
Di saat semua orang riuh akan status istri yang masih melekat pada Zaskia, Ismail malah menepis hal tersebut. Dengan lantangnya Ismail menyanggah akan dirinya yang mempunyai dua istri.
"Dengarkan aku baik-baik, aku akan mengumumkannya sekali lagi, saat ini istriku hanyalah Devita, karena aku dan Zaskia sudah bercerai!" cetus lelaki itu membuat semua pegawainya diam dan mengangguk.
"Siapa bilang, Zaskia bukan lagi istrimu!" suara seseorang menyanggah pernyataan dari Ismail. Semua orang menoleh ke arah sumber suara. Bukan hanya para pegawai, Ismail menoleh dengan mata membola.
"Berdasarkan fakta yang ada, bukankah dia masih istrimu saat surai perceraian belum dia tandatangani dan pengadilan belum memutuskan?" tanya Rey membuat lawannya bergeming tak berkutik.
"Re- Rey, untuk apa kamu kemari?" tanya Ismail dengan terbata.
"Aku datang untuk mengunjungimu." sahut Reyhan datar.
"Ka- Kalau begitu silahkan masuk." Ismail mempersilahkan Rey untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Oh of course, Mail." Rey pun masuk ke ruangan Ismail juga di ikuti oleh Kia di belakangnya.
"Jadi, apa tujuanmu datang kemari?" tanya Ismail tanpa basa-basi.
"Santai dulu, Bro. Apa kabarmu hari ini? Apa kisah cintamu saat ini semakin membaik dan bahagia?" tanya Rey basa-basi sebelum memulai inti dari tujuannya berkunjung.
"Oh, tentu saja. Saat ini aku sangat bahagia bersama keluarga kecilku." sahut Ismail tenang sembari melirik Kia yang duduk menghadap kaca jendela dengan maksud untuk pamer.
"Syukurlah, nikmatilah! Karena karma belum mendapatkan alamatmu untuk saat ini." ujar Rey sedikit tertawa.
"Tentu saja itu nggak akan terjadi." Ismail menyahut dengan menatap sengit lawan bicaranya.
"Baik, sudah cukup basa-basi nya. Aku kemari karena ingin berbicara padamu." ujar Rey.
__ADS_1
"Ya silahkan," Ismail membuka tangannya mempersilahkan Rey untuk berbicara.
"Jadi begini, selama perceraianmu dengan Zaskia belum di proses dalam pengadilan agama, dan hakim belum belum menetapkan kalian resmi bercerai, maka kamu dan Zaskia masih berstatus suami istri." jelas Rey dengan tenang. Sementara Ismail mulai memanas, emosinya tengah mendidih.
"Memangnya kamu siapa, Rey. Berani-beraninya kamu datang ke sini untuk mengacau dan mengajariku tentang hukum. Kamu siapa, karena sudah mencampuri urusan pribadiku?" tanya Ismail dengan mata yang menyalang tajam menatap Reyhan.
"Asal kamu tau, aku sudah memintanya untuk menandatangani surat perceraian untuk memudahkan prosesnya, aku akan terus berusaha untuk mendapatkannya, walau dengan apapun caranya!" tantang Ismail membuat emosi Kia ikut mendidih, mengetahui hal itu Rey memegang tangan Kia erat guna menenangkan wanita itu. Kia pun mengangguk tanda dirinya bisa mengontrol emosianya.
"Tapi, Ismail. Bukankah Zaskia nggak mau menandatanganinya? Oh, ya Zaskia pernah berkata padaku, dia akan menyetujui perceraian ini, kalau kamu mau memberi Zayn kepadanya." jelas Rey. Rahang Ismail mengeras, giginya di gertak dengan kuat.
"Aku tidak akan pernah menyerahkan anakku!" bentak Ismail dengan menatap tajam.
"Bukankah itu hanya syarat dari Zaskia? Jika kamu enggan, dia nggak akan pernah bercerai denganmu. Bukankah ini sulit untuk kehidupan bahagiamu dengan Devita?" ledek Rey sekali lagi. Tangan Ismail mengepal kuat, ingin sekali menghajar Rey.
"Kamu tau, proses perceraian ini akan semakin sulit jika salah satunya nggak menginginkan perceraian itu terjadi. Mungkin yang tersulit adalah kalian harus mengangkat kaki dari rumah itu." ujar Rey lagi.
"Heh, Rey! Kamu tahu apa? Rumah itu atas nama Devita. Untuk apa kami mengangkat kaki dari sana? Apa Zaskia nggak memberitahumu soal itu?" tanya Ismail sementara Rey menatap Kia sambil menggeleng.
"Dengar, jika ingin menantangku, bawalah persiapan yang matang. Aku bukan orang bodoh seperti kalian. Jangan buat diri sendiri terlihat memalukan." ujar Ismail lagi.
Kini gantian, Rey pun tertawa renyah menanggapi kata yang di lontarkan oleh Ismail. Orang yang dulu pernah dia percaya, sekarang menampakkan sisi gelapnya.
"Ternyata kamu punya ambisi yang mengerikan, Mail." ujar Rey tersenyum pedar.
"Jika kalian terus menekanku, aku akan semakin berambisi. Nggak akan ada satu orangpun yang aku biarkan untuk menyudutkan ku termasuk kalian!" cetus Ismail.
"Baik, aku akui kegigihanmu dalam hal mengambil hak orang lain. Tapi aku mau mengingatkan, jangan hanya karena Zaskia bukan Ibu kandung Zayn, maka hakim pengadilan akan mempercayai trik licikmu itu." Rey memperingatkan.
__ADS_1
"Oh iya, satu hal yang harus kamu tau. Aku bisa membuktikan kalau kamu dan Devita sengaja bersekongkol untuk membohongi Zaskia. Tentang kamu berpura-pura mengadopsi Zayn, aku juga bisa membuktikan bahwa kamu memiliki niat buruk mengatasnamakan cinta untuk mengambil alih kepemilikan Perusahaan. Saat kamu berbohong tentang saham-saham yang kamu ambil alih dari pemilik aslinya. Ah iya, juga penggantian nama pemilik rumah. Jika semua dugaanku terbukti benar, siap-siap saja kamu akan mendekam di penjara selama bertahun-tahun." jelas Rey membuat Ismail mati kutu.
Ismail memijat pelipisnya karena otaknya kini mulai hangus memikirkan kata apa lagi yang pas untuk melawan Rey yang terus-terusan menusuknya melalui kata-kata.
Seketika suasana menjadi hening mencekam, Rey yang menanti reaksi Ismail, dan Ismail sedang merenungkan ancaman yang di berikan oleh Rey. Sedangkan Zaskia, kini tengah memandang Rey yang terlihat gagah saat membelanya tanpa gentar.
Tanpa mereka sadari, berpuluh pasang telinga sedang menguping di balik dinding kaca. Suatu kejadian langka yang harus mereka dengarkan untuk di rekam baik dalam ingatan.
Ismail menoleh ke arah pintu, melihat Riska yang sedang memperhatikan mereka. Seketika Ismail memanas, di panggilnya sang asisten tersebut.
"Tolong bubarkan mereka, suruh mereka pulang sekarang!" titahnya dengan suara keras. Semua yang menguping pun berlari berhamburan kembali ke tempat duduk masing-masing dan bersiap pulang.
Setelah itu Ismail memencet tombol angka pada telepon yang ada di mejanya. "Ya, Hakim! Tolong ke perusahaan sekarang juga!" titahnya setelah panggilan itu tersambung. Tanpa menunggu jawaban, di letakkan kembali gagang telepon pada tempatnya.
"Ada apa Ismail? Apa kamu sudah kehabisan ide untuk melawan sampai-sampai harus memanggil pengacaramu kemari?" ledek Reyhan.
"Aku nggak ada masalah denganmu, Rey! Bisakah jangan ikut campur dengan masalah pribadiku? Aku tanya sekali lagi, memangnya kamu siapa?" tanya Ismail yang rahangnya semakin mengeras saja.
"Ah, ya ampun. Aku lupa memperkenalkan diri. Aku ini masih pengacara magang. Ini kartu namaku." Rey menyodorkan kartu namanya.
"Reyhan Syazwan?" lirih Ismail menyebut nama yang tertera dalam kartu nama tersebut.
"Apa kamu nggak asing membaca nama Syazwan? Biar aku perkenalkan, Syazwan adalah seorang pengacara terkenal di negara ini. Dan beliau adalah ayahku!" jelas Rey sembari melipat tangannya di dada seraya menyandarkan bahunya pada sandaran sofa.
"Rey, ternyata kamu-" ucapan Kia tertahan saat Rey mengangguk dengan cepat.
Ismail menghela nafas dengan kasar, ruangannya seketika terasa pengap tanpa oksigen. Di liriknya pergelangan tangannya, di lihat jam yang melingkar di sana. Seolah waktu terasa sangat lambat, Hakim tak kunjung tiba.
__ADS_1
Melihat kegelisahan Ismail, Kia tersenyum senang. Akhirnya Tuhan membalas perbuatannya walau hanya sekedar rasa panik.
"Reyhan?" terdengar suara wanita yang baru saja masuk di ruangan itu memecah kesunyian mereka.