
Setelah kepergian Kia, Riska masih duduk termenung di sana. Menyesap minuman dan sarapannya hingga habis. Saat akan membayar, di lihatnya seorang wanita dan seorang pria yang tak asing masuk ke dalam cafe itu.
Riska tersenyum miring seraya bergumam, "Bahkan takdir juga secara tidak langsung membantumu, Bu Kia."
Riska memperhatikan dan memindah tempat duduknya dekat dengan mereka. Wanita dan pria itu tak lain adalah Wati dan Hakim.
Riska pun diam-diam mulai memvideo, merekam percakapan mereka dengan harapan jika tiba waktunya nanti, rekaman ini bisa menjadi bukti baru untuk membantu Zaskia.
"Aku masih ada satu cara lagi yang bisa Ibu Wati lakukan." kata Hakim.
"Cara apa?" tanya Wati.
"Ibu Wati beraktinglah menjadi baik, menjadi Ibu yang sudah berada di jalur yang lurus. Paham 'kan maksudnya?" tanyw Hakim lagi.
"Maksudmu, aku nggak lurus?" bentak Wati membuat Hakim menghembus nafasnya.
"Maksud aku adalah Ibu Wati sudah tobat dan ingin menjadi orang yang baik." jelas Hakim, kalau Wati masih belum paham, dia ingin mati saja rasanya.
"Apa kamu pikir aku bisa berakting menjadi orang baik? Anakku saja sudah tahu kalau aku ini pintar berakting." kata Wati menyela.
"Minimal Ibu Wati jangan marah-marah lagi. Itu sudah cukup meyakinkan mereka." sahut Hakim.
Wati memijat-mijat pelipisnya, "Astaga, Aku harus berakting yang seperti apa?" lirihnya sambil berpikir.
"Terserah Ibu Wati mau berakting bagaimana, intinya Ibu Wati harus membantu pekerjaanku agar menjadi lebih mudah." sahutnya lagi.
Karena merasa cukup diskusinya, mereka pun pulang ke rumah untuk melancarkan aksinya. Sementara Riska, dia pun pergi menuju kantor untuk bekerja.
***
__ADS_1
Hari ini para pemegang saham melakukan rapat penting. Tentang ketidakstabilan perusahaan dan banyaknya keluhan dari klien.
Pak Faisal dan lainnya sedang menunggu kedatangan Ismail dalam ruangan itu. Mereka menyuruh Riska untuk memanggilnya untuk mengikuti rapat.
"Permisi, Pak Ismail. Hari ini ada rapat, Pak Faisal dan pemegang saham lainnya sedang menunggu kedatangan anda." ujar Riska sopan saat sudah masuk dalam ruangan khusus milik Ismail. Terlihat Ismail sedang bersiap-siap ingin pergi dari kantornya.
"Beritahu mereka untuk menunda rapat. Aku mau keluar sebentar." katanya tanpa rasa bersalah meninggalkan Riska yang merasa serba salah.
Riska pun mengetuk pintu ruangan rapat itu, dia masuk ke dalam untuk memberitahu tentang pesan dari Ismail.
"Maaf, Pak Faisal. Pak Ismail hari ini tidak bisa ikut dalam rapat ini. Beliau meminta untuk menunda rapat ini terlebih dahulu sampai dia kembali ke perusahaan." ucap Riska dengan suara bergetar karena takut.
"Memangnya Ismail pergi kemana?" tanya Faisal dengan sedikit kesal.
"Maaf, Pak Faisal. Pak Ismail tidak bilang akan ke mana, beliau hanya bilang akan pergi. Mungkin ada urusan mendesak." sahut Riska seraya menunduk.
Faisal menghembuskan nafasnya kasar, terlihat dari raut wajahnya yang sedang marah, dia memijat pelipisnya.
"Maaf, Pak." ujar Riska sembari menunduk lagi.
***
Bella memasuki rumah Ibunya dengan membawa sebuah koper. Dia memasuki kamar yang sudah lama tidak di huni itu dan mulai membersihkannya, karena debu sudah menumpuk di sana.
Wati sudah sampai di rumah dan terkejut melihat pintu rumahnya yang tidak terkunci. Dengan langkah pelan tapi pasti dia memasuki rumahnya sendiri dan mengendap-endap menuju kamar Bella yang terbuka lebar. Wanita tua itu takut kalau-kalau maling lah yang masuk ke sana membawa semua barang berharganya.
Wati melirik ke dalam kamar namun tidak mendapati siapapun. Sementara Bella yang baru saja dari arah ruang mencuci pun terheran melihat Ibunya yang mengintip kamarnya.
"Ibu!" teriak Bella dan Wati pun bergidik kaget.
__ADS_1
"Anak setan! Bisa-bisanya membuat Ibumu kaget!" Wati mengelus dadanya sendiri.
"Ibu dari mana?" tanya Bella meneliti pakaian Ibunya yang modis.
"Ibu dari-" mulutnya terhenti kala mengingat perkataan Hakim tadi. Dia pun memasang ekspresi sedih.
"Kamu ke sini sendiri, Nak?" tanya Wati yang tujuannya untuk berbasa-basi.
"Iya, Bella takut mama nangis sendirian di rumah ini." sahut Bella meledek Ibunya. Wati sebenarnya kesal, namun dia tahan.
"Kembali lah ke sana, Ibu nggak apa-apa sendirian di sini." ujar Wati menunduk dengan ekspresi sedih yang di buat-buat.
Bella menghela nafas, tahu benar jika Ibunya sedang betingkah untuk mendapat perhatian.
"Begini, Bu. Ibu nggak perlu bertingkah marah, merajuk dan melarikan begini. Bukannya Ibu senang tinggal di sana?" tanya Bella memancing.
"Bukannya kakak kamu yang mengusir Ibu, kan?" ujar Wati.
"Ibu sih yang kelewatan. Apakah Ibu nggak merasakan hal yang sama dengan Zayn yang Ibu usir begitu saja? Syukur-syukur Ibu masih punya rumah, coba lihat Zayn, dia mau pergi ke mana?" tanya Bella yang secara tidak langsung memberi nasehat.
"Ibu tahu, sepirang-pirangnya rambutku ini, aku masih mengerti soal agama. Dan sudah saatnya aku menyadarkan Ibu sekarang." ujar Bella membelai rambut pirangnya itu.
"Apa Ibu nggak takut? Membuang anak ada Undang-undang nya dan Undang-undang yang paling ketat adalah dari Sang Pencipta. Ibu tahu, kan hukuman apa yang Sang Pencipta berikan kalau Ibu terus melakukan kejahatan?" tanya Bella menanti jawaban sang ibunda. Bukan di jawab, sang pendengar malah terbengong melihat anak gadisnya itu.
"Jika Ibu belum berubah dan tiba-tiba Allah mencabut nyawa Ibu dalam keadaan belum bertobat. Balasannya adalah Neraka, Bu. Neraka jahanam untuk Ibu yang berkelakuan jahanam."
"Ibu tahu kan cerita tentang Neraka? Neraka itu panas, sangat panas dari api yang ada di bumi ini. Di sana nggak ada kipas angin, nggak ada AC dan kulkas Ibu, Ibu pasti mati kepanasan di sana. Belum lagi mulut Ibu ini di tusuk menggunakan tombak obor yang menyala karena selalu mengucapkan kata kasar." celetuk Bella lalu meninggalkan Ibunya untuk melanjutkan berberes kamar.
Wati meneguk ludahnya yang memahit, bagaimanapun apa yang di ucapkan anak gadisnya itu semuanya benar. Dia sering mendengar dan membaca cerita tentang pedihnya siksa neraka saat masih kecil dulu. Bahkan mengambil hak orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya pun sudah di katakan sebagai mencuri, dan mencuri itu hukuman adalah potong tangan.
__ADS_1
Lagi dan lagi Wati meneguk ludahnya selama beberapa detik, namun detik selanjutnya jiwa jahatnya kembali datang.
"Berani-beraninya anak bodoh itu menceramahiku! Dia belum tahu saja, kalau orang jahat sepertiku ini susah matinya. Aku bisa bertobat setelah mendapatkan apa yang aku inginkan." gumamnya dalam hati.