejam sejenak, merasakan perihnya akibat luka yang tergores beberapa hari ini masih begitu terasa sakit. Namun, semua luka itu seakan mulai mengering dan sembuh saat mendengar suara tawa bahagia dari anak laki-laki yang amat di sayanginya.
Duduk di atas pasir, Perempuan itu tumpuhkan kedua sikunya di atas lutut dengan pandangan lurus kedepan sambil menatap pemandangan laut biru di hadapannya. Cuaca cerah, angin berhembus dan lingkungan yang masih sepi membuat liburannya seakan menjadi sempurna.
Perempuan itu tolehkan pandangannya ke sumber suara, sedikit terkejut namun ia tahan dan memberikan senyuman dengan tulus.
"Hai, long time no see, Rey." Sapa Kia pada pria itu, Reyhan.
"Ya, sudah tujuh tahun lamanya kita nggak bertemu." sahutnya sambil membuka topi yang di kenakannya dan menerawang jauh pandangannya ke arah langit biru.
"Kemana kamu selama ini?" tanya Kia dan memposisikan tubuhnya menghadap Reyhan.
"Aku tinggal di luar negeri. Lagian di sini aku nggak punya siapa-siapa. Baru seminggu aku kembali ke Indonesia. Aku juga nggak menyangka akan bertemu denganmu di sini." sahut Rey datar.
"Ada hal yang ingin aku tanyakan ke kamu." ujar Kia.
"Ya, tanyakan saja. Aku akan menjawabnya." ujar Reyhan sembari mulai mengumpulkan pasir di hadapannya membuat sebuah gundukan tinggi.
"Bagaimana hubungan mu dengan Vita sekarang ini? Kenapa setiap aku bertanya padanya, dia akan marah tanpa alasan." ucap Kia tanpa mengalihkan pandangannya kepada Reyhan.
__ADS_1
"Kami sudah berpisah sejak tujuh tahun yang lalu. Semenjak dia memutuskanku, aku memilih untuk pindah keluar negeri." sahutnya lirih sambil menunduk.
"Apa sebenarnya yang terjadi, bukankah kalian saling mencintai?" tanya Kia lagi.
"Aku juga nggak mengerti, Kia. Sebelum kami berpisah, dia memang sudah mulai berubah. Kami jarang bertemu, sampai suatu hari Vita mengajakku bertemu. Dia di antar oleh seorang laki-laki, tapi aku nggak bisa melihat jelas wajahnya seperti apa dari kejauhan. Saat itu juga dia meminta untuk mengakhiri hubungan kami." jelas Reyhan sambil tersenyum kecut.
"Apa kamu sudah mencari tau apa masalahnya?" tanya Kia.
"Ya, walau aku memilih untuk mengikhlaskan nya, tapi aku kembali untuk meminta penjelasannya." sahut Rey.
"Oh, iya kenapa Ismail nggak ikut berlibur?" sambung Rey mengalihkan.
"Dia nggak akan pernah ikut denganku." sahut Kia dengan menghela nafas berat.
"Kenapa? Bukankah berlibur bersama keluarga adalah impian semua orang?" Rey seakan memancing pembahasan.
"Itu nggak akan pernah terjadi, karena kami sudah nggak bersama." Kia menatap sekawanan burung di langit biru yang terbang bersama kesana dan kemari.
"Bahkan burung saja suka kebebasan, apalagi manusia yang selalu merasa tertekan." sambungnya dengan wajah datar.
"Maafkan aku, Kia. Aku sungguh nggak tau soal ini." ujar Rey menyesal.
"Nggak apa-apa, Rey. Aku sudah terbiasa tentang pertanyaan ini. Bahkan dia saja sudah mengumumkan berita perpisahan ini ke sosial media. Jadi kurasa kamu orang terakhir yang mengetahui ini." ujar Kia terkekeh sambil memegang pundak Reyhan.
Reyhan menatap dalam mata Kia. Aura sedih memang terpancar jelas di matanya. Sekuat apapun wanita ini, akan ada hal yang bisa membuatnya rapuh.
Tangan Rey mulai naik dan menyentuh pucuk kepala Zaskia. Usapan pelan di setiap surai rambutnya membuat Kia terhenyak sejenak. Tenang rasanya, baru pertama kali ada yang menyalurkan rasa hangat untuknya.
"Aku tau, kamu wanita kuat. Tapi jangan memendamnya sendiri. Kamu boleh menggunakan bahuku sebagai tempat bersandar." ucapan Reyhan membuat mata Indah Kia mulai menggenang dan tumpah kembali.
"Terima kasih, Rey. Kehadiran mu membuatku merasa tenang." ucap Kia seraya menumpuhkan kepalanya di bahu bidang milik Reyhan.
"Aku tau rasanya di tinggalkan, Kia. Sangat sulit rasanya untuk bersikap baik-baik saja." sahutnya dengan ikut menumpuhkan kepalanya di atas kepala Kia.
__ADS_1