Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 61


__ADS_3

"Hallo, Hakim!" teriak Wati dalam telepon membuat Hakim sedikit meringis mendengar suara itu yang seakan ingin membuatnya tuli.


"Ada apa Ibu Wati?" tanya Hakim setelah mengelus dada meredakan sedikit amarahnya.


"Aku sudah melakukan apa yang kamu minta, aku kembali ke rumah ini dan bersikap baik. Lalu bagaimana kelanjutannya?" tanya Wati yang sudah tidak sabar.


"Tenang, aku sudah mendapatkan apa yang kita inginkan." sahut Hakim. Wati pun membuka mata dan mulutnya karena terkejut sementara hati berteriak hore.


"Maksudmu?" tanya Wati karena ingin mendengar lebih rinci lagi.


"Aku sudah mendapatkan tanda tangan Ismail tentang perubahan nama pemilik rumah dan lainnya. Yang sekarang otomatis saham juga jatuh ke tangan Ibu Wati." jelas Hakim hingga Wati menjadi kegirangan.


"Kapan kamu mendapatkan tanda tangan itu?"


"Aku menyerahkan sebuah berkas kepada Riska, lalu menyuruhnya untuk meminta tanda tangan Ismail. Aku bilang kalau ini urusan pengadilan, dan harus secepatnya di lakukan. Entah bagaimana caranya, Riska datang sudah terbubuhkan tanda tangan di sana." jelas Hakim.


"Be-benarkah itu Hakim?" tanya Wati lagi untuk memastikan.


"Benar, Bu Wati. Anda sudah bisa menjadi CEO di sana. Kita tinggal mengadakan rapat pergantian pemimpin dan setelah semua itu selesai, Anda yang akan mengatur perusahaan." ujar Hakim dengan mantap.


"Alhamdulillah, inilah saat-saat yang aku nantikan. Nggak sia-sia kita bekerja sama, Hakim. Tenang, aku akan menjadikanmu sebagai Wakilku." ucap Wati dengan mata yang berbinar.


"Jadi, kapan kita bisa ke perusahaan untuk mulai memperkenalkan diri sebagai pejabat tinggi di sana?" tanya Wati yang sudah tidak sabaran.


"Terserah pada Ibu Wati, kapanpun anda mau." jawab Hakim.


Wati tersenyum dan sebentar-sebentar dirinya akan tertawa. Begitu bahagia nya dirinya itu karena akan menjadi seorang pejabat tinggi di sebuah perusahaan.


"Bagus, Hakim. Nggak sia-sia aku merawatmu dari kecil secara diam-diam. Sekarang tinggalkan formalitas, Ibu tau kamu memang anakku yang paling cerdas dan sudah saatnya kamu merasakan kebahagiaan, karena aku sayang kepadamu." ungkap Wati dengan setitik air mata.

__ADS_1


"Baik, Bu." Hakim tersenyum kecut.


Setelah panggilan terputus, Wati pun segera bersiap dengan pakaian glamornya, tak lupa wajahnya di dandani ala-ala pejabat tinggi. Tangan, leher dan telinga dia hiasi dengan emas yang beratnya bergram-gram.


***


Faisal pun menghentikan aktivitas nya lalu menelepon seseorang yang sangat penting karena pernah ikut andil dalam mengemban beban berat perusahaan dan membuatnya berkembang pesat.


Sebagai pemegang saham terbesar di perusahaan itu, dirinya tidak ingin perusahaan itu bangkrut hanya karena ulah seseorang yang kurang bertanggung jawab.


Faisal pun meminta orang itu untuk bertemu di sebuah rumah makan, kebetulan saat ini sudah waktunya makan siang. Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya orang yang di tunggu-tunggu pun datang.


"Assalamualaikum, Paman. Maaf sudah membuatmu menunggu lama." ujarnya sopan dan mulai duduk di kursi dengan saling berhadapan.


"Nggak apa-apa, Kia. Apa kabarmu?" tanya Faisal kepada keponakannya itu.


"Alhamdulillah baik, Paman sendiri bagaimana?" Kia balik bertanya.


Setelah selesai memesan makanan, mereka berbincang sebentar untuk menunggu makanan datang.


"Apa kegiatanmu sekarang?" tanya Faisal.


"Pengangguran, Paman. Sudah akan menjadi janda, pengangguran pula. Miris sekali hidup ku ini." ujar Kia tersenyum pedar.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Faisal yang memang tidak begitu mengetahui kebenaran. Saking sibuknya dia hanya mendengarkan gosip dari karyawan di sana tapi tidak bisa bertanya langsung kepada Zaskia. Kini saatnya yang tepat untuk menjawab rasa penasaran yang bersumber langsung dari orang yang bersangkutan.


Kia pun mulai menceritakan tentang hubungan dirinya, Ismail dan juga Devita. Hubungan poligami yang tanpa sepengetahuannya itu memaksa dirinya harus mengalah kepada anak hingga harta dan tahta.


"Jadi seperti itu lah ceritanya, Paman." ujar Kia setelah menceritakan kisah hidup yang sudah dia jalani.

__ADS_1


"Sepertinya terakhir kita bertemu itu di kantor saat rapat dadakan dan aku nggak tahu soal proyek yang di ajukan oleh Ismail." tambah Kia mengingat-ingat saat itu.


"Setelah hari itu, semuanya mulai berubah seratus delapan puluh derajat. Aku kehilangan rumah, suami dan juga perusahaan. Tapi bagian yang paling buruk adalah aku harus merelakan anakku juga untuk mereka." jelas Kia dengan mata yang berkaca-kaca. Melihat wajah Paman yang mirip wajah Sang Ayah, kali ini dia merindukan sosok ayahnya yang selalu ada untuknya.


Faisal sesekali menggeleng dan menghela nafasnya panjang mendengar kisah hidup keponakannya yang berliku-liku itu.


"Sebenarnya Paman sudah mendengar sekilas dari karyawan yang suka bergosip, tapi Paman nggak menyangka kalau kenyataannya lebih buruk dari gosip itu. Karena Paman kira kamu sendiri yang mengundurkan diri dari perusahaan." ungkap Faisal.


Kia pun menggelengkan kepala dan tertawa, "Aku bukan orang yang semaunya keluar masuk perusahaan, apalagi perusahaan ini di bangun ayah mulai dari nol. Selama aku bekerja, aku paham bagaimana susahnya membangun perusahaan." ungkap Kia.


"Apalagi Ayah sudah mengamanahkan perusahaan ini untuk ku jaga sebaik-baiknya. Banyak rakyat yang bekerja di sini demi melangsungkan hidup. Aku nggak akan menyerahkannya begitu saja kepada orang lain walau suamiku sendiri. Aku tegas bukan berarti menyiksa, tetapi ini demi orang banyak. Kalau aku mengalah dan melunak saja dengan satu orang, apa aku harus mengorbankan orang banyak demi satu orang ini?" jelas Kia. Faisal menggangguk paham dengan pola pikir keponakannya itu.


"Sekarang Paman lihat sendiri, apa yang terjadi pada perusahaan setelah aku tergantikan?" tanya Kia lagi.


"Ya, begitulah. Kamu baru meninggalkan perusahaan sebentar saja, tapi keruntuhan mulai terlihat." ujar Faisal menghela nafas panjang.


"Jadi bagaimana, apa kamu sudah membicarakan hal ini dengan pengacaramu?" tanya Faisal kemudian.


"Aku berencana merebut kembali perusahaan. Tapi sayang, aku nggak memiliki apa-apa. Sekarang aku menjadi pesimis." ujar Kia sendu.


"Aku pernah lalai dan bodoh karena sibuk, aku percaya begitu saja pada semua orang yang menginginkan tanda tanganku. Aku berikan begitu saja tanpa membacanya dengan teliti terlebih dahulu." ujar Kia lagi.


"Sepertinya aku harus mencari bukti untuk membuat mereka nggak bisa berkutik." kata Faisal mulai berpikir.


"Sebenarnya aku punya banyak bukti, Paman. Tapi aku nggak mau bersikap kejam kepada orang di sekitar ku." sahut Kia membuat kening Faisal berkerut .


"Maksudmu kamu ingin membebaskan mereka begitu saja?" tanya Faisal sedikit kesal.


"Ya, aku nggak mau menyeret beberapa orang yang terlibat tapi sebenarnya mereka di jebak." kata Kia membuat Faisal menjadi bingung.

__ADS_1


"Maksudmu bagaimana?" tanya Faisal lagi.


"Sebenarnya dalang dari semua ini adalah Wati, Ibunya Devita." sahut Kia.


__ADS_2