Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 12


__ADS_3

Jika masih mampu bertahan, pertahankanlah. Namun jika bertahan hanya akan menanggung sakit, menjauhlah. Mungkin ini juga salah satu bentuk jawaban dari Sang Pencipta.


***


"Bu Kia, ini makanan sudah saya siapkan!" Teriak Mbak Asih dari luar sana.


"Nah, kamu makan dulu, Kia." ujar Vita bangkit untuk membuka pintu namun tangannya tertahan karena Kia lebih dulu menariknya.


"Tapi kamu harus memberitahukan tentang Ismail, Vita." Kia memegang kedua tangan Vita dengan tatapan sendu.


"Tapi kamu harus makan, Kia. Aku nggak mau kamu sakit." tegas Vita tak ingin di bantah.


"Ayo, beri tahu aku, please, Vita." Kia memohon.


"Oke, baiklah. Sebenarnya, Ismail masih mencintaimu. " sahut Vita ragu.


"Hah?" Kia bingung kemudian bergeming, sementara itu Vita mengambil nampan yang di bawa oleh Mbak Asih.


"Terus kenapa dia mau menceraikanku?" Kia menunduk memikirkan.


"Ini, kamu makan dulu." Vita menyodorkan piring yang berisi makanan namun Kia menggeleng tanda enggan.


"Kalau kamu nggak mau makan, oke! Nggak apa-apa. Aku akan pergi. Assalamualaikum." Vita bangkit setelah itu melangkahkan kaki hingga ke pintu. Kemudian dia berbalik lagi sambil mengatakan,


" Oh, Iya. Jangan membebani dirimu seperti itu hanya karena Ismail. Tenang, aku akan membantumu membujuk Ismail untuk kembali kepadamu. Makan lah, setelah itu istirahat. Aku tau kamu butuh waktu untuk terbiasa dengan keadaan." ucap Vita kemudian pergi meninggalkan Kia. Sementara Mbak Asih mengejar, ada hal yang ingin dia pastikan.


"Bu Vita, apa benar Ibu Kia dan Pak Ismail akan bercerai? Lalu bagaimana dengan Zayn?" tanya Mbak Asih.


"Insya Allah, mereka nggak akan bercerai. Do'akan saja yang terbaik untuk mereka, Mbak. Aku pergi dulu." Vita pamit meninggalkan Mbak Asih.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan kepadaku, Vita. Kenapa aku merasa kamu menyimpan rahasia besar namun kamu terlalu enggan untuk jujur kepadaku." gumam Kia dalam hati saat mengingat sepotong kalimat yang belum terselesaikan.


Sementara itu di dalam mobil, Vita menekan tombol 'dial' pada salah satu kontak miliknya.


Tuuttt .. Bunyi sekali panggilan tersebut langsung terjawab.


"Apapun yang akan terjadi, aku harap kamu jangan sampai menceraikan Zaskia. Ingat itu!" titah Vita.


"Kamu tidak punya hak untuk ikut campur dalam masalah rumah tangga aku dengan dia, Vit! Aku masih tetap dengan keputusan yang ku buat!" Berangnya lalu memutuskan panggilan secara sepihak.

__ADS_1


"Tapi, Halo ... Ismail!" tak ada jawaban karena panggilan yang sudah terputus.


"Brengsek!" Vita membanting begitu saja ponselnya ke belakang.


***


Zayn turun menyusuri anak tangga menuju dapur tempat di mana Mbak Asih berkutat. Seorang wanita yang menemani hari-hari nya sedari kecil hingga sekarang.


"Mbak, cerai itu apa sih?" tanya Zayn dengan polosnya menarik tangan Mbak Asih yang sedang memotong sayuran.


"Cerai itu artinya berpisah. Eh, Zayn dengar dari mana kata itu?" tanya Mbak Asih setelah menjawab pertanyaan yang membuat Zayn bingung. Di letakkannya peralatan dapur yang sedang di gunakan, di rendahkan tubuhnya agar sejajar dengan anak laki-laki itu.


"Tadi Zayn dengar dari Mama dengan Aunty membahas soal cerai. Huhu, Zayn nggak mau Mama dan Papa bercerai." luruh sudah air mata buah hati mereka.


"Zayn jangan berpikir macam-macam dulu. Mbak selalu berdo'a untuk keharmonisan rumah tangga Ibu dan Tuan selalu bertahan dan mereka nggak jadi bercerai. Jadi, Zayn berdo'a lah juga. Minta sama Allah apa yang terbaik untuk mereka. Allah akan mengabulkan do'a seorang anak yang sholeh." jelas Mbak Asih sambil memeluk anak majikannya itu.


"Iya, Mbak. Zayn akan berdo'a untuk Mama dan Papa agar mereka nggak bercerai." ucap Zayn tulus dengan suara sedikit bergetar karena air matanya masih membasahi pipi gembulnya.


"Yang sabar, ya, Zayn. Semoga Allah mengabulkan do'a mu." gumam Mba Asih dalam hati.


***


Udara malam kini semakin terasa dingin saat bulan membulat penuh bertengger di tengah-tengah langit gelap bertaburkan bintang.


Halaman teras yang terlihat gelap tidak seperti biasanya. Ismail kemudian mematikan mesin mobilnya lalu masuk ke dalam rumah, beruntung kunci rumah selalu dia bawa kemana-mana sehingga tidak perlu membangunkan penghuni rumah yang sedang beristirahat.


Ceklek


Ismail membuka pintu kamar dan melihat Zaskia yang berbaring meringkuk tanpa mengenakan selimut untuk menutupi tubuhnya dari hawa dingin ruangan tersebut. Ingin menyelimuti namun takut jika Zaskia terbangun dan akan membuat suasana menjadi ribut hingga membangunkan semua orang.


Ismail segera bergerak menuju lemari yang terletak di sudut kamar. Ismail kemudian mengambil sebuah koper besar, di susunnya baju-baju miliknya ke dalam sana.


Merasa ketenangannya terusik karena terdengar suara grusuh di sudut kamarnya, Kia membuka mata. Di lihatnya baik-baik sosok laki-laki yang sudah beberapa hari di rindukannya.


"Ismail, apa yang kamu lakukan?" tanya Kia menghampiri laki-laki yang masih menjadi suaminya itu.


"Aku mengambil barang." sahutnya dengan tenang.


"Aku tanya sekali lagi, apa kamu serius ingin menceraikan aku?" tanya Kia menghampiri Ismail yang masih sibuk dengan beberapa lembar pakaian di tangannya.

__ADS_1


"Iya, aku serius dengan ucapan ku."


"Apa kamu nggak kasihan dengan Zayn?"


"Aku sangat kasihan, makanya aku melakukan ini."


"Maksudnya?"


"Aku nggak mau Zayn tumbuh di lingkungan toxic seperti ini."


"Haha, jadi kamu menganggap aku ini wanita seperti itu?" Kia tertawa pelan sambil berkacak pinggang.


"Sudah, Kia. Aku lagi nggak ingin bertengkar denganmu, oke. Aku sudah membuat keputusan, tolong hargai keputusanku." Ismail menggeser tubuh Kia yang menghalangi pergerakannya.


Kia bergeming, hatinya sudah cukup sakit tercabik-cabik karena kata yang terlontar dari mulut Ismail. Kia memutar otak, bagaimana caranya agar bisa mempertahankan rumah tangganya yang sudah berada di ujung tanduk.


"Untuk saat ini, aku tinggal di tempat lain. Dan urusan tentang Zayn, kamu nggak usah khawatir. Aku nggak akan mengabaikan tanggung jawab sebagai seorang ayah untuknya." jelas Ismail sembari menutup kopernya.


"I'm sorry. Aku harus pergi sekarang." Ismail menarik kopernya menuju lantai bawah. Sementara Kia berusaha mengejar.


"Mail, tunggu! Lalu bagaimana denganku?" bulat matanya mengeluarkan air bening.


"Kenapa kamu meninggalkan aku begitu saja? Mana janji yang kamu ikrarkan saat menikahiku?" tanya Kia dengan terisak-isak.


"Janji? Kalau begitu aku tanya, mana janji yang kamu bilang akan merubah sifatmu itu? Selama ini aku sudah bersabar, tapi aku yakin kamu nggak akan pernah bisa berubah, Kia."


"Nggak, Mail. Aku akan berusaha berubah untukmu, oke? Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku akan berubah."


"Nggak akan, Kia. Aku mengenalmu dengan baik."


"Aku janji, Mail. Aku akan berubah, kali ini percaya sama aku. Beri aku kesempatan sekali lagi. Tolong maafkan aku." Kia memohon sampai ingin sujud di kaki Ismail.


"Hei, Kia. Bangunlah! Dengarkan aku baik-baik, kalau kamu mau berubah seharusnya sudah sedari dulu kamu berubah. Masalahnya sudah jelas 'kan, kalau dirimu memang seperti ini." Ismail menangkup wajah Zaskia memberi penjelasan dengan setenang mungkin.


"Tapi aku akan berubah, Ismail. " Kia memegang tangan Ismail yang masih mengapit wajahnya.


"Kia, kamu nggak perlu berubah. Karena aku yang akan berubah."


"Apa maksudmu, Mail?"

__ADS_1


"Ya, selama ini aku sadar. Nggak bisa memaksakan seseorang untuk berubah seperti apa yang di inginkan. Karena kamu nggak bisa berubah, maka biarkan aku yang berubah." Ismail pun meninggalkan Zaskia.


"Tunggu, Mail!" teriak Kia yang masih duduk bersimpuh namun Ismail tak mengindahkan.


__ADS_2