Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 52


__ADS_3

Zaskia masuk ke dalam kamar yang di huni oleh Zayn saat ini. Mata indahnya bergetar saat melihat anak laki-laki itu tertidur pulas, terdengar dari suara nafasnya yang teratur.


Wanita itu pun mulai duduk di pinggiran tempat tidur, menatap lekat wajah sang anak. Di elus lembut pucuk kepala Zayn dengan sayang.


"Zayn, Mama datang menjengukmu." lirih Kia pelan sambil menangis tanpa suara isakan.


Kia hanya bisa menatap dan menyentuh pucuk kepala anak itu, ingin sekali Kia membangunkannya namun rasanya tidak tega.


"Assalamualaikum," terdengar suara salam dari luar, yang tak lain adalah Ismail dan Devita.


"Waalaikumsalam, masuklah. Zayn ada di kamar sebelah sana." sahut Asih dan menunjukkan ruangan yang di maksud.


"Terima kasih, Asih." ujar Devita tulus.


"Nggak perlu, ini sudah kewajibanku karena menganggap anak itu sebagai keluargaku sendiri. Dan nggak akan pernah aku tega menelantarkannya." sindir Asih lalu meninggalkan tamu itu kembali ke dapur menyiapkan minuman seadanya.


Vita terdiam, rasa bersalahnya semakin meluas saja. Setelah ini, siapa yang akan menyindirnya lagi? Vita mengelus dada berharap hatinya akan meringan.


Mendengar orang tua Zayn sudah datang, Kia pun keluar dari kamar itu guna memanggil Devita, Ibu kandung Zayn.


"Masuk lah, kamu kan Ibu kandungnya." kata Kia mengucap itu dengan berat. Devita pun masuk dengan cepat, sementara Kia hanya bisa menahan sesak, menunggu dan melihat dari daun pintu.


"Zayn." Vita pun mengelus lembut kepalanya. Melakukan hal yang sama seperti Kia tadi.


Zayn yang merasa terus menerus ada sentuhan di kepalanya pun perlahan mulai membuka mata. Melihat siapa yang sedang menyentuhnya saat ini.


"Ibu." kata pertama yang keluar dari mulut Zayn membuat air mata Kia mengalir. "Seharusnya Mama yang lebih dulu kamu sebut, Zayn." keluh Kia dalam hati.


Anak dan Ibu itu pun berpelukan melepas rindu. Kia hanya bisa menatap mereka dengan rasa sesak di dada. Ingin sekali dirinya memeluk anak itu juga, mengingat seberapa gila nya dia karena harus berjauhan dengan Zayn.

__ADS_1


Kia hanya bisa tersenyum, mengadahkan wajahnya ke atas untuk menahan air mata agar tidak terus menerus mengalir.


"Maafkan Ibu 'ya, Sayang. Maafkan Ibu yang nggak menjaga Zayn dengan baik. Maafkan Ibu yang selalu sibuk dengan urusan Ibu sendiri." ujar Vita memeluk dan mencium pucuk kepala Zayn berulang-ulang.


Zayn pun mengangguk. Di perlakukan seperti itu, Zayn tidak menolak karena perlahan anak laki-laki itu mulai menerima kenyataan walau rasanya berat.


"Oh iya, lihat siapa yang berada di depan pintu." titah Vita dan Zayn pun menoleh ke arah pintu untuk mencari jawaban.


Senyum Zayn mengembang saat melihat sosok wanita yang selalu dia rindukan setiap harinya. Zayn pun turun dari tempat tidurnya dan berlari langsung memeluk Kia.


"Mama!" panggil Zayn dalam dekapan Kia sambil menangis.


"I miss you, Sayang. Mama rindu sekali sama Zayn." ungkap Kia sambil menangis tersedu-sedu. Keduanya pun larut dalam derai air mata. Menguraikan rasa rindu dalam pelukan hangat.


"Zayn yang paling rindu." ujar Zayn dan di sambut tawa oleh Kia.


Melihat pemandangan ini, Devita pun berpikir. Sepertinya dirinya memang yang paling bersalah di dunia ini. Semua memang sudah terjadi dan tidak bisa di ulang, namun mungkin banyak hal bisa dia tebus dengan mengalah pada keadaan.


"Baik, Zayn akan mengingatnya, Ma." janji Zayn dengan menggangguk pasti.


"Ayo kita ke depan, menemui yang lain." ajak Kia menarik tangan Zayn menuju ruang tamu. Seketika dirinya lupa bahwa masih ada Vita di dalam kamar itu.


"Aku menyesal meninggalkan Zayn sendirian di rumah itu dengan orang asing." ucap Asih saat duduk bersama dengan Reyhan yang sedang asik menonton sebuah acara di televisi sambil meletakkan sebuah nampan berisi beberapa gelas teh hangat.


"Jadi apa rencanamu sekarang?" tanya Rey menatap gadis itu.


"Entahlah, Kak. Kalau Zayn kembali kepada Ibu Zaskia, maybe aku akan ikut dengannya lagi." sahut Asih dengan wajah datar.


"Apa kamu nggak ingin pulang bersamaku?" tanya Rey kemudian mengambil segelas teh hangat dan menyesapnya perlahan sembari menunggu jawaban dari gadis itu.

__ADS_1


"Aku belum ingin pulang." jelasnya dengan nada sedikit tegas.


"Baiklah, aku nggak akan memaksamu. Baik-baik lah dan jaga diri saat kamu hidup sendiri seperti ini." nasehat Rey dengan lembut.


"Boleh aku bertanya, ada hubungan apa di antara kalian berdua?" tanya Kia yang tiba-tiba muncul begitu saja menghampiri mereka berdua. Keduanya malah terkejut kemudian tertawa.


"Kenapa kalian malah tertawa?" tanya Kia yang kini mengerutkan keningnya. Kia pun menuntun Zayn untuk duduk di sebelah Rey.


"Kami merasa seperti kepergok sedang berselingkuh." goda Rey dan Asih pun kembali tertawa.


"Oh, ya? Maaf kalau aku mengganggu kalian." ujar Kia sedikit ketus. Menyadari hal itu, Asih pun tersenyum. Sedangkan Rey, menekuk wajahnya. Tak tahu harus apa jika meladeni wanita yang sedang kesal.


"Sebenarnya, Rey adalah kakak kandungku." ungkap Asih dengan jujur.


Kia menatap keduanya tanpa berkedip. Mulutnya terbuka lebar tak menyangka jika hal sebesar ini akan dia ketahui setelah bertahun-tahun lamanya.


"Lalu apa lagi yang belum aku ketahui?" tanya Kia, antara ingin kecewa atau merasa puas karena mengetahui kebenaran.


"Sebenarnya Kakak-" ucapan Asih tertahan saat mulutnya di bekap oleh Rey menggunakan tangannya. Rey tahu benar apa yang akan adiknya itu sampaikan kepada orang yang bersangkutan.


"Akan aku ceritakan nanti, sekaranh situasi sedang rumit. Aku ingin masalah ini terselesaikan lebih dulu." ujar Rey. Kia pun mengangguk membenarkan usulan Rey, dirinya pun harus menelan rasa penasaran itu sampai Rey mau menceritakannya.


"Cie, mengalihkan pembicaraan." goda Asih. Rey pun mengetuk kepala Asih.


"Apa kamu lupa ada siapa saja di sini?" bisik Rey dan Asih pun menutup mulutnya sendiri sambil menepuk jidat.


"Astaghfirullahal'adzim, kenapa aku bisa lupa diri begini sih." gerutu Asih dalam hati.


"Sepertinya kalau berada di dekat Rey, kamu tampaknya sedikit berbeda, Mbak Asih. Apa kamu yakin, kalian ini saudara kandung?" tutur Kia dengan tatapan menyelidik. Bukan menjawab, Asih malah menanggapinya dengan tertawa.

__ADS_1


Ismail sedari tadi menunggu di teras pun akhirnya masuk ke dalam. Dirinya sejak tadi menyimak percakapan mereka. Menurutnya, perkara perasaan semakin rumit saja setelah mendengar percakapan itu.


"Apakah ini hanya perasaanku saja?" tanya Ismail lirih pada dirinya sendiri.


__ADS_2