
Hari sudah larut Vita baru saja menginjakkan kaki di teras rumahnya. Dirinya di sambut oleh Ismail yang duduk santai di teras sembari menyeruput segelas kopi di tangannya dengan tatapan dingin.
"Dari mana kamu, jam segini baru pulang?" tanya Ismail dengan menatap lekat mata sang istri.
Bukan menjawab, Vita malah diam tertunduk dengan debaran jantung tak karuan. Entah mengapa melihat Ismail saat ini terasa hawa di sekitarnya sangat mencekam.
"Kenapa kamu diam saja? Aku menunggumu dari pulang kerja dan kamu baru pulang jam segini, bukannya ada hal yang kamu lakukan di belakangku?" tanya Ismail lagi dengan nada yang terkesan tegas di telinga .
Vita terdiam, mencari alasan yang masuk akal untuk mengelabui Ismail. Bukan tak ingin jujur, Vita tahu persis kalau Ismail tidak akan suka jika dirinya bertemu Reyhan seorang diri.
"Aku-" Vita terdiam sejenak dan berpikir kembali.
"Aku ingin jalan-jalan menghilangkan penat. Memangnya aku nggak boleh mencari kebebasanku sendiri?" ucapnya ketus lalu meninggalkan suaminya begitu saja dalam keadaan kesal.
Ismail pun menghela nafas, sambil menyeruput kopinya yang terasa mulai hambar karena pikirannya yang mulai melayang entah kemana. Hatinya merasakan ada hal yang di tutup-tutupi oleh istrinya sendiri.
"Ini bukan dirimu yang biasanya. Apa sebenarnya kamu berselingkuh di belakangku? Ah, tidak mungkin! Vita nggak akan mungkin berselingkuh, dia bukan tipe orang seperti itu." Ismail pun mulai beradu argumen antara hati dan pikirannya sendiri.
"Ah sudahlah, mending aku istirahat. Mungkin pikiran ku menjadi kacau karena kelelahan." Ismail pun membawa cangkir serta piring kecil berisi cemilan yang dia gunakan ke dapur lalu bergegas naik menuju kamar guna mengistirahatkan hati dan pikiran kotornya.
***
Sudah setengah jam Rey duduk termenung di sebuah Cafe, memikirkan cara apalagi untuk membujuk Vita agar mengambil jalur damai sesuai permintaan Kia.
Minuman yang di pesan sudah ke empat kalinya pun kini habis tak bersisa. Rey berniat untuk memesan kembali, saat mengangkat tangan, di lihatnya Vita masuk ke dalam Cafe itu juga.
"Hai," sapa Vita sambil tersenyum, sementara Rey hanya mengangguk tanpa memberikan ekspresi apapun.
"Ada apa kemari?" tanya Rey datar.
"Aku kebetulan lewat, dan melihamu di sini." sahutnya sambil mengambil buku menu.
"Apa kamu mau memesan?" tanya wanita itu.
"No. Aku sudah kenyang. Lihat, aku sudah memesan empat gelas." kata Rey memperlihatkan gelas kosongnya.
"Oh." ujar Vita hanya membulatkan bibirnya.
"Mumpung kita bertemu, aku ingin membujukmu sekali lagi." ungkap Rey tak ingin membuang kesempatan.
"Sudah ku bilang bukan, kalau aku nggak akan menyerahkan anakku!" tolak Vita dengan tegas.
"Atau bisakah kita membahasnya sebentar bersama Kia?" tanyanya kepada Vita sembari menelepon Kia.
__ADS_1
"Aku menolak, Rey." bersamaan dengan itu, panggilan sudah tersambung.
"Ya, Hallo, Rey? Ada apa?" tanya Kia di seberang sana. Vita pun menghela nafas, takdir memang selalu mempertemukan sesuatu yang tak di inginkan.
"Aku bersama Vita sekarang." kata Rey.
"Vita? Biarkan aku berbicara dengannya." pinta Kia.
"Silahkan bicara saja, Kia. Suaramu terdengar karena aku menghidupkan loudspeaker."
"Vita, aku hanya ingin berbicara baik-baik denganmu."
"Apa itu?" tanya Vita dengan malas.
"Dengar, aku lelah karena perkara tidak jelasnya hubungan kita saat ini. Aku hanya ingin bertanya, kenapa kamu menikah dengan Ismail, padahal kamu pernah bilang kalau kamu sama sekali nggak mencintainya?"
Vita hanya menghela nafas, enggan menjawab pertanyaan yang sedang berusaha menyudutkannya.
"Kenapa dari sekian banyak laki-laki, harus Ismail yang kamu pilih? Apa kurangnya Rey selama ini padamu?"
"Haruskah aku menjawab pertanyaanmu ini?"
"Ya, aku hanya ingin tau jawabannya, Vita."
"Bagaimana jika aku menjawab karena ini adalah takdir?" tanya Vita.
"Sebelumnya aku minta maaf, jujur bukan niatku untuk merebut Ismail dari mu. Namun keadaan yang memaksa." ungkap Vita.
"Oh, ya? Tujuh tahun menikah kalian bilang keadaan yang memaksa? Ini bukan terpaksa, tapi menikmati keadaan, Vita." ledek Kia sembari tertawa.
"Silahkan kamu tertawa, Kia. Aku nggak akan kecewa, tapi aku minta tolong, relakan Zayn. biarkan aku menebus kesalahanku selama ini kepada Zayn." pintanya.
"Sebenarnya aku nggak ada niat untuk merebutnya darimu. Makanya sejak Zayn kecil, aku berusaha untuk membantumu di perusahaan bahkan hal kecil dalam rumahmu. Karena aku berharap bisa melihat tumbuh kembang Zayn. Hanya saja-" penjelasan Vita pun terhenti begitu saja.
"Hanya saja apa, Vita?"
"Hanya saja, jika kamu enggan menceraikan Ismail, Zayn akan tetap menjadi milikmu, itu sebabnya aku bersikeras agar Zayn jangan sampai jatuh ke tanganmu." jelasnya tak masuk akal.
"Untuk mempertahankan hak ku sebagai Ibu kandung Zayn, aku terpaksa melakukan hal kejam kepadamu." ungkap Vita membuat Kia tertawa getir.
"Dengar, Vita. Apapun alasannya, Zayn akan tetap aku rebut!" cetusnya seraya mematikan panggilan.
***
__ADS_1
Zayn turun menyusuri anak tangga, perutnya sangat lapar siang ini. Anak laki-laki itu pun pergi menuju dapur, berharap ada makanan yang bisa di makan.
Zayn membuka tudung saji di atas meja, tak ada makanan apapun di sana. Membuka kulkas pun bahan makanan tak tersedia di sana.
"Zayn tinggal di rumah besar tapi nggak ada makanan. Seandainya Mbak Asih masih ada di sini, Zayn nggak akan merasa kelaparan seperti sekarang." keluh Zayn saat menutup pintu kulkas dua pintu itu.
Sebelum benar-benar keluar dari dapur, Zayn melihat satu cup puding di samping meja kompor. Dengan senang hati Zayn mengambil dan mulai memakannya hingga habis.
"Alhamdulillah." ucapnya lirih sambil membuang wadah bekas puding tersebut.
"Astaga, pudingku!" suara Wati kembalu menggelegar seisi dapur. Zayn pun terhentak terkejut hebat, tubuhnya mematung. Bahkan bayangannya saja enggan untuk berbalik melihat sosok Nenek Jahat itu.
"Siapa yang menyuruhmu menyentuh pudingku, hah?" gertaknya hingga tubuh Zayn mundur beberapa langkah.
"Berani sekali kamu mencuri makananku! Sudah ku bilang 'kan jangan sekali-sekali menyentuh barang-barangku, apa kamu tuli, hah!" bentak Wati lagi sambil mencengkeram kuat pipi Zayn hingga anak laki-laki itu mengaduh kesakitan dan mulai menangis.
"Seharusnya kamu ikuti saja Mama tirimu itu! Bukan malah di sini menyusahkanku!" Wati mendorong tubuh Zayn untung saja anak itu tidak terjatuh.
"Pergi dari rumah ini! Aku nggak mau melihamu lagi! Pergi!" usirnya sambil mendorong Zayn keluar dari dapur. Zayn yang merasa ketakutan pun berlari keluar rumah tanpa tau arah dan tujuan, selagi bisa menjauh dari rumah itu.
Melihat keberadaan Zayn yang sudah tak terlihat lagi, Wati pun tersenyum lalu tertawa puas.
"Ternyata semudah ini mengusir anak kecil." ujarnya sambil tersenyum menyeringai.
Wati pun mengusap layar ponsel genggamnya, menghubungi Hakim untuk melancarkan aksinya.
"Hakim, aku sudah mengusir anak itu pergi. Sekarang suasana sudah tenang. Aku harap rencana selanjutnya bisa kamu jalankan." tanpa menunggu jawaban, Wati langsung menutup panggilan tersebut.
Sementara di seberang sana, Hakim malah mengetuk kepalanya di atas meja, "Apa yang sudah kamu lakukan, Tua Bangka!" ucapnya geram.
Zayn berlari tanpa arah tujuan sambil menangis, orang-orang di sekitarnya hanya melihat dan enggan bertanya apalagi membantu. Zayn sudah seperti anak ayam yang kehilangan induk.
"Mama!" teriaknya karena merasa tidak ada orang yang dia kenali.
"Mama!" sekali lagi dia berteriak, berharap sebuah keajaiban mempertemukan dirinya dengan Zaskia, Ibu yang merawatnya dari bayi.
Hingga beberapa kali berteriak dan tak ada jawaban, Zayn memutuskan berhenti berteriak karena seluruh energinya terkuras, perutnya pun semakin terasa lapar. Kini Zayn memilih untuk duduk di pinggir jalan. Memandang kendaraan roda dua dan empat yang berlalu lalang.
Perutnya yang lapar membuatnya kehilangan akal saat melihat warung makan yang membuang beberapa lauk dalam plastik.
Zayn pun mengorek sampah-sampah tersebut. Anak laki-laki itu pun Memilah daging ayam yang masih bisa di makan dan mana yang tidak layak.
Setelah mendapat beberapa potong, Zayn pun mencoba menghidupkan keran air guna mencuci beberapa potong ayam goreng tersebut.
__ADS_1
Dari kejauhan, ada seorang wanita yang memperhatikannya. Wanita itu merasa sangat familiar dengan sosok anak laki-laki yang di perhatikan sejak tadi. Segera wanita itu menghampirinya guna memastikan teka-teki otaknya.
"Astaghfirullahal'adzim, Zayn!"