
Devita yang mendapat sebuah kertas kecil berisi tulisan-tulisan indah dari sang suami pun berinisiatif untuk pergi mengunjunginya ke perusahaan. Dengan menenteng sebuah kotak bekal makan siang dia memasuki kantor milik suaminya.
Devita sempat terheran ketika melihat semua pegawainya pulang saat waktu baru menunjukkan pukul satu siang. Dengan tergesa dia memasuki ruangan Ismail.
"Reyhan?" ujar Devita terkejut saat melihat mantan pacarnya berada di dalam ruangan suaminya.
Mendengar suara wanita yg di bencinya, Kia menoleh dengan rahang yang mulai mengeras, dadanya naik turun karena emosi mulai bergemuruh. Berbeda dengan Kia, Rey justru tak menanggapi namanya di panggil, dirinya malah memegang tangan Kia guna menenangkannya.
"Karena urusan kami sudah selesai tidak ada keperluan lagi, kami pamit. Maaf sudah mengganggu waktu anda, Pak Ismail." Reyhan bangkit dengan posisi tangan yang masih memegang tangan Kia.
"Kenapa kamu bisa bersama Kia?" tanya Vita saat Reyhan sudah keluar dari ruangan itu, langkah kaki Rey pun terhenti lalu berbalik menatap mata Vita dengan tatapan benci.
"Memangnya cuma kamu yang bisa bersama Ismail, aku pun bisa bersama Zaskia." sahut Rey dengan sinis sukses membuat Devita merasa tersudutkan.
"Ayo kita pergi." Rey menarik tangan Kia menjauh dari Devita yang berdiri mematung.
Di dalam mobil, Kia bergeming dengan pandangan yang terus mengarah ke luar kaca mobil. Mungkin diam adalah cara untuk meredam amarahnya.
Rey yang peka dengan keadaan Kia pun memutar mobilnya menuju pantai, kebetulan pantai memang tak jauh dari tempatnya berada.
"Kenapa membawaku ke sini?" tanya Kia saat matanya melihat deburan ombak di laut biru dari kejauhan.
"Aku tau mood mu sedang nggak baik-baik saja." ujar Rey sembari melepas seatbelt usai memarkir mobilnya dengan benar.
"Ayo turun." ajaknya sembari membantu Kia melepaskan seatbelt yang menyilang di tubuh wanita itu.
Mereka pun berjalan menuju salah satu gazebo yang kosong dan berada di ujung pantai tersebut. Dengan hembusan angin yang menerpa, Kia duduk dengan posisi tangan di letakkan pada sisi belakang tubuhnya yang di gunakan sebagai penopang.
Mata wanita itu memejam, menghirup dalam aroma angin laut yang terasa hangat dan sesekali dia menghela nafas. Setelah merasa tenang, dia menoleh ke arah laki-laki yang sudah menemaninya selama ini.
"Rey," panggilnya.
__ADS_1
"Hmm?" Rey hanya berdehem sembari menatap ramainya pengunjung yang bermain air padahal matahari sedang terik-teriknya.
"Kenapa kamu menahanku tadi? Padahal aku ingin menjambaknya. Ingin sekali aku memukulnya." ujar Kia mencebik kesal. Rey pun tertawa, di acaknya rambut Kia dengan gemas.
"Kamu tau 'kan negara kita ini adalah negara hukum. Dan hukum itu kadang nggak adil. Mungkin apa yang kamu lakukan adalah meluapkan kekesalan, bagaimana jika dia mendokumentasikan perbuatanmu dan melaporkannya untuk kasus penganiayaan hem?" jelas Rey dengan lembut.
"Tapi kan-" Kia tak melanjutkan kata-katanya. Saat ini dia sedang kebingungan.
"Untuk saat ini, jangan melakukan hal-hal yang kasar. Kurang-kurangi emosi mu. Kalau kamu bertindak brutal, bisa saja mereka melaporkan ini untuk menambah bukti di pengadilan kalau kamu nggak pantas menjadi Ibu untuk Zayn." jelas Rey lagi dan Kia pun mengangguk sambil menghela nafas, berat memang namun apa yang Rey katakan benar adanya karena harapan Kia adalah bisa mengambil hak asuh untuk Zayn tanpa di persulit.
Tiba-tiba ponsel milik Kia berdering tanda ada pesan baru masuk. Kia melihatnya sambil mengerutkan kening.
"Ada apa?" tanya Rey ketika melihat ekspresi bingung dari raut wajah Kia.
"Ini." Kia menyodorkan ponselnya hingga Rey membaca pesan tersebut.
"Ibu kia, bersabarlah. Kecurangan nggak akan pernah menang melawan orang yang selalu senantiasa bersabar. Aku akan membantumu mengumpulkan buktinya, anggap saja aku menebus kesalahan yang pernah aku lakukan pada Ibu Kia selama ini." isi pesan tersebut dari nomor asing yang tanpa menyertakan nama pengirimnya.
***
Ismail menutup panggilannya setelah mendengar bahwa Hakim tidak dapat hadir karena ada urusan mendadak. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, Vita melamun entah arah dan tujuan pikirannya ada di mana. Ismail menoleh, memegang tangan sang istri dan memanggilnya dengan sayang.
"Sayang," panggilnya namun tak di hiraukan oleh Vita.
"Hey, kamu nggak apa-apa?" Ismail menepuk bahunya dan yang di tepuk pun bergedik terkejut.
"Eh, iyaa ada apa, Mail?" tanya nya setelah kesadarannya kembali.
"Kamu nggak apa-apa 'kan?" tanya Ismail lagi.
"Yaa, aku baik-baik saja." sahut Vita dan menampakkan senyumnya yang dibuat secara terpaksa.
__ADS_1
"Tapi menurut aku kamu nggak baik-baik saja setelah bertemu mantan pacar kamu." ledek Ismail mencoba menggoda, namun berbeda anggapan dengan Sang istri, Vita pun mendadak kesal.
"Bisa nggak, jangan ungkit-ungkit dia lagi!" bentak Vita.
"Hey, kenapa kamu marah? Aku hanya bercanda." bujuk Ismail dengan perhatiannya yang kini terbagi antara menyetir dan membujuk Vita.
"Bercandamu nggak lucu!" Vita mencebik kesal dan saat itu pula Ismail kehilangan keseimbangan hampir menabrak pohon besar di pinggir jalan jika dia tidak mengerem.
Nafas keduanya ter engah-engah, seketika bulir bening menetes dari pelipis keduanya. Seraya mengelus dada, Devita mengucap syukur. Bersyukur karena keduanya tidak mengalami hal berbahaya.
"Kamu nggak apa-apa 'kan?" tanya Ismail sembari mengecek keadaan Vita.
"Aku nggak apa-apa. Aku minta maaf karena membuat fokusmu berantakan." ujar Vita dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku nggak marah padamu untuk kali ini, tapi aku minta jangan sekali lagi kamu merajuk padaku. Aku bisa gila, Sayang, jika kamu mengabaikanku." ujarnya memeluk Vita dengan posisi mobil yang belum bergeser sedikitpun.
Tak lama, kaca pintu mereka di ketuk oleh seseorang. Ismail merenggangkan pelukannya dan menoleh ke arah suara ketukan. Seketika matanya membola kala melihat polisi yang mengetuk pintu kaca mobilnya. Ismail pun menurunkan kaca mobil tersebut kemudian bertanya.
"Maaf, Pak ada apa?" tanya Ismail dengan wajah tegang.
"Maaf, seharusnya saya yang bertanya. Ada apa kalian berpelukan di dalam mobil dengan posisi jalan yang di larang untuk parkir. Apa kalian tidak melihat ada rambu di larang untuk parkir di sini?" Polisi itu menunjuk rambu lalu lintas yang tak jauh dari mobilnya.
"Maaf, Pak. Tadi saya hampir menabrak pohon ini, karena saya panik, makanya saya memeluk istri saya." jelas Ismail dengan tersenyum kikuk.
"Apa benar dia istri anda?" Polisi tersebut menampakkan wajah yang penuh curiga.
"Benar pak, dia istri saya. Kami sudah menikah selama tujuh tahun lamanya." jelas Ismail lagi.
"Bisa tolong tunjukkan surat nikah kalian?" permintaan sang polisi membuat pasangan suami istri tersebut saling pandang.
"Bukankah kita masih nikah siri?" ucap Vita lirih.
__ADS_1