
Dalam rumah sederhana dengan udara yang bebas keluar masuk melalui jendela yang terbuka lebar, Bella duduk di bawah jendela sambil memutar drama Korea kesukaannya.
Setelah itu, Bella berdiri lalu memulai khayalannya sebagai wanita dalam drama Korea tersebut.
"Oh, Oppa. Kapan kita akan menikah?" katanya dengan wajah centil.
"Kita akan menikah dalam waktu dekat setelah urusan kantorku selesai." ujar Bella dengan menirukan suara laki-laki berlogat cara bicara orang Korea.
"Apa kita akan tinggal di Negaramu, meninggalkan Indonesia dan meninggalkan Ibuku yang kejam itu? Aku sudah lelah hidup bersamanya, sekarang aku ingin hidup bebas dan bahagia bersamamu." kata Bella lagi dengan menambahkan ekspresi sedih.
Wati yang mencari anak gadisnya sedari tadi pun terhenti saat melihat Bella yang tengah memerankan drama seorang diri. Lantas emosinya mulai tersulut saat Bella mengatakan 'Ibuku yang kejam'.
"Oh, jadi begini kerjaanmu saat Ibu nggak ada di dekatmu? Ibu suruh cuci piring nggak mau, di suruh menyapu nggak mau dan kalau Ibu marah di katakan kejam. Siapa yang nggak marah melihat anak yang membangkang dan pemalas sepertimu!" Bentak Wati membuat anak gadisnya terhentak.
"Ais ais, Ibu. Aku ini cuma bercanda tadi. Aku itu latihan main drama. Jangan di anggap serius dong." dalih Bella karena melihat Ibunya memegang sebuah centong yang akan di gunakan sebagai pedang untuk mencincang dirinya.
"Kalau begitu cepat ke dapur, cuci piring. Sudah banyak menumpuk. Ibu capek melihatnya." Wati pun menarik anak gadisnya menuju dapur. Bella pun mengikuti langkah kaki Ibunya dengan patuh, tak ingin di jadikan rendang daging oleh Ibunya.
"Eh, apa kamu sudah bilang soal rumah baru ke menantuku yang pelit itu?" tanyanya kepada Bella yang baru saja menuang sabun pencuci piring pada wadah berisi spons.
"Nggap perlu di tanya, Bu. Itu cuma akan membuang-buang waktuku yang berharga." celetuk Bella yang kedua tangannya bukan sibuk menyabun peralatan kotor, namun malah membuat gelembung balon.
"Apanya yang membuang waktu! Jangan sok sibuk! Menambah waktu seorang pengangguran hanya akan menambah kemiskinan." Wati mendenguskan nafas mendengar celotehan tak jelas dari anak gadisnya.
"Ais ais, Ibu. Aku ini nggak menganggur dengan cuma-cuma. Buktinya, aku dapat kabar bahagia untuk Ibu." Bella menatap Ibunya sambil memainkan alis.
"Hah, kabar apa?" Wati langsung memicingkan mata.
"Abang akan bercerai!" Bella mengibaskan busa sabun di hadapan Ibunya.
"Alhamdulillah! Benarkah itu, Bella? Kamu nggak bohong kan?" Kepala Bella di ketuknya saking gemas mendengar kabar yang menurutnya kabar baik.
__ADS_1
"Ais ais, sakit, Bu!" Bella mengelus kepalanya yang tadi di ketuk Ibunya. "Mana mungkin bohong. Aku lihat sendiri breaking news terhangat ini." tambahnya tak terima di tuduh berbohong.
"Memangnya kamu liat di mana? Setau Ibu, kamu cuma diam di rumah nggak kemana-mana, ngabis-ngabisin makanan di rumah aja kerjaannya!" keluhnya sambil menunjuk-nunjuk perut anak gadisnya yang membentuk dua lipatan.
"Ibu ini nggak pintar melihat keadaan! Ini lah fungsinya pengangguran, Bu. Kita bisa memantau aktivitas dan kabar terbaru seseorang melalui sosial media!" jelas Bella dengan semangatnya.
"Apa itu sosial media?" pertanyaan yang menurut Bella sangat lucu keluar begitu saja dari mulut seorang wanita yang telah melahirkannya.
"Sosial media itu, sejenis tempat berupa aplikasi yang di gunakan orang untuk berkomunikasi atau membagikan konten berupa tulisan, foto, video saat melakukan aktivitas sosial bagi setiap penggunanya. Misalnya seperti Facebuk, Insta, watsap, dan lainnya." jelas Bella sambil memperlihatkan aplikasi sosial media miliknya.
"Kalau begitu ... " ucapan Wati seketika tertahan karena Bella terlebih dahulu memotong pembicaraan tersebut.
"Aku sarankan, Ibu jangan main sosmed deh, nanti kaya para tetangga sebelah. Main facebuk sampai lupa kalau lagi memasak. Berapa kali tuh, lagi masak nasi sampai gosong. Ibu sering cium bau gosong 'kan?" tanya Bella dan di beri anggukkan oleh Ibunya.
"Itu karena mereka keasyikan komentar sana sini." Bisik Bella dengan menahan tawa.
"Kalau begitu, biar kamu aja yang main sosial media. Ibu takut nanti buang-buang makanan karena gosong nggak bisa di makan." Bella mengangguk patuh, karena inilah caranya agar Ibunya tidak melihat seberapa 'Alay' nya postingan Bella di sosial media.
"Benar, Bu. Sudah di umumkan!" Bella mengangguk meyakinkan.
"Apa yang sudah di umumkan?" Suara berat milik Ismail mengagetkan dua orang wanita yang sedari tadi sibuk membicarakan dirinya.
Niatnya tadi ingin mengambil air untuk menghilangkan dahaga seketika terhenti karena dua orang yang menggosip membuat rasa penasarannya keluar.
"Eh, ada Ismail. Sini duduk, Nak!" titah Wati menggeser kursi yang tersusun rapi di bawah meja makan.
"Ada apa, Bu?" tanya Ismail dengan menyeritkan dahi mendapat perlakuan manis dari Wati.
"Betulkah, kamu ingin menceraikan Zaskia?" tanya Wati sambil menatap wajah Ismail.
"Iya, sekarang masih dalam proses." sahut Ismail datar kemudian menuangkan air ke dalam gelas lalu segera meneguknya.
__ADS_1
"Alhamdulillah!" Wati pun mulai sujud sambil berulang kali mengucap hamdallah.
"Nggak sia-sia selama ini aku mempunyai niat jahat untuk memisahkan kalian. Akhirnya apa yang ku mau terkabulkan. Kamu 'sih, dari dulu Ibu suruh cerai tapi nggak pernah di dengarkan. Jadi, apa kita akan secepatnya pergi dari rumah kumuh ini?" tanya Wati dengan senyum puas.
"Hah? Pergi?" baru saja Ismail bertanya, Bella tiba-tiba keluar kamar membawa dua buah karung yang sudah terisi penuh oleh pakaian miliknya menuju ruang tamu.
"Kapan anak ajaib ini masuk ke kamar? Rasanya dari tadi nggak ada lewat." gumam Wati dalam hati.
"Aku sudah siap, Abang! Jadi kapan kita akan pindah?" tanya Bella dengan wajah bahagianya.
"Pindah? Siapa yang akan pindah?" Ismail balik bertanya tak mengerti maksud Bella.
"Ais ais, Abang ini! Kalian kan sudah mau cerai, Otomatis kita pindah rumah 'kan? Ke rumah yang besar itu?" tanya Bella.
"Allahu Robbi! Kalian ini benar-benar, ya!" Gertak Ismail kepada dua orang wanita itu. Lalu keluar rumah, tak lupa menutup pintu dengan membantingnya.
"Ibu, jadi kita ini akan pindah atau nggak sih?" tanya Bella dengan memajukan bibirnya beberapa centi.
"Diam! Kamu kira Ibu yang punya rumah?" Wati memasang wajah kesal karena Ismail yang berani meninggalkan mereka begitu saja tanpa sepatah katapun.
"Jadi bagaimana ini, Bu. Aku sudah berkemas juga. Masa harus kembali di susunan lemari 'sih!" ucap Bella tak kalah kesal.
"Stop! Jangan buat aku tambah marah!" bentak Wati membuat Bella menghentakkan kaki menuju kamarnya.
Rupanya suara mereka terdengar hingga di luar rumah. Ismail yang hendak duduk di luar saja pun mengurungkan niatnya, lalu masuk ke dalam mobil.
"Pindah? Seenak itu hidup mereka. Dan kenapa mereka menganggap perceraian seperti mendapat jackpot?" gumam Ismail sembari menghidupkan mesin mobilnya.
Belum menginjak pedal gas, nada dering panggilan masuk berbunyi di ponsel milik Ismail.
"Ya, Sayang?"
__ADS_1