Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 59


__ADS_3

Keputusan tegas Devita yang menginginkan Ibunya untuk di beri hukuman setimpal dengan perbuatannya pun membuat Kia dan Rey terkejut.


"Hah?" teriak Rey dan Kia karena terkejut bersamaan, mereka saling menatap satu sama lain. Ekspresi bingung pun terlihat dari wajah keduanya setelah mendengar keputusan Vita yang malah menyuruh untuk menghukum Ibunya juga.


"Apa kami nggak salah dengar?" tanya Rey dan di beri anggukan oleh Kia yang ingin bertanya hal yang di tanyakan oleh Rey.


"Aku sudah lelah, Kia. Biarkan Ibuku merenungkan perbuatannya di penjara. Aku ikhlaskan ibuku, untuk itu aku mohon berbuatlah adil karena aku nggak bisa membantumu banyak." Vita memohon kepada Kia.


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Tapi sebelumnya aku minta Zayn menginap di sini beberapa hari lagi, ya?" pinta Kia dengan wajah yang sengaja di buat imut.


"Cih!" decak Rey dan Vita bersamaan memasang wajah malas.


"Kenapa kalian begitu?" kesal Kia tidak terima.


"Nggak cocok wajahmu di buat-buat seperti itu, mengerikan!" ledek Vita kemudian pergi meninggalkan Rey dan Kia yang masih berdiri di teras rumah.


"Nggak ada akhlak, pergi tanpa pamit." cibir Kia. Rey hanya tersenyum menahan tawa. Gemas sekali melihat Kia hari ini.


Kia memandang wajah Rey yang masih tersenyum, segera di letakkan punggung tangan itu ke kening Rey.


"Nggak panas." celetuk Kia yang sukses membuat Rey tertawa renyah.


"Wanita aneh!" cibir Rey yang mulai masuk ke dalam rumah adiknya untuk melihat Zayn.


Lelaki itu memasuki kamar Zayn, di sana Zayn asik dengan buku-bukunya. Ya kemarin Rey membelikan Zayn buku bacaan sehingga Zayn melompat kegirangan.


"Wah, serius banget bacanya, Bro." ujar Rey mengelus kepala Zayn dengan tersenyum.


Zayn melirik ke wajah Rey dan anak laki-laki itu pun membalas senyumnya. Dia pun mulai mendekat dan mulai berbisik di telinga Rey.


"Om nggak mau bawa Mama jalan-jalan? Om suka kan sama Mama? Tadi Zayn dengar percakapan Om dengan Ibu."


Wajah Rey pun mulai merona, "Ah sial, anak kecil saja mengerti soal beginian." decak Rey dalam hati.


"Apa Mama kamu dengar percakapan kami tadi?" tanya Rey pelan. Zayn menggelengkan kepalanya lalu menjawab,


"Mama tadi di belakang beres-beres, tenang saja om. Apa perlu Zayn bantu?" Zayn pun mulai bertingkah seperti Mak comblang. Rey pun menoel hidung anak itu.

__ADS_1


"Masih kecil sudah pintar cinta-cintaan, ya!" ujar Rey lalu menggelitik pinggang Zayn.


"Siapa yang cinta-cintaan?" tanya Kia yang baru saja masuk ke dalam kamar anaknya.


Rey dan Zayn saling tatap seperti sedang mengeluarkan sinyal.


"Ini urusan laki-laki, Mama." sahut Zayn. Rey pun mengelus dada, anak laki-laki ini bisa di ajak kompromi.


Mama bagaimana kalau kita belanja baju? Zayn nggak mungkin 'kan pakai baju ini-ini saja." Zayn memelas hingga Kia pun menatap iba wajah anaknya.


"Benar, maafkan Mama ya, Sayang. Mama belum membelikan Zayn baju." Kia menunduk sedih.


"Bagaimana kalau kita belanja sekarang?" usul Rey.


"Yey, belanja baju baru!" teriak Zayn sambil melompat kegirangan.


Kia yang melihat itu pun tersenyum lalu menatap mata Rey dan berucap 'terima kasih' tanpa bersuara. Rey pun mengangguk membalas senyum itu.


Tibalah mereka di sebuah pusat perbelanjaan, toko yang mereka datangi pertama kali adalah toko sepatu. Mereka memilih sepatu keluaran terbaru, Zayn yang memakainya pun terlihat keren di mata kedua orang dewasa itu.


Selesai memilih sepatu, mereka pun pergi ke toko baju. Zayn di suruh memilih sendiri agar cocok dengan seleranya. Sebahagia itu Zayn jika bersama dua orang yang menyayanginya. Tak hentinya Zayn mengulas senyum pada wajahnya yang lucu itu.


Sungguh pemandangan yang indah, karena senyum terus merekah di wajah ketiga orang itu. Mungkin bagi orang lain yang melihat, mereka adalah keluarga kecil yang sedang berbahagia.


"Aku lupa bertanya, apa kamu nggak kerja hari ini?" tanya Kia saat mereka tengah menyantap makanannya.


"Ah tenang saja, hari ini aku santai." sahut Rey.


"Oiya, aku mau memberitahukan kabar baik. Mulai sekarang kamu bebas ingin bertemu Zayn, asal dengan catatan harus meminta ijin terlebih dahulu kepada Vita." ungkap Rey dan Kia pun tersenyum.


"Alhamdulillah." ucap Kia lirih.


"Terima kasih, Rey." ucap Kia tulus. Rey hanya mengangguk dan tersenyum.


"Cie, Mama dan Om lagi pacaran, ya?" celetuk Zayn. Kedua oranh dewasa itu pun menoleh ke arah Zayn.


"Hah?" tanya keduanya bersamaan.

__ADS_1


"Tuh kan, bisa kompak gitu. Seperti ada ikatan batin." Zayn benar-benar menggoda kedua orang itu.


Rey tertawa keras hingga Kia menyikut laki-laki itu bukannya klarifikasi, malah tertawa yang membuat wanita itu canggung.


"Bilang sama Mama, siapa yang ngajarin Zayn begini?" tanya Kia sembari menoel pipi tembem Zayn.


"Nggak ada, Zayn kan cuma merasa kalau Mama dan Om seperti orang pacaran. Apa kalian jatuh cinta?" goda Zayn lagi.


Kia gelagapan sementara Rey menggaruk tengkuknya yang tak gatal, keduanya sekarang menjadi salah tingkah. Kia akhirnya menutup mulut anaknya sebelum wajahnya menjadi semakin memerah.


Setelah itu mereka memutuskan untuk pulang ke rumah, ya ke rumah Asih. Karena Kia dan Zayn sekarang tinggal di rumah itu. Rey hanya mengantar hingga ke depan dan tidak ikut masuk karena ada kerjaan lain yang sedang menantinya.


Memasuki kamarnya, Kia terus tersenyum salah tingkah hingga anak laki-lakinya menyadari tingkah dan sikap Mamanya yang aneh.


Kia pun mulai menyusun pakaian yang di belinya ke dalam keranjang karena kamar itu tidak mempunyai lemari. Tak lupa juga sepatu-sepatu baru itu dia susun rapi di lantai belakang pintu kalau Zayn ingin memakainya, Zayn tidak perlu bersusah payah mencarinya.


Zayn terus menatap wajah Mamanya, sesekali menyipitkan matanya dan menggelengkan kepala. Mamanya ini benar-benar lupa segalanya sekarang.


"Mama lagi apa?" tanya Zayn akhirnya karena sedari tadi Kia tak menyadari kehadiran Zayn.


"Eh, ada Zayn. Ini Mama lagi menyusun barang-barang Zayn." kata Kia tersenyum.


Zayn pun bersedekap dada, memasang wajah galak namun tetap terlihat lucu.


"Zayn sudah di sini dari tadi, Ma." sela Zayn.


"Oh, iya? Mama kok nggak lihat." jawab Kia.


"Hmmm, ck-ck-ck!" Zayn menghela nafas sembari berdecak melihat tingkah Mamanya.


"Apa Mama suka dengan Om Rey?" tanya Zayn langsung.


"Zayn ini ada-ada saja. Jangan bicara sembarangan." Kia tersipu dan tersenyum.


"Lalu kenapa Wajah Mama tersenyum dan tersipu seperti itu?" ledek Zayn lagi.


"Sudah, anak-anak seperti Zayn cuma boleh bertanya soal pelajaran, jangan bertanya soal perasaan." nasehat Kia kepada Zayn.

__ADS_1


"Tapi aku suka dengan Om Rey, kenapa Mama nggak menikah saja dengan Om Rey?" tanya Zayn sukses membuat Kia membulatkan matanya.


"Astaga, Anakku."


__ADS_2