
Di sebuah desa, yang tak ramai penghuni, Sebuah mobil terhenti di depan sebuah rumah beton tanpa cat berukuran empat kali enam meter.
Kelompok orang-orang bertubuh kekar itu mendorong Zaskia agar segera keluar dari mobil.
"Mengapa kalian menurunkan aku di sini, ini di mana?" pekik Kia memperhatikan sekelilingnya dengan bingung.
"Kau tinggal saja di sini. Ini tempat layak untukmu." ujar salah satu dari mereka menunjuk rumah beton di depannya.
"Rumah siapa ini?" Kia memperhatikan rumah tersebut.
"Ini rumah milik Ibu Wati yang sebelumnya ingin dia jual tapi nggak jadi karena masih mengasihanimu." sahutnya.
"Kasihan? Dia yang sudah merampas semua milikku, masih bisa berkata kasihan?" jerit Kia menatap lawan bicaranya.
"Maaf, kami harus pergi. Aku harus menjemput anakku pulang sekolah. Aku takut terlambat." ujar lelaki itu lagi ingin segera masuk ke dalam mobil namun Kia berusaha menahan.
"Kamu masih bisa memikirkan anakmu. Apa kamu bisa membayangkan kalau anakmu harus di pisahkan dari Ibunya seperti anakku?" tanya Kia dengan tatapan mengiba.
"Maaf, Bu Kia. Aku juga terpaksa melakukan ini karena keselamatan anakku menjadi ancamannya. Jadi aku mohon, kerja samanya. Aku yakin anakmu akan baik-baik saja di sana." pinta lelaki itu.
"Baik lah. Silahkan pergi." Kia mengibas tangannya.
"Ini kuncinya." lelaki itu menyerahkan sebuah kunci yang sudah sedikit berkarat.
"Terima kasih, semoga keadilan segera terungkap. Agar wanita tua itu mendapat karma akibat menyusahkan keluarga orang lain." Kia membalikkan badan sambil menghela nafas.
"Aaamiin," lirih lelaki itu sembari memasuki mobil dan mulai meninggalkan Kia.
Kia memasuki rumah tersebut sambil menenteng sebuah tas berisi beberapa pakaian dan benda penting lainnya. Beruntung Mbak Asih sempat membantunya, jika tidak begitu Kia akan pergi tanpa membawa apapun.
Udara kurang bersih terasa menggerogoti indra penciumannya, hingga membuat wanita itu terbatuk dan bersin-bersin. Di bukanya salah satu jendela yang ada di ruang dapur sebesar satu kali dua meter itu untuk memudahkan udara bersih mengganti hawa tak enak dalam rumah yang akan dia tempati sementara waktu ini.
Seluruh peralatan makan dan lantai penuh dengan debu, menandakan bahwa rumah ini memang sudah lama tak di tempati. Kia pun mengambil sapu yang terletak di sudut ruangan tersebut. Wanita itu pun mulai membersihkan rumah dengan peralatan kebersihan seadanya. Setidaknya dia bisa tidur dengan nyaman malam ini.
__ADS_1
Saat membersihkan kamar, Kia mendapati satu buah foto berbingkai penuh debu yang terletak di atas meja rias. Di usapnya kemudian di lihatnya dengan seksama wajah dua orang dalam foto tersebut.
"Ini, bukannya ayah dan wanita jahat itu?" gumamnya sembari terus memperhatikan foto ayahnya yang sedang merangkul bahu wati dengan senyum yang terhias di wajah keduanya.
"Ternyata benar apa yang di katakan wanita itu, dia dan ayah pernah ada hubungan. Tapi apa benar, ibu yang merebutnya?" Kia bertanya-tanya sendiri.
"Ah, sudahlah, aku percaya Ibu tak akan sekejam itu pada orang lain."
"Lagian, untuk apa mengungkit mereka yang sudah tenang di alam sana." tambahnya lagi kemudian melanjutkan aktivitas bersih-bersih nya.
Sementara itu, dengan wajah bahagia keluarga Wati menata barang-barangnya ke rumah baru mereka, rumah Kia yang telah mereka rampas.
Dengan angkuhnya, Wati memajang foto yang ukurannya sebesar kulkas ke dinding kamarnya.
"Ah, lihatlah gambar wajahku ini, memang cocok dengan dinding rumah mewah ini." ujarnya memangku tangan di dada.
"Cantiknya, Bu. Wajah Ibu yang di foto kenapa mirip dengan orang belanda ke arab-araban?" Bella menatap bergantian pada Ibu dan gambarnya.
"Bukannya aku sombong, kakekmu dulu masih ada turunan mesir." Wati menyugar helaian rambut panjangnya ke belakang.
"Pantas apa?" tanya Wati karena mendengar jelas lirihan Bella.
"Pantas, kelakuan Ibu sama persis dengan raja mesir jaman dahulu." celetuk Bella.
"Raja mesir jaman dulu? Siapa?" tanya Wati lagi.
"Raja Firaun!" cetus Bella lalu berlari meninggalkan Wati yang mulai mengeluarkan api amarah dari kepalanya.
"Kurang ajar!" pekik Wati menatap kepergian Bella.
***
Riuh suara burung terdengar di antara pepohonan. Bulir-bulir bening senantiasa membasahi setiap helai daun yang tumbuh di muka bumi.
__ADS_1
Sepasang mata bundar itu terbuka perlahan, nanar mata bulatnya memandang langit-langit kamar tak berplafon, rasanya enggan untuk terperanjat dari tempat tidur usang itu setelah semalaman berdrama dengan ribuan nyamuk yang singgah dalam rumah lusuh tersebut.
Wanita itu kemudian meraih ponsel di samping bantalnya dan melihat jam yang tertera dalam layar, baru menunjukkan pukul enam pagi. Di hela nafasnya perlahan, akan kah dia mampu untuk bertahan hidup di rumah tanpa apapun di dalamnya. Makan malam saja dia lewatkan karena kompor tidak ada, apalagi bahan untuk memasak. Beruntung masih ada aliran air di sana, jika tidak ada, mandi pun dia akan berpikir keras.
Usai mencuci muka, dia bergegas mencari warung terdekat. Untung saja dalam dompetnya masih ada beberapa lembar uang ratusan, masih cukup membeli peralatan mandi dan makanan untuk beberapa hari kedepan.
Menyusuri jalan beberapa meter, akhirnya Kia sampai di sebuah rumah dengan barang dagangan bergantungan rapi di sisi rumahnya. Binar matanya terpancar, bersyukur sekali rasanya karena tak harus bersusah payah mencari.
Saat memasuki pekarangan rumah berwarung itu, mata kia membola saat melihat seorang pria yang di kenalnya.
"Rey?" Kia sedikit berlari menghampirinya.
"Akhirnya aku menemukanmu, Kia" ujar Rey saat Kia sudah benar-benar berada tepat di hadapannya.
"Bagaimana bisa kamu ada di sini?" tanya Kia.
"Justru aku ingin mendengar banyak ceritamu setelah ini. Karena hal yang paling nggak aku sangka, mantan pacarku menikah dengan suamimu." tutur Rey dengan sedikit terkekeh.
"Bagaimana kamu bisa tau, Rey?" Kia sedikit terkejut.
"Semalam, aku pergi ke rumahmu. Sebenarnya aku sedang ada urusan di kota itu dan kebetulan melewati rumahmu, jadi aku ingin singgah. Hal yang aku kagetkan adalah mengapa bisa Ibunya Vita ada di rumahmu. Aku bertanya-tanya dalam hati dan saat itu juga aku langsung melihat sendiri jawabannya, Vita keluar bersama-sama dengan Ismail sambil bergandeng tangan. Kalau bukan suami istri, apa lagi gambaran yang tepat untuk mereka, toh ibunya juga ada di sana." jelas Rey.
"Ya, kamu benar. Aku baru mengetahuinya baru-baru ini, Rey." ujar Kia menatap perkarangan rumah yang di pijaknya penuh dengan bunga-bunga indah terawat.
"Selama tujuh tahun dia menikahinya di belakangku. Bahkan melahirkan seorang anak. Dan anak itu yang aku rawat dengan sepenuh hati." tambahnya.
"Apakah dia Zayn?" tebak Rey.
"Ya, Zayn anak yang malang itu aku ambil dari panti asuhan. Namun siapa yang menyangka kalau ini salah satu cara mereka untuk mengelabui aku. Tidak ada manusia yang lebih kejam dari mereka." sahut Kia dengan suara bergetar. Dia masih tak rela kalau Zayn adalah anak Ismail dan Devita.
Rey pun menghapus jarak di antara mereka, perlahan menarik Kia masuk dalam dekapannya. Dia sangat mengerti kesedihan yang di alami wanita itu.
"Tenanglah, Kia. Everything will be fine. Aku akan membantumu, oke?" ujarnya menenangkan Kia yang mulai terisak.
__ADS_1
Visual Reyhan