Kisah Tak Sempurna

Kisah Tak Sempurna
Bab 16


__ADS_3

Matahari kini bertengger tepat di atas kepala, ombak semakin bersemangat menggeser diri sesekali ke tepian. Birunya langit pun kian semakin terlihat indah.


Zaskia sedari tadi mengitari pinggiran pantai dengan topi pantai yang menutup seluruh wajahnya dari paparan sinar matahari, sesekali dia sematkan anak rambut ke belakang telinga karena angin yang menghembus kencang. Di sampingnya ada Reyhan yang menemani, tak lupa kaca mata hitam yang tertahan di atas hidung mancungnya menambah aura ketampanan lelaki itu.


Zayn yang melihat kedekatan Kia dan Reyhan pun menggaruk pelan kepalanya yang tak gatal. Kemudian bertanya kepada Mbak Asih yang baru saja selesai berganti pakaian usai berenang.


"Mbak, Mama dengan siapa itu?" Zayn menunjuk ke arah Kia yang sedang tertawa bersama Reyhan.


"Mbak nggak tau juga, Zayn. Mbak baru lihat laki-laki itu." sahutnya sambil melihat dengan seksama wajah Reyhan dari kejauhan.


"Mungkin temannya Mama kamu deh, Zayn. Biarkan saja, kita siapkan makanan dulu. Nanti Mbak panggil ke sini kalau sudah selesai." ujar Mbak Asih menarik tangan Zayn menuju gazebo.


Kia dan Reyhan pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke gazebo karena kini perutnya sudah berteriak minta di isi.


"Ayo, kita makan bersama." ajak Kia.


"Nggak usah, Kia. Aku mau balik ke hotel aja." tolak Reyhan karena merasa tidak enak.


"Jangan nolak rejeki! Ayo ikut, anggap aja sebagai rasa terima kasihku karena sudah menghiburku hari ini." ujar Kia sembari menarik tangan Reyhan menuju gazebo yang sudah di tunggu oleh Zayn dan Mbak Asih.


"Hai, Sayang. Sudah puas main airnya? Ih, Anak Mama jadi merah-merah begini." goda Kia kepada Zayn sambil melihat setiap inci wajah mungil itu.


"Habisnya seru 'sih, Mam. Nanti kalau liburan, kita main ke pantai lagi, ya." ujar Zayn sambil memperlihatkan binar matanya.


"Iya, nanti Mama akan bawa Zayn ke sini lagi. Oh, iya kenalin ini Om Reyhan, teman Mama." ujar Kia memperkenalkan Reyhan kepada Zayn.


"Hai, Om. Aku Zayn, anaknya Mama Kia." Zayn mengulurkan tangannya kepada Reyhan.


"Aih, sama Om santai aja, nggak usah terlalu sopan. Anggap aja, Om ini teman kamu. Oke, Bro?" Reyhan mengacungkan kepalan tangan kedepan Zayn, sehinggal Zayn pun membalasnya.


"Asik! Zayn punya teman baru." Zayn berteriak hore membuat gelak tawa untuk orang dewasa di hadapannya.

__ADS_1


"Ya, sudah. Kita makan dulu." Kia pun mulai menyendok makanan ke piring masing-masing. Bahkan untuk Mbak Asih pun dia yang melakukannya.


"Dia emang seperti ini, atau karena ada aku aja baru baik gini, Mbak?" ledek Reyhan bertanya kepada Mbak Asih tetapi matanya melirik ke arah Kia yang tengah sibuk dengan piring dan sendoknya.


"Jangan salah sangka, Mas. Bu Kia itu memang baik orangnya." ujar Mbak Asih tulus sambil kembali melahap makanannya.


"Loh, iya 'kah? Setahuku dia galak." goda Reyhan.


"Iya, aku galak!" gerutu Kia sambil menyuap paksa tempe goreng ke dalam mulut Reyhan.


"Uhuk ... Sadis amat sih!" Reyhan pun meneguk air mineral di dekatnya, padahal air itu milik Kia.


"Eh, itu air ku 'loh, asal main teguk aja." ujar Kia menggelengkan kepala.


"Siapa suruh ngerjain. Orang sudah mau mati nggak bakalan mikir ini milik siapa." sahut Reyhan setelah menyeka mulutnya.


"Cih! Alasan!" Kia mencebikkan bibir, sementara Zayn dan Reyhan malah tertawa bersamaan.


"Aku baru liat mama ngambek 'loh Om." ujar Zayn terkekeh pelan.


"Tapi, kasihan Mama, Om." sahut Zayn pura-pura manyun.


"Enggak, Om cuma bercanda tadi." bujuk Reyhan dengan mengelus kepala Zayn.


"Sore ini gimana kalau kita jalan-jalan, biar puas gitu liburannya." seru Reyhan memberi ajakan.


"Memangnya mau jalan kemana, Om?" tanya Zayn sambil menggeser duduknya untuk duduk bersisian.


"Gimana kalau kita ke taman hiburan, tenang nanti Om yang traktir, deh." sahut Rey.


"Boleh 'kah, Ma?" tanya Zayn kepada Kia.

__ADS_1


"Ya, sudah boleh. Berarti kamu ikut mobil aku, Rey?"


"Kalau nggak keberatan, 'sih. Pulangnya gampang, biar aku naik taksi aja." usul Reyhan.


"Oke, deh. Selesai ayo, kita bersiap. Sudah selesai makan semua 'kan, biar cepat sampai dan pulang nggak kemalaman." ujar Kia mulai merapikan peralatan makan yang di gunakan tadi.


Setelah bersiap, mereka pun segera meluncur menuju Taman Hiburan yang terletak lumayan jauh dari pantai. Rey yang menjadi supir dengan Kia yang duduk di sebelahnya sedangkan Zayn dan Mbak Asih duduk di kursi belakang.


Zayn yang di kenal sulit bergaul malah bisa menyesuaikan diri belum sehari lamanya bertemu Rey. Mungkin karena Reyhan yang mudah mendominasi dan penyayang terhadap anak-anak sehingga membuat rasa nyaman pada Zayn.


Setelah mengendarai mobil sekitar satu jam lamanya, akhirnya mereka tiba di Taman Hiburan. Zayn yang sudah tak sabar, segera turun dan membukakan pintu agar Reyhan cepat turun dari mobil.


"Ya ampun, Zayn. Sabar, kita mau main apa dulu nih?" tanya Rey sambil berjalan bergandengan dengan anak laki-laki itu usai membeli tiket. Zayn pun mengedarkan pandangannya ke arah Bumper Car.


"Itu, Om." kata Zayn menunjuk wahana itu.


"Gas, Bro." Reyhan pun mengikuti Zayn berlari pelan menuju wahana yang di pilihnya dengan penuh semangat, bahkan canda tawa pun terhias dari wajah keduanya.


Kia melihat pemandangan itu penuh haru. Perlahan mata cantik itu menggenang, tak pernah terlintas di pikirannya jika Zayn akan merasakan hal yang pernah di impikan anaknya itu malah bersama Reyhan, bukan Ismail.


"Bu Kia, kenapa?" tanya Mbak Asih sambil menyeka air di pipi Kia.


"Nggak apa-apa, Mbak. Aku ngerasa sedih aja, harusnya Ismail yang menyenangkan Zayn, bukan orang lain. Kasihan Zayn masih kecil harus kekurangan kasih sayang karena kami berdua." Zaskia melangkahkan kaki menuju kursi kosong di bawah pohon dan di ikuti juga oleh Mbak Asih.


"Sebenarnya, apa yang terjadi sampai Tuan menceraikan Bu Kia." tanya Mbak Asih sembari menggenggam tangan majikannya.


"Dia berselingkuh, Mbak. Bahkan dia sudah menikah dengan wanita itu selama tujuh tahun. Jika Mbak yang ada di posisiku, Mbak akan bertindak bagaimana?" jelas Kia setelah itu bertanya kepada Mbak Asih.


"Astaghfirullah, nggak nyangka aku, Bu. Jangan di tanya, Aku juga sudah pasti minta cerai 'sih, Bu Kia." sahut Mbak Asih dengan kesal.


"Lucunya, dia yang minta cerai, Mbak." ujar Kia tertawa menghilangkan sesak.

__ADS_1


"Yang sabar, Bu Kia. Allah nggak tidur dan tau mana yang terbaik untuk Bu Kia." sahut Mbak Asih sembari memeluk tubuh Kia, menepuk pelan punggung wanita itu.


"Ya, ini memang yang terbaik untuk kami berdua."


__ADS_2