Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 66


__ADS_3

Berkat bantuan teman-temannya, Hakim mendapatkan alamat maupun nomor telepon milik Faisal.


Dengan mengirimkan kata-kata ancaman, Faisal mendatangi sebuah cafe yang saat ini sudah ada Wati dan Hakim di sana.


"Ada apa kamu mencariku, wanita licik?" tanya Faisal yang sebelumnya sudah mengenal baik mantan pacar mendiang kakaknya.


"Jangan mengataiku licik, kurang ajar sekali mulutmu!" pekik Wati yang tidak terima di juluki seperti itu.


"Kamu memang licik, aku tahu kelakuan busukmu yang dari dulu tidak pernah berubah. Aku pernah bungkam, tapi setelah ini aku nggak akan diam saja melihatmu melakukan kejahatan lagi." ancam Faisal.


"Oh ya? Apa kamu nggak takut kalau pertemuan kita tersebar, kamu akan di curigai karena sudah bersekongkol denganku." Wati melancarkan serangan ancaman balik.


"Lalu, apa maumu?" tanya Faisal pura-pura mengalah.


"Aku mau, kamu membatalkan penyerahan saham kepada Zaskia! Jika tidak, aku akan membuat pernyataan yang tidak-tidak tentangmu." titahnya.


"Bukan hanya itu, aku bisa membuat hidupmu berakhir, persis seperti iparmu itu. Mudah bagiku untuk menyingkirkan kalian yang menghalangi jalanku!" ungkapnya dengan jelas.


Ya, Wati lah yang membuat Ibu dari Zaskia itu meninggal secara mengenaskan. Wati menyuruh orang lain untuk membuat Ibu Zaskia meninggal secara alami, dengan menyuruh anak buahnya merusak kendaraan yang di gunakan oleh Ibu Zaskia.


"Baiklah, aku akan membatalkannya. Sudah puas?" tanya Faisal dengan malas.


Wati pun tersenyum, sebenarnya belum begitu puas. Dia hendak meminta saham milik Faisal juga tetapi Hakim menahannya. Dirinya tidak ingin berbuat lebih jauh dari ini.


Tanpa mereka sadari, Riska yang memang di tugaskan untuk mengikuti Faisal pun merekam semua kejadian tersebut.


***


Pagi ini Zaskia membuka sebuah laci yang belum sempat dia buka. Dia pun berinisiatif membuka lalu mendapati sebuah surat perceraian yang belum sempat dirinya tandatangani.


Di pandangi kertas tersebut, Bukankah ini yang selalu Ismail minta darinya. Dengan hati-hati Kia membubuhkan tanda tangan di atasnya. Wanita itu berharap ini adalah awal baru untuk membuka lembaran baru di hidupnya.


Usai membubuhkan tanda tangan. Kia meletakkan kembali kertas tersebut, dia sendiri yang akan mengantarkannya kepada Ismail.

__ADS_1


Tiba-tiba kegaduhan kembali terjadi di sana. Siapa lagi kalau bukan Wati dan anaknya, Hakim, sang pengacara itu datang memasuki Perusahaan tanpa permisi.


Kia mencoba sopan dan menyambut kedatangan wanita itu. "Silahkan duduk Ibu Wati, mau kopi, teh atau susu?" tanya Kia dengan tersenyum.


"Tak perlu repot-repot, aku hanya nggak butuh perlakuan baik darimu." ujar Wati ketus.


"Oh, jadi ada keperluan apa, Bu Wati? Hingga merepotkan anda jauh-jauh datang kemari mencariku." sahut Kia dengan tenang.


"Apakah Ismail belum tau mengenai saham dan rumah yang sekarang menjadi milikku?" tanya Wati dengan angkuh.


"Eh, licik juga Ibu Wati sampai saham dan rumau pin jatuh ke tangan anda." ledek Kia dengan masih tersenyum.


"Sekarang ini, aku mau memberitahukan kalau aku yang akan menjadi CEO di perusahaan ini." ujar Wati dengan tegas.


Kia membuang nafas kasar. Sungguh, masalah yang datang selalu dari mereka saja. Tak ada habisnya untuk membuat kegaduhan.


"Apa Ismail nggak pernah bilang kalau Pak Faisal yang mempunyai saham terbesar di sini. Beliau lah yang andil dalam pemilihan pejabat di perusahaan ini." Kia menjelaskan.


"Jangan merasa senang dulu, Faisal sudah bilang kepada kami untuk membatalkan pemberian sahamnya untukmu." sanggah Hakim dengan tersenyum remeh.


"Oh, ya? Kenapa Pamanku nggak mengonfirmasikan apapun kepadaku?" tanya Kia dengan ekspresi santai.


"Mungkin dia lupa, atau nggak tahu bagaimana menjelaskannya kepadamu. Coba sekarang kamu tanyakan kepada Faisal langsung." titah Wati tanpa rasa malu.


"Sebelum aku bertanya, aku mau bertanya kepadamu dulu. Apa anda sebelumnya tadi sudah mengancam pamanku?" tanya Kia lagi.


Wati menjadi tegang, pasalnya tidak ada siapapun yang tahu tentang ancaman tersebut selain Hakim. Dirinya pun melirik ke arah Hakim, sedangkan Hakim mengangkat bahunya karena tidak tahu apapun.


"Dengar! Aku sudah di tunjuk oleh Faisal untuk menggantikanmu!" titah Wati lagi.


Dengan entengnya, Zaskia menyalakan layar yang ada di ruang rapat sebelah. Suara speaker yang sangat nyaring membuat semua orang mendengar apa yang Wati ucapkan saat mengancam Faisal.


Wati menjadi gelagapan, begitu juga dengan Hakim yang merasa riwayatnya akan tamat di tangan Ibunya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa kaget begitu? Apa kalian lupa kalau ini wajah asli kalian?" tanya Kia dengan sedikit tertawa.


"Oh, pasti kalian kaget kan karena terjebak dalam permainan kalian sendiri." ledek Kia lagi.


"Sayang sekali, kamu salah mencari lawan mainmu wahai Ibu Wati yang terhormat! Lain kali, kalau mencari lawan main, ajaklah Ismail. Hanya dia yang bisa mengalah demi dirimu." ujar Kia tertawa.


"Riska, apa polisi sudah di depan?" teriak Kia.


Hakim dan Wati semakin tidak bisa berkutik. Namun Wati masih mencoba untuk berontak.


"Hei jangan main-main kamu denganku. Aku bisa membuatmu celaka seperti Ibumu!" ancam Wati membuat Kia malah tertawa.


"Justru ini yang mau aku dengar. Kejujuranmu yang akan membuat masa penahananmu di penjara semakin lama. Berdoa saja, semoga ancaman penahananmu di sana bukanlah seumur hidup." balas Kia dengan tegas.


"Kamu nggak bisa mengancamku, kamu akan ikut ku seret dalam penjara. Aku bisa saja memanipulasi bukti menjadi kamu lah yang bersalah!" Wati masih berontak.


"Silahkan saja! Pak Polisi, tangkap mereka berdua!" titah Zaskia.


"Baik, Bu Kia. Terima kasih atas kerja samanya dalam menegakkan keadilan." ujar Polisi sambil memborgol tangan tersangka kejahatan tersebut.


"Bukti sudah di serahkan oleh sekretaris saya, ya. Tolong hukum mereka dengan setimpal." kata Kia memohon.


"Baik, kalau begitu kami permisi dulu, Bu Kia." ujar Polisi tersebut menarik paksa para pelaku.


"Silahkan, Pak. Hati-hati, jangan sampai lepas." celetuk Kia.


"Wanita kurang ajar, lihat saja nanti. Aku akan membalasmu!" teriak Wati yang terus saja memberontak.


"Huftt, akhirnya benalu terakhir sudah tersingkirkan. Semoga setelah ini hidupku akan aman dan damai tanpa gangguan." lirih Kia berkata dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Kia pun mendatangi Riska dan memeluknya erat. "Terima kasih sudah membantu ku. Aku yakin setelah ini Almarhumah Ibuku akan tenang di alam sana." ujar Kia kini menangis haru dengan perjuangan Riska yang rela mengumpulkan bukti untuknya.


Semua orang di sana pun bertepuk tangan, mengingat Zaskia yang sudah lepas dari berbagai masalah. Mereka semua tersenyum, ternyata seorang wanita yang memimpinnya saat ini mempunyai Kisah Tak Sempurna, berbeda dengan bayangan mereka di awal masuk bekerja untuknya.

__ADS_1


__ADS_2