Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 11


__ADS_3

Bukan ujiannya yang terlalu berat, tapi kita yang bersikap terlalu jauh hingga tidak ada lagi tempat untuk bersandar.


***


"Kamu mau nggak, jadi pacar aku?" tanya Kia dengan perasaan gugup.


"Maaf, Kia. Aku nggak bisa menjalin hubungan sama kamu karena ku sudah menyukai orang lain." tolak Ismail dengan halus.


Setelah beberapa menit berlalu, Vita kembali dari toilet dengan wajah segar menghampiri dua orang yang dia anggap sudah mengalami kemajuan.


"Sorry, Guys kelamaan di belakang." ujarnya dengan tersenyum.


"Nggak apa-apa kok, Vita. Oh iya, Reyhan nggak ikut ke sini?" tanya Ismail basa-basi tanpa mengalihkan pandangannya kini menatap mata Vita dalam.


"Enggak, biasalah dia harus kerja juga 'kan, kalau nggak gitu gimana dia bisa bayar kuliahnya." jelas Vita kemudian kembali menyesap minuman favoritnya.


Kia memperhatikan interaksi keduanya, terlihat jelas bagaimana tatapan Ismail terhadap Vita. Kia pun memutuskan untuk pulang karena tak tahan dengan situasi yang di alaminya. Malu, sakit hati dan kecewa bercampur menjadi satu. Kebetulan juga waktu sudah mengharuskannya untuk kembali pulang.


"Guys! Karena waktu udah makin malam, mending kita pulang sekarang. Takut di cari sama Ayah." kata Kia lalu berdiri sambil menenteng tas kecil yang di pakainya.


Tanpa berpamitan kepada Ismail, Kia langsung berlalu begitu saja hingga membuat sebuah kerutan di dahi sahabatnya. Vita pamit kepada Ismail dan menyampaikam permintaan maaf kemudian segera mengejar Kia yang sudah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.


"Kamu kenapa, Kia? Kok keliatannya nggak semangat gitu, padahal udah ketemuan 'loh sama Ismail?" tanya Vita saat sudah berada dalam mobil.


"Dia nolak aku." sahut Kia dengan mata yang mulai tergenang.


"Kok bisa? Kamu nyatain perasaan ke dia?" Vita terkejut.


"Iya dan dia bilang bahwa dia sudah suka sama orang lain. Aku malu banget, Vit. Kalau tau begini aku nggak mau ketemuan sama dia, sampai nyatain perasaan segala. Bodoh banget aku, Vit." rutuk Kia kepada dirinya sendiri.


"Sudah, sabar ya, Kia. Lupakan tentang ini. Besok kita buka lembaran baru lagi. Fokus sama study kita dulu! Urusan percintaan belakangan." Vita memeluk sambil mengusap punggung Kia.


"Belakangan katamu? Bukannya kamu pacaran dengan Reyhan?" tanya Kia tak terima langsung meleraikan pelukan mereka.


"Hahaha, iyaa lagian 'kan aku sama Reyhan jarang bertemu. Dan hubungan kami nggak pernah mengganggu urusan pendidikan kita, Kia. Jadi, dimana salahku?" ledek Vita hingga Kia mencubit pelan wajah Vita.

__ADS_1


"Kamu curang!" Kia mendengus kesal namun akhirnya tersenyum saat Vita memainkan alis guna menggoda sahabatnya itu.


"Baik, sekarang kita fokus untuk kuliah. Di larang membahas masalah percintaan di antara kita! Lagian sekarang kita sudah semester akhir." titah Kia.


"Siap, Bu Bos!" Vita menjejerkan deretan jarinya ke samping dahi tanda hormat. Lalu kemudian mereka tertawa bersama.


Beberapa bulan kemudian setelah menjalani kerasnya masalah skripsi, akhirnya mereka berhasil dan mendapatkan hasil yang di inginkan.


Kia dan Vita ingin merayakan keberhasilan lolosnya sidang akhir hanya berdua di cafe biasa dan juga merupakan tempat yang mana Kia mendapat penolakan dari Ismail.


Setelah memesan, Kia meminta ijin untuk belakang. Ingin membuang hadas, katanya. Tak lama kemudian, Kia kembali dengan sebuah kue berhiaskan lilin menyala di atasnya.


"Happy birthday to You ... Happy birthday to You .. Happy birthday to Vita." Kia menyanyikan lagu selamat ulang tahun sedangkan Vita menutup wajahnya yang basah karrna air mata terharu.


"Make a wish, Vita. And Happy birthday for my best friend forever." titah Kia, Vita pun memejamkan mata sambil mengucap sepatah doa dalam diam lalu meniup lilin itu.


"Thank You for everything, Kia." Vita memeluk Kia setelah menaruh kue tersebut di atas meja.


Posisi mereka yang masih berpelukan tiba-tiba harus terlerai karena ada seseorang yang datang membawa buket bunga beserta sebuah balon berbentuk love.


"Terima kasih, Ismail. Kok kamu bisa tau aku hari ini ulang tahun?" tanya Vita dengan heran.


"Ya, karena aku memang tau segala tentangmu." sahut Ismail tersenyum. Kia yang melihat itu pun mundur beberapa langkah, membiarkan mereka berbicara dengan bebas.


"Aku masih punya sesuatu untuk kamu." Ismail merogoh kantung pada sakunya, mengeluarkan sebuah kotak kecil lalu membukanya di hadapan Vita.


"Maukah kamu menikah denganku, Vita?" Vita dan Kia terkejut mendengar permintaan yang di utarakan oleh lelaki di hadapannya.


"Apa kamu gila? Aku sudah bersama Reyhan dan aku mencintainya. Bukankah Reyhan itu sahabatmu, kenapa kamu berani menusuknya dari belakang?" gertak Vita sambil menunjuk-nunjuk wajah Ismail.


"Bukankah sebelum janur kuning melengkung, semua orang berhak untuk mengejarmu?" celetuk Ismail dengan mudahnya tanpa merasa bersalah.


"Dasar gila! Aku harap berita ini jangan sampai terdengar di telinga Reyhan. Aku harap ini terakhir kalinya kita bertemu! Ayo kita pergi, Kia!" Vita menarik kasar tangan Kia agar cepat meninggalkan Ismail.


Setelah kejadian itu, Vita menjauhi Ismail. Kia pun seperti enggan bertemu Vita. Namum karena kegigihan Vita yang membujuk, menjelaskan dan memberi bukti akurat bahwa mereka memang tidak memiliki hubungan, akhirnya Kia luluh dan bersahabat baik seperti biasa.

__ADS_1


*Flashback off


***


"Aku tau, aku bukan cinta pertamanya. Aku juga sadar diri sekarang. Mungkin dia menerimaku setelah kamu menolaknya." gumam Kia pelan.


"Kia, bukannya kita sudah pernah membicarakan hal ini untuk jangan ada yang mengungkit masalah ini lagi. Ismail itu suamimu, Kia." sanggah Vita dengan tegas.


"Itu dulu, Vita. Sekarang bukan, dia sudah menggugat cerai untukku 'kan? Beberapa waktu ini aku pikir dia cuma menakut-nakutiku. Tapi sekarang aku yakin setelah membaca caption postingannya berkali-kali. Dia serius, karena sudah lelah menjalani hidup bersamaku." ujar Kia dengan suara bergetar, matanya kembali menampakkan genangan bening.


"Tenang, Kia. Aku harus bagaimana agar kamu bisa kembali menjadi Zaskia yang aku kenal kuat dan tak mudah menyerah?" Vita kembali memeluk tubuh sahabatnya itu. Menepuk pelan punggung Kia guna memenangkan hatinya.


"Apa kamu mau membantuku?" tanya Kia sambil meleraikan pelukan mereka.


"Apa yang bisa aku bantu?"


"Apa kamu mau membujuk Ismail untuk membatalkan perceraian ini? Aku mohon, cuma kamu yang bisa membantuku, Vita?" pinta Kia dengan tangis yang sudah tak bisa terbendung lagi.


"Baik, aku akan membantumu. Nanti akan aku coba menghubunginya."


"Terima kasih, Vita." Kia tersenyum dengan tetesan air mata yang masih menghujani pipi.


"Tapi sebelumnya, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." ucap Vita dengan ragu.


"Tentang apa? Apakah tentang Ismail yang nggak aku ketahui?" tanya Kia menatap Vita dengan wajah sedih.


Vita menghela berat nafasnya. Haruskah dirinya mengatakan sesuatu yang menurutnya bersifat pribadi. Ataukah membiarkan dirinya mengubur dalam masalah ini.


"Jawab, Vita. Apakah ini tentang Ismail?" tanya Kia sekali lagi setelah melihat Vita yang hanya terdiam.


"Ehm. Sebenarnya ... "


Tok ... Tok ... Tok ... Mulut Vita berhenti bicara setelah mendengar ketukan di balik pintu kamar Kia.


"Bu Kia, ini makanan sudah saya siapkan!" Teriak Mbak Asih dari luar sana.

__ADS_1


__ADS_2