
Kia bernegoisasi dengan Wati untuk mengambil Zayn dari mereka. Namun wanita tua itu sangat sulit untuk di bujuk.
"Langkahi dulu mayatku, cantik!" Wati mencoba menghadang dengan angkuhnya.
"Apa kamu nggak takut Allah mengambil nyawamu dalam keadaan dzolim, belum tentu tanah kubur mau menerima jasadmu!" ujar Kia membalas.
"Kamu!" Wati menunjuk wajah Kia dengan geram.
"Mama, aku anak kandung Mama 'kan?" Zayn tiba-tiba menyela perdebatan tersebut sambil menangis.
"Iyaa, Zayn ini anak Mama. Kalau bukan anak Mama, mana mungkin mama mengurusmu dari bayi. Kamu ini anak Mama, ingat kata-kata itu 'ya, Sayang." Kia menjawab dengan lantang dan tegas sambil mengusap bulir bening di bawah mata Zayn. Kata-kata Kia itu membuat hati Vita tersentil.
"Hei, Bocah! Kamu itu anaknya Vita bukan wanita yang ada di depanmu ini!" gertak Wati membuat Zayn semakin ketakutan.
"Jangan dengarkan orang jahat ini, Sayang. Dia sengaja menakutimu agar kita terpisah dan hidup berjauhan." Kia menenangkan Zayn.
"Pengawal!" teriak Wati dan saat itu juga beberapa orang bertubuh kekar datang setelah mendengar tuannya memanggil.
"Bawa wanita ini pergi dari rumahku!" titah Wati kemudian meninggalkan Kia dan Zayn beserta pengawalnya yang berada di halaman, masuk ke dalam rumah.
"Mama jangan tinggalkan Zayn!" Zayn menarik ujung baju Kia. Sementara Kia berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman pemuda bertubuh kekar tersebut.
"Lepaskan aku! Biarkan aku berpamitan dengan anakku sebentar saja." pekiknya dan pengawal itu pun memberi waktu sejenak untuk Kia berpamitan pada Zayn.
"Maaf, Sayang. Mungkin hari ini Mama nggak bisa membawa Zayn pergi dari sini, tapi Mama akan usahakan bagaimanapun caranya, Zayn harus ikut Mama pergi. Sekarang kamu baik-baik 'ya di rumah, tunggu sampai Mama menjemput Zayn, oke?" bujuk Kia membuat Zayn mengangguk patuh. Walau berat rasa hati, namun keadaan sangatlah tidak ramah hingga mereka terpaksa harus terus menjalaninya.
"Anak ganteng jangan menangis, ya. Zayn harus kuat, kan katanya mau menjaga orang yang Zayn sayang, berarti mulai sekarang Zayn harus menjaga air mata dan kesehatanmu untuk Mama. Janji?" Kia memberikan jari kelingkingnya kemudian Zayn membalas dengan memberi jari kelingking dan mulai saling menaut.
"Lama sekali! Cepat pergi atau aku yang menyeretmu pergi!" Wati berteriak dari dalam rumah.
Menutup dengan mencium kening Sang Anak, Kia pun bangkit dan mulai melesat keluar meninggalkan Zayn yang masih terisak-isak melepas kepergiannya. Sebelum benar-benar menjauh, mulut Kia sempat berkata tanpa suara. 'Jangan nangis, tunggu Mama.' Zayn pun mengangguk sambil menyeka air mata yang membasahi pipi.
Wati keluar dari rumah dan menyeret dengan menarik kerah baju Zayn, sesekali dia jewer telinga anak laki-laki itu, membuat Zayn meringis kesakitan.
__ADS_1
"Tuh, lihat anakmu ini malah menangisi ibu tirinya. Bodoh sekali kamu, jika anak ini pergi dari sini apa yang akan di lakukan Ismail nanti, hah?" pekik Wati kepada Vita dengan suara yang menggelegar, jika mereka berada di dalam gua, sudah pasti para makhluknya akan pergi berterbangan keluar.
"Kamu juga Zayn, awas saja kalau selangkah saja kamu keluar rumah, akan ķu patahkan kakimu!" gertak Wati sambil menjauh menuju kamarnya sendiri.
"Maaf, Sayang. Kamu jadi kena amarah dari nenek." Vita ingin mengelus kepala Zayn, namun anak laki-laki itu menampik dengan kasar.
"Aku benci sama Aunty!" Zayn mendorong tubuh Vita dengan kuat kemudian menyusuri tangga untuk pergi kembali ke kamarnya.
"Ya Allah, Zayn Anakku. Kenapa kamu begini sama Ibu, Nak?" lirihnya sambil menangis menatap kepergian Zayn.
***
Kia menyusuri jalanan dengan berjalan kaki, hatinya entah berlarian kemana sampai dirinya tak sadar sudah setengah hari lamanya berjalan dia tak merasa lelah.
Tiba-tiba dia di kejutkan oleh suara klakson mobil hitam di belakangnya. Kia pun menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan kalau dirinya tak salah jalan. Mobil tersebut menyalakan kembali klaksonnya namun akhirnya Kia malah berlari untuk menghindari mobil tersebut. Hingga mobil itu mengikuti Kia dan menurunkan kaca mobilnya.
"Kia!" teriak pria itu membuat Kia pun menoleh.
"Ayo, naik!" titahnya dan Kia mengangguk sembari membuka pintu mobil tersebut.
"Aku pikir orang jahat yang mengejarku." ledek Kia saat sudah duduk dan menutup pintu mobil.
"Ganteng begini di katakan orang jahat?" Rey terkekeh sambil bergaya memamerkan wajahnya.
"Iya deh iya, si paling ganteng." sahut Kia sambil tertawa.
Mobil pun melaju membelah jalan raya yang mulai padat karena sore adalah waktunya orang-orang untuk kembali pulang ke rumah setelah seharian beraktifitas.
"Kamu sudah makan?" tanya Rey saat melihat sebuah warung makan.
"Belum nih." sahut Kia singkat, dirinya memang tidak makan sejak pagi.
"Kalau begitu, ayo kita makan." Rey pun memarkir mobilnya saat sudah tiba warung makan bertuliskan 'Warung Makan Mbok'.
__ADS_1
Mereka turun dan memilih meja dekat dinding. Setelah itu mereka pun memesan makanan, Kia memesan ayam lalapan sementara Rey memesan ayam geprek. Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang, Kia memakannya dengan sangat lahap. Rey hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa pelan.
"Kenapa ketawa?" tanya Kia sambil mengusap mulutnya dengan tissue.
"Makan itu pelan-pelan, nggak ada yang berebut denganmu." sahut Rey.
"Maaf, aku sangat kelaparan. Beberapa hari ini aku nggak ada nafsu untuk makan. Karena tadi sempat bertemu Zayn makanya nafsu makanku kembali lagi." ujar Kia kembali memakan makanannya.
"Ya, aku tau. Aku juga melihatmu tadi." ungkap Rey membuat Kia berhenti mengunyah kemudian menyesap minumannya.
"Kenapa kamu ke sana?" tanya Kia penasaran sambil mencuci tangannya, kebetulan Kia makan menggunakan tangan.
"Aku hanya penasaran dengan perilaku mereka terhadapmu, ternyata semua itu benar. Mereka memang sangat kejam." wajah Rey menjadi sendu.
"Hah! Entahlah Rey, sekarang aku cuma bisa pasrah dengan keadaan." Kia menghela nafasnya berulang kali.
"Come on, Kia. Kamu harus bangkit, jangan menyerah, oke?" kata Rey menepuk pundak Kia.
"Bagaimana caranya, Rey? Aku harus apa, Rey? Dia itu sahabatku, semua tentangku dia mengetahuinya, tak ada celah sedikitpun yang aku tutupi. Dan Ismail juga begitu, aku sangat mempercayainya sampai aku lupa batasan bahwa nggak semua hal harus kita ungkapkan." lirih Kia yang matanya kembali menggenang.
"Kemarin aku bertemu dengan Ismail." ungkap Rey sambil memainkan sedotan dalam gelasnya.
"Lalu?" tanya Kia menantikan kelanjutannya.
"Aku sangat ingin memukulnya." sahutnya datar.
"Lalu, kenapa nggak kamu pukul saja dia. Ah, kamu salah karena nggak mengajakku!" Kia merutuki, air matanya tak jadi keluar.
"Memangnya kalau aku mengajakmu, kamu mau berbuat apa?" tanya Rey penasaran juga.
"Kalau ada teman seperjuangan, aku nggak akan sungkan untuk menghajarnya." Kia mengepal tangannya.
"Jadi apa yang terjadi kemarin saat bertemu dengannya?" tanya Kia mengalihkan untuk kembali ke topik awal.
__ADS_1