Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 7


__ADS_3

Seperti satu bait lirik dalam sebuah lagu, dia yang pertama membuatku Cinta, dia juga yang pertama membuatku kecewa.


***


Ismail berdiri di balkon kamarnya, menatap bintang yang banyak bertaburan di langit gelap. Sesekali menghembuskan nafas dengan berat. Matanya enggan menutup padahal dia sudah sangat lelah. Tak lama kemudian, Kia datang menghampiri setelah mengetahui sisi ranjang yang tidak terdapat suaminya.


"Mail, can we talk?" kata Kia dengan lembut memegang bahu suaminya.


"Hmmm." Ismail berdehem tanda setuju.  Mereka pun kembali dan duduk di tepian ranjang.


"Ada apa?" Ismail membuka bicara.


"I'm sorry. I know, I did you wrong. Seharusnya aku berkata lembut padamu, dan menyelesaikannya di rumah bukan di hadapan pegawai kita. Aku sudah membuatmu malu beberapa hari yang lalu. Maaf karena baru sekarang aku minta maaf padamu karena aku yang terlalu sibuk."jelas Kia sambil menunduk.


Hah! Kia menghembus nafas untuk ke sekian kalinya saat Ismail hanya menjadi seorang pendengar karena tidak menjawab sepatah kata pun.


"Tapi, kamu harusnya paham 'kan, kenapa aku bisa marah? Apapun yang kamu lakukan harusnya minta persetujuan terlebih dulu padaku." dalih Kia. Ismail pun mendecih pelan lalu tertawa, menertawakan dirinya yang selalu di anggap remeh oleh istrinya.


"Sudahlah, kita sebaiknya memang nggak perlu bicara. Mau bagaimanapun aku bersikap, selalu salah di matamu. Mau sebagai suami bahkan sebagai partner bisnismu." gerutu Ismail dengan tangan mengepal menahan marah.


"Sudah cukup lama aku bersabar, berharap suatu saat kamu berubah. Namun apa yang terjadi? Kamu selalu sama. Pernah dalam hatiku bertanya-tanya, siapa aku sebenarnya di matamu? Apa hanya sebagai penumpang di kehidupan mu?" tanya Ismail sembari menatap ke arah jendela, bukan ke arah Kia.


"Apa kamu menyalahkanku? Aku mana pernah berpikiran seperti itu." Kia menatap Ismail tidak suka sambil melipat kedua tangannya di da da.


"Tapi itu yang kamu lakukan padaku, Kia!" geram Ismail.


"Sejak awal kita menikah, kamu selalu membuatku merasa di anggap sebagai parasit dalam hidupmu. Entah kamu sadar atau tidak. Kamu bawa sikap kepemimpinanmu dalam rumah tangga kita. Semuanya aku turuti sesuai semua inginmu. Semua saran atau nasehatku kamu abaikan, membuat aku sadar posisiku dalam rumah ini. Aku sudah lelah hidup bersamamu, Kia." Ismail akhirnya mengeluarkan segala belenggu di hatinya.


"Apa maksudmu?" Kia mengerutkan kening mendengar kata di akhir ungkapan hati Ismail.


"Kia, aku sudah memikirkannya baik-baik. Aku ingin kita berpisah, mungkin ini cara yang terbaik untuk kita berdua." ujar Ismail dengan yakin, tidak ada keraguan dalam matanya. Seperti memang sudah lama di pikirkan dengan matang.


Kia terdiam, hingga tubuhnya tersungkur ke lantai karena terasa lemah tak berdaya. Sementara Ismail langsung pergi keluar kamar meninggalkan Kia yang mulai menangis.

__ADS_1


Semudah itu kah bagi laki-laki mengucapkan kata cerai pada wanita yang sudah menemaninya beberapa tahun lamanya? Batin Kia.


"Kamu bercanda kan, Mail!" berang Kia sambil menghambur semua isi meja riasnya hingga benda tersebut jatuh tak beraturan. Kia semakin menangis menjadi-jadi dan rambut panjang itu di jambaknya  sendiri.


"Kamu pasti akan pulang, Mail. Kamu nggak akan kuat pisah sama aku." Kia terus bermonolog sendiri meyakinkan diri agar rasa hatinya tidak begitu sakit. Hingga tak terasa matahari sudah menebarkan sinarnya ke berbagai penjuru sementara Kia belum memejamkan mata sedetikpun.


Tok.. Tokk..


Kia akhirnya tersadar dari sesi perenungan dari semalam ketika mendengar suara pintu kamarnya di ketuk. Kia yakin, itu pasti Ismail.


Kia segera beranjak dari ranjang lalu membuka pintu.


"Mail, kamu pulang ... " kata-kata Kia tertahan saat melihat malaikat kecil di hadapannya,  ternyata Zayn yang mengetuk pintu pagi ini. Jika biasanya Kia yang membangunkannya,  tapi kini berbeda, bahkan Kia saja tidak ingat jika hari ini dirinya harus pergi bekerja.


"Pagi, Mama." Zayn tersenyum dengan penampilan yang sudah rapi menggunakan seragam putih merah melekat di tubuhnya.


"Pagi, Sayang." suara serak Kia membuat Zayn heran. Di tariknya bahu Kia agar menunduk mensejajarkan tinggi mereka. .


"Mama sakit kah makanya nggak siap-siap berangkat kerja?" Zayn menyentuh kening Kia menggunakan punggung tangannya.


"Papa dimana, Ma? Apa Papa berangkat kerja pagi-pagi lagi?" tanya Zayn karena tidak melihat Ismail pagi ini.


"Hah! Ya, Papamu itu sibuk sekali, Sayang. Ya, sudah kamu sarapan sana. Takut nanti terlambat sekolah nya. Mama mau mandi dulu sebentar." Kia menuntun Zayn untuk turun. Zayn pun menurut dengan patuh. Kia sekilas membayangkan, bagaimana kelak jika Zayn mengetahui apa yang terjadi di antara dia dan suaminya.


Di ruang makan, Mbak Asih sudah memasak menu sarapan pagi kesukaan Zayn yaitu Nasi goreng dengan tambahan telur dadar di atasnya. Zayn pun makan dengan lahapnya kemudian di tutup dengan segelas susu hangat.


Sampai selesai makan, Kia belum juga menampakkan batang hidungnya. Zayn pun merasa seperti ada yang tidak beres. Ini pertama kalinya Kia melakukan hal itu. Karena Kia bukan orang yang gampang sakit, apalagi setelah memegang kening mamanya, Zayn merasa kalau Kia kesehatannya baik-baik saja.


"Ada apa, Prince? Kok tumben nggak semangat gitu?" tanya Mbak Asih sambil merapikan meja makan dan mengambil piring kotor milik Zayn.


"Mama, padahal nggak sakit. Tapi seperti orang sakit, Mbak." sahut Zayn dengan lesu. Tak lama kemudian Kia turun dan langsung ikut bergabung dengan mereka. Mbak Asih pun langsung memberikan roti yang sudah di beri selai seperti biasa. Kia tak memakannya dan malah melamun.


"Ibu Kia baik-baik aja? Atau lagi nggak enak badan?" tanya Mbak Asih dan memperhatikan wajah cantik itu dengan baik. Terlihat raut wajahnya yang lelah.

__ADS_1


"Baik kok, Mbak. Cuma kecapean aja nih." sahut Kia dengan senyum terpaksa.


Setelah itu, Zayn di jemput oleh Devita dan segera berangkat ke sekolah. Sementara Kia juga langsung berangkat menuju perusahaannya.


***


Kondisi di perusahaan sedang riuh. Semua karyawan dengan tangan bekerja sementara mulut mereka tengah bergosip.


"Kamu liat nggak postingan terbaru di insta milik Pak Ismail?" Riska bertanya pada mereka semua.


"Hah, memangnya apa? Sebentar aku lihat." James mulai membuka aplikasi insta miliknya dan melihat beranda paling atas menampilkan postingn yang di maksud Riska.


"Benar. Ada apa yaa, apa mereka akan bercerai?" tanya James setelah melihat postingan itu.


"Husst, nggak baik menyimpulkan hal buruk seperti itu!" tegur Riska.


"Udah deh, Riska. Kamu ini suka menegur kita, tapi kamu yang suka membahas lebih dulu." ledek James sehingga terdengar kekehan dari yang lainnya.


"Iya gimana, kan aku cuma ngasih tau aja." dalih Riska sambil memanyunkan bibirnya.


"Kita ini nggak menyimpulkan sembarangan karena sudah sering melihat bukti jelas dari sikap Ibu Kia selama ini." James menyulut pemikiran temannya.


Tak lama Kia tiba di kantornya dengan semua orang yang tengah menatapnya heran. Tak ingin bertanya, Kia langsung masuk ke ruang kebesarannya itu.


Tok.. Tok ..


"Permisi Ibu Kia." Riska datang membawa sebuah map. Beberapa detik berlalu, Kia tak menghiraukannya karena mata terfokus dengan ruangan Ismail yang tak berpenghuni.


Apa benar, Ismail sudah memantapkan hatinya untuk bercerai denganku. Mengapa dia tidak bisa bersabar sedikit saja denganku? Batin Kia.


"Riska, apa Ismail sudah datang tadi?" tanya Kia dengan mata yang terfokus pada dokumen yang di bawa Riska tadi.


"Belum, Ibu Kia. Hemm, apa ada sangkut pautnya dengan postingan terbaru di akun Insta nya, Bu Kia." ucap Riksa sesopan mungkin karena takut menyinggung bos besarnya.

__ADS_1


"Postingan di Insta? Memang apa postingannya?" Kia pun segera mengusap ponselnya lalu mencari postingan yang di maksud Riska.


"Innalillah, Mail!"


__ADS_2