
Hal yang aku sadari setelah semakin dewasa adalah tidak semua orang bisa menjadi tempatmu mengadu. Bahkan juga nanti ada saat di mana kamu akan terus berurusan dengan orang yang tidak kamu suka.
***
Tak tahan dengan bau rumah sakit, pagi ini setelah melakukan pemeriksaan dan dinyatakan boleh pulang, dengan sedikit tergesa Zaskia segera memesan taksi untuk kembali ke rumah. Seseorang yang paling dia ingin temui saat ini adalah Zayn. Bagaimana pun juga, hanya Zayn lah saat ini yang dia miliki. Suami yang membencinya, bahkan sahabatnya pun berkhianat.
Zaskia membuka pintu kamar Zayn, melihat anak laki-lakinya sedang duduk dan belajar seorang diri. Zayn sengaja meminta izin untuk tidak pergi ke sekolah karena menunggu Zaskia pulang. Sebenarnya semalam Zayn merengek ingin menjenguk Mamanya, tetapi semua orang dalam rumah melarangnya. Wanita itu pun mengucap salam dan langsung memeluk Zayn, menyalurkan rasa rindu dan sayang.
"Mama pulang, Sayang. Maafkan mama yang semalam nggak bisa menemanimu." ujar Kia sembari mengecu pucuk kepala Zayn.
"Zayn nggak apa-apa, Ma. Zayn malah takut Mama kenapa-kenapa. Sekarang, apa Mama sudah sehat?" tanya Zayn sembari mengecek suhu tubuh Kia menggunakan punggung tangannya.
"Mama nggak apa-apa, Sayang. Aduh, anak Mama sudah bisa khawatir, ya." goda Zaskia sembari memegang tangan mungil tersebut.
"Kan Zayn sudah besar, Ma. Kata Ibu Guru, kalau sudah besar harus menjaga orang yang kita sayang. Mama kan orang yang Zayn sayang, jadi Zayn harus menjaga Mama." jelasnya sembari tersenyum.
Tak berapa lama, terdengar keributan dari lantai dasar. Rupanya Ismail dan beberapa orang yang entah siapa saja, baru saja memasuki ruang tamu. Zaskia dan Zayn pun akhirnya turun ke bawah untuk melihat sumber keributan tersebut.
Satu hal yang mengundang perhatian Zaskia adalah Devita yang datang bersamaan dengan suaminya. Sungguh tak tau malu dia datang membawa keluarganya ke rumah itu.
"Mau apa kalian ke sini?" pekik Kia dengan suara melengking d telinga.
"Kia, ak-, aku ingin me-, meminta maaf sama kamu." ujar Vita dengan terbata dan mata yang menggenang. Sementara Wati malah memanjakan matanya menyusuri mewahnya rumah Kia. Dan Ismail, jangan di tanya. Dia tetap saja acuh terhadap Kia.
"Sekarang aku tanya, apa salahku padamu? Aku menganggapmu sebagai sahabat, sampai aku acuh dengan orang lain demi persahabatan kita. Aku percaya padamu, sampai aku berani menceritakan semua masalahku kepadamu. Namun ternyata, di belakangku kamu malah berselingkuh dengan suamiku. Oh, bukan berselingkuh tetapi kurasa kalian memang saling mencintai, dan di sini aku cuma orang ketiga di antara kalian." ujar Kia sembari tertawa getir.
__ADS_1
Kia menghela nafas berat kemudian menghapus genangan yang seenaknya saja luruh menyentuh wajah cantiknya.
"Kamu sudah mengambil suamiku, sekarang kamu mau mengambil lagi perusahaanku. Apa maumu sebenarnya, Vita? Apa kurang cukup kamu membuatku menderita?" gertak Kia, emosinya sudah semakin meluap.
"Aku benar-benar minta maaf, Kia. Maafkan aku." Vita mencoba memegang tangan Kia, namun wanita itu menepisnya tak sudi.
"Maaf, katamu? Apa cuma permintaan maaf yang kamu bisa lakukan? Di mana hati nurani mu, Vita? Kamu sudah menyakitiku!" Kia mendorong tubuh Vita hingga terhunyung kebelakang. Beruntung ada Ismail yang menghalangi jika tidak, Vita sudah pasti terjatuh.
"Sudah cukup, Kia! Jangan kamu salahkan Vita lagi. Aku yang salah di sini! Kalau mau marah, silahkan marah kepadaku." lerai Ismail, melindungi Vita dari amukan Kia.
"Apa aku harus menyalahkanmu? Bukankah selama ini aku yang selalu salah di matamu, untuk apa aku menyalahkanmu lagi. Aku sudah sangat buruk di matamu di banding perempuan ini." tunjuk Kia kepada wanita pengkhianat itu.
"Wanita suci dan lelaki hebat. Cocok memang kalian berdua. Jadi mau apa lagi kalian ke sini? Jika tidak ada urusan silakan kalian keluar!" Kia pun mendorong tubuh Ismail untuk keluar, namun tenaga Ismail cukup besar dan Kia tak mampu menandinginya.
"Sudah, Mama. Mama harus tenang." ujar Zayn memeluk tubuh Zaskia sambil menangis. Dia sangat bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Namun melihat Mamanya mengamuk seperti itu, dia sungguh merasa bahwa Zaskia memang sedang tidak baik-baik saja.
"Sudah puas kamu sekarang?" gertak Vita kepada Ismail saat Kia, Zayn dan Mbak Asih tak terlihat.
"Cepat atau lambat, Kia akan mengetahui tentang ini, Vita." sahut Ismail menenangkan Vita.
"Tapi kenapa kamu tega berbuat jahat seperti ini kepada Kia?" tanya Vita.
"Aku jahat? Kita yang jahat, Vita. Jangan lupa siapa yang memaksaku untuk menikahinya. Jika saja tidak menikahinya, mungkin dia sudah bahagia bersama orang lain." sahut Ismail tanpa mau di salahkan.
"Tapi-"
__ADS_1
"Sudah dramanya? Kapan kita akan pindah ke rumah ini?" tanya Wati akhirnya, karena sudah geram sedari tadi menyaksikan siaran langsung drama pertengkaran seorang suami bersama kedua istrinya.
"Apa Ibu tidak ada rasa iba sedikit pun? Ayo kita pulang, Bu. Jangan menambah beban orang lain." Vita pun menghentakkan kaki keluar dari rumah itu.
"Besok kita akan datang lagi, Bu." ujar Ismail yang mengerti dengan suguhan raut wajah mengerikan Ibu mertua nya. Akhirnya mereka pun kembali ke rumah dengan wajah muram. Devita yang merasa menyesal, Wati yang merasa kesal karena gagal menempati rumah besar itu, sementara Ismail yang bimbang harus melakukan apa untuk menyenangkan mertua dan istrinya.
"Bisakah kamu mengembalikan perusahaan itu kepada Kia?" tanya Vita saat mereka berdua sudah berada dalam kamar.
"Kalau kamu sudah nggak ingin bersama dengannya, setidaknya jangan juga kamu ambil perusahaannya." tambahnya lagi.
"Tapi, Sayang. Kamu tau 'kan bagaimana Ibumu? Kalau ngga berhasil, dia bisa aja mencari cara lain agar kamu mendapatkan kebahagiaan." sahut Ismail.
"Kebahagiaan ku, atau Kebahagiaan Ibu? Kamu bisa menolak 'kan, kita pergi saja dari negara ini kalau memang Ibu terus menerus mencampuri rumah tangga kita." usul Vita.
"Aku nggak perduli mau hidup susah, yang penting kita jangan menyusahkan Kia lagi. Aku nggak mau menambah luka untuknya." tambah Vita.
"Sayang, dengarkan aku. Kamu jangan terlalu memikirkan masalah ini, Oke? Aku pasti akan memikirkan cara untuk menyelesaikannya. Kamu harus tenang. Sekarang istirahat lah." bujuk Ismail.
"Tapi, Ismail-"
"Sudah, kamu baring dulu! Apa kamu lapar? Biar aku ambilkan makanan untukmu. Sebentar, ya." Ismail segera bergegas tanpa menunggu jawaban dari Sang Istri. Ismail memang jago dalam hal menghindari sesuatu.
Yang ingin liat Visualnya. Satu-satu dulu ya, hehe.
Ismail
__ADS_1