Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 40


__ADS_3

Usai pulang bekerja, Riska duduk di pinggiran ranjangnya, dirinya menghela nafas panjang saat memikirkan kejadian-kejadian yang sudah berlangsung rumit beberapa waktu ini di lingkungan perusahaannya.


Tentang istri kedua Ismail, tentang pencabutan posisi CEO Zaskia, tentang saham Zaskia yang mudahnya berubah kepemilikan, belum lagi tentang keluhan-keluhan dari klien sungguh membuat otaknya seperti tertimpa beban beratus-ratus kilo gram.


"Astaghfirullahal'adzim." ucap Riska lirih. Jiwanya masih melambung entah kemana membuat sang Ibu mendatanginya dan menepuk pelan pundak gadis itu.


"Ada apa, Nak? Sepertinya kamu lagi banyak pikiran, apa karena beban pekerjaan?" tanya Ibu Riska sambil mengelus-elus kepala sang anak.


"Tak apa, Bu. Ibu sudah makan?" Riska mengalihkan arah pembicaraan.


"Kebetulan, Ibu baru saja selesai memasak." ujar Ibu Riska. Kesehatannya kini sudah sangat membaik, karena mendapatkan gaji lebih dari Kia waktu itu, membuat Riska mampu membawa Sang Ibu berobat di rumah sakit hingga mendapat perawatan yang lebih intensif.


"Kelihatannya Ibu sedang bahagia, ya. Sampai masak makanan enak hari ini." ujar Riska terkekeh saat melihat meja makan penuh dengan masakan kesukaannya.


"Ya bahagia, Sayang. Hari ini ulang tahun Riska, bukan?" Ibunya bertanya sambil mengingatkan.


"Ya Allah, Ibu. Riska terlalu sibuk, sampai-sampai lupa dengan hari ulang tahun Riska sendiri. Terima kasih Ibu sudah mengingatkan dan membuat makanan kesukaan Riska. Semoga Ibu di panjangkan umurnya sehingga bisa selalu merayakan hari ulang tahun bersama Riska." Riska memeluk tubuh wanita paruh baya itu. Ibunya pun membalas pelukannya dengan hati bahagia. Menyandang status Ibu sekaligus Ayah sangat tidak mudah baginya, namun Allah justru memberikan anak yang berbakti menjadi anugerah tersendiri untuknya.


"Ayo makan, Nak." titah Ibunya, Riska mengangguk dan tersenyum mengambil sendok karena Ibunya sudah menyiapkan makanan itu di piring khusus untuknya.


Selesai makan, Riska masih duduk dan kembali merenung. Mengetahui hal itu, Ibunya pun menghampiri dan kembali bertanya.


"Bicaralah pada Ibu, ada hal apa yang membuat pikiran mu terganggu seperti ini?"


"Ada masalah di kantor, tetapi Riska bingung harus bagaimana dan dari mana menceritakan hal itu." ujar Riska seraya menghela nafas panjang.


"Ceritakan sesuai yang ada di dalam benakmu, Nak. Ibu akan mendengarkannya dengan baik." sahut Sang Ibu menempuk pelan punggung tangan Riska yang berada di atas meja.


"Begini, Bu. Bos perempuan yang pernah Riska ceritakan kejam, ternyata beliau adalah orang baik yang pernah Riska temui. Walau sebenarnya suara yang keluar dari mulutnya terdengar kejam, namun di balik itu, hatinya sangat mulia."


"Saat itu, Ibu Kia pernah memarahi Riska karena ingin pulang cepat karena harus menjaga Ibu saat itu sedang sakit, ternyata apa yang aku pikirkan dulu kini berubah menjadi positif. Tanggapan Riska sekarang Ibu Kia memang orang yang menjunjung tinggi disiplin kerja, dia hanya ingin pegawainya tetap patuh pada jam kerja."

__ADS_1


"Saat itu Riska mengatakan tidak-tidak di belakangnya, padahal Ibu Kia lah yang membantu kita membayar biaya berobat Ibu. Diam-diam Ibu Kia mengirim uang tambahan untuk Riska pada saat itu." jelas Riska dan Ibunya pun tersenyum.


"Ibu suka pada orang yang mempunyai sifat seperti itu. Dia rela di pandang hina orang lain karena enggan di puji-puji. Dia cuek tetapi hatinya peduli dan tulus. Begitulah sifat ayah kamu dulu." Ibu Riska menerawang jauh ke luar jendela, ada rasa rindu pada sosok almarhum suaminya.


"Jadi, apa yang terjadi padanya sampai-sampai anak Ibu ini pikirannya terbebani?" tanya Ibu Riska mengalihkan kesedihannya.


"Sekarang posisinya tergeser karena Suaminya menipu dirinya." Riska menceritakan dengan kepala tertunduk.


"Astaghfirullahal'adzim, tega sekali laki-laki itu." ujar Sang Ibu menggeleng.


"Dan bodohnya, Riska ikut andil di dalamnya." Riska menatap Ibunya dengan perasaan bersalah.


"Maksudnya?" Ibu Riska tak mengerti.


"Riska pernah membantu mengambil tanda tangan Ibu Kia untuk suatu berkas atas suruhan Pak Ismail,  namun Riska nggak menyangka kalau berkas tersebut adalah berkas pemindahan nama saham milik Ibu Kia menjadi milik Pak Ismail, Suaminya." ujar Riska seketika matanya menggenang.


"Riska melakukan kesalahan besar, padahal Ibu Kia baik pada Riska." Riska semakin terisak, Ibunya pun mencoba memeluk anak semata wayangnya itu.


"Terima kasih pencerahannya, Bu. Riska pasti berusaha keras untuk membantu Ibu Kia mendapatkan kembali hak nya." sahut Riska sembari menyeka air matanya dan mendapatkan senyuman dari Ibunya.


***


"Apakah Ibu Wati sudah membujuk Vita untuk menyerahkan Zayn pada Zaskia?" tanya Hakim.


"Belum, Kim. Aku sedang berusaha." sahut Wati dengan wajah memelas.


"Astaga, mengapa kalian semua seperti nggak serius menanggapi hal ini?" berang Hakim sembari menggeleng lemah. Hancur lebur sudah harapannya jika apa yang dia usahakan menjadi gagal.


"Aku serius. Hanya belum bisa membujuk saja." elak Wati membuat Hakim mendengus kesal.


"Kalian terlalu bertele-tele padahal waktu semakin berputar. Aku takut saat pengacara Zaskia bertindak, kita kehilangan segalanya." ancam Hakim, sementara Wati menjadi ketakutan.

__ADS_1


"Lalu apa rencanamu? Aku nggak mau kehilangan harta yang seharusnya menjadi milikku!" bentak Wati kemudian.


"Rencanaku sangat licik, Ibu Wati. Bisa saja harus mengorbankan putri dan menantumu sendiri." ujar Hakim.


"Ah, aku nggak perduli, meskipun harus mengorbankan mereka aku nggak masalah, yang penting aku memegang kendali penuh harta tersebut." Wati bersikukuh.


"Baik, kalau begitu yang Ibu Wati mau, aku hanya akan memberi saran dan Ibu Wati hanya perlu mengikuti rencanaku." ujar Hakim menyeringai kemudian pamit dan meninggalkan Wati.


Tak mereka sadari, sejak tadi Bella mengintip dan menguping percakapan Ibu dan pengacara iparnya itu.


"Ya Allah kejam sekali wanita tua ini." celetuk Bella membuat Wati terkejut dengan kehadiran anak gadisnya yang muncul tiba-tiba.


"Apa Ibu nggak takut dengan neraka?" tanya Bella menatap serius wajah Sang Ibu.


"Hei, anak kurang ajar! Berani-beraninya membuat Ibumu ini terkejut!" bentak Wati membuat Bella bergidik kaget karena serangan Wati tidak main-main. Mampu membuat pembuluh darah dan gendang telinga menjadi pecah jika berada di dekatnya.


"Apa yang sudah Ibu rencanakan?" tanya Bella membuat kening Ibunya mengerut dalam.


"Anak kecil jangan ikut campur masalah orang dewasa!" Wati menolak memberi tahu.


"Ayolah, Ibu. Aku sudah dewasa, aku hanya bertanya saja, apa tidak boleh? Bukannya aku ini anak Ibu, rekrutlah aku menjadi teman penjahatmu." Bella memanyun dan memasang wajah lesu.


"Kamu ingin menjadi rekan dalam tindak kejahatan Ibu? Jangan bermimpi, kamu lulus SMA saja belum." tanya Wati sembari terkekeh geli mendengar ucapan anak gadisnya, lalu meninggalkannya begitu saja.


"Hebat, orang jahat itu bisa bekerja sendirian tanpa menambah pasukan." ujar Bella menaiki tangga menuju kamar kakaknya.


"Sebenarnya ada apa 'sih, Kak? Sampai-sampai Ibu sangat membenci Zayn?" tanya Bella pada sang kakak yang baru saja keluar dari kamarnya.


Vita terperanjat kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba di lontarkan oleh Bella. Dirinya hanya menggeleng tak mengatakan apapun lalu kembali memasuki kamarnya.


Ya, Bella tidak tahu kalau  Zayn adalah anak hasil perbuatan orang tuanya di luar nikah. Maka dari itu Bella tak suka mendengar Wati yang suka menyebutkan Zayn sebagai anak haram. Untuk pembelaan tempo hari, dia hanya berargumen tanpa mengerti maksud dari sang ibu.

__ADS_1


__ADS_2