Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 29


__ADS_3

Sehari yang lalu, Rey menghampiri Ismail saat lelaki itu sudah keluar dari perusahaan. Ternyata Rey sengaja menunggunya di parkiran karena ingin membicarakan masa lalu dengan orang yang menjadi sahabatnya dulu.


"Rey? Long time no see, Bro!" Sapa Ismail saat melihat Rey, kemudian ingin memeluk ala-ala pria, namun Rey memundurkan tubuhnya karena enggan.


"Ya, tujuh tahun sudah kita nggak bertemu. Kamu sekarang tampak berbeda." ujar Rey dengan mata yang menyusuri penampilan Ismail dari atas hingga bawah.


"Ya begitulah, nggak mungkin 'kan aku burik terus." Ismail terkekeh sendiri, sementara Rey hanya tersenyum pedar.


"Lebih baik burik dari pada keren karena hasil dari merampas milik orang lain!" lirih Rey mengumpat.


"Ya, Rey? Kamu bilang apa?" tanya Ismail karena tak begitu mendengarnya.


"Ah, nggak apa-apa.  Bagaimana kalau kita nongkrong sebentar, ngopi-ngopi dulu mungkin?" usul Reyhan.


"Oh, boleh, boleh. Kita ngopi di sana saja, biar nggak usah mutar sana sini." Ismail menunjuk sebuah warung kopi kekinian yang tidak jauh dari tempat mereia berada.


Mereka menyusuri jalan dengan berjalan kaki karena jaraknya kurang lebih hanya lima puluh meter saja. Setelah sampai di sana, mereka memesan segelas segelas Americano dan segelas Cappucino.


"Bagaimana kabarmu sekarang? Apakah kamu sudah menikah?" tanya Ismail dengan tersenyum, membuat hati Rey memanas. Bisa-bisanya Ismail menanyakan hal yang tak seharusnya dia tanyakan. Sungguh tak tau malu.


"Apa kamu ingin pamer atau menyindir?" Rey tak mau kalah ekspresi, dia beri senyuman paling manis.


"Maksudnya, Bro?" tanya Ismail lagi karena tak mengerti maksud dari pertanyaan Rey.


"Apa kamu masih punya muka untuk bertanya hal itu pada orang yang kamu khianati?"


"Orang yang ku khianati? Ayolah, Bro. To the point saja, aku nggak bisa mengerti kalau kamu berbelit-belit seperti ini."


"Kamu masih berani bertanya, siapa lagi kalau bukan aku dan Kia yang kamu khianati?" jelas Rey sembari menatap sengit lawan bicaranya.


"Apa hubungannya denganmu, Rey?" Ismail bertanya dengan santai, menyesap minumannya dengan tenang.


"Kamu tau 'kan, dulu Vita itu pacar aku? Kenapa tega kamu menusukku dari belakang? Kamu itu sahabatku, Mail!" Pekik Rey dengan air wajah yang berapi-api.


"Karena aku mencintai Devita." sahut Ismail datar.

__ADS_1


"Mencintai Devita dan juga memiliki Zaskia? Kamu serakah, Mail! Demi cintamu, kamu rela menyakiti hati tiga orang bersahabat?" sergah Rey.


"Aku menikahi Zaskia karena Devita." sahutnya tanpa merubah ekspresi, dia masih setenang tadi.


"Bulshit!" maki Rey sambil mengepal tangannya.


"Untuk apa kamu marah, Rey. Mereka berdua bukan siapa-siapa mu 'kan?" pertanyaan yang terkesan meledek dari Ismail.


"Devita mantan pacarku yang kamu rebut dan Kia sahabatku!" jawab Rey dengan ketus.


"Tapi mereka bukan milikmu!" Ismail tersenyum smirk.


"Kamu tau, Rey. Mengapa Vita memilih untuk meninggalkanmu? Karena kamu miskin, nggak punya apa-apa. Ibunya Vita pun menyukaiku, makanya kami bisa menikah. Tenang, aku akan menjaganya untukmu." tambahnya setelah itu menyesap minumannya untuk terakhir kalinya dan berdiri beranjak dari warung kopi tersebut, meninggalkan Rey yang hatinya masih berperang hebat.


"Ya, untuk sekarang teruslah bersikap sombong, Mail. Kamu tunggu saja karma yang akan menimpamu. Seharusnya kamu jangan lupa do'a orang teraniaya bisa membalik apa yang kamu miliki saat ini." ucapnya lirih sambil menatap gelas minumannya yang sama sekali belum tersentuh.


***


"Begitulah, Kia. Bukan penjelasan yang ku dapat, malah beberapa kata yang terkesan menghinaku." ujar Rey setelah bercerita panjang lebar.


"Aku nggak menyangka benar kalau Ismail ini adalah pria paling buruk di dunia ini." Kia menyahut.


"Sebentar lagi status itu akan berubah menjadi mantan." sela Kia tak terima.


"Aku menunggunya." Rey tersenyum memandang ke jalan raya.


"Maksudmu?" Kia menyeritkan dahi.


"Ah, aku sedang membaca tulisan pada belakang badan angkot." alibi Rey yang sebenarnya tak melihat satupun angkot lewat.


"Dasar, suka sekali mengerjaiku!" gerutu Kia pelan.


"Kamu ngambek 'nih, ceritanya?" goda Rey sambil melihat wajah Kia.


"Tidak!" sahut Kia pura-pura tegas, wajahnya di alihkan ke sembarang arah.

__ADS_1


"Itu kenapa kamu cemberut?" tambah Rey membuat Kia akhirnya mengalah dan tersenyum.


"Engga, Rey. Ya, sudah ayo antar aku pulang!" rengeknya sambil berdiri.


"Baiklah, let's go." sahut Rey ikut berdiri dan berjalan menuju mobilnya.


Rey pun mengantar Zaskia kembali ke hotel, masih tersisa sepulu hari lagi waktu untuknya menginap di hotel. Kia hanya bisa pasrah, jika Tuhan memberikan rejeki maka dia akan segera mendapatkan tempat tinggal. Jika tidak, mungkin dirinya akan kembali ke rumah kumuh yang di berikan oleh Wati.


"Terima kasih, Rey." ujar Kia setelah sampai di depan hotel.


"Sama-sama, Kia. Jangan sungkan untuk menghubungiku jika ada perlu. Aku langsung pergi, bye!" sahutnya tanpa turun dari mobil, Kia hanya melambai dan berpikir sepertinya Rey sedang terburu-buru.


Sementara itu, dalam keadaan tergesa-gesa Ismail memasuki kediamannya, mengitari pandangannya ke seluruh sudut ruangan mencari sosok wanita yang di kabarkan ingin mengambil anak kandungnya itu.


Ia berlari menaiki tangga dan bergegas membuka pintu kamar Zayn. Ismail menghela nafas lega saat melihat tubuh mungil tersebut meringkuk di atas tempat tidur dalam keadaan terisak.


"Mama, Zayn ingin ketemu Mama." gumamnya lirih namun terdengar di telinga Ismail yang memandangnya dari pintu.


"Maafkan aku, Nak. Aku bukanlah ayah yang baik untukmu. Andaikan Ibumu dulu nggak menolakku, sudah pasti kecelakaan dan akhir yang rumit seperti ini nggak akan menimpamu." gumama Ismail dalam hati lalu menutup kembali pintu tersebut.


***


"Aku pernah mengatakan suatu kalimat kepada sahabatku, bahwa jika jodoh takkan kemana jika kamu mencintainya setulus hati. Mungkin, Tuhan kini sudah menjawab ketulusan hatinya. Mungkin juga, Tuhan kini menjauhkanku darinya karena aku tulus padanya hanya setengah hati." sebuah status yang Rey buat pada aplikasi hijau dalam ponselnya.


Ting ...


Ponsel Rey berdering tanda ada sebuah pesan masuk. Pemuda itu pun mengusap layar ponselnya untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan.


"Mereka di satukan bukan karena keinginan salah satunya ingin bersama. Namun mereka di satukan karena takdir Tuhan yang menyertainya. Karena takdir Tuhan jugalah aku dan dirinya di pisahkan. Untuk itu, bersama atau berpisah semua karena atas ijin-Nya." isi dari balasan status yang dia buat.


"Cie yang sudah ikhlas." balas Rey dengan menambah emot menjulurkan lidah guna menggoda sang lawan chat nya.


"Aku sudah ikhlas sejak lama, buat apa berlarut-larut dalam kesedihan.  Jangan-jangan, kamu belum bisa melupakannya?" balasnya dengan ikut meledek.


"Enak saja asal menuduh, Awas kamu, Kia!" balas Rey dengan memberikan beberapa emot marah di belakangnya.

__ADS_1


"Ampun bos!" balas Kia memberi emot dua tangan mengatup.


Sebuah cahaya bahagia terpancar di wajah keduanya. Hanya karena mempunyai kisah yang sama, sama-sama di khianati, mereka sudah bisa berbaur menjadi semakin akrab. Jika dulu keduanya malu-malu saat bertemu karena ada hati yang harus di jaga, sekarang mereka saling menguatkan.


__ADS_2