
"Seret dia keluar dari rumah ini! Dan tahan anak itu jangan sampai dia mengikuti ibu angkatnya." titah Wati kepada beberapa orang ajudannya.
"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku? Tolong jangan pisahkan aku dengan anakku. Aku yang merawatnya penuh kasih sayang selama ini. Bukan Vita!" berang Kia berusaha melepaskan tangan kekar yang menahannya. Namun orang suruhan Wati tetap menarik paksa membawanya keluar rumah.
"Mama! Zayn nggak mau pisah dari Mama!" Zayn yang menangis juga mencoba berontak dari orang-orang itu.
"Zayn!" teriak Kia lagi dengan sekuat tenaga, namun kekuatan orang-orang yang membawanya lebih maksimal daripada dirinya. Orang-orang tersebut memasukan Kia ke dalam mobil, entah dia akan di bawa ke mana oleh mereka.
Zayn akhirnya berhasil terlepas dari genggaman ajudan tersebut namun sayangnya, Kia lebih dulu di bawa pergi oleh mereka. Melihat mobil yang sudah melaju, Zayn berusaha mengejar hingga terjatuh.
Ternyata sedari tadi Devita sudah memantau dari kejauhan. Melihat Zayn terjatuh, dia pun menghampiri anak kandungnya itu.
"Zayn, jangan kejar, ya. Ayo kita masuk." ujar Vita membujuk sembari memeluk Zayn.
"Zayn nggak mau masuk. Zayn maunya sama Mama!" Zayn berusaha berontak melepaskan pelukan Vita.
"Tapi dia bukan Mama kamu, Nak." kata Vita tanpa ragu.
"Nggak ada yang bisa gantikan Mama di hati Zayn!" Zayn pun berbalik dan segera berlari masuk untuk pergi ke kamarnya.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu menyesal pernah membuangmu." lirih Vita berkata memandang Zayn yang sudah menjauh.
Tujuh tahun yang lalu~
Usai bersalin, Vita tak ingin menginap di rumah sakit. Vita dan Ismail pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah mereka.
Nyatanya mempunyai anak tak begitu membuat pasangan ini bahagia, karena Pasca melahirkan Vita mengalami baby blues akibat mendengarkan perkataan tetangga yang tak enak di dengar saat membawa Zayn pulang ke rumah.
"Cepat sekali melahirkan, rasanya belum sembilan bulan usia pernikahan kalian. Wah, hamidun nih pasti." begitulah celotehan dari salah satu tetangga mereka.
Di dalam kamar, Saat Zayn menangis kencang karena kehausan, Ismail membujuk Vita untuk memberikan Asi, namun Vita menolak. Dia marah dan merasa benci pada anak laki-laki yang baru saja di lahirkan itu.
"Bisa nggak diamkan anakmu itu. Aku benci mendengar suaranya!" ujar Vita sembari menutup telinganya.
"Apa kamu nggak bisa memberikan dia Asi. Dia haus, sejak lahir dia belum kamu beri Asi." kata Ismail ingin menyerahkan Zayn kepadanya.
"Aku nggak mau! Aku benci anak itu!" Vita segera mendorong Ismail keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Vita. Istighfar, dia ini anak kamu. Jangan kamu hukum dia seprti ini, dia nggak ngerti apa-apa dan dia nggak salah." sahut Ismail menahan pintu yang akan di tutup.
"Aku bilang nggak mau, ya nggak mau. Tolong jangan paksa aku, Mail. Bawa anak itu keluar, kepalaku semakin sakit mendengar suaranya! Sekarang juga, keluar!" bentak Vita tak ingin di bantah.
Dari kamar sebelah, Wati mendengar suara Vita yang berteriak pun segera menghampiri anak dan menantunya.
"Ada apa ini ribut-ribut? Suara kalian sudah sampai di rumah tetangga, apa nggak malu?" suara Wati memecah pertengkaran suami istri tersebut.
"Anakku haus, Bu. Tapi Ibunya nggak mau memberi Asi." jawab Ismail sembari menepuk-nepuk belakang Zayn berharap anak itu bisa tenang.
"Aku nggak mau melihatnya, Bu. Aku nggak suka, dia berisik." sahut Vita setelahnya.
Wati pun menarik lengan Ismail untuk pergi menjauhi kamar istrinya. Setelah sampai di ruang tengah, Wati pun mulai mengoceh.
"Kamu nggak liat, istri kamu itu lagi sakit. Kenapa kamu bebani dia dengan anak kamu?" celetuk Wati tanpa rasa iba.
"Ini anak kami, Bu. Cucu Ibu! Kenapa bisa kalian sebut dia sebagai beban?" emosi Ismail.
"Huh! Kamu ini memang merepotkan!" gerutu Wati segera melangkah menuju dapur.
"Bella! Berikan anak kakak kamu itu susu!" titah Wati.
"Anak bodoh! Mana ada bayi minum susu dengan rasa seperti itu!" Wati merasa geram.
"Jadi susu apa, Bu?" tanya Bella lagi.
"Susu formula khusus bayi atau susu badan." jawab Wati.
"Susu badan?" Bella pun melirik dua gundukan di bawah lehernya.
"Dasar bodoh! Susumu nggak cukup untuk menghilangkan dahaga bayi itu. Sana pergi beli di warung!" Wati pun menyerahkan selembar uang biru kepada anak gadisnya. Bella pun menurut begitu saja tanpa bantahan. Ya, masa mudanya, Bella adalah anak yang patuh beda dengan sekarang yang suka membangkang.
Setelah membeli susu yang di maksud, Bella pun menyiapkan sesuai anjuran yang tertera di kotak susu tersebut.
"Ini, susunya kotaknya. Bukan susu badan." celetuk Bella memberi botol susu kepada Ismail
"Terima kasih." Ismail menerimanya dan langsung memberikannya kepada Zayn. Seteguk dua teguk, Zayn enggan meminum lagi. Sepertinya bayi itu tidak menyukai susu formula. Zayn pun kembali menangis dengan kencang. Wati yang tadinya ingin tidur, mengurungkannya dan menghampiri Ismail yang masih duduk di ruang tengah, dia tak bisa kembali ke kamar karena Vita yang menguncinya dari dalam.
__ADS_1
"Karena kondisinya seperti ini. Kami memang nggak suka keributan. Dan yang penting, ibu dari bayi ini nggak menginginkannya, bagaimana kalau kau bawa saja ke panti asuhan." usul Wati.
"Astaghfirullah, Ibu! Kejam sekali kepada cucu kandungmu sendiri! Aku nggak akan pernah menyerahkan anakku kepada siapapun!" berang Ismail tak menyangka.
"Baik, sekarang pilihan ada di tanganmu, pilih kesehatan istrimu atau anakmu! Ku beri kamu waktu lima menit untuk berpikir!" cetus Wati.
Ismail mengusap wajahnya kasar. Mengapa dia harus di berikan pilihan yang sulit, namun dia sangat lah mencintai Devita. Bagaimana pun juga, titah Wati adalah hal yang pantang untuk di abaikan. Akhirnya tak ada jalan lain, dia lebih memilih mengikhlaskan anak kandungnya itu.
Dalam pikirannya, toh setelah Devita sehat, dia akan mengambil kembali bayi itu.
Dengan hujan badai dan petir yang menyambar-nyambar, Ismail memacu mobilnya membelah jalan raya yang di penuhi dengan genangan air. Ismail tiba di depan panti asuhan 'Kasih Sayang'. Menyerahkan bayinya dengan alasan menemukan bayi itu di pinggiran jalan hingga panti asuhan tersebut menerima dengan terbuka.
"Maafkan Papa, Nak. Besok Papa janji akan kembali lagi mengambilmu apapun caranya." gumam Ismail dalam hati meninggalkan Zayn yang menangis dalam pelukan Ibu pemilik panti asuhan tersebut.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ismail pulang kembali ke rumah Zaskia. Kebetulan saat itu Zaskia sedang cemberut. Melihat itu, Ismail memberanikan diri untuk bertanya kepada Zaskia.
"Ada apa, Kia. Kok cemberut begitu. Apa kamu ada masalah?" tanya Ismail berusaha tenang. Sebenarnya itu hanya basa-basi, karena dirinya ingin membahas hal mengenai Zayn.
"Baru kemarin aku habis dari rumah sakit periksa kesehatan rahimku, ternyata aku nggak bisa memiliki anak." ujar Kia dengan mata menggenang, rasanya dia menyesali hidupnya yang tak bisa memberikan keturunan untuk suaminya.
"Sudah, jangan di pikirkan. Aku nggak masalah soal itu. Yang penting kamu sehat, itu sudah cukup bagiku." sahut Ismail sembari memeluk Kia untuk menenangkan.
"Maaf Kia, karena aku kamu jadi harus menanggung ini semua. Aku nggak punya pilihan lain selain membuat kandunganmu rusak." lirih Ismail dalam hati. Tanpa Kia sadari, selama ini Ismail memang memberi obat pengering rahim untuk istrinya agar tak mempunyai anak darinya. Baginya, anak dari Vita saja sudah cukup.
"Oh, iya. Kebetulan tadi malam, aku membantu temanku membawa seorang bayi yang dia temukan di pinggir jalan. Apa kamu mau mengadopsi dia. Usianya sekitar baru dua hari." jelas Ismail sembari mengusap pipi Kia.
"Kenapa ada orang yang begitu kejam membuang darah dagingnya sendiri?" ujar Zaskia merasa kesal, hal itu menyentil hati terdalam Ismail.
"Apakah boleh, kita mengadopsinya?" tanya Kia meminta persetujuan.
"Tentu saja, aku juga ingin rumah ini ramai. Dan Allah sepertinya memilih kita untuk menjaganya." sahut Ismail dengan tersenyum, begitupun Kia. Dia nampak lupa dengan kesedihannya.
"Bagaimana kalau sekarang kita ke sana?" pinta Kia dan Ismail mengiyakan. Mereka pun mengadopsi Zayn dengan hati gembira.
"Aku ingin memberi dia nama, Zayn. Pasti besarnya nanti dia sangat tampan!" ujar Zaskia sambil menyubit pelan pipi Zayn yang masih merah.
Visual Zayn
__ADS_1