
Sepanjang perjalanan, senyum Rey terus mengembang kala mengingat dirinya yang semakin dekat dengan Kia.
"Ah, apa yang terjadi padaku?" Rey memegang dadanya yang berdebar. Segera dia gelengkan kepala ingin menghilangkan cuplikan adegan saat dirinya memegang tangan Kia sembari bertatapan mata.
"Apa aku menyukainya lagi?" tanyanya dalam hati lalu kembali fokus melanjutkan perjalanannya..
Tiba-tiba ponsel Rey berbunyi, terdapat panggilan masuk yang tak di kenalnya karena tertera nomor baru di layar ponsel itu.
"Ya, Hallo?" Rey menjawabnya.
"Hallo, Rey. Bisakah kita bertemu sekarang?" tanya orang di telepon.
"Ya, bisa. Tapi maaf, ini dengan siapa?" tanya Rey.
"Aku Hakim, pengacara Ismail." sahutnya.
"Oh, Hakim. Ada perlu apa?" tanya Rey basa-basi.
"Kita perlu bicara." sahut Ismail yang terdengar sangat tergesa.
"Baiklah kita ketemu di cafe dekat perusahaan Ismail." ujar Rey menyanggupi dan langsung memutuskan panggilan tersebut.
Sesuai kesepakatan, mereka pun bertemu di cafe dekat perusahaan Ismail yang seharusnya masih milik Zaskia.
"Hai, long time no see, Rey." Hakim menyapa.
"Katakan, ada urusan apa hingga kamu mengharuskan aku untuk bertemu denganmu?" tanya Rey tanpa basa-basi, dirinya enggan berlama-lama melihat laki-laki di hadapannya ini.
"Apa kamu ingin memesan minuman?" tanya Hakim lagi yang sengaja memancing Rey untuk kehilangan kesabaran.
"Nggak perlu, karena aku hrus kembali bekerja." tolak Rey dengan tenang.
"Wah, sibuk sekali 'ya, Bro." sahut Hakim sementara Rey hanya mengangguk dan melihat jam tangannya, rasanya waktu terbuang percuma hanya untuk mendengar basa basi dari Hakim.
__ADS_1
Merasa tak di hiraukan, Hakim kembali bertanya,
"Sejak kapan kamu menjadi pengacara? Bukankah dulu kamu kuliah jurusan akuntansi?" tanya Hakim lagi.
"Sorry, aku kembali mengambil jurusan Hukum di luar negeri." sahut Rey datar.
"Oh, ya, hebat! Aku ketinggalan berita, dong."
"Kamu ingin bertanya tentang kehidupan pribadiku, atau sedang penasaran tentang masalah Zaskia?" tanya Rey to the point, malas sekali jika harus terus meladeni omong kosong dari Hakim.
"Nampaknya memang nggak ada yang bisa aku sembunyikan darimu. Kalau begitu aku nggak akan berbasa-basi lagi denganmu. Aku cuma ingin bilang, bisakah kamu meninggalakn kasus tentang Kia?" pinta Hakim.
Rey tertawa menanggapi permintaan Hakim. Menurutnya Hakim sungguh pengecut. Rey merasa ada sedikit celah untuk membuat Hakim jatuh karena trik liciknya.
"Kenapa? Apa kamu takut denganku yang akan sukses membuat kasus ini menang?" tantang Rey.
"Aku takut? Ayolah, Bro. Aku hanya menyarankan untuk berhenti membuang waktu menyelamatkan wanita sombong itu!" sanggah Hakim sembari tersenyum miring.
"Berhenti menghakimi orang lain hanya karena dendam masa lalu. Kamu nggak pernah tau dia sebenarnya wanita yang seperti apa." ujar Rey membujuk Hakim untuk melunak.
"Aku sangat ingat, Hakim. Ingatanku masih baik, dan tertulis jelas sifatnya dalam ingatanku." sahut Rey sambil tertawa.
"Kalau begitu, jangan kamu bantu dia. Sekarang ini titik terburuk Zaskia, dia nggak akan pernah menang. Kita bisa memanfaatkan dia." Hakim terus bersikukuh untuk membujuk Rey hingga memberi iming-iming seperti itu.
"Hahaa, jika tujuanmu untuk menghasutku menggagalkan kasus ini, kamu salah besar, Hakim. Aku bukan orang berhati busuk seperti kalian. Dendam masa lalu nggak akan pernah menghilang walau kamu membunuhnya sekalipun, tapi dengan hati yang ikhlas, dendammu kelak pasti berubah menjadi kebahagiaan dalam hatimu." Rey menepuk bahu Hakim kemudian melangkah meninggalkan Hakim yang duduk termenung.
"Aku bersumpah! Kamu nggak akan menang melawanku, Rey! Bahkan Zayn pun nggak akan pernah berpindah hak asuk ke tangan Zaskia! " teriak Hakim, sementara Rey hanya melambaikan tangannya tanpa berbalik atau menoleh sedikitpun.
"Kita lihat nanti, Hakim. Kejujuran nggak akan pernah kalah. Ingat, Sang Pencipta akan membuka jalan kebenaran untuk kami. Begitu pula dengan kejahatan, jalan karma yang akan terbuka untuk kalian!" Rey mengirimi pesan itu untuk Hakim.
Dari kejauhan ternyata Wati memantau pengacaranya yang sedang berbicara dengan pengacara Zaskia. Tiba-tiba Wati terkejut saat Rey menoleh ketika memasuki mobilnya, Wati melihat dengan baik wajah itu.
"Bukannya dia mantan pacar Devita? Laki-laki yang sangat aku benci karena latar belakangnya yang nggak jelas hingga aku menentang keras hubungan mereka. Wah, sungguh luar biasa, sekarang dia mengalami kemajuan, bahkan sengaja menjadi pengacara untuk menjatuhkanku. Awas saja, aku nggak akan tinggal diam." ujar Wati lirih dengan mengepalkan kedua tangannya, dia berencana untuk pulang kembali ke rumah karena otaknya berdenyut tak karuan memikirkan rencana apa yang harus dia lakukan untuk menyingkirkan Zaskia beserta Reyhan.
__ADS_1
Wati duduk di ruang tengah, sesekali memijat pelipisnya. Suara helaan nafas pun terdengar untuk ke sekian kalinya. Dia merenung karena merasa sangat sulit untuk menerobos masuk pertahanan yang Kia buat. Harus dengan cara apa di menyingkirkan wanita itu?
Zayn yang merasa bosan, kembali turun menuju lantai dasar. Dirinya tak melihat bahwa Nenek jahatnya sedang duduk di ruang tengah dengan banyak masalah yang dia pikirkan.
Wati menoleh saat merasakan ada seseorang yang melintas, di lihatnya Zayn yang mengendap-endap berjalan menuju dapur. Lantas Wati pun berdiri mengikuti langkah Zayn.
"Mau apa kamu!" gertak Wati membuat Zayn bergidik karena terkejut, di baliknya tubuhnya menghadap sang nenek yang kini menatapnya sengit.
Mata Zayn kembali menampakkan kaca-kaca indah. Ingin sekali dia berlindung di balik seseorang, namun hanya dirinya dan Wati yang ada di dalam rumah itu.
"Untuk apa kamu ke bawah? Aku peringatkan, aku paling benci saat melihatmu berada di daerahku." ujar Wati dengan rahang mengeras menampakkan urat pada leher yang sudah mulai keriput.
Tanpa pikir panjang Zayn pun berlari menghindar dan kembali naik ke kamarnya. Dia tahu, jika terus berada di dekat neneknya bisa-bisa badannya menjadi merah dan kembali kesakitan.
"Dasar anak nggak tau diri!" keluh Wati sambil berjalan memasuki kamarnya sendiri.
Hakim yang sedari tadi merenung karena memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kalau kasus yang dia tangani akan gagal. Menghindari harta yang kembali kepada pemilik asli, mungkin tak ada jalam baginya selain mengembalikan Zayn kepada Zaskia. Karena hanya itu 'kan yang paling di inginkan wanita itu.
"Hallo, Mail." sapa Mail ketika panggilan sudah terhubung.
"Ada masalah penting apa, Hakim?" tanya Ismail to the point.
"Begini, aku ingin menyarankan kamu mengembalikan Zayn kepada calon mantan istrimu, Zaskia." ujar Hakim membuat Ismail shock tiba-tiba.
"Kenapa kamu malah memberi saran seperti itu?" tanya Ismail dengan suara yang terdengar kecewa.
"Karena Zaskia pernah berkata, dia akan menarik semua kasus bahkan menandatangani perjanjian cerai jika kamu mengembalikan Zayn kepadanya." sahut Hakim.
"Biarkan saja dia mengurus semuanya di pengadilan. Aku sudah lelah berurusan dengannya." sahut Ismail datar.
"Tapi, Ismail-"
"Bukankah dia nggak akan pernah menang?" tanya Ismail dengan suara meledek.
__ADS_1
"Ya, semoga saja seperti itu." ujar Hakim lirih.