
Hakim sudah bersiap-siap akan menjemput Ibunya, Wati, untuk pergi mengunjungi perusahaan yang berhasil mereka rebut saham-sahamnya dari Ismail.
Dalam perjalanan, Hakim mendapat panggilan dari seorang mata-mata yang bekerja untuknya. Dia Jono, seorang cleaning service di perusahaan itu.
"Maaf Pak Hakim, saya mengganggu. Saya mau mengabarkan kalau Ismail sekarang sudah di pecat dari sini, Pak." ujar Jono seraya berbisik.
"Apa?" terdengar suara decitan ban mobil karena Hakim menghentikan mobilnya secara paksa.
"Pak Ismail sudah di pecat dari jabatannya sebagai pemimpin perusahaan ini, Pak Hakim." ulang Jono memberitahu dengan suara sedikit nyaring, dia berpikir kalau Hakim tidak mendengar apa yang sudah dia katakan.
"Aku mendengarnya, Bodoh! Aku cuma terkejut. Ya sudah, terima kasih informasinya." Hakim segera memutus panggilan tersebut.
"Bagaimana ini," Hakim mengepalkan tangannya sesekali memukul stir mobil.
"Bodoh, untuk apa aku kesal begini. Bukannya Ibu yang memiliki saham itu, bukan Ismail lagi." Hakim pun melanjutkan perjalanan untuk menjemput Wati.
Sementara itu, Wati menatap tampilannya di depan cermin. Dengan menggunakan blazer dan rambut yang di gulung ke atas membentuk sanggul, Wati mulai memoleskan bibirnya dengan lipstik berwarna merah menyala.
"Akhirnya, aku bisa menjadi pemimpin perusahaan tanpa perlu berusah payah sekolah tinggi." celetuk wanita itu seraya merapikan rambutnya kembali.
Setelah lama sibuk beradu argumen pada bayangannya di depan cermin, Wati pun membuka pintu lalu duduk di teras menunggu anak kesayangannya datang menjemput.
"Lama sekali, apa dia lupa untuk menjemput ku?" decak Wati dalam hati sambil memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam yang baru saja semalam dia pesan melalui online shop. Katanya seorang pejabat membutuhkan jam tangan agar lebih terlihat elegan.
"Ah, ya ampun. Kalau lama begini aku jadi semakin nggak sabar." Wati berdiri dan mulai berjalan bolak balik di tempatnya.
"Pemimpin baru terlambat, apa aku akan di ledek oleh mereka nantinya. Aduh, Hakim kenapa kamu lama sekali." decaknya lagi, memperhatikan jalanan luar apakah Hakim akan segera tiba.
Tak lama kemudian, Hakim datang dengan wajah tegang. Tak menanggapi ekspresi wajah sang anak, Wati langsung masuk ke mobil. Sungguh dirinya sudah tidak sabar lagi.
"Ayo jalan." titah Wati.
"Begini, Bu. Sepertinya terjadi masalah dengan perusahaan." ujar Hakim tegang.
__ADS_1
"Masalah apa lagi?" tanya Wati kesal.
"Ismail sudah di pecat dari sana. Jadi pemindahan kepemimpinan Ibu nggak akan mudah di lakukan." jelas Hakim yang sedari di perjalanan memutar keras otaknya.
"Bukannya kamu pintar segalanya, kenapa mengurus hal ini malah nggak bisa? Aku nggak mau tau, aku ingin segera memperkenalkan diriku sebagai CEO baru di sana." titah Wati tak perduli Hakim harus apa, intinya dirinya ingin segera pergi ke perusahaan.
"Apa Ibu bisa bersabar sedikit, jangan kampungan seperti ini." geram Hakim hingga mengatakan Wati kampungan.
"Karena sudah nggak ada pemimpin di sana, bukannya aku sudah harus maju menunjukkan diri?" Wati masih bersikeras.
"Perusahaan sekarang di bawah kepemimpinan Zaskia." ungkap Hakim.
Duar! Bak di sambar petir, Wati yang tadinya di landa bahagia, kini tubuhnya melemas tak berdaya. Mendengar nama wanita yang sudah dia curangi sekarang bangkit kembali.
"Kenapa wanita itu selalu menghalangi jalan kebahagiaan ku!" teriak Wati dengan sangat marah. Selangkah lagi dirinya akan merasakan semua kemewahan, kini dirinya harus memutar otak lagi karena kehadiran Zaskia yanh membuatnya kalah lagi dan lagi.
Ismail pulang dengan perasaan hancur, sehancur-hancurnya. Harta yang dia dapatkan dengan susah payah harus kembali perlahan kepada pemiliknya.
Dia memasuki halaman rumah hingga ke dalam rumah tanpa memperhatikan siapapun yang ada di sekitarnya. Dirinya pun mengurung diri di dalam kamar, mengunci dari dalam supaya tidak ada satupun orang yang mengganggunya.
"Katakan, mengapa bisa Zaskia kembali menjadi pemimpin di sana?" tanya Wati akhirnya setelah sedikit tenang.
"Faisal, paman Zaskia memberikan separuh sahamnya untuk Zaskia, kebetulan Faisal ini pemilik saham terbesar di perusahaan itu. Sekarang kedua orang ini adalah pemilik saham perusahaan terbesar. Jadi mereka bebas mau melakukan pemecatan kepada siapapun yang di anggap menghambat perkembangan perusahaan." jelas Hakim.
"Sekarang aku takut, kalau Zaskia sudah berjaya seperti ini, dia bisa mencari kebenaran dan kalau kita ketahuan mencoba menghasut Ismail dan pernah berusaha menjatuhkan wanita itu. Bisa saja dia melaporkan kita ke polisi." Hakim menghela nafasnya dengan berat. Pikirannya sedang kalut.
"Apa bagian terburuknya?" tanya Wati yang juga mulai ketakutan.
"Bagian terburuknya adalah kita mendekam di penjara sampai batas waktu yang di tentukan." sahut Hakim dengan suara bergetar.
"Aku nggak mau tinggal di penjara, Bu." keluh Hakim akhirnya.
"Kita harus mancari Faisal. Dia kuncinya saat ini." ujar Wati seraya berpikir cara apa untuk menekan Faisal.
__ADS_1
"Cari tau tentang Faisal dulu. Setelah itu Ibu akan mencari cara untuk mengekangnya." titah Wati.
"Faisal itu adik dari mendiang ayah Zaskia." ujar Hakim.
"Oh, dia." Wati tersenyum remeh.
"Ibu mengenalnya?" tanya Hakim lagi.
"Aku sangat mengenal keluarga mereka." sahut Wati dengan tersenyum licik.
"Antar aku kepadanya." titah Wati lagi.
Mobil pun mulai bergerak menuju tempat yang akan mereka kunjungi sekarang. Apalagi Wati sangat mengetahui Faisal adalah orang yang seperti apa.
***
Riska mengetuk pintu ruangan milik Kia. Mengantarkan beberapa dokumen yang di minta oleh atasannya itu.
"Permisi, Bu Kia. Ini dokumen yang Ibu minta tadi." ujar Riska menyerahkannya dengan sopan.
"Baik, terima kasih." ujar Kia tersenyum.
"Apa ada hal lain yang harus saya bantu lagi, Bu Kia?" tanya Riska lagi.
"Nggak ada, kamu boleh kembali bekerja." ujar Kia. Riska menganggik patuh dan berbalik hendak kembali ke tempat duduknya.
"Riska, bagaimana kabar Ibumu?" tanya Kia sebelum Riska melangkah pergi.
"Alhamdulillah, berkat bantuan Ibu Kia. Ibu saya bisa berobat dengan baik." ujar Riska tersenyum.
"Alhamdulillah, mulai sekarang kalau ada keperluan mendesak untuk orang tuamu, kamu boleh menghubungi ku. Aku akan bantu, dan ini berlaku untuk seluruh karyawan di perusahaan ini. Sekarang aku membuat kebijakan baru untuk membantu karyawan yang memang benar-benar membutuhkan." jelas Kia.
Riska tak kuasa menahan tangis haru. Selama ini dirinya memang pernah salah sangka kepada wanita berhati malaikat di hadapannya ini. Namun dia merasa ada baiknya memang jika Kia bisa terbuka seperti ini, agar tidak ada lagi karyawan yang menilainya buruk di belakang.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu Kia." ujar Riska tersenyum dan kembali ke tempat duduknya sendiri.
Kia tersenyum bahagia. Ternyata bersikap tegas hanya bisa membuatnya sakit kepala. Mengapa tidak dari dulu saja dirinya bersikap welcome kepada semua orang?