
Kepergian Zayn membuat rusuh semua orang, terutama Zaskia, Ismail dan Devita. Perdebatan tak akan ada habisnya jika salah satunya tidak ada yang mengalah.
Akhirnya Rey pun mengutarakan pendapatnya guna menghentikan perdebatan yang tak berujung gitu.
"Cukup! Sudahi dulu pertengkaran kalian, lebih baik sekarang kita berpencar mencari Zayn." ujar Rey menarik tangan Kia agar sedikit menjauh dari Ismail.
"Baiklah. Aku dan Devita akan mencarinya ke sekitar sekolah. Kalian cari kemanapun, bukannya kamu sangat tahu semua tentang Zayn." sindir Ismail. Zaskia tersenyum sinis, sindiran itu membuatnya semakin bersemangat untuk menemukan Zayn.
Mereka pun menaiki mobil masing-masing, Zaskia bersama Rey dan Ismail bersama Devita. Mereka melaju dengan rute perjalanan yang berbeda.
Sesampainya di sekitar sekolah, Devita bertanya pada orang-orang yang di temuinya dengan menunjukkan foto Zayn dalam ponselnya. Namun tak satu pun yang melihat anak itu. Devita pun masuk ke dalam ruang guru dan bertanya kepada mereka, namun hasilnya masih sama. Zayn bahkan sudah lama tidak bersekolah, bagaimana bisa berada di sana tanpa orang tua yang mengantarnya.
"Ya Allah, Zayn. Kamu di mana, Nak?" lirih Devita bertanya-tanya.
"Sabar, kita pasti akan menemukan Zayn." Ismail mengelus pundak Devita, menenangkan istrinya agar tetap tenang.
"Apa kita lapor polisi saja?" usul Devita namun Ismail menggeleng.
"Percuma, Sayang. Polisi akan memproses kalau Zayn sudah hilang lebih dari dua puluh empat jam." sahut Ismail. Devita pun menghela nafas panjang, kesalahannya memang sangat besar. Rasanya sekarang dia menyesal.
Berbeda dengan pencarian Ismail dan Devita, Zaskia dan Rey mendatangi tempat yang biasa mereka kunjungi saat bersama.
Kia mendatangi sebuah cafe biasa yang menyediakan es krim d sana. Pemiliknya berkata bahwa Zayn sudah lama tidak mengunjungi tempat itu.
Pencarian pun terus berlanjut hingga Kia terpikir kediaman seseorang yang mungkin saja ada Zayn di sana.
"Putar balik, Rey. Sepertinya aku tahu Zayn berada di mana sekarang." ujar Kia tersenyum.
"Apa kamu yakin?" tanya Rey tak percaya.
"Sudah, dengarkan dan percaya saja padaku." pinta wanita itu dan Rey pun mengangguk serta memutar arah perjalanannya.
Kia mengusap layar ponselnya dan menelepon seseorang yang di maksud.
Tuut.. Tuutt.. Tuutt... Tiga kali memanggil nomor tersebut namun tidak ada yang menjawab. Kia tak henti-hentinya mencebik, hatinya mulai resah. Harapan satu-satunya hanyalah orang ini.
__ADS_1
"Cepat, Rey. Aku ingin segera bertemu dengannya." kata Kia memelas.
"Sabar, berkendara juga ada aturannya, Kia. Kalau kita celaka, bisa-bisa bukan kita yang menemui Zayn. Tapi malaikat maut yang menemui kita." sahut Rey.
"Cih, malah menakut-nakuti aku." Kia kembali mencebikkan bibirnya.
Tak lama ponselnya berdering, orang yang di teleponnya tadi menelepon balik. Dengan cepat Kia mengusap tombol hijau dalam layar itu.
"Hallo, Mbak Asih." kata Kia setelah menjawab panggilan itu.
"Assalamualaikum, Ibu Kia." sela Asih dengan mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam, Mbak Asih." ujar Kia datar. Ingin marah pada Asih yang terlalu bertele-tele di saat genting seperti ini.
"Ya Allah, Ibu Kia. Maafkan aku, karena baru melihat ponselku. Tadi, aku sibuk di belakang mengurus Zayn sebentar." ujar Asih, terdengar sekali rasa tidak enaknya kepada mantan majikannya itu.
Zaskia tersenyum, dugaannya sejak tadi terjawab sudah. Dirinya tak perlu bersusah payah untuk mencari jika Zayn sudah berada di tempat yang aman.
"Berikan alamatmu, kirim saja lewat pesan nanti." ujar Kia dengan mata berbinar walau sudah sedikit mengembun.
"Baik, Ibu Kia. Akan aku kirim sekarang juga." ujarnya hendak mematikan telepon.
"Dia tertidur, Bu Kia. Dia sangat kelelahan karena berjalan jauh." sahut Asih.
"Astaghfirullahal'adzim, cepat kirim alamatmu, aku sudah nggak sabar ingin bertemu anakku." titah wanita itu.
"Baik, Bu Kia. Assalamualaikum." pamitnya dan di jawab lembut oleh Kia.
"Bagaimana?" tanya Rey setelah melihat senyum merekah di wajah Kia.
"Sekarang Zayn berada di rumah Mbak Asih." ujar Kia dan Rey pun menepuk jidatnya sendiri.
"Astaga, kenapa kamu memintaku putar balik, sih? kita sudah jauh dari arah rumah Asih." Rey sedikit kesal dan memutar lagi mobilnya menuju kediaman Asih.
"Memangnya kamu tahu rumah Mbak Asih? Aku bahkan baru di beritahu alamatnya." ujar Kia melihatkan alamat yang baru saja di kirim oleh Asih melalui pesan singkat dalam ponselnya.
__ADS_1
"Ya aku tahu, Kia." ujarnya sambil fokus menyetir.
"Kok kamu bisa tahu?" tanya Kia penuh selidik.
"Nanti kamu tanyakan sendiri saja pada Asih." sahut Rey enggan membuka kartu.
"Apa sebenarnya kalian-" Kia menjeda pertanyaannya karena Rey lebih dulu menyela.
"Jangan berpikir aneh-aneh. Aku nggak ada hubungan spesial seperti yang tertulis dalam otakmu!" Rey menyentil kening Kia.
"Aw, sakit." Kia mengaduh kesakitan sedangkah Rey malah tertawa.
"Sekarang kamu mulai merahasiakan sesuatu dari aku, ya?" Kia memanyunkan bibir dan memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela mobil.
Rey semakin tertawa, rasanya Kia semakin menggemaskan saja. Kia semakin mencebik kesal, di lipat tangannya di dada karena ingin menegasÄ·an bahwa dirinya sedang marah.
Bukan menghilangkan rasa penasaran Kia, justru Rey malah menutup dan membuat gerakan munguci mulutnya rapat-rapat. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam dan sibuk dalam pikiran masing-masing.
"Apa kamu nggak ingin mengabari Ismail dulu, agar mereka nggak semakin cemas?" tanya Rey menguraikan kecanggungan di antara keduanya.
"Astaga, aku lupa. Kenapa kamu nggak ingatkan sedari tadi, sih?" ujar Kia kesal dan mulai memanggil nomor pribadi milik Devita dan memberi tahu tentang Zayn yang sedang berada di kediaman Asih.
Kia dan Rey pun tiba di kediaman Asih saat azan berkumandang tanda waktu sholat Isya. Dengan cekatan Asih menyambut kedatangan Kia, memeluknya erat menyalurkan rasa rindunya.
"Ah, aku rindu sekali dengan Ibu Kia." ujar Asih saat pelukan sudah terlerai.
"Sama, Mbak. Aku juga kangen sekali, biasanya wajahmu yang ku lihat setiap pagi." goda Kia membuat Asih tertawa.
"Ya sudah, ayo kita masuk. Zayn masih tidur di kamar." Asih menuntun mantan majikannya itu masuk ke dalam kamar yang sedang di tempati oleh Zayn dan meninggalkan mereka berduaan di sana.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Rey basa-basi.
"Alhamdulillah, Kak. Seperti yang Kakak lihat sekarang ini." sahut Asih seadanya.
"Aku siapkan minum dulu, Kak. Sholat lah dulu, kamar tamu di sebelah sana. Dan nanti Kalau bosan, nyalakan saja televisi, remote nya ada di atasnya." ujar Asih lalu pergi meninggalkan Rey seorang diri.
__ADS_1
Rey menghela nafas panjang kemudian mengikuti arahan Asih tadi, mengambil air wudhu lalu melakukan sholat empat rakaat.
Setelah menunaikan ibadahnya, Rey pun mengambil remote di atas televisi berukuran dua puluh satu inch itu untuk menghilangkan bosannya sambil menunggu kedatangan Ismail dan Devita.