
Sudah tiga hari lamanya, Zayn menjadi anak yang pendiam. Berangkat ke sekolah anak laki-laki itu enggan. Jika bukan karena ada Mbak Asih di sana, makanan pun Zayn tak akan sudi menyentuhnya.
Ketika Mbak Asih mengantarkan sarapan ke kamar Zayn, Mbak Asih melihat Zayn yang meringkuk dalam selimutnya. Di buka selimutnya dan di sentuh lengan anak laki-laki itu, rasanya suhu tubuhnya menghangat. Ya, Zayn tengah demam sekarang.
Mbak Asih pun segera turun menuju dapur untuk mengambil air hangat serta sebuah wadah berisi air, tak lupa sebuah handuk kecil yang akan dia gunakan untuk mengompres Zayn.
"Mbak, kok Zayn merasa panas, ya?" ujar Zayn setelah bangun dari tidurnya.
"Iya, Zayn saat ini lagi demam." sahut Mbak Asih lemah lembut.
"Makan dulu, yuk. Setelah ini minum obat." tambahnya.
"Iya, Mbak." Zayn pun mulai melahap makanan yang di suap oleh Mbak Asih. Setelahnya anak laki-laki itu pun meminum obatnya kemudian kembali berbaring dan memejamkan mata.
Tak tega meninggalkan Zayn sendiri dalam keadaan sakit seperti ini, wanita itu pun tak beranjak dari duduknya dan dengan sabar menemani anak laki-laki yang sudah dia lihat tumbuh kembangnya beberapa tahun ini. Ya, Mbak Asih di pekerjakan oleh Zaskia saat Zayn berumur dua tahun. Jadi sedikit banyaknya, Mbak Asih sangat tahu apa kebiasaan dan kesukaan anak laki-laki itu.
Dengan sabar Mbak Asih mengompres dahi Zayn setelah agak mengering karena suhunya lumayan tinggi. Bukan karena tidak bisa membawa Zayn ke rumah sakit. Tapi wanita itu tahu Zayn yang sangat tidak suka jika harus di bawa ke rumah sakit.
Tiba-tiba Devita muncul begitu saja dari pintu, menampakkan wajah khawatirnya karena melihat Mbak Asih mengompres Zayn.
"Ada apa dengan Zayn, Mbak Asih?" tanya nya sembari menggeser tubuh Mbak Asih nenggantikan posisinya.
__ADS_1
"Zayn sedang sakit, Nyonya." sebuah panggilan yang sangat Mbak Asih benci. Dengan Zaskia orang yang mempekerjakannya saja tak pernah memanggilnya dengan kata Nyonya, kenapa semua orang memaksanya untuk memanggil Devita dengan sebutan Nyonya?
"Ya ampun, Sayang. Badan kamu panas sekali. Mbak, ayo kita antar Zayn ke rumah sakit." Setelah memegang dahi anak kandungnya, Devita berdiri ingin keluar untuk bersiap.
"Nggak perlu, Nyonya. Yang sakit bukan badannya. Tapi hatinya karena di perlakukan seperti ini oleh ibu kandungnya sendiri. Obat yang paling ampuh hanyalah kehadiran Ibu Kia." ketus Mbak Asih berucap. Mbak Asih yang biasanya tenang, kini mulai menampakkan ketidaksukaannya kepada wanita yang sedang berhadapan dengannya.
"Astaga, aku lupa. Kamu kan Nyonya di sini. Seharusnya aku nggak pantas bicara seperti itu kepadamu." sinis Mbak Asih berkata, kemudian meninggalkan Devita yang masih berada dalam kamar Zayn.
Merasa tak terima dengan kata-kata yang terucap dari mulut Mbak Asih, Devita pun mengejar Mbak Asih yang kini sudah menuruni tangga.
"Mbak Asih!" teriak Vita dari atas. Mbak Asih pun menghentikan langkahnya. Menyiapkan hati apa yang akan terjadi setelah ini. Vita pun kini sudah berada di belakangnya.
"Mbak Asih, rasanya aku ini nggak ada masalah denganmu. Tapi kenapa kamu berbicara seolah kamu punya dendam kepadaku?" Devita bertanya dengan tangan bersedekap di dada.
"Kamu tahu, Ibu Kia itu menganggapmu lebih dari sahabat! Dia bahkan menganggapmu saudara. Tapi apa yang kamu lakukan kepadanya? Selama ini aku sabar 'ya, dari awal aku melihatmu aku memang nggak pernah menyukaimu. Karena aku punya firasat yang nggak baik jika itu berhubungan denganmu! Ternyata firasat itu benar, bukan hanya suami dan harta yang kamu ambil darinya, bahkan anak yang pernah kamu buang juga kamu rampas darinya! Kamu manusia paling busuk yang pernah aku temui!" bentak Mbak Asih meluapkan semua amarah yang menumpuk dalam kepalanya.
Plak!
Devita menampar pipi Mbak Asih dengan sangat kuat, sampai Mbak Asih pun oleng dan terjatuh.
"Mulai sekarang, kamu aku pecat! Jangan pernah lagi menampakkan wajahmu di depanku!" gertak Vita sambil menarik Mbak Asih yang masih jatuh tersungkur itu pun sedikit terseret.
__ADS_1
"Nggak perlu kamu suruh, aku memang mau keluar dari rumah ini. Aku nggak mau tinggal bersama manusia busuk, dan penghancur rumah tangga orang sepertimu. Menjijikkan!" Mbak Asih menghempas tangan Vita dan berdiri dengan sendirinya. Walau masih merasakan nyeri pada bagian tubuhnya yang tadi bergesekkan dengan lantai, dia tetap berusaha menuju kamar miliknya untuk membereskan barang.
"Ingat satu hal, walau kamu berupaya dengan keras pun, Zayn tetap akan menganggap Ibu Kia sebagai ibu kandungnya." ledek Mbak Asih membuat Vita termenung. Setelah itu, tanpa pamit Mbak Asih pergi meninggalkan rumah yang sudah bertahun-tahun dia tempati bersama majikan yang sudah di anggap seperti keluarga sendiri.
"Maafkan Mbak Asih, ya Zayn. Mbak sekarang nggak bisa menjagamu lagi. Semoga setelah ini, ibu kandungmu akan merawatmu dengan baik. Jika tidak, semoga Allah mempertemukan kita kembali, walau dengan apapun caranya. Mbak yakin, kamu pasti anak laki-laki yang kuat." gumam Mbak Asih menatap jendela kamar Zayn sebelum berbalik dan pergi meninggalkan rumah itu.
"Mbak Asih!" teriak Zayn berulang kali, namun tak ada jawaban dari wanita yang sudah pergi dari rumah itu. Zayn pun menuruni tangga dengan langkah pelan karena kepalanya yang masih berdenyut dan suhu tubuh yang masih sama seperti tadi.
"Aunty Vita, Mbak Asih di mana?" tanya Zayn sembari berjalan menuju dapur berharap wanita yang di cari ada di sana. Vita pun mendekati Zayn dan mencoba untuk membujuknya.
"Zayn ke atas aja, ya. Istirahat, kamu belum sembuh benar, Sayang." katanya memegang lengan Zayn agar mengikutinya pergi dari dapur.
"Zayn mau cari Mbak Asih, Zayn mau dengar suara Mama." bagai di sambar petir di siang hari, Vita merasakan sakit di dalam hatinya.
"Sama Ibu aja ya, Sayang." bujuk Vita lagi.
"Zayn nggak mau! Zayn maunya sama Mama." Zayn mulai menangis. Rasa rindunya sudah tak bisa dia bendung pada wanita yang merawatnya walaupun sibuk bekerja setiap hari namun masih bisa memasuki relung hati terdalam Zayn karena kasih sayang yang di curahkan begitu besar.
Vita pun kebingungan dan ikut menangis melihat anak kandungnya terus merengek ingin bertemu dengan Kia.
Sementara itu di hotel, Zaskia seperti mempunyai ikatan batin terhadap Zayn. Dia merasa bahwa anak laki-lakinya sedang tidak baik-baik saja sekarang. Kia begitu gelisah, makan tak tenang, berbuat apapun tak tenang.
__ADS_1
"Zayn, bagaimana kabarmu sekarang, Nak. Mama rindu sekali denganmu." lirihnya sembari menatap wallpaper ponsel genggamnya yang memakai gambar Zayn. Tak lama kemudian, Kia mencoba menghubungi Mbak Asih, namun nomor tersebut sedang tidak aktif.
"Semoga kalian semua baik-baik saja." ucap Kia dengan wajah sendu.