
Kita tidak perlu mengadakan perbaikan. Aku dan kamu, 'kita hanya perlu menjalani kehidupan masing-masing. Lagipula, perceraian bukanlah sebuah derita. Justru bertahan dalam pernikahan yang tidak bahagia adalah penderitaan.
Itulah caption yang tertulis dalam postingan Ismail dengan berupa gambar dua tangan mereka yang tersemat cincin pernikahan.
"Cerai? Innalillah, Ismail! Teganya kamu mengumumkan hal ini pada publik!" Geram Kia dalam hati. Matanya berkaca-kaca, berpura-pura kuat pun tidak bisa.
"Riska, tolong bantu batalkan semua janji pada klien hari ini. Ada yang harus aku urus di luar!" titah Zaskia pada Riska.
"Baik, Bu Kia." Kia pun langsung melenggang pergi meninggalkan perusahaan yang di penuhi oleh rasa penasaran dari setiap pegawainya.
***
Di sebuah kamar yang ukurannya tidak seluas kamar milik Kia. Ismail baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang, dia baru saja selesai membersihkan diri. Kemudian mengenakan pakaian santai sederhana.
Telepon genggamnya sedari tadi terus menerus berdering. Banyak masuk notifikasi chat dan komentar dari postingan Insta sebelumnya di abaikan begitu saja.
Ismail menuju lemari kayu yang terletak di sudut kamarnya. Kemudian membuka laci untuk mengambil sebuah amplop coklat berukuran A empat. Amplop yang di berikan oleh Hakim pada saat mereka bertemu di sebuah cafe waktu itu.
*Flashback.
"Ini dokumen yang kamu minta." ujar Hakim menyerahkan amplop coklat yang berisi beberapa lembar kertas di dalamnya.
"Thanks bro karena sudah membantuku." kata Ismail pada saat mengambil map tersebut.
"Apa kamu yakin akan melakukan ini?" tanya Hakim sembari menyesap jus jeruk yang ada di depannya.
"Ya, aku yakin, karena aku nggak punya pilihan lain, Bro." jawab Ismail dengan tersenyum lalu melanjutkan kata-katanya, "Cepat atau lambat, aku pasti akan melakukan ini." tak ada tanda keraguan yang terlihat di wajahnya.
"Tapi kamu tau 'kan, kalau publik mengetahui hal ini, Zaskia akan terancam posisinya di perusahaan!" ujar Hakim mengingatkan.
"Sudahlah, Hakim. Aku tau mana yang terbaik untuk kami berdua!" Ismail mencebik kesal.
__ADS_1
"Untuk kalian berdua, atau untuk dirimu sendiri?" Hakim menimpali.
"Stop menuduhku. Tugasmu sekarang adalah bantu aku mengurus, aku ingin mendapat hakku." titah Ismail memberi sebuah map lain.
"Ini ... Astaga, Kau licik sekali, Mail!" Hakim mendengus kesal, namun apa daya. Dia hanya seorang pengacara yang berusaha membuat kliennya berhasil.
"Nggak usah naif. Kalau kamu ada di posisiku, kamu pasti akan melakukan hal yang sama." ujar Ismail dengan enteng.
"Iyaa, iyaa, baiklah. Aku akan bantu kamu mengurusnya." Hakim menghela nafas setelahnya.
"Kalau memungkinkan, aku mau urusan perceraian ini terjadi secepatnya." titah Ismail lagi.
"Oh, iya, Mail. Apa aku boleh bertanya satu hal?" tanya Hakim yang sedari tadi sebenarnya merasa ada hal janggal.
"Ya, silahkan tanya apapun jika itu bisa mempermudah urusan perceraianku." silah Ismail dengan tanpa rasa bersalah.
"Begini, kenapa dulu kamu mau menikah dengan zaskia? Ehm! Begini, kita kan teman seangkatan, jadi aku tau apa yang terjadi di antara kalian. Dulu yang aku lihat kamu nggak dekat dengannya. Bahkan kamu pernah menolak dia. Zaskia anak pengusaha besar, siapa sih yang nggak update tentang dia. Sampai kita yang beda kelas aja bisa dengar gosip itu. Kamu sempat terkenal karena menolak dia." jelas Hakim sembari terkekeh pelan mengenang kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Jawabannya simple, Bro. Karena jodoh." sahut Ismail.
"Jangan terlalu jujur jadi orang!" Ismail mendengus hingga Hakim puas menertawakannya.
***
Hari sudah semakin sore, Zaskia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dengan sepasang earpods yang menempel di telinga kiri dan kanan, Kia mencoba menelpon Ismail namun tak satu kalipun panggilan itu terjawab.
"Ismail! Kamu keterlaluan!" Kia memaki dan terus memukul-mukul stir mobilnya. Kemudian dia mencoba menelpon Devita.
Tuuttt.. Tuuttt..
"Hallo, Kia. Ada apa?" tanya Vita setelah panggilan itu terhubung.
__ADS_1
"Aku ingin kita bertemu sekarang!" sahut Kia dengan nada kesal.
"Baik, aku baru habis menjemput Zayn dan ini mau pergi ke rumahmu. Ketemu di rumahmu saja nggak apa-apa 'kan?" tanya Vita dari seberang sana.
"Oke, aku sudah di jalan juga. Sampai jumpa di rumah." Kia memutuskan panggilan dan memacu mobilnya sedikit lebih cepat.
Sesampainya di rumah, rupanya Vita sudah duduk di kursi teras rumah Kia. Kia segera menghampiri sahabatnya dan memeluknya.
"Ada apa denganmu, Kia?" tanya Vita dengan wajah khawatir.
"Ismail, mau menceraikanku." ujar Kia datar, tak ada air mata yang turun dari kelopak matanya seolah sudah kering akibat semalaman dia menangis.
"Apa! Nggak mungkin, dia pasti bercanda." Vita meleraikan pelukannya ketika mendengar itu pun terkejut tak percaya.
"Aku awalnya juga mau menyangkal soal ini. Tapi dia sudah mengumumkannya di sosial media. Jadi apa kamu yakin, kalau ini cuma candaan?" tanya Kia dengan wajah datarnya. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya.
Vita menggeleng pelan. Tidak percaya jika kasus perceraian akan menimpa rumah tangga sahabatnya. Apa yang bisa dia lakukan sekarang untuk membantu Kia?
Kia menghela nafas, menatap gelas yang berisi teh hangat di atas meja yang sudah di sajikan oleh Mbak Asih.
"Entahlah, Vita. Dia seperti nggak tahan dengan aku. Terkadang aku berpikir, apakah aku ini seorang istri yang sangat buruk? Sampai suami aku sendiri pun nggak mau lagi hidup bersamaku. Aku bahkan sudah mengikuti nasehatmu dengan merendahkan diri untuk meminta maaf dan berkata lembut. Namun apa yang aku dapatkan? Kata 'Cerai' yang ku dapat, Vita." rintih Kia dengan suara bergetar.
"Kia, menurut pendapatku. Apa mungkin ada alasan lain?" tanya Vita dan mendapat tatapan sinis dari Kia.
"Maksudmu alasan lain yang bagaimana?" Kia balas bertanya dengan menatap lawan bicaranya.
"Mungkin saja, dia sebenarnya sudah dari dulu ingin menjauhimu. Sekarang, dengan adanya alasan pekerjaan dia mencoba menjadikannya sebagai alasan untuk perceraianmu. Tapi ini hanya menurut ku. Siapa yang tau hati seseorang? Kamu sebagai istrinya seharusnya lebih memahaminya 'kan?" jelas Vita sebaik mungkin.
"Hah! Entah lah, Vita. Setiap aku mencoba mencari alasan apa yang membuat dia ingin meninggalkanku, aku selalu yakin kalau dia nggak akan sanggup jauh dariku. Dia bisa pergi kemana, selain kembali kepadaku?" ujar Kia dengan mata yang mulai mengembun.
"Sabar Kia. Aku yakin nanti akan ada jalan keluarnya. Nanti, kalau aku bertemu dengannya, aku akan beri nasihat untuknya." Vita berdiri menghampiri Kia dan segera memeluknya.
__ADS_1
"Terima kasih karena sudah mendengarkan isi hatiku. Kamu sahabat terbaikku, Vita." Kia membalas pelukan Vita dengan erat, tak lama air matanya luruh dalam pelukan Vita.
Setelah puas menjadi tempat curhat, Vita pun segera berpamitan pulang. Akan ada hal besar yang harus di urusnya.