Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 46


__ADS_3

Di rumah sederhana tempat peristirahatannya, Kia meringkuk di atas sofa. Ya, bukannya masuk ke kamarnya,  Kia justru berbaring d atas sofa dengan pintu yang di biarkan terbuka begitu saja, sehingga Rey yang tadinya sudah masuk ke dalam mobil pun mengurungkan niatnya untuk pergi. Rey justru kembali dan melihat apa yang sedang Kia lakukan.


"Astaghfirullahal'adzim, Kia!" ujarnya saat melihat wanita itu tertidur di atas sofa.


"Bangunlah, pergi tidur di kamarmu. Jangan menyiksa dirimu sendiri karena hal ini." ujar Rey lagi sembari membangunkan Kia agar bangkit dan berpindah tempat ke kamarnya.


"Rey, benarkah aku nggak bisa lagi melihat Zayn setelah ini?" tanya Kia dengan mengucek kedua matanya yang masih sayu.


Rey menghela nafas, memperbaiki duduknya di atas sofa di samping Kia kemudian menggerakkan dan menggosok kedua telapak tangannya sendiri.


"Aku tau kamu sangat ingin kembali kepada anakmu, tapi bersabarlah. Allah bersama orang-orang yang sabar, ingat itu." Rey memberi nasehat.


"Tapi aku takut, Rey. Bagaimana kalau kita nggak menang kasus ini?  Bagaimana kalau aku nggak bisa bertemu lagi dengannya? Aku bisa gila, Rey! Zayn itu hidup dan matiku." kata Kia sambil menangis bersenggukkan.


Rey memegang tangan Kia, di usapnya punggung tangan Kia guna menenangkannya. Rey sangat tahu, saat ini waktu- waktu Kia merasakan kerapuhan.


"Dengar, ya. Aku berusaha semaksimal mungkin. Dan sebentar lagi mungkin banyak bukti yang akan berdatangan kepada kita. Aku yakin, kita pasti bisa melewati ini semua. Sekarang, tugasmu hanyalah menampung air matamu yang hanya bisa kamu tumpahkan saat kita menang, oke?" bujuk Rey sebaik dan sesabar mungkin.


Wanita itu mengangguk sembari menghapus air matanya. Bersama Rey, dirinya menjadi sosok yang lebih manja dan sering menangis. Kia bahkan tidak mengerti, mengapa bersama lelaki ini justru dirinya begitu mudah mengekspresikan kesedihan dan selalu menempatkan lelaki itu sebagai sandaran. Kadang Kia bertanya-tanya dalam hati, ke mana kah sosok dirinya yang kuat? Sosok wanita yang tak mengenal tangis.


"Satu hal lagi, berjanjilah untuk menjaga dan merawat dirimu sendiri baik-baik. Karena mulai saat ini aku akan menjadi sangat sibuk. Aku akan kurang memperhatikanmu sekarang." ujarnya sembari menatap mata Kia, sementara yang di tatap menjadi bersemu merah wajahnya.


"Baiklah, aku berjanji padamu, Rey." sahutnya sambil menunduk menghindari tatapan indah mata Rey.


Menyadari hal itu, Rey pun tersenyum karena menahan tawa. Dia tahu saat ini Kia sedang malu-malu. Ah, menggemaskan sekali wanita ini, batin Rey berkoar-koar.


"Ya sudah, aku tinggal dulu. Jangan lupa makan dan istirahat. Istirahat di kamar, jangan berbaring di sofa. Badanmu bisa sakit kalau tidur-tiduran di sini. Bisa-bisa besok akan ku angkut sofa ini keluar. Kalau bisa aku jual, lumayan uangnya untuk beli bensin." Rey memberondong dengan perintah dan ancaman halus untuk Kia.


"Siap, Pak Pengacara. Titahmu akan aku laksanakan!" Kia memberi hormat ke arah Rey, sedangkan Rey hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Mudah sekali mood wanita ini berubah.


"Ya sudah. Aku pergi dulu."

__ADS_1


Rey pun segera pamit dari sana, berduaan dengan wanita dalam satu ruangan hanya akan membuat masyarakat luar menjadi salah faham. Apalagi jika tetangga perempuan yang super julid melihatnya, bisa-bisa besok mereka harus pindah dari tempat itu.


***


Di perjalanan menuju kantor, Rey mencoba menghubungi nomor seseorang, Wanita yang pernah menjadi kekasih hati sekaligus sahabat dari Kia.


"Hallo?" Vita berkata lirih, entah sedang apa dia d sana sehingga menerima telepon pun harus bersuara pelan.


"Bisakah kita bertemu sekarang?" tanya Rey tanpa basa-basi.


"Bisakah menungguku nanti sore? Aku sedang bersama suamiku. Sore nanti akan aku luangkan waktu untukmu." sahutnya masih dengan nada yang sama.


Deg!


Di luar dugaan, bukan bertanya dengan siapakah dirinya berbicara, wanita itu bahkan seolah tau jika Rey yang menghubunginya. Seolah tak tahu malu pula, Vita menyahuti Rey seperti itu. Tanpa menjawab kata terakhir, Rey segera memutus panggilan secara sepihak.


"Sial! Beruntung sekali hubunganku dengannya berakhir dengan cepat. Aku nggak bisa membayangkan hidup bersama wanita gatal seperti itu." gerutunya dalam hati seraya bergidik ngeri.


Alangkah terkejutnya Rey, wanita yang baru saja dia telepon tadi pagi bisa mengetahui tempatnya bekerja.


"Astaghfirullahal'adzim." Rey mengusir pikiran jahatnya, lalu segera dia pergi menghampiri wanita itu.


"Katakan apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Devita tanpa basa-basi saat Rey sudah berada d hadapannya.


"Cih! Sepertinya aku harus membiasakan diri agar nggak terkejut saat mendengarnya berbicara." decak Rey dalam hati.


"Tentang Zayn." ungkap Rey dengan memasang wajah datar.


"Kamu mau membahas apa tentang Zayn?" tanya Vita dengan tangan bersedekap di dada.


Rey tersenyum remeh, mengamati wanita itu lekat-lekat. Sungguh perubahan yang amat mengerikan.

__ADS_1


"Untuk apa kamu tersenyum seperti itu? Jelaskan, apa maumu sebenarnya?" bentak Vita.


"Seperti biasa." sahut Rey santai.


"Kalau kamu mau membahas tentang Zayn, aku rasa sudah nggak perlu. I'm sorry, aku nggak akan menyerahkan Zayn kepada Zaskia karena ini adalah keputusan mutlak dariku. Zayn anakku, aku yang melahirkannya, mengerti?" jelasnya dengan satu kali tarikan nafas.


"Walau pada akhirnya kamu nggak akan kalah di pengadilan, kamu tetap bersikukuh seperti ini?" ledek Rey membuat wanita itu ingin mengerang.


"Apa maksudmu, Rey?" tanya Vita tak mengerti.


"Aku sudah mendapat beberapa bukti tentang ketidaklayakanmu untuk mengasuh Zayn. Tentang perbuatan burukmu yang membuang anak kandungmu sendiri. Dan sekarang bahkan kamu membiarkan Zayn di siksa oleh Ibumu sendiri. Sebelum aku menyerahkannya kepada pihak pengadilan, apa ada yang ingin kamu katakan?" tantang Rey, berharap Vita mau luluh dan mengambil jalan damai.


"Ibuku menyiksa Zayn? Nggak mungkin, Rey. itu hanya akal-akalan kamu aja 'kan biar aku menyerahkan Zayn." sanggah wanita itu dengan tersenyum masam. Bohong jika wanita itu tidak merasa cemas dan khawatir.


"Aku merasa sekarang kamu berubah, Rey." ujar Vita mengalihkan.


"Oh, ya? Apa kamu nggak salah? Bukan aku yg berubah, tapi kamu yang serakah!" ungkap Rey dengan senyuman di paksakan.


"Sudahlah, aku yakin, pengacaraku bisa membuktikan kalau aku ini nggak bersalah dalam hal apapun!" Vita menyanggah perkataan Rey.


"Kalian akan menggunakan argumen apa? Mengungkapkan kalau kamu sedang mengalami baby blues pasca melahirkan? Apa kamu pikir pengadilan akan percaya dengan argumen tak berbobot itu? Kamu pikir pihak pengadilan sama bodohnya dengan suamimu?" ledek Rey dengan senyum menyeringai.


"Jaga ucapanmu, Rey!" tunjuk Vita ke depan wajah Rey dengan tegas.


"Ups, sorry. Baiklah, aku hanya ingin mengingatkan kembali, kasus ini bisa di selesaikan dengan cara damai. Dan aku minta cabut pembatasan tentang pertemuan Zayn dan Zaskia.  Aku jamin, dia nggak akan menambah banyak kasus tentangmu." bujuk Rey lagi.


"Maaf aku nggak bisa!" tolak Vita.


"Apa kamu nggak punya hati sedikitpun? Apa kamu nggak melihat, kasih sayang Zaskia jauh lebih besar daripada kalian sebagai orang tua kandungnya! Kamu punya mata dan bisa melihatnya sendiri 'kan? Aku hanya meminta ini saja." pinta Rey untuk kesekian kali nya. Namun perkataan itu percuma, Vita masih mempercayai otak batunya.


"Maaf, aku nggak bisa!" tolaknya dengan tegas lalu meninggalkan Rey yang masih berdiri di tempatnya.

__ADS_1


"Kita lihat saja, Vita. Semoga kamu nggak menyesal atas pilihan mu." ujar Rey lirih dengan pandangan mata yang mengantar kepergian Vita.


__ADS_2