
Hari sudah semakin sore. Kia menatap keluar, memandangi wajah para karyawan yang mulai terlihat lelah. Segera dia memanggil salah satu dari mereka dan menyuruh semuanya pulang.
"Betulkah kita boleh pulang sekarang?" tanya James pada pemberi kabar berita.
"Benar, kalau nggak percaya kamu tanya aja sendiri kepada Ibu Kia." James menggeleng enggan. Dia pun bersiap dan di ikuti oleh semua karyawan lainnya.
Satu persatu ruangan mulai terlihat sunyi, akhirnya Kia membaringkan tubuhnya di sofa yang bertengger dalam ruangan itu.
"Huh, lama nggak bekerja aku jadi lelah begini." katanya mulai memejamkan mata.
***
Devita datang mengunjungi Zayn yang saat ini masih tinggal di kediaman Asih. Wanita itu melempar senyum saat melihat Zayn menyambut kedatangannya.
"Ibu, ayo masuk." tangan mungil itu menarik Devita masuk ke dalam rumah.
"Ini Ibu bawakan es krim untuk Zayn." Vita menyodorkan sekantung es krim untuk Zayn.
"Asik, es krim. Terima kasih, Ibu." Zayn memanjat tubuh Ibunya agar bisa mencium pipi itu.
"Anak Ibu sudah besar ya." ledek Devita yang merasa Zayn sudah sangat berat sekarang.
Ibu dan Anak itu akhirnya sama-sama menikmati es krim di ruang tengah seraya bersenda gurau. Namun setelah beberapa saat terlihat sepertinya Vita tidak begitu fokus dengan apa yang Zayn katakan kepadanya. Hingga Zayn menepuk pundak wanita itu barulah Vita tersadar.
"Ya, kenapa Zayn?" tanya Vita.
"Apa Ibu sedang sakit?" tanya Zayn balik, di sentuhnya kening itu namun tidak terasa hangat.
"Apa Ibu punya masalah? Ibu terlihat seperti nggak bahagia seperti ini." kata Zayn, lalu memeluk Ibunya.
"Ibu nggak kenapa-kenapa, Sayang." ujar Vita berbohong.
__ADS_1
"Zayn hanya ingin melihat kedua Ibuku bahagia." ungkap Zayn membuat Vita terlihat sendu.
Devita mengunjungi Zayn setelah mengetahui kabar tentang pemecatan Ismail. Melihat Ismail yang tidak ingin bertemu siapapun membuat wanita itu menjadi bingung. Antara salah berharap untuk memulai hidup baru tanpa harta dari Zaskia, ataukah merasa kecewa pada Zaskia yang mulai melancarkan aksinya tanpa membertahu dirinya terlebih dahulu.
Devita pun memeluk Zayn, lalu dirinya berpamitan untuk pulang. Bukan benar-benar pulang tetapi Devita hendak bertemu Zaskia saat ini. Devita pun meminta Zaskia untuk menemuinya di taman.
Setelah menunggu beberapa puluh menit, wanita yang di tunggu pun datang. Kia masih mengenakan pakaian formal yang dia gunakan bekerja tadi.
"Ada apa mencariku?" tanya Kia tanpa basa-basi.
"Kenapa kamu lakukan itu kepada Ismail? Dia masih suamimu, Kia." tanya Devita.
"Lalu kenapa? Sebentar lagi kami akan resmi bercerai." balas Zaskia.
"Kenapa kamu semudah itu membahas perkara cerai?" tanya Vita yang tidak habis pikir dengan pemikiran Zaskia.
"Apa kamu nggak ingat, bagaimana mudahnya Ismail menyebarkan kata-kata cerai di sosial media." ujar Kia tak mau kalah.
"Aku hanya memberi tahu, jangan salah paham terhadapku." Devita menunduk.
"Aku nggak salah paham, tapi aku merasa sifatmu sama seperti Ibumu, serakah!" ujar Kia dengan nada tegas.
"Aku nggak seperti yang kamu pikirkan, Kia!" Vita mencoba membela diri.
"Oh, ya? Lalu kenapa sekarang kamu marah kalau aku ingin menceraikan Ismail. Aku akan menikah dengan Rey, jadi aku harus menceraikan Ismail terlebih dahulu." ungkap Kia.
"Apa? Tapi-"
"Sudah, Vita. Di antara kita sebenarnya nggak ada yang perlu di bahas. Sekarang aku yang akan merawat dan menjaga Zayn, karena kalian nggak akan bisa menjaganya dalam waktu dekat sebelum suami kamu itu mendapatkan pekerjaan yang layak."
"Oh iya, aku lupa bilang. Pemecatan Ismail, sepaket denganmu. Itu artinya, kamu sudah nggak berhak berada di perusahaan itu lagi." tegas Kia berucap.
__ADS_1
"Last, Ingat semua perbuatan selalu ada karma yang berlaku. Aku hanya memberikanmu karma yang tidak begitu buruk seperti apa yang kalian lakukan terhadapku. Ingatlah kebaikanku ini." Kia berbalik dan meninggalkan Vita begitu saja.
Vita pulang ke rumah dalam keadaan bingung, apa yang di cetuskan Kia sepertinya benar. Vita bertanya-tanya kalau dirinya harus hidup bagaimana jika tanpa harta dan tempat tinggal?
Dia pun membuka pintu kamar yang sudah tidak di kunci suaminya. Di lihat suaminya sedang berdiam diri di sudut kamar. Vita pun menghampirinya.
"Bagaimana kalau kita cerai saja." ujar Vita enteng.
Bak di sambar petir Ismail mendengar itu. Dia yang tadinya sedang berpikir pekerjaan apa yang cocok untuknya demi menghidupi sang istri, kini buyar begitu saja saat Vita melayangkan kata cerai.
Ismail berdiri dan memukul keras dinding kamarnya. Bersamaan darah yang mengucur dari kepalan tangannya, air mata itu juga luruh tanpa perintah.
"Kamu gila, Vita! Bertahun-tahun aku hidup dalam hinaan keluarga kalian, mati-matian aku mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan hidup kalian. Bahkan aku rela melakukan hal gila untuk memenuhi permintaan keluarga kalian, dan sekarang ini balasannya?" Ismail memukul dada karena merasa sesak.
"Tidakkah kamu merasakan kasih sayang yang aku berikan selama ini, atau rasa kasihan sedikit saja untuk aku?" tanya Ismail lagi dengan isak tangis yang semakin menjadi-jadi.
"Kamu juga dengar sendiri, kan. Bagaimana aku di sebut-sebut penjahat oleh orang lain. Itu semua karena apa? Karena aku cinta mati sama kamu!" bentak Ismail hingga Vita terkejut bukan main.
"Ternyata selama ini aku cuma menjadi kambing hitam yang di gunakan demi harta yang akan menjadi milik kalian. Karena kalian tau, cuma aku yang bisa menjadi perantara untuk bisa merebut harta milik Kia. Begitu kan?" tanya Ismail dengan tertawa bodoh.
"Ternyata seburuk apapun diriku saat ini, kamu dan Ibumu tidak lebih dari sepasang iblis yang menjelma menjadi manusia." sarkas Ismail menatap sengit ke arah istrinya itu.
"Baiklah, aku penuhi permintaanmu. Mulai saat ini, aku menjatuhkan talak untukmu!" ujar Ismail menarik tangan Vita keluar dari kamar itu.
Vita pun terbodoh saat mendengar seluruh ungkapan yang keluar dari lubuk hati Ismail. Dia menjadi sedikit tersadar saat kata talak sudah terucap dari mulut Ismail.
"Mail, aku minta maaf. Aku nggak bersungguh-sungguh meminta cerai." ujarnya berontak saat Ismail terus menarik dirinya turun menyusuri tangga.
"Apa kamu pikir meminta cerai itu hal enteng? Kamu nggak tahu kalau saat kita mengucap kata cerai sementara itu langit sudah mendengarnya!" ujar Ismail dengan kesal namun air matanya terus mengalir, dia pun menarik Vita hingga keluar dari rumah itu.
"Barangmu akan aku kemas dan akan aku kirimkan ke rumah lama. Terima kasih atas segalanya." ujar Ismail lagi sebelum menutup pintu.
__ADS_1
Ismail terduduk di belakang pintu, air matanya mengucur deras tanpa bisa terbendung. Dirinya kini menyesal karena pernah melakukan kejahatan terhadap Zaskia, istri yang menerima apapun keadaannya saat itu.